
Mungkin aku satu-satunya orang yang paling terkejut di sini. Ketika mobil berhenti di luar pagar rumah hitam, aku seolah melihat rumah asing. Dari pagar rumah yang dulunya berupa kekayuan tanpa ornamen, kini berubah menjadi pagar beton yang ditengahnya terdapat pagar ganda besi tubular hitam elegan.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku hampir tak percaya ini adalah rumah yang sama yang kutinggali beberapa bulan lalu. Rasanya pekarangan rumah ini jadi berkali-kali lebih luas dari sebelumnya. Bahkan mungkin aku bisa seharian menghabisakan waktuku hanya dengan mengitari rumah ini.
“Selamat datang kembali, Nyonya.” Pak Erwin membukakan pintu utama yang juga diganti. Sekarang rumah ini tampak monokrom jika dilihat dari luar.
“Memang ada beberapa perubahan di rumah ini, tapi saya yakin anda bisa segera beradaptasi. Kamar anda masih sama di lantai dua, hanya ada sedikit perubahan ruangan dan beberapa perabot yang bisa anda koordinasikan sendiri dengan Tuan.”
“Dapur pun sudah diperluas dengan beberapa aset dan perlengkapan baru, karena Tuan ingin yang ternyaman untuk anda. Mulai saat ini, mobil anda akan diparkir di basemen, garasi yang biasa hanya digunakan untuk tamu dan koleksi mobil Tuan yang akan tiba beberapa saat lagi.”
“Untuk sekarang, saya serahkan kepada Agatha.”
“Mari Nyonya, saya antar anda ke atas.” Agatha menyilakanku jalan mengikutinya.
Oh God! Sekarang bahkan rumah ini dipasang akses lift. Entah bagaimana jika ke-MAGER-anku semakin meningkat setelah ini? Pikirku serentak menghela napas.
“Kamar anda di sebelah sini. Tuan sengaja membuatkan kolam renang tambahan di lantai dua agar anda tidak perlu menggunakan kolam renang bawah bila anda merasa kurang nyaman. Dekorasi dan perabot yang anda inginkan untuk ruangan ini, tinggal anda pilih dari iPad yang ada di sana, kami akan segera mengirimkannya.”
“Kapan barang-barang dari rumah saya selesai dipindahkan?”
“Mungkin dalam dua hari, kami akan selesai memindahkan semuanya. Jika ada yang anda perlukan, akan kami catat dalam daftar prioritas.”
“Nggak usah, nggak ada barang yang terlalu mendesak untuk digunakan.”
Aku berlanjut memeriksa kamar yang hampir seluas rumahku itu. Karena masih kosong tanpa furniture, ruangan abu-abu ini pun tampak semakin luas. Adrian bahkan sampai menghancurkan dinding kamar yang mengarah ke belakang untuk membuat kolam renang itu. Ini mah namanya perubahan total, bukan sekedar renovasi.
“Apakah ada ruangan yang dihilangkan?”
Agata segera memeriksa gadget di tangannya. “Hanya beberapa kamar tamu yang sengaja dialihfungsikan. Sisanya justru ada penambahan ruang baru dari yang semula tidak difungsikan, sekarang menjadi ruangan dengan banyak fungsi.”
“Oh ya, Tuan ingin menambahkan beberapa cleaning service yang akan datang setiap pagi atau sore, untuk jadwalnya anda bisa menentukan sendiri. Dry clean datang setiap dua hari sekali. Chef akan datang saat anda tidak ingin memasak. Pengurus taman dan pekarangan datang setiap pagi dua hari sekali. Dan...” Agata berhenti membaca tulisan dalam iPadnya.
“Dan apa?” tanyaku
Agata menunjukkan layar iPadnya padaku. “Super special service, everyday? Saya kurang tahu dengan service ini, saya hanya membacakan dari yang dikirim Presdir."
Aku menatapnya bingung, begitu pula Agata menatapku sama bingungnya. "Ah sudahlah, kita lanjutkan lagi saja." Kami pun beralih ke tempat lain sebagai pengenalanku dengan rumah yang baru direnovasi ini. Berapa ribu dollar uang yang dihabiskannya untuk semua ini.
