Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Kebohongan yang Terulang


__ADS_3

"Hanna Aleesa, selama lima bulan saya menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa karena tidak ingin mengacau keluarga terpandang Al-Faruq. Tapi sampai di sini, sepertinya anda tidak mengerti bagaimana kejamnya anda, yang hidup di atas kesengsaraan orang lain. Anggap saja informasi ini gratis untuk anda sebagai buah tangan pertemuan pertama kita."


Henri berdiri, lalu meninggalkan ruangan sepi itu tanpa pamit. Aku tersentak saat hendak menyusulnya ke luar pintu. Bukan karena Henri yang pergi tiba-tiba, tapi karena Earphone yang tersambung dengan ponsel Garrin itu mulai berbunyi.


"Udah lama, ya, nggak ketemu gini lagi. Gue bahkan hampir nggak percaya waktu lo ngajakin gue ketemu tiba-tiba." Garrin memulai kalimatnya.


"Emang siapa lagi yang bisa gue jadiin tempat curhat kalau bukan lo." Tanggapan itu jelas terdengar adalah suara Khadija.


Daripada mengikuti laki-laki yang baru saja keluar dari lobby itu, aku lebih memilih segera pergi ke kamar untuk menyimak perbincangan Garrin dan Khadija itu.


Garrin Wijaya : Gimana soal pemeriksaan medisnya? Masih lanjut, kan?


Khadija : Kayaknya emang udah takdir gue hidup begini. Gue nggak ada duit buat berobat lagi, dan gue nggak mau ngemis ke siapapun juga


Garrin Wijaya : Wait ..., bukannya semua biaya pengobatan udah dijamin sama Hanna?


Khadija : Hanna? Sejak kapan?


Garrin Wijaya : Lo beneran nggak tahu? Tapi Hanna emang selalu transfer uang ke rekening lo tiap bulan. Gue juga tahu itu


Khadija : Orang yang bahkan nggak pernah sekali aja telepon gue, ternyata kirim uang tiap bulan? Hah? Lagian mana mungkin gue tahu ada yang kirim uang ke rekening itu, kalau rekeningnya aja bukan gue yang pegang


Garrin Wijaya : Kenapa lo baru bilang sekarang setelah enam bulan, Khadija?


Khadija : Ya, mana gue tahu. Lagian jangan panggil gue pakai nama itu lagi, nama gue Karinda, bukan Khadija


Garrin Wijaya : Jadi benar, ya, yang kasih nama panggilan Khadija itu.., Adrian?


Khadija : Percaya atau enggak, faktanya sih gitu. Udah lama banget kok, orangnya juga udah lupa. Tapi sesekali gue masih ngerasa nggak percaya, orang sekotor gue bisa ngerasain momen bahagia waktu ketemu sama Adrian. Yah.., walau itu juga cuma sesaat


Garrin Wijaya : Lo nggak mau memanfaatkan kontrak yang Adrian bikin waktu itu?


Khadija : Bukan gue yang nggak mau, Rin. Tapi Adrian yang dulu udah beda sama yang sekarang, dia udah punya Hanna! Dan apapun yang udah Hanna lakuin ke gue, dia tetap adalah sahabat gue. Sahabat kita. Gue selalu ingat untuk bersyukur karena gue juga yang pernah menyelamatkan nyawa mereka berdua. Gue yang hampir mati kehilangan darah, menyelamatkan dua orang yang akhirnya bisa bahagia. Cukup sampai di situ, gue harus udah berhenti mengemis lebih banyak kebahagiaan dari orang lain


Garrin Wijaya : Lo nggak sakit? Lo ngerasa kebahagiaan lo selalu direbut orang lain, kan selama ini? Lo nggak mau memperjuangkan kebahagiaan lo sendiri?


Khadija : Kalau gue bisa, gue mau, Rin! Tapi setiap kali ingat senyuman tulus Hanna dan Adrian.., gue nggak bisa apa-apa! Gue nggak layak masuk di antara mereka


Suara Khadija berubah menjadi tangisan setelah kalimat itu terucap. Nggak ada lagi informasi yang aku dapat setelahnya. Hanya suara tangis yang terus terdengar, suara tangis memilukan. Garrin sama sekali tak mematikan panggilan suara itu hingga akhir. Bisa kutebak saat itu, Garrin memberikan bahunya untuk Khadija menangis. Dan rasa pedih tak nyaman seakan menusuk perlahan dalam dada ini.


Setelah dua jam aku merenung menunggu Garrin berbicara, akhirnya ia pun tak bisa berkata apa-apa. Sampai saat ia menutup sambungan suara itu dengan keheningan setelah ia mengantar Khadija pulang. Yang kupikirkan sesaat kemudian adalah bagaimana aku bisa fokus beribadah kepada Allah. Mengusap wajah dengan air mengalir, menundukkan kepala pada sujud siang itu, lalu berbisik dan menangis di hadapan Tuhan yang maha mendengar hingga kantuk perlahan menguasaiku.


