
"Asyqar nggak nangis, kan, Sayang? Hebat, ya, nggak rewel ditinggal pergi. Uhh, anak Mama emang pinter banget ..." Aku lantas menggendongnya.
"Anak Papa juga, dong." Adrian menyusulku dari belakang.
"Appa Ma!"
"Iya, Sayang ..., Papa sama Mama udah pulang."
"Udahan dulu, yuk, mainnya! Kita makan siang," peringat Kak Zahra memanggil kami masuk.
Ketika yang lain sibuk menikmati makan siang di ruang makan lantai satu, aku segera beranjak ke lantai dua, ke kamarku yang selalu membawa aura nostalgia. Ketika sudah menjadi seorang ibu, makan siang tak bisa lagi jadi prioritas utama, jika anak sendiri belum makan. Begitu juga yang kupikirkan, sehingga tak ada pilihan lain selain memprioritaskan Asyqar lebih dulu sebelum aku.
"Asyqar lapar, ya, Nak? Maaf, ya ..., tadi Mama perginya lama. Sini, sini ..., minum susu dulu, yuk! Iya ..., pinternya, mashaallah."
"Tadi kamu main sama Kak Farhan-Raihan, ya? Main sama Om Harun juga? Tapi nggak nangis, ya?"
*Tok! Tok! Tok**!*
"Iya?"
*Click**!*
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kenapa ke sini? Kamu nggak makan?"
"Makan kok. Ini mau makan." Adrian menarik kursi, duduk di depanku.
"Kamu juga belum makan, kan? Aku ambilin rendang sama tumis brokoli. Kamu mau yang mana?"
"Aku ... makannya nanti aja."
Spontan Adrian melepaskan sendok makan dari tangannya. Mata tajam itu menatapku dengan tatapan intimidasi. Tapi beberapa saat kemudian, bunyi aneh terdengar nyaring, "Kruuuuuk" Refleks aku tertawa lepas.
"Mas, kalau kamu yang lapar, tinggal makan aja. Aku bisa makan nanti-nanti kok."
"Iya emang aku lapar, tadi sarapan dikit banget karena buru-buru. Tapi kalau istriku aja nggak makan sebelum anakku kenyang, aku juga nggak akan makan sebelum kamu kenyang."
"Ya udah, sini."
"Eits! Biar aku yang suapin. Aaaa." Bergantian Mas Adrian menyuapiku dan menyuapi mulutnya sendiri.
Keluarga kecil. Begitu aku menyebut kami bertiga. Meski gangguan terus saja datang, tapi aku perlahan mulai mengerti bahwa seperti inilah realita sebuah keluarga. Tidak selamanya akan berjalan mulus sesuai dengan keinginan kita. Sesekali pun kita akan menghadapi masalah-masalah yang datang silih berganti. Dan keluarga adalah mereka yang saling menguatkan satu sama lain ketika masalah itu datang.
Asyqar tertidur di pangkuanku setelah meminum ASI. Aku pun menidurkannya ke atas ranjang, lantas mengamati cinta ketiga ku yang tidur lelap itu dari sejak Adrian keluar sampai ia kembali lagi ke kamar.
"Udah salat dzuhur, belum?" tanyanya.
"Belum."
"Asyqar biar aku yang jagain, kamu salat dulu gih."
"Iya, tolong ya." Segera aku beranjak ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian kembali berbalik.
"Ada apa?"
"Hmm, Mas, aku minta maaf ya, soal yang tadi. Soal Aria. Harusnya aku nggak perlu sampai begitu."
Adrian berdiri, berjalan ke arahku. "Nggak apa. Kalau aku di posisi kamu, mungkin aku juga akan cemburu, kesal, marah."
"Makasih udah bisa ngertiin aku."
"Iya. Seenggaknya aku lebih bersyukur karena kamu mau langsung bicara dimana poin masalahnya. Nggak perlu diem-dieman. Kamu udah ngelakuin hal yang benar kok." Ucapnya mengusap kepalaku.
"Eh, kamu tahu, nggak? Tadi Kak Ali bilang, katanya Asyqar hampir nangis karena berebut mainan sama Raihan. Terus Harun yang akhirnya gendong Asyqar, sampai Asyqar nggak jadi nangis."
