Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Reuni


__ADS_3

"Senior! Kami kira anda tidak bisa datang hari ini." Dua orang mahasiswi menyambutku ketika kami memasuki gedung wisuda.


"Mana mungkin sih aku akan mengabaikan undangan dari juniorku," balasku disusul gelak tawa.


"Silakan ke sebelah sini, Senior." Mereka menuntunku sampai ke kursi yang disediakan oleh panitia.


"Mas, aku mau ke keluar. Kayaknya aku nggak bisa tahan duduk di sini sampai acaranya selesai deh," keluh Khadija yang kulihat menarik-narik lengan kemeja Mas Adrian.


"Acaranya belum juga mulai."


Aku berdiri menghampiri keduanya yang berdebat di depan umum. "Kenapa nggak temani Khadija keluar aja, Mas? Nanti kalau udah waktunya nama kamu dipanggil, biar Pak Erwin yang kasih tahu. Lagian nggak enak dilihatin orang-orang."


"Ya udah, kita keluar sekarang." Mas Adrian segera mengajak Khadija keluar dari gedung acara, pergi entah kemana.


Setelah itu, aku menghela napas besar. Setidaknya satu masalah terselesaikan dengan perginya dua manusia itu dari ruangan ini. Mungkin ini adalah salah satu sifatku dan Khadija yang saling bertolak belakang. Jika aku adalah tipe orang yang bisa mengontrol mood di depan orang banyak, tapi Khadija adalah tipe yang sama sekali tak bisa menutupi perasaan hatinya tak peduli ia sedang di tempat yang privat atau publik seperti ini.


"Hey!" Sebuah tangan menepuk lengan kiriku.


"Assalamualaikum," ucapnya seraya duduk di kursi kosong sebelah.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah. Ah, Pak Bima lagi."


"Akhirnya kamu beneran datang, ya? Kemarin waktu ada mahasiswa yang datang ke aku dan minta tolong untuk bikinkan undangan, aku nggak percaya loh kalau kamu bakaldatang."


"Abisnya saya kangen banget sama kampus ini. Mana mungkin saya sia-siakan kesempatan datang ke rumah kedua saya ini."


"Jangan terlalu formal gitulah. Kamu bukan mahasiswiku lagi Hann. Dan aku juga bukan dosenmu lagi."


"Pak Bima ih. Lagi pula, bukannya Bapak penanggungjawabnya? Kenapa Bapak duduk di sini?"


"Aku cuma nama di atas kertas. Faktanya yang mengatur acara sebesar ini juga bukan aku sendiri."


"Pak Bima ini selalu merendah, ya."


"Eh, gimana keadaan Bunda kamu? Udah baikan?"


"Alhamdulillah, kondisi Bunda sejauh ini sudah lebih baik. Tapi, beliau belum mau melakukan pemasangan ring jantung."


"Loh? Bukannya kemarin kamu bilang kalau beliau ada jantung koroner. Terus sekarang gimana?"


"Nah, itu juga yang saya bingung. Bunda saya cukup keras kepala dan sudah berkali-kali menolak untuk dipasangkan ring jantung."


"Mungkin cuma perlu waktu aja Hann. Sabar, ya ..., cobalah pelan-pelan dibujuk lagi."


"Iya, Pak Bim. Mohon doanya, ya, semoga Bunda saya segera dapat kesembuhan."


"Aamiin aamiin, kita saling mendoakan kebaikan saja."


Lagi-lagi kami terjebak dalam obrolan panjang yang tak berujung. Selalu saja ada topik-topik yang bagus untuk dibahas ketika pembicaraan kami mulai menyurut. Selalu seperti itu sampai rasanya tak ada kesempatan untuk meninggalkan satu sama lain, atau obrolan pun akan terputus.


Pukul sebelas siang, tiba saat Mas Adrian memberikan pidatonya, dan pesan-pesan untuk para fresh graduate. Menjelaskan tentang bagaimana kejamnya dunia kerja yang akan mereka hadapi, dan banyak hal lagi. Di satu momen, saat ia serius berbicara, aku sempat dengan sengaja memotretnya. Dan saat itu pula aku bersyukur, bahwa aku memiliki suami yang hebat. Tak hanya hebat untukku, tapi juga bisa menularkan ilmu dan kebermanfaatannya untuk orang lain.


...----------------...


"Makasih, ya, Mas, udah sempatin datang ke acara hari ini. Khadija juga, makasih udah temenin seharian." Aku melihat pada Mas Adrian dan Khadija bergantian.


"Sama-sama."


