
"Pagi ...," sapaku pada pria pemilik sorot mata tajam yang kini duduk di meja makan.
"Pagi, Sayang," balasnya dengan mata masih fokus menatap layar laptop di depannya.
"Kok kamu nggak bangunin aku sih?"
"Aku nggak tega lihat tidur kamu pulas banget."
Aku memanyunkan bibir, mengambil duduk di sebelahnya. "Hari ini kamu ada acara?" tanyaku seraya menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Iya. Sebentar doang ketemu klien."
"Hari ini kita ke dokter kandungan. Kamu nggak lupa, kan?"
Adrian serentak menghentikan gerakan jarinya. "Nggak dong..., mana mungkin aku lupa."
"Ya udah deh, nanti aku dari kantor langsung ke rumah sakit. Kita ketemu di sana. Okay? Dan, satu lagi. Aku udah pilih destinasi wisata untuk liburan Pak Erwin sama Agata. Tinggal tentuin tanggalnya aja."
"Siap, Nyonya."
Melewati pagi hari itu dengan sarapan roti panggang. Kami pun terpisah oleh pekerjaan masing-masing. Adrian bertemu dengan seorang kliennya, sementara aku sendiri berangkat ke kantor untuk melanjutkan pekerjaanku bersama dengan Agata.
Dari pukul delapan sampai hampir pukul sepuluh, aku dan Agata hanya membincangkan tentang keputusanku memilih ketua pelaksana dari kegiatan yang akan kita selenggarakan nanti. Berdasarkan data nilai kinerja yang dikirimkan Pak Erwin, aku bisa menyimpulkan bahwa pegawai kita yang tepat menjadi ketua pelaksana adalah Marie.
Secara subjektif aku mungkin tak akan setuju, namun secara objektif, fakta bahwa dia satu-satunya pegawai yang bertanggung jawab dan cukup adil dalam menilai sesuatu. Dan kurasa ada baiknya aku memberikan kesempatan ini sebagai pembuktian dari kata-katanya waktu itu.
"Nyonya, anda akan ke rumah sakit, kan?" peringat Aghata.
"Iya. Tolong gantikan saya untuk sampaikan keputusan ini ke semua pegawai."
"Tunggu! Maksud anda?"
"Saya akan pergi sendiri. Kamu tolong gantikan saya, okay?"
"Baik, Nyonya."
"Saya tinggal, ya..." Aku pamit undur diri kaluar dari ruangan direktur.
Langkah kupercepat hingga masuk ke dalam mobil dan membawanya keluar dari area parkir itu. Belum jauh mobil ini berjalan, panggilan masuk dari Adrian.
[Voice Call]
Adrian : Assalamu'alaikum
Hanna : Wa'alaikumsalam warahmatullah, kamu di mana?
Adrian : Maaf, Sayang, tapi kayaknya aku nggak bisa anterin kamu ke rumah sakit sekarang
Hanna : Kenapa?
Adrian : Sekarang aku di cafe dekat rumah Bunda, ada sedikit masalah di sini
Hanna : Kok kamu di situ? Bukannya tadi bilang ketemunya nggak jauh dari rumah sakit? Bahkan itu arah sebaliknya loh
Adrian : Iya, aku tahu. Ada sedikit masalah di sini. Kamu bisa nyusul ke sini?
Hanna : Okay, aku ke sana sekarang. Assalamu'alaikum
Adrian : Wa'alaikumsalam. Nggak perlu buru-buru, hati-hati
Mendengarnya menyebut "sedikit masalah" sudah cukup membuatku panik. Aku bergegas tancap gas ke cafe yang dimaksudkannya itu. Meski begitu aku tetap mencoba untuk tak terburu. Setidaknya itu pesannya agar aku lebih memprioritaskan keselamatan diri sendiri lebih dulu dari pada mencemaskan keadaan di sana.
Beberapa belas menit berkendara, cukup membuat pinggangku terasa kaku. Gara-gara balik arah, rute yang kulalui pun dua kali lebih panjang. Tapi kemudian aku segera berlari turun dari mobil setelah sampai di cafe yang dimaksudkan Adrian.
"Mas Adrian!" panggilku setengah berlari menghampiri tempat duduknya.
"Sayang, akhirnya kamu datang."