"Masa sih? Ternyata bisa juga dia nenangin Asyqar."
"Iya, kan? Padahal kukira dengan sikapnya yang agak egois itu dia nggak akan peduli sama anak kecil. Apalagi Harun anak bungsu. Tapi ternyata di luar perkiraan."
"Yah, udah sembilan tahun sih. Mungkin udah mulai ngerti juga."
...----------------...
Malam itu, mobil hitam yang membawa koper-koper milik Ayah dan Bunda sudah berhenti di depan rumah. Kami mengantar keberangkatan Ayah-Bunda sampai teras rumah. Pamit haru Bunda ketika memelukku, tak bisa dihindarkan.
__ADS_1
"Bunda berdebar, Hann. Rasanya Bunda tak sabar untuk segera menginjakkan kaki di tanah suci lagi. Dengan keadaanmu dan Zahra yang sudah berumahtangga, juga Harun yang sudah berhasil menjadi hafidz Qur'an, kalau boleh, Bunda ingin terus di sana."
"Hanna juga mau, Bunda. Tapi iman Hanna masih naik-turun. Nanti kalau Bunda di sana, jangan lupa doakan Hanna, ya? Doakan juga Asyqar biar bisa seperti Harun inshaallah."
"Inshaallah pasti Bunda doakan yang terbaik untuk semuanya." Bunda melepas pelukannya. Beralih pada Harun.
Lalu Ayah berganti memelukku. "Titip Harun, ya? Selama pesantrennya masih libur, dia suka main handphone sampai nggak ingat waktu. Tolong bantu ingatkan."
"Iya, Yah. Beres deh."
"Kalau begitu kami berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Mobil itu bergerak menjauh. Dan rumah pun kembali sepi. Sesuai permintaan Ayah-Bunda, kami anak dan menantunya hanya diizinkan mengantar sampai teras rumah saja. Setelah suara mobil itu hilang dari pendengaran, kami kembali masuk ke dalam rumah. Mengingat saat itu sudah pukul sembilan malam.
Asyqar pun akhirnya tertidur lelap dalam gendonganku setelah Ekung (Eyang Kakung) dan Eti (Eyang Putri) berangkat. Aku menidurkannya ke kamar, lalu kutinggal ke ruang tamu berkumpul dengan Adrian, Kak Zahra dan Kak Ali yang berbincang di sana. Selama setidaknya empat puluh hari ke depan, kami harus bergantian menjaga Harun. Tak mungkin kami akan meninggalkan Harun sendiri di rumah ini hanya bersama asisten rumah tangga. Bagaimanapun juga, ia baru genap sembilan tahun.
"Kalau aku sama Mas Ali kayanya belum bisa jagain Harun untuk minggu-minggu ini. Mungkin kalau minggu keempat dan seterusnya kita berdua bisa."
Aku dan Adrian saling berpandangan. "Yaa, kalau gitu, dua atau tiga minggu ini, biarkan Harun tinggal dengan kami saja. Iya, kan?"
"Iya. Kalau aku sih nggak masalah," tambahku mengiyakan ujaran Adrian.
"Gimana, Harun?"
"Yah, nggak apa-apa, tapi malas packingnya. Bantuin, ya, Om?" balas Harun melihat Adrian.
"Haruun ..." Aku menatapnya tajam.
Adrian meletakkan tangannya di pahaku, sebagai isyarat agar aku sedikit lebih tenang. "Iya iya, nanti dibantu."
"Ya udah. Nggak masalah deh."
"Ya udah. Kalau gitu sekarang juga kamu beres-beres barang yang mau dibawa besok, terus tidur," perintahku.
Harun menghela napasnya, beranjak dari sofa ruang tamu. "Ayo Om, bantuin."
"Haruuun."
"Udah udah ..., biar aku bantu Harun packing, kamu naik lagi aja, nanti Asyqar kebangun." Adrian turut mengikuti ke mana Harun berjalan.
...----------------...
Pagi hari, kami telah siap untuk pulang ke rumah dengan membawa serta Harun. Setelah berpamitan dengan Kak Zahra dan Kak Ali, kami meninggalkan rumah Ayah-Bunda. Memang benar atau hanya perasaanku saja, Asyqar jadi lebih ceria dengan adanya Harun. Mungkin dia merasa punya teman selain Mama-Papa yang sudah setiap hari menemaninya.