*****


"Mama! Papa! Bangun..."


"Papa! Mama! Bangun!"


Mataku terbuka, telingaku berdenging beberapa saat setelah mendengar suara anak kecil memanggil. Aku masih di posisiku, tertidur di atas sejadah dengan mengenakan mukena. Suara itu pun hilang.


"Aku ketiduran," gumamku lirih serentak beranjak dari atas sejadah.


"Ukh!" Spontan tanganku menutup mulut dan kaki segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan gejolak aneh dalam perut ini.

__ADS_1


Aaah, menyebalkan! Rasanya mual dan sangat tidak nyaman. Gerutuku kesal dalam hati, berjalan keluar dari kamar mandi.


Melihat jam di dinding kamar, tanpa sadar sepertinya aku sudah tidur lebih dari dua jam. Mungkin hanya kelelahan karena semalam lagi-lagi Adrian tak mengizinkanku tidur. Aku tahu yang Adrian lakukan hanya karena ia ingin menghiburku, hingga hampir setiap malam kami rutin melakukannya. Demi melindungi harga diriku dari rumor 'mandul' yang mulai tersebar di kalangan keluarga besar, Adrian memintaku untuk tak percaya pada apa kata orang.


Ah aku lupa! Hari ini bahkan aku melewatkan makan siang setelah hanya sarapan segelas air putih pagi tadi. Pikirku kesal pada diri sendiri. Sudah dapat dipastikan maagku kambuh karena terlambat makan. Padahal Adrian sudah sering memperingatkanku agar tak lupa makan dan menjaga pola hidup sehat, tapi aku justru lalai.


Seusai mengumpulkan kembali kesadaran dan bangkit ke kamar mandi, aku berlanjut menunaikan empat rakaat salat Ashar. Lagi-lagi, air mataku terpantik jatuh dengan mudahnya kala berdoa. Tak ingin berlarut, lantas aku bersiap untuk memasak makan malam di dapur baruku. Fakta bahwa memang baru pertama kalinya aku menggunakan dapur ini untuk memasak sungguhan.


Pilihan menu malam ini, tak jauh-jauh dari sayur. Wortel, kubis, brokoli, dan tomat kupotong dengan ukuran yang sama untuk menjaga estetika tampilan makanan. Tapi tiba-tiba pikiranku melayang hingga mata tajam pisau itu sukses membuat sayatan kecil di ujung jari telunjukku.


"Awh!" Aku menahan diri untuk tidak bersuara keras walau perih terasa. Setengah berlari aku menuju ke kamar mandi yang di dalamnya terdapat kotak P3K. Selesai membalut ujung jari telunjuk itu, tiba-tiba aku merasa sedih dan berdebar teringat pada suara anak kecil memanggil 'Mama' dan 'Papa' dalam mimpiku. Entah bagaimana, tapi suara itu seolah-olah seperti nyata.


Hampir pukul tujuh malam, setelah selesai salat Maghrib, Hugo mengirimkan foto ke emailku. Setelah seharian ini mengikuti Adrian, akhirnya ia menunjukkan hasil dari penyelidikannya. Foto-foto itu menunjukkan Adrian sempat pergi ke sebuah rumah sakit yang terhitung cukup jauh dari rumah kami. Dan sepertinya, tujuan Adrian hampir sama dengan apa yang dibawakan informan tadi untukku. Tak lama berselang Adrian pun datang. Aku memintanya untuk membersihkan diri baru kami bisa menikmati makan malam dengan nyaman.


Awalnya ia juga tak banyak bicara, sampai aku mendahului bertanya-tanya tentang kegiatannya seharian ini.


"Gimana tadi acaranya? Lancar?" tanyaku seraya mengambilkan nasi ke dalam piring.


"Alhamdulillah lancar. Sebenarnya juga acara hiburannya belum selesai sampai malam nanti, tapi karena nggak sabar pengen cepat pulang, jadi aku pulang duluan."


"Gombal terus."


"Ih, bukan gombal. Emang rasanya udah kangen aja sama istriku."


"Iya, iya... udah buruan gih, dimakan."


"Iya, Sayang.., kami juga nih, makan yang banyak."


"Oh ya, Pak Erwin langsung pulang?"


"Iya. Agatha sendirian di apartemen, jadi nggak mungkin dia pergi lama-lama," ucapnya.


Benar juga, pantas Adrian pergi ke rumah sakit sendiri tanpa menyuruh Pak Erwin. Agatha yang saat ini sudah memasuki bulan ke enam kehamilannya, pasti jadi perhatian khusus untuk Pak Erwin. Pikirku tanpa sadar menghela napas berat.


"Mikirin apa?" Adrian yang menyadari bahasa tubuhku itu sontak melontarkan pertanyaan.


Mikirin Agatha yang bisa dengan mudahnya hamil setelah dikasih liburan seminggu di Maldives. Sementara aku kita yang..., ah sudahlah.


"Bukan apa-apa kok."