Sampai kembali ke lantai satu, aku juga menyadari sekarang rumah ini sangat transparan. Dinding-dinding beton yang sebelumnya membentuk rumah ini menjadi rumah yang kokoh dan megah, kini banyak diganti dengan dinding dan pintu kaca. Selera Adrian memang tak tertandingi. Alarm rumah juga rupanya diganti, dan beberapa ruangan lain aku jelajahi bersama Agata.
“Security akan berjaga dua puluh empat jam dengan sift yang ditentukan Tuan. CCTV akan menyala di setiap ruangan atas akses dari Tuan. Berikutnya, Mba Rina dan saya akan datang setiap anda memanggil kami. Sementara Pak Erwin, beliau akan datang ketika Tuan yang memanggil.”
“Tunggu, apa? Kalian nggak akan tinggal di rumah ini? Mba Rina nggak di sini juga?”
“Iya. Begitu perintah Tuan.”
“Gimana cara kalian bisa datang tepat waktu saat saya membutuhkan kalian?"
“Tuan memberikan apartemen untuk tempat kami tinggal. Kami akan datang lima menit setelah anda memanggil.”
“Gimana kalau saya butuh kalian segera?”
“Kalau pun anda memerlukan bantuan dengan segera, staff keamanan di rumah ini memperkerjakan delapan orang setiap hari. Dua di antaranya adalah perempuan, jadi anda bisa memanggil mereka berdasarkan nickname. Tapi saya yakin anda tidak akan membutuhkan kami karena selalu ada Tuan di samping anda,” ujarnya menunjukkan senyum.
“Sudah pukul enam, saya pamit ke depan. Mungkin sebentar lagi Tuan akan datang, anda bisa bersiap, mandi, atau berdandan?”
“Menurut kamu apa yang akan saya lakukan untuk menyambut suami yang baru pulang dari luar kota?” Aku mengangkat sebelah alisku, membuat Agata menelan salivanya sendiri.
“Anda bisa memakai pakaian yang anda suka, karena seluruh CCTV dimatikan, dan staff keamanan hanya berjaga di sekeliling rumah. Anda akan berhutang budi pada saya setelah ini,” bisiknya sengaja menggodaku lantas lari meninggalkan rumah ini.
Berkat ucapan Agatha yang meracuni pikiranku, jantungku semakin terpacu tak bisa berdegup teratur. Rasanya seperti akan meledak setiap kali aku mengingat perkataannya. Aih! Dasar Agatha!
__ADS_1
Di samping itu semua, aku masih terpikirkan oleh ujaran Agata sebelumnya. Kira-kira apa yang Adrian maksud dengan Super Special Service. Hanya dengan memikirkannya saja kembali aku berdebar tak karuan. Kuputuskan untuk pergi mengambil wudhu dan shalat Maghrib segera sebelum isi kepalaku ini makin tak terkendali.
Selepas shalat Maghrib, doaku banyak terpanjat. Tentang keinginan untuk memiliki anak, aku yakin Adrian juga sudah menantikannya. Karena finansial bukan satu-satunya masalah yang kami hadapi, aku justru lebih takut bila masalah yang lain lebih dari itu.
Kling! Kling! Incoming call ....
[Voice Call]
Agatha : Baru saja mobil Tuan tiba di pekarangan rumah. Beliau berjalan masuk ke rumah sendirian. Prepare yourself
Hanna Aleesa : Menurut kamu saya harus siapkan pistol untuk menyambut kedatangan Adrian?
Agatha : Saya hanya berharap bisa segera mendapat tugas untuk mengasuh Al-Faruq Junior.
[End Call]
Tak lama setelah Agatha mematikan telepon, aku turun menuju pintu depan yang diketuk dari luar. Sejenak menghela napas panjang lalu aku membuka pintu perlahan.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu."
"Hai! Boleh saya masuk?"
Aku menelan ludah sendiri. "Si, silakan," kataku tergugup.
Click! Bruk!
"Ada banyak yang harus kita bicarakan. Mulai dari mana?" bisik dan deru nafasnya memburu tepat di dekat telingaku.