Kami sampai di rumah sekira pukul sepuluh pagi. Dimana Adrian segera berganti pakaian untuk berangkat kerja. Dan aku menunjukkan kamar untuk Harun tempati selama ia akan tinggal bersama kami beberapa hari ke depan.
"Aku berangkat, ya," pamit Adrian saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas.
"Iya, hati-hati di jalan."
"Nanti pulang mau dibawain apa?"
"Hmm, apa ya? Ah, nanti aja kalau ada perlu sesuatu aku hubungi kamu."
"Ya udah. Aku berangkat ya ..., assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Seperginya Adrian ke tempat kerja, aku pun kembali kepada tugas-tugasku. Memandikan Asyqar, mencuci baju kami, lalu membantu Harun menata barang-barangnya ke lemari. Meski terbilang cukup kalem dan penurut, tapi tetap saja kita tak bisa mempercayakan anak sembilan tahun untuk menata barang-barangnya sendiri.
Hampir lewat waktu makan siang, dan kami baru selesai beberes. Aku kemudian pergi kepada Asyqar karena sudah waktunya minum susu dan bersiap tidur siang. Selang beberapa menit menikmati keheningan, Adrian tiba-tiba menghubungiku. USB Drive berisi data yang baru akan ditunjukkan kepada klien tertinggal di perpustakaan rumah.
Ia memintaku untuk mencarinya dan memberikan pada Hugo agar diantarkan ke kantor. Tapi setelah kutemukan USB Drive yang dimaksud, justru Hugo yang tak ada di tempatnya. Tiga kali kuhubungi, pun tidak menjawab, hingga akhirnya kuputuskan mengantarkannya sendiri, daripada menunda semakin lama.
"Harun ..., makan siangnya udah siap di bawah. Buruan turun! Ini Kakak mau keluar sebentar."
"Iya, Kak!"
"Mba Rina, aku mau antar USB Drive ke tempat Adrian. Asyqar tidur di kamarnya, tolong jagain ya?" pintaku pada Mba Rina yang baru menyiapkan makanan di atas meja.
"Iya, Bu."
"Saya pergi dulu. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Dengan Portofino hitam itu, aku melaju ke tempat Adrian menunggu USB Drivenya. Tak perlu waktu lama, sampai aku tiba di bangunan bertingkat tinggi itu. Dengan memakai kain yang menutup hampir seluruh wajah itu, aku memasuki gedung itu menuju resepsionis.
"Bisa ketemu sama Adrian?"
Wanita yang duduk di sana tersentak beberapa saat. "Anda ...?"
"Hanna Aleesa. Saya hanya mengantarkan barang penting Adrian yang ketinggalan. Bisa saya bertemu?" tanyaku lagi.
"B- bisa, Nyonya. Pak Presdir sedang menerima tamu di ruangannya. Kalau anda ingin bertemu dengan Pak Presdir ..., ah, di sana juga sudah ada Pak Erwin." Wanita itu kemudian memberiku kartu akses lift untuk naik ke lantai teratas, ruangan Adrian.
Saat aku sampai di depan ruangan itu, Pak Erwin telah berdiri di depan pintu. "Pak Erwin, Adriannya di dalam?"
"Iya, Pak Presdir sedang berbicara dengan tamu, Nyonya."
"Oh, ya udah. Ini ..., saya cuma mau bawain USB Drive yang tertinggal di meja perpustakaan. Saya titipkan ke Pak Erwin aja, ya?" Aku mencari-cari benda kecil itu di antara banyak barang dalam tas yang kubawa.
"Loh, memangnya Hugo atau sopir lain, tidak ada yang bisa mengantar, Nyonya?"
"Hugo sepertinya sedang mengurus pemberangkatan barang baru di pelabuhan, dia sama sekali nggak bisa dihubungi. Kalau sopir lain, saya masih kurang percaya. Jadi saya antar sendiri aja, sekalian," jelasku masih mencari USB Drive dalam tas.
"Harusnya anda menghubungi saya atau Agatha untuk menjemput."