__ADS_1
"Ada apa?" tanyaku panik.
Mas Adrian menarikkan kursi untukku duduk. "Aku baru mau keluar dari cafe ini setelah selesai bertemu dengan Kak Danar. Saat cafe ini sepi, tiba-tiba datang seorang perempuan menarik kemejaku sambil memelas. Dia lari ketakutan keluar dari bagian belakang cafe ini. Ada sepercik darah yang belum mengering di pelipis kirinya."
"Aku coba tanya kenapa, tapi dia cuma nangis sembunyi di belakangku. Dia hampir jadi korban pemerkosaan oleh pelanggan cafe ini." Aku spontan membelalak mendengar ceritanya.
"Sekarang di mana perempuan itu?"
"Dibawa Erwin ke rumah sakit. Semoga nggak ada efek buruk untuk mentalnya."
"Pelakunya?"
"Udah dibawa ke polisi sama manajer cafe dan beberapa stafku untuk saksi."
Aku sedikit bernapas lega mendengarnya. "Kamu nggak apa-apa, kan kalau kita ke rumah sakitnya nanti dulu?"
"Ng- nggak apa-apa, Mas... bukan sesuatu yang mendesak sampai kita harus ke Rumah Sakit sekarang demi ngecek kehamilanku. Anak kita juga pasti sehat-sehat aja."
Adrian tersenyum kemudian berlutut di hadapanku. Ia mengelus perutku yang belum tampak perubahan signifikan. Ia juga menciuminya, dan membisikkan sesuatu yang tak sanggup kudengar. Aku melihat sekeliling cafe ini, karena kebetulan yang aneh hanya ada kami berdua di cafe itu.
"Kamu mau makan, nggak?" tanya Adrian bangkit berdiri.
"Nggak usah, Mas. Ini aja mualku masih belum ilang dari pagi tadi."
"Sabar, ya..." ucapnya lembut serentak mengusap kepalaku.
"Kamu mungkin mau sesuatu? Ada sesuatu yang pengen kamu makan? Bilang aja biar aku cariin."
"Enggak ada, Sayang... udah kamu duduk aja. Aku cuma kangen sama ruang kerjaku. Rasanya cuma di sana aku nggak akan mual. Aneh, ya?" Aku menatapnya yang segera duduk di sebelahku.
"Nggak aneh kok. Kalau itu yang baby minta, wajar aja. Namanya juga bumil."
Adrian berdiri sembari melihat ke luar cafe ini. "Itu Erwin," katanya segera berjalan keluar, sementara aku mengikutinya dari belakang.
Mata dan jantungku kembali dibuat terkejut begitu melihat siapa wanita yang baru turun dari mobil itu. Aku berlari tanpa menghiraukan lagi sekeliling. Tujuanku hanyalah manusia yang berdiri di sana dengan bekas luka di mana-mana. Aku hampir tak bisa menahan tangisku ketika berhenti tepat di hadapannya.
Khadija membalas pelukanku dengan kedua tangannya yang bergetar. Ia bahkan tak sempat berucap satu patah kata kecuali menangis sejadi-jadinya dalam pelukanku. Cukup mendengar cerita dari Adrian, aku langsung bisa menyimpulkan bahwa keadaan Khadija memang sedang tak baik-baik saja.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Kalau kamu minta tolong pun aku pasti bantu kamu, Khadija," protesku menyayangkan luka-luka yang membekas di wajah dan tangannya.
"Aku..., Aku selalu jadi parasit."
"Kamu bicara apa? Kamu sahabatku, Khadija! Garrin juga nggak mungkin diam melihat kamu seperti ini. Kita ini sahabat, kan?"
Adrian mendatangi kami, merengkuh pundakku. "Sayang, kamu tenang dulu.., kita akan segera temukan solusinya."
"Mas. Biar Khadija tinggal di rumah kita, ya.. Aku nggak mau sampai Khadija kenapa-napa setelah semua yang terjadi," pintaku.
"Jangan, Hann. Aku hanya perlu uang untuk pindah ke kostan yang jauh dari tempat ini. Dengan begitu aku akan baik-baik saja."
"Nggak! Bukan begitu caraku membantu. Aku nggak mau membantu dengan cara seperti itu. Dengarkan aku dan kita pulang ke rumah kami. Semua akan baik-baik saja."