Suasana santai dan ramai perlahan memudar seiring larutnya malam. Sehabis salat isya dan bersiap untuk tidur, aku mulai mendapat ide untuk mengarahkan pembicaraan kami pada hal-hal yang ingin kuketahui langsung dari Adrian.


"Sayang.., udah ngantuk?" tanyaku manja seraya memainkan jari telunjuk di atas perutnya.


"Belum, kenapa? Kamu mau cerita?"


"Nggak, aku mau dengar kamu cerita."


"Cerita apa?"


"Cerita tentang kejadian kecelakaan tujuh tahun lalu. Aku penasaran gimana kronologinya sampai kamu katanya sempat gegar otak."


"Kenapa tiba-tiba tanya soal itu lagi? Kan dulu udah pernah aku cerita in."

__ADS_1


"Aku mau dengar lagi.., lebih detailnya."


Adrian memperbaiki posisi tubuhnya. "Ya udah, kamu mau dengar dari mana?"


"Dari awal, kenapa kamu bisa kecelakaan waktu itu."


"Karena..., waktu itu aku bawa mobil lumayan kenceng, dan waktu ada benturan keras, airbag yang harusnya mengembang, nggak berfungsi sama sekali. Alhasil, aku kena benturan langsung yang sampai bikin aku nggak sadar waktu itu. Gegar otak, patah tulang, dan perdarahan berat nggak bisa dihindari lagi. Untungnya Allah masih kasih aku kesempatan hidup, aku ditolong orang nggak dikenal, yang memanggil ambulans untuk membawaku ke rumah sakit." Adrian mulai bercerita.


"Rumah sakit 'Amanah' bukan?"


"Kok tahu?" Adrian melihatku sekilas.


Iyalah tahu. Bukannya hari ini kamu juga ke sana? Kataku dalam hati.


"Waktu itu, kan kamu udah pernah cerita. Kalau nggak salah nama rumah sakitnya 'Amanah'. Oh ya, katanya waktu itu persediaan darah golongan A habis, ya? Sampai kamu hampir nggak bisa diselamatkan."


"Iya, dan lagi-lagi Allah kasih aku kesempatan hidup lebih lama lewat orang nggak dikenal. Melalui orang itu, Allah menyelamatkan nyawaku sekali lagi. Orang itu yang mentransfusikan darahnya untuk membantuku melewati masa kritis." Lanjutnya dengan ekspresi wajah yang tak bisa ditutupi, tersirat kebahagiaan di sana.


"Emang sampai sekarang orang itu nggak pernah menunjukkan identitasnya?"


"Nggak, dia hilang."


Bukannya sekarang kamu udah tahu siapa orang itu? Kenapa kamu bohong?


"Sama seperti Karinda yang nggak bisa kuingat sama sekali. Sampai sekarang pun aku masih merasa berutang pada orang tak dikenal itu," lugasnya sekali lagi, membuatku tersenyum hambar karena harus pura-pura percaya pada kebohongan yang sudah kuketahui sebelumnya.


"Cerita kita hampir mirip, ya?" Aku menggeser posisiku tertidur menyamping menghadap Adrian.


"Iya. Kamu juga diselamatkan oleh Allah lewat orang tak dikenal. Semoga orang-orang baik seperti itu mendapat pahala yang setimpal dengan apa yang mereka perbuat." Tangan itu menyelipkan poni rambutku yang berantakan.


"Kamu pernah terpikir nggak, kalau misalnya orang yang menyelamatkan nyawa kita berdua adalah satu orang yang sama dan akhirnya kamu tahu identitas asli orang itu. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan untuk membalasnya?"


Adrian terdiam, bergumam-gumam lirih, lalu berkata, "Mungkin... aku akan menuruti apapun yang dia mau? Menjamin kehidupannya sampai dia nggak harus bekerja? Abisnya kalau emang benar satu orang yang sama, sampai menyelamatkan nyawa kita berdua, aku pasti berutang budi banget ke orang itu. Bukan cuma menyelamatkan nyawaku, dia juga menyelamatkan nyawa istriku, jadi.., apapun akan aku lakukan untuk membalasnya."


"Gitu, ya?"


"Tapi, kan baru misalnya. Faktanya kita nggak pernah tahu siapa mereka." Tangan Adrian merengkuh bahuku, membawanya ke dalam pelukan hangat dan nyaman itu.


"Jangan terlalu dipikirkan.., mungkin saja Allah sengaja memberikan pertolongan kepada kita tanpa perlu kita tahu siapa orang yang Allah kirim untuk menyelamatkan kita itu."


"Makasih, ya."


"Buat?"


"Buat jawabannya. Kamu udah jawab semua pertanyaanku barusan. Makasih."


Walau jawaban kamu penuh kebohongan.


"Sama-sama.., udah ah, tidur yuk! Besok jangan sampai ada yang susah dibangunin lagi."


"Iya.., bawel deh."


Aku tersenyum memandangi wajah itu. Maaf, Adrian. Mungkin malam ini akan terasa lebih singkat dari biasanya.

__ADS_1


__ADS_2