"Oh ya, kalau gitu ..., kalian berdua harus pulang sekarang, kan? Hati-hati di jalan, ya."


"Loh terus kamu, gimana?" Mas Adrian mengerutkan keningnya, spontan memegang tanganku.


"Aku, kan harus ke rumah sakit lagi. Aku nggak bisa biarin Bunda tidur sendirian di sana," ucapku seraya melepas pelan tangan itu.


Mas Adrian masih diam di tempatnya. Sampai ketika Khadija menanyainya, "Ada apa, Sayang?" baru ia mengalihkan tatapan kosong itu ke arah mobil yang telah siap.


"Kamu masuk ke mobil duluan, ya," pintanya pada Khadija kemudian. Meski agaknya tak rela meninggalkanku berdua saja dengan Mas Adrian, tapi akhirnya ia menurut dan masuk ke mobil lebih dulu.


"Kita perlu bicara." Tangan itu menarik lenganku, membawaku beberapa langkah menjauh dari tempat kami semula.


"Ada apa? Jangan lama-lama, nanti Khadija ngambek loh," kataku datar.

__ADS_1


"Kamu belum pulang ke rumah lagi sejak Bunda masuk rumah sakit. Aku belum lihat kamu makan siang di rumah sejak terakhir kalinya hari itu."


Perlahan kulepas pegangannya di tanganku. "Aku, kan ngurus kerjaan kantor dan cafe dari pagi sampe sore, malamnya aku ke rumah sakit jagain Bunda. Lagian, kan sekarang ada Khadija di rumah." Aku menepuk lembut pipi kirinya.


"Ini bukan soal siapa-siapa. Ini soal kamu, Sayang."


Aku tak kuasa menahan kepalaku tetap tegak menatap lurus sepasang mata hazel itu. Pandanganku tunduk di hadapannya, lalu air mata menitik perlahan satu demi satu. Aku tak ingat kapan kami bicara seperti ini. Kapan terakhir kali Mas Adrian memanggilku dengan sebutan 'Sayang'. Aku terharu karena rasanya sudah terlalu lama aku tak memiliki kesempatan berdua saja dengannya.


"Sayang, kamu?"


"Aku nggak apa. Aku ..., aku juga ngerasa sepi selama nggak ada kamu. Aku juga ingin berdua saja walau sebentar."


"Pulang, ya ..., jangan tidur di rumah sakit terus. Rumah kamu adalah rumahku, rumah kita."


Cup! Ia mengecup punggung tanganku sekali lalu tersenyum penuh harap.


"Iya, aku akan pulang. Setidaknya besok, karena malam ini Ayah belum bisa menemani Bunda semalaman."


"Aku tunggu kamu di rumah. Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ta'ala wabarakatuh."


...----------------...


Suasana rumah sakit sama seperti biasa, sepi dan sesekali hanya terdengar suara hentakan alas kaki bersentuhan dengan lantai, atau orang-orang yang sengaja berbisik untuk mengecilkan volume suaranya. Setelah apa yang Mas Adrian katakan tadi, mungkin ini adalah hari terakhirku tidur di rumah sakit menemani Bunda. Meski masih ada beberapa hal yang membuatku berpikir ulang untuk kembali pulang, tapi apa kata Mas Adrian, tak bisa begitu saja kuabaikan.


"Dari kemarin kayaknya kamu udah bisa senyum lagi, Hann. Ada apa?" Pertanyaan Bunda itu serentak mengejutkanku.


"Masa sih, Bun? Kayaknya Hanna begini-begini aja."


"Enggak. Kamu jangan bohong deh, Bunda tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi waktu kamu beli rendang untuk Ayah kemarin." Aku berpikir lagi mendengar ungkapan Bunda itu.


Aku terdiam sebentar memikirkan ucapan Bunda. "Ng- nggak ada apa-apa, Bunda ...."


"Bunda itu tahu betul kamu sejak kecil, Hann. Kalau memang nggak ada apa-apa, mana mungkin senyummu kemarin bisa lebih bercahaya dari biasanya. Pasti karena Adrian, ya?"


"Ah, Bunda. Dibilang Hanna nggak ada berubah apa-apa kok."


Tok! Tok! Tok!


"Iya, Bun." Aku berdiri dan melangkah pergi membukakan pintu.


Alangkah terkejutnya aku ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintu itu. Masih tak percaya pada apa yang kulihat di depanku, Bunda sampai memanggilku beberapa kali.


"Hann ... siapa? Kok nggak disuruh masuk?"


"Iya, Bunda."