"Iya, kan, Mas?" sekali lagi aku melihat pada Adrian."
"Iya, anda bisa tinggal sementara di rumah kami sampai keadaan membaik," tutur Adrian kemudian.
Setelah melalui berbagai bujukan akhirnya Khadija pun mengiyakan ajakan kami untuk sementara tinggal di rumah kami. Garrin juga pasti akan melakukan hal yang sama jika tahu nasib Khadija tak seberuntung kami berdua.
"Sayang..., kamu bawa mobilku, ya? Biar aku sama Khadija ikut di mobil Pak Erwin." Aku memberikan kunci mobilku pada Adrian.
Selama di perjalanan, Khadija menceritakan semuanya padaku. Sesekali ia menggigit jarinya dan melihat sekeliling dengan ekspresi cemas. Sepilu itu kisahnya dan apa aku hanya akan menutup telinga setelah mendengarnya? Aku bahkan tak tega untuk sekedar meninggalkan uang untuknya. Lebih dari itu, Khadija perlu rasa aman. Dan aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu. Aku pernah menyesal karena ketidak peka anku ini. AKu tidak ingin menyesal untuk kedua kali.
Sesampainya kami di rumah, Mba Rani membantu membawakan barang bawaan Khadija yang tak seberapa. Aku sebagai tuan rumah memaksanya untuk bersikap biasa saja, tapi seperti biasa, Khadija terlalu melebih-lebihkan ketika mengucap terimakasih atas kebaikan orang lain.
"Tolong antarkan Khadija ke kamar tamu di lantai dua," perintahku pada Mba Puput.
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
"Aleesa!" Adrian menarikku ke tepi.
"Bukankah ini agak berlebihan? Kamar tamu di lantai dua biasanya digunakan untuk kerabat atau keluarga besar yang menginap, apa kamu nggak-"
"Sayang..., Khadija sahabatku, dia adalah keluargaku saat nggak ada orang yang peduli denganku. Tolong.., sekali ini aja, ya?" Aku memohon kepada Adrian seraya menggenggam kedua tangannya.
"Ya udah kalau itu mau kamu. Tapi jangan terlalu baik pada semua orang Aleesa.Bisa saja ada yang sengaja mengambil keuntungan dari kebaikanmu."
"Aku tahu apa yang aku lakukan. Kamu tenang aja."
Adrian pun mengangguk setuju setelah berpikir sejenak. "Iya, aku percaya Aleesa ku adalah wanita yang pintar," tambah Adrian, membelai kepalaku dalam dekapannya.
"Makasih udah percaya. Sekarang aku harus menghubungi Garrin, dia harus tahu kondisi Khadija saat ini." Aku setengah berlari menaiki tangga menuju ke kamar kami di lantai dua.
"Jangan lari.., nanti jatuh!"
Di balkon kamar, jariku berirama ketika membentur pagar balkon. Aku menunggu sampai panggilan itu diterima oleh manusia bernama Garrin Wijaya. Lama aku menunggu, hingga tiga kali aku mencoba, masih tak ada jawaban dari Garrin. Hal ini membuatku tak bisa sekedar diam. Aku menggerutu lirih seraya berjalan ke kanan dan kiri.
Tak lama, Adrian masuk dan memberitahuku kabar yang dibawa Pak Erwin dari rumah sakit. Aku segera keluar kamar untuk mendengarnya langsung. Di ruang makan, Pak Erwin menunggu kami untuk menyampaikan penjelasan dokter mengenai kondisi Khadija.
"Apa kata dokter?"
"Nona Khadija mengalami trauma psikologis akut sebagai salah satu akibat dari percobaan cuci otak. Beberapa kali ia lupa dengan kejadian yang baru saja terjadi, bahkan menceritakan kejadian masa lalu seakan baru terjadi kemarin. Jadi, bisa dibilang beliau memiliki gangguan jiwa yang bisa kambuh kapan saja."
"Terus? Ada pengobatannya?"
"Ada rujukan ke psikiater atau psikolog. Kedua-duanya adalah saran untuk memulihkan kondisi mental dan emosional Nona Khadija."
Aku menoleh pada Adrian. "Sayang...."
"Atur waktu untuk pengobatannya. Berapa lama pun asal dia bisa pulih," tandas Adrian menanggapi caraku memanggilnya dengan suara mengharap itu.
Kami kembali ke kamar setelah mengurus semua yang diperlukan mengenai pengobatan Khadija dan beberapa hal lain terkait dengan itu. Saat waktu makan siang, Khadija kembali menunjukkan ketakutannya. Rasa tak aman dan cemas itu seakan menghantuinya meski kini ia sudah keluar dari tempat itu.
Aku meminta Mba Puput untuk membawanya kembali istirahat setelah selesai makan siang. Sedangkan aku sendiri tidak bisa tenang menahan diri dari panggilanku ke Garrin yang belum juga mendapat balasan sejak tadi.
"Udah..., jangan terlalu dijadikan beban, Sayang." Adrian mengejutkanku dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Kita udah berusaha semampu kita dengan mencarikan psikiater dan psikolog untuk sahabat kamu. Itu udah cukup."
Aku menghela napas pelan. "Iya... aku tahu. Aku cuma nggak mau melakukan kesalahan yang sama seperti dulu." Aku memegang pelipis kanan Adrian untuk menenangkan kekhawatirannya terhadapku.
"Yang sabar, ya, Nak.., dua minggu lagi kita akan ke dokter untuk periksa keadaan kamu. Hari ini banyak peristiwa aneh yang harus dihadapi Mama kamu," ucap Adrian di depan perutku.
"Oh iya, jam berapa sekarang? Aku rasa Khadija perlu beli beberapa baju untuk dipakai deh. Kalau gitu aku ajak Khadija belanja aja ya?"
Aku bergegas ke kamar mandi untuk bersiap, cuci muka, gosok gigi dan berganti baju. Tak kusangka, Adrian sampai menyusulku ke pintu kamar mandi.
"Kenapa nggak belanja online aja?" tanyanya bersandar di depan pintu kamar mandi.
"Kita nggak punya waktu menunggu sampai kurir barang datang ke rumah ini. Khadija perlu baju untuk segera dipakai, Sayang... Tolong kalau nanti Ummi datang, kasih tahu aku masih di luar, ya? Aku akan cepat pulang kok."
Cup! Sebuah kecupan kutinggalkan di puncak kepalanya sebelum benar-benar pergi dari rumah. Tapi tangan itu mencengkeram kuat pergelangan tanganku tiba-tiba. Seketika kedua alisku tersentak karena perlakuan Adrian itu. Sejak kami berdua sama-sama mengetahui kehamilanku, ia hampir tak pernah berlaku kasar seperti itu padaku.
"Kamu mau pergi keluar sementara kamu tahu Ummi akan datang ke sini hari ini?" tanya Adrian dingin.
"Iya, Tadi pagi Ummi bilang ke aku akan datang ke rumah kita hari ini. Tolong temani Ummi sebentar aja, ya?" ujarku melunak.
"Aku harus bilang apa ke Ummi?" tanyanya lagi masih ketus.
"Kamu cukup bilang kalau aku pergi keluar sebentar aja." Cukup lama aku menunggu sampai ia mengiyakan perkataanku.
"Tolong jangan buat Ummi-ku kecewa," pungkasnya mengusap punggung tanganku.
Aku tersenyum sekilas, menempelkan keningku dengan kening Adrian selama beberapa saat. "Aku janji nggak akan lama."
Setelah mendapat persetujuan dari Adrian, aku langsung menuju ke kamar Khadija dan mengajaknya untuk berbelanja. Sepanjang perjalanan, ketika aku mengajaknya berbicara, sesekali ada hal yang tak bisa kumengerti dari jawabannya. Hal itu membuatku merasa gagal sebagai seorang sahabat. Rasanya dada ini sesak setiap kali mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya tak searah dengan pertanyaan yang kuajukan.
__ADS_1
Ada banyak hal yang hilang dari sosok Khadija yang kukenal dulu. Kalau saja aku bisa ada setiap saat untuknya. Akankah hal seperti ini bisa menimpa sahabatku? Sungguh tak bisa sedetik saja aku berhenti menyalahkan diri sendiri akan hal ini. Maaf, Khadija.