Satu tangannya melingkar di pinggangku dan satu lagi melingkar dan bertengger di bahu. Perlahan tanganku meraih pergelangan tangannya, membalikkan badan untuk bisa menatap langsung ke wajahnya.
"Aku minta maaf," ujarku lirih seraya membelai lembut warna biru di dekat rahangnya.
Adrian menggenggam erat tanganku, menurunkannya dari sisi berbekas membiru itu. "Hey, It's fine. You didn't mean to"
^^^Hey gapapa kok, kamu kan nggak sengaja~^^^
"But it's the fact that I did it. Sorry." Suaraku bergetar menahan air mataku.
^^^Tapi fakta bahwa aku melakukannya. Maaf~^^^
"It's okay. I know how you felt that night. It's not entirely your fault."
^^^Gapapa, aku ngerti gimana perasaan kamu malam itu. Ini bukan sepenuhnya salahmu~^^^
"But, I shouldn't be doing that as a wife. I'm still guilty. "
^^^Tapi aku nggak seharusnya ngelakuin itu sebagai seorang istri. Tetap aja aku bersalah~^^^
"I was wrong too. And I don't feel worthy to be a good husband in our lil family. let's fix everything."
^^^Aku juga salah. Dan aku ngerasa aku belum bisa jadi suami yang baik di keluarga kecil kita. Mari kita perbaiki semuanya~^^^
"The world is not the same when you are away." Aku tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk tubuh yang berada di depanku ini.
^^^Aku kangen baaaanget sama kamu~^^^
"So am I. I've been thinking about you all the time."
^^^Begitu pula denganku. Aku mikirin kamu tiap waktu~^^^
__ADS_1
"So, what are we gonna- mmhm."
^^^Apa yang akan kita-~^^^
"Adrian ...."
"Nobody's seen us here. It's okay, right?"
^^^Nggak ada orang di sini. Nggak apa-apa, kan?^^^
Aku mengangguk pelan. "Iya, tapi- Mmh."
Adrian membungkam mulutku dengan pagutan bibirnya yang tidak bisa kutolak. Degup jantungku berdebar kencang selaras dengan napas kami yang saling beradu. Perebutan oksigen itu berlanjut hingga ke sofa, di mana Adrian merebahkan serta menindih tubuhku. Ketika pergerakanku terkunci, maka tak ada yang bisa kulakukan untuk sekedar berharap bisa lepas dari sisi laki-laki Adrian.
Karena termakan omongan Agatha sebelumnya, di balik dress panjangku aku memakai kado dari Kak Erina. Adrian sendiri sempat terkejut melihatku dengan berani memakai lingerie seksi itu. Tapi ia tak mau ambil pusing dan segera membawaku ke lantai dua. Bahkan di dalam lift yang bergerak naik, ia tak mau melepasku barang sebentar saja.
"Pelan, Sayang ...."
"Chill, I'm not gonna kill you, I just eat you" bisiknya berlanjut menyecap leher dan membuat tanda di sana.
^^^Santai, aku nggak akan membunuhmu kok, aku cuma memakanmu~^^^
Desahku seakan tak mampu lagi menembus batas pendengarannya. Permainan lidahnya tak sanggup kuimbangi, menyadarkanku bahwa Adrian yang kukenal telah kembali. Adrian yang tak bisa menahan diri untuk menjadi vampir brutal. Ya, itu memang Adrian Al-Faruq yang kukenal.
Aku tak tahu berapa lama Adrian mempermainkan seluruh tubuh dan perasaan yang berkecamuk ini hingga dua tubuh manusia di balik selimut ini penuh peluh.
"Aleesa."
"Ya?"
"Terimakasih banyak."
"Untuk apa?" tanyaku tak dibalasnya melainkan ia memelukku lebih erat.
"Ayo tidur beberapa menit lagi." Tangannya membelai rambutku lembut. Di dada bidang itu, dalam pelukannya aku bisa merasa tenang.
*****
Aku baru terbangun ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebelum benar-benar beranjak dari tempat tidur, aku duduk di pinggir ranjang sembari mengumpulkan kesadaran. Aku tercekat saat embusan napas menerpa kulit bahuku.