"A, eh, silakan masuk, Pak." Aku membukakan pintu kaca itu untuk pria yang tersenyum melihatku.


Ia kemudian masuk tanpa mengubah senyumannya. Dengan buket bunga di tangan kanan, dan sepaket buah-buahan di tangan kiri, ia masuk dengan penuh percaya diri. Bahkan ia telah duduk di kursi kosong sebelah ranjang Bunda, sebelum aku kembali menutup pintu dan mengikutinya.


"Gimana keadaan Bunda?" tanyanya dengan nada akrab.


"Alhamdulillah baik, mohon maaf sebelumnya, anda ini ...."


"Oh iya, mungkin Bunda lupa. Saya Rama, pemilik agensi model yang dulu memberikan penawaran kepada Hanna," ungkap pria itu lembut.


"Oh, benar! Bunda baru ingat sekarang. Sudah lama sekali, ya tidak bertemu, tapi sepertinya tidak ada yang berubah. Kemana saja selama ini?"


"Akhir-akhir ini memang, Rama lebih banyak berada di luar negeri. Tapi, terakhir kami sedang ada project di Jakarta, begitu dengar kabar Bunda masuk rumah sakit, saya langsung atur ulang jadwal supaya bisa membesuk."


"Siapa yang kasih tahu kalau saya sakit dan dirawat di sini?"


"Ah, itu ... saya cukup punya koneksi dengan orang-orang di sekitar Bunda, jadi, cukup mudah untuk mendapatkan kabar tentang Bunda. Meski begitu, saya sama sekali tidak ada niat jadi penguntit keluarga Pak Darmawan kok."


"Nak Rama benar-benar tidak berubah sedikit pun. Lalu gimana dengan urusan di Jakartanya? Kalau sampai Nak Rama kemari, rasanya Bunda jadi tidak nyaman."


"Ah, Bunda. Bukan hal besar kok. Toh juga kita sudah sangat lama tidak bertemu, jadi, begitu mendengar Bunda dirawat, saya tidak bisa hanya sekedar duduk diam."


Tok! Tok! Tok! Sekali lagi pintu diketuk dari luar. Melihat Bunda dan Pak Rama yang kalut dalam obrolan, hingga keduanya tak menyadari suara ketukan pintu itu, aku pun bergegas bangkit kembali ke arah pintu, dan membukakannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucapnya ketika pintu kubuka.


"Astaghfirullahhal'adziim!"


"Kenapa, Hann? Aku ucap salam, kok balasnya istighfar?"


"Eh, maaf. Wa'alaikumsalam, Pak. Ada apa, ya?"


"Kok ada apa? Tadi pagi, kan aku udah izin mau jenguk Bunda kamu. Kamu lupa?"


"Iya kah? Maaf, Pak. Astaghfirullah, benar, saya kelupaan. Eh, silakan masuk, Pak." Aku kikuk menyilakanya masuk ke dalam ruangan putih itu.


"Assalamualaikum, Bunda ..., bagaimana kabarnya?"


"Wa'alaikumsalam. MashaAllah, ini Nak Bima, kan, ya? Sudah lama sekali tidak bertemu, sekarang bertemu dengan keadaan begini. Oh ya, Pak Rama, kenalkan, Nak Bima ini dosen Hanna dulu. Nak Bima, ini Pak Rama, pemilik agensi model yang dulu pernah menawarkan Hanna untuk gabung dengan mereka."


Aku masih berdiri di dekat pintu. Bingung harus bagaimana lagi menampung tamu-tamu itu, hingga hanya bisa terdiam. Pak Rama dan Pak Bima yang sudah saling mengenal itu bahkan sempat bertatapan sinis satu sama lain. Meski begitu, karena Bunda langsung yang memperkenalkan keduanya, mereka tetap berjabat tangan. Lalu Pak Bima mengambil duduk di kursi yang terletak di sebelah kiri ranjang Bunda. Sementara Pak Rama duduk di sebelah kanan. Suasana yang sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku.


Keduanya tampak seperti rival yang memperebutkan perhatian Bunda, dan berlomba untuk membuat Bunda tersenyum serta tertawa. Aku sendiri yang tak mengerti dengan situasi itu, benar-benar terasa seperti terperangkap. Kenapa dua orang itu bisa datang disaat bersamaan seperti itu? Sengaja kah?


Tak banyak yang bisa aku lakukan selain melihat keduanya yang sama-sama memberondong Bunda dengan berbagai pertanyaan dan kata-kata melucu. Sementara itu, keberadaanku diabaikan hingga jam kunjung pasien hampir habis.


Tok! Tok! Tok! Siapa lagi yang akan datang mengejutkanku?


Aku berdiri meski setengah hati. Tapi belum sempat aku meraih gagang pintu itu, pintu sudah dibuka dari luar. Pintu yang terbuka itu kemudian menampilkan sosok Garrin berdiri di sana, menjinjing keranjang buah. Matanya langsung melihat ke seisi ruangan, lalu ia tersenyum penuh arti padaku.


Spontan saja ia tertawa kecil melihat sekeliling. "Ada reuni nih?" ujarnya lantas masuk dan menghampiri langsung Bunda.


Demi apapun! Apa yang sedang terjadi! Kenapa pria-pria ini bisa datang ke rumah sakit di saat yang bersamaan seperti sekarang? Lagipula apa yang membuat mereka datang kemari, sedangkan aku jarang sekali berkomunikasi dengan ketiganya. Sebenarnya apa tujuan mereka?


Suasana semakin lengkap ketika Adrian datang dan menatap satu per satu manusia yang duduk di kursi mengitari ranjang tempat Bunda merebahkan tubuhnya. Mata hazelnya itu tak bisa menutupi raut keheranan. Lalu ia bermain mata seolah melempar pertanyaan padaku, 'Ada apa di sini?'. Begitu pula pada ketiga pria yang telah duduk berbincang dengan Bunda. Mereka menatap Adrian bersamaan dengan tatapan mata yang mengandung makna masing-masing.


"Hmm, Pak Rama, Pak Bima. Ini ..., Mas Adrian, suami saya." Aku memperkenalkan Mas Adrian pada dua orang itu. Selanjutnya mereka saling berjabat tangan dan bertatapan mata.


"Adrian."


"Rama."


"Bima."


"Senang bertemu dengan anda sekalian." Kalimat itu terdengar sangat palsu ketika keluar dari bibir Adrian yang tak menunjukkan sedikit pun senyumannya.


"Oh, ya. Sekarang sudah pukul enam lebih dua puluh menit, ya? haha. Sepertinya sebentar lagi jam kunjung akan habis," tuturku memecah kekakuan para pria bermata tajam itu.


"Kalau begitu, saya pamit lebih dulu, Bunda. Besok atau lusa, InshaAllah saya akan datang lagi. Tapi saya harap, Bunda sudah tidak berbaring di ranjang rumah sakit lagi. Semangat sembuh!" Ucap Pak Rama seraya mengepalkan tangannya.


"Saya juga Bunda. Saya harus kembali ke kampus sebelum isya' karena ada beberapa hal yang perlu saya selesaikan. Bima pamit undur diri, Bunda."


Seusai pamit undur diri, Pak Rama dan Pak Bima berjalan keluar dari ruangan. Menyisakan aku, Garrin, dan Mas Adrian yang duduk di sebelah Bunda.


"Assalamualaikum, Bunda. Maaf, Adrian baru bisa jenguk sekarang. Ada banyak hal yang perlu diurus akhir-akhir ini."


"Iya, nggak apa," jawab Bunda datar.


"Ehmm, Aleesa? Bisa kita ngobrol sebentar, di luar, Sayang?" tanya Mas Adrian lirih.


Aku pun mengangguk, bersamaan dengan itu, Garrin turut undur diri. "Kalau gitu, Garrin pamit pulang, ya, Bun. Jo di rumah sendirian ini tadi."


"Oh, iya. Hati-hati di jalan, ya? Lain kali kalau datang nggak perlu bawa-bawa banyak barang seperti ini, terlalu merepotkan."


"Tidak repot, Bunda ..."


"Titip salam juga buat Johana."


"Iya, Bunda. Inshaallah Garrin sampaikan."


Di luar ruang inap, Mas Adrian berdiri menghadapku. Ia menatap langsung dengan sorot tajamnya, dan tatapan mata yang dingin menusuk. Bibirnya tak kunjung bersuara, hingga Garrin keluar dari ruangan dan menepuk bahu kanan Mas Adrian.


"Jangan tanya Hanna soal orang-orang tadi, Hanna nggak akan ngerti. Tapi aku tahu betul siapa mereka," tuturnya tersenyum miring.


"Siapa?"

__ADS_1


"Mereka? Orang-orang yang bersedia merawat dan memanjakan Hanna bagai ratu. Kalau sedikit aja kamu mengabaikan Hanna, mereka udah siap mencurinya darimu." jelas Garrin, kemudian melangkah pergi.


__ADS_2