"Nggak apa. Saya juga jarang keluar rumah," kataku kemudian menyerahkan USB Drive itu pada Pak Erwin.
"Sepertinya Adrian menerima tamu yang penting. Kalau begitu saya pulang dulu, ya, Pak."
"Mari saya antar, Nyonya."
"Nggak perlu, saya bisa sendiri kok. Pak Erwin di sini aja," ucapku menolak tawarannya itu.
Aku berjalan menuju lift, meninggalkan ruangan Adrian dengan Pak Erwin yang berdiri di depannya. Setelah cukup lama berdiri di depan pintu lift, menunggunya agar terbuka, akhirnya aku masuk dan menekan tombol satu. Hampir pintu lift tertutup, seseorang menahannya lantas masuk bersama seorang wanita.
"Pokoknya aku nggak mau tahu. Cepat cari alasan yang paling bagus, kenapa dia harus poligami. Kalau dia aja mau nikah sama perempuan itu, harusnya nggak ada alasan untuk menolakku."
"Iya, Kak. Tapi kalau aku dengar dari beritanya, si istrinya sendiri yang minta dia nikah lagi."
"Hanna yang minta Adrian nikah sama perempuan itu?!"
"Dari beritanya sih gitu. Aku juga nggak percaya sih, Kak. Kalau dipikir lagi, mana mungkin ada wanita yang mau membagi suaminya dengan orang lain."
"Sekarang tugas kamu untuk cari alasan lebih dalam, apa yang bikin Hanna minta ke Adrian untuk nikahin perempuan nggak bener itu."
"Iya, Kak."
Pintu lift terbuka, dua orang itu keluar dari lift, pun aku berjalan menuju resepsionis untuk mengembalikan kartu akses.
"Kamu tunggu di mobil, Kakak mau ke toilet dulu." Suara itu masih terdengar dari jarak kami yang tak seberapa jauhnya.
"Toilet wanita di sebelah mana, ya?" tanyaku pada resepsionis.
"Di lorong sebelah kiri lift, Nyonya. Mari saya antar."
"Ah, nggak usah saya bisa sendiri, makasih tawarannya."
"Iya, Nyonya."
Aku berjalan ke lorong sebelah kiri lift, tempat yang ditunjukkan oleh resepsionis tadi. Setelah melewati cermin yang menempel di dinding, bisa kupastikan dari bayangannya, bahwa dia Aria. Putri keluarga Lubis yang akhir-akhir ini mulai memaksa masuk ke dalam ketenteraman keluargaku.
"Maaf, Kak. Bisa bagi handuknya?" tanyaku.
Aria terdiam berpikir. "Handuk? Maaf, tapi ini bekas saya pakai. Mungkin bisa lap pakai tissue saja."
"Iya, benar. Jika membagi handuk saja tidak bisa, mana mungkin saya akan rela membagi suami saya."
Aku melepas kain hitam yang menutup mulut, hidung dan keningku itu. "Tolong jangan ganggu saya dan suami saya lagi. Anda juga pasti tahu betul bagaimana rasanya jika kasih sayang dari orang yang mencintai kita harus dibagi dengan orang lain."
"Hann. Saya bukan mengemis. Saya hanya mengembalikan tawaran yang Adrian berikan, jauh sebelum anda bertemu dengan Adrian."
Aku menganggguk-anggguk mendengarnya. "Saya sudah dengar garis besar ceritanya. Tapi menurut saya, kalau pihak wanita sudah memutuskan untuk menolak niat baik seorang pria, maka pria itu berhak mencari wanita lain."
"Tunggu saja, jika sampai pada titik Adrian ingin kembali menjadi bagian dari keluarga Lubis, tidak ada lagi yang bisa anda cegah."
Aku memakai lagi cadarku. "Terimakasih atas peringatannya, sungguh Allah bisa membolak-balik hati dan perasaan seseorang. Tapi Adrian tidak memilih saya atas dasar latar belakang keluarga. Saya tidak punya nama belakang yang terkenal atau berasal dari keluarga kaya. Tapi fakta, bahwa Adrian masih memilih saya setelah anda memberinya luka yang mendalam. Saya permisi."
__ADS_1