
"Aku berangkat dulu, ya..., baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa telepon aku, Kak Danar, Kak Zahra, Kak Ali, atau Kak Erika, Tante Jihan, Siapa pun. Okay?"
"Iya, Sayang..., kamu hati-hati di jalan, ya. Cepet pulang!"
Adrian mengangguk. "Pasti."
"Peluk sekali lagi."
"Kamu mau bikin aku nggak jadi berangkat?"
"Abisnya Surabaya itu jauh, aku pasti kangen berat nanti."
"Ya udah, sini-sini..., kita re charging dulu." Kedua tangan Adrian melingkar di tubuhku, membawaku dalam dekapannya untuk waktu yang lebih lama.
“Aku akan tunggu telepon dari kamu, setiap malam. Okay?”
“Aku nggak akan pergi sejauh itu kok, nggak mungkin sampai lupa kirim kabar juga,” bisik dan deru napasnya mencapai daun telingaku.
Kulepaskan pelukan itu dengan senyum setulus mungkin. “Don’t take too long.”
^^^~Jangan pergi lama-lama.^^^
Seakan itu menjadi kalimat terakhir sampai akhirnya Adrian melepaskan tanganku dan hilang ditelan cahaya menyilaukan mata. Tapi aku belum sempat minta maaf soal kejadian di hotel hari itu. Bagaimana kalu kami tak bisa saling bertemu lagi. Aku tak bisa melepasnya sebelum meminta maaf karena kebodohanku.
_______
“Pasien kamar 004 siuman. Tolong segera beritahu Dokter Reni!”
Seorang laki-laki berlari menghampiriku dengan langkahnya yang tergesa. Rasa sakit di kepala bagian belakang masih mempengaruhi keinginanku untuk segera bangkit dari posisi berbaring. Sepasang mata ini sedang kucoba untuk menyesuaikan dengan cahaya yang tertangkap dan objek lain di sekitar.
“Nyonya, anda bisa mendengar suara saya?” Sosok Pak Erwin yang pertama kali kukenali ada di depan mata.
Aku mengangguk pelan, lantas Pak Erwin berjalan keluar dari ruangan luas itu meninggalkanku. Sepeninggalnya, wanita dengan jas putih menghampiriku dengan senyum, namun juga terbesit kekhawatiran dari garis matanya.
“Anda sudah siuman, Nyonya? Mohon tenang, karena semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Adrian… di mana?”
“Tuan Adrian ke Surabaya. Tapi tidak perlu pikirkan itu sekarang. Lihat, punggung anda hampir berlubang setelah kejadian kemarin. Beruntungnya tetangga anda cepat melapor pada Pak Erwin dan anda sampai ke rumah sakit sebelum anda kehilangan terlalu banyak darah.”
Aku melirik ke belakang, meski tahu tak mungkin aku bisa melihat punggungku sendiri. “Berapa lama saya pingsan?”
__ADS_1
“Sampai sekarang berarti…, anda pingsan selama setengah hari. Saya yakin anda akan pulih dalam beberapa jam ke depan.”
“Kapan saya bisa pulang?”
“Kapan pun anda siap.”
“Boleh saya pulang sekarang?” tanyaku sengaja tak menatap langsung.
“Mungkin…, lebih baik menunggu sampai waktu makan siang.”
“Tuan Adrian menemani anda dari pukul satu dini hari sampai subuh, beliau pergi pukul enam setelah mendapat telepon dari teman kerjanya,” tambahnya.
“Jika ada yang anda perlukan, anda bisa menekan tombol di sebelah tangan anda. Kami akan membiarkan anda menikmati waktu sendiri untuk istirahat. Jika ada pertanyaan lain, saya akan menjawabnya setelah anda sudah cukup memulihkan tenaga.”
Dokter Reni keluar beserta ramah tamahnya meninggalkanku sendirian lagi. Kuharap masih ada obat bius yang tersisa agar aku bisa sedikit saja terbebas dari rasa sakit ini. Tapi jujur saja saat ini, hanya dengan bisa bernapas saja cukup membuatku lega menerima kenyataan pasti, bahwa aku masih hidup.
Kembali kupejamkan mata selama beberapa saat sampai terdengar suara ribut dari luar ruangan. Dari caranya bicara yang samar terdengar itu aku mengenal sang pemilik suara.
“Mohon maaf, saya tidak bisa mengizinkan anda masuk. Ini perintah mutlak dari tuan.”
“Adik ipar apa yang memperlakukan istrinya seperti terpenjara? Atau jangan-jangan, memang seperti ini cara kalian memperlakukan Hanna kami?”
“Maaf, tapi tuan Adrian sama sekali tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk kecuali asisten pribadi dan dokter yang merawat langsung.”
Tak lama setelahnya, pintu kaca itu kembali terbuka. Pak Erwin kembali bersama dengan Kak Zahra. Karena tak ingin membuatnya makin cemas, aku menyambut kedatangan kakak dengan posisi duduk tegak. Senyum pun kupamerkan sebagai isyarat aku baik-baik saja.
“Kamu kenapa, Hann? Bisa-bisanya Harun telepon sambil nangis katanya kamu masuk rumah sakit.”
“Enggak apa-apa, Kak...”
“Enggak apa-apa gimana? Terus apa kata dokter? Bukan sakit yang bahaya, kan?” tanyanya masih dengan ekspresi khawatir yang dibawanya sejak melihatku duduk di ranjang rumah sakit.
Sepertinya Kak Zahra nggak tahu perihal kejadian kemarin. Baguslah, jadi aku tak perlu menceritakan kisah yang sebetulnya tak perlu diumbar. Pikirku sejenak.
“Kayaknya kemarin itu anemiaku kambuh, terus aku juga lupa makan, jadi deh aku kegelincir dari lantai dua sampai pingsan.” Aku tertawa kecil di akhir kalimatku.
“Ya ampun, kamu bikin kakak khawatir tahu, nggak? Ini aja si kembar aku titipin ke rumah Om sama Tante karena buru-buru ke sini.”
“Aku enggak apa-apa, Kakak...”
“Terus, suami kamu mana?”
__ADS_1
“Mas Adrian baru aja pulang. Dia ada kerjaan di Surabaya, jadi aku maksa dia pergi, toh aku udah nggak apa-apa.”
“Ya udah, kalau gitu Kakak pulang, nggak apa-apa, ya? Nanti Kakak ke sini lagi kalau A’ Ali udah pulang kerja.”
“Nggak usah, Kak. Kata dokter abis makan siang aku udah boleh pulang kok. Santai aja. Mending kakak buruan pulang, dari pada si kembar rewel,” tuturku.
“Iya juga. Cepat sembuh, ya, Hann. Jangan kumat-kumatan lagi anemianya. Kakak pulang dulu..., Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warahmatulah.”
Kak Zahra berbalik badan, melangkah pergi setelah tangannya mencubit hidungku. Sayang sekali cubitan itu tak sanggup kubalas dengan energi yang kumiliki saat ini. Pak Erwin yang tak segera undur diri kuminta untuk mengantar Kak Zahra sampai depan, sehingga ada alasan untukku sendiri.
Rasanya punggungku masih sangat kaku. Perlahan, aku merebahkan badanku kembali dan menikmati tiap sakit yang mendera. Langit-langit yang berwarna putih bersih, membuatku terkantuk bahkan setelah tertidur selama dua belas jam lamanya. Di saat seperti ini, aku justru memikirkan pesanan Bu Aris untuk acara khitanan empat hari lagi. Apa aku bisa membuat adonan dengan kondisiku seperti ini?
“Anda sudah bangun Nyonya?”
Wanita dengan blouse abu-abu mendatangiku, meletakkan bunga di meja, lantas duduk di kursi yang sebelumnya di tempati Kak Zahra. Tak salah lagi, wanita itu adalah orang yang sama dengan yang kutemui kemarin di hotel. Dia adalah wanita yang datang bersama Adrian.
“Mau apa anda datang ke sini?” tanyaku dingin.
“Saya hanya merasa sepertinya lebih baik kalau kita saling menyapa dan berkenalan satu sama lain. Kemarin adalah pertemuan yang sangat singkat sampai kita tidak sempat mengobrol banyak.”
Lagi-lagi aku memaksakan tawa kecil. “Mengobrol dengan saya? Layakkah?”
“Mengesankan. Ternyata benar, istri presedir sangat pintar. Bukan hanya pintar dalam pendidikan, tapi juga pintar bersilat lidah.”
“Saya hanya ingin menyapa anda, tapi sepertinya anda tidak bisa berpura-pura senang bertemu dengan wanita yang sudah menculik suami anda. Kalau ramah tamah saya tak berarti, lantas untuk apa saya datang kemari.” Tangannya berhenti di atas selimut yang menutupi kakiku.
“Rupanya anda lebih mengesankan dalam bersilat lidah. Ucapan anda sama sekali tak mencerminkan jati diri anda sebenarnya.”
“Saya anggap itu sebagai pujian. Saya hanya wanita yang terbiasa mengatakan segala sesuatu apa adanya sejelas mungkin. Mungkin itu juga yang menjadi alasan Pak Presdir memilih saya untuk datang bersamanya di rapat kemarin.”
“Luar biasa, bukan? Bakat seperti itu tentunya hanya dimiliki oleh sebagian kecil penduduk dunia, dan anda memilikinya.”
“Anda benar, saya bangga dengan bakat yang saya miliki. Karena itu pula saya merasa layak bagi kita berdua untuk mengobrol.”
“Saya sedang terbaring di rumah sakit saat ini. Tapi saya sedikit penasaran dengan pandangan anda tentang kelayakan kita untuk mengobrol lebih lama dari ini. Apakah posisi kita tak terlalu jauh?”
Wanita itu tersenyum. Membuatku semakin kesal. “Anda memang luar biasa, cantik, muda, pintar, dan dermawan, tapi sayang sekali saya tidak akan menyerah semudah itu.”
“Silakan saja, ucapan anda semakin menunjukkan betapa murah harga seorang wanita berbakat seperti anda.”
__ADS_1
“Nona Agata!” Aku menoleh pada Pak Erwin yang rupanya menyebut nama wanita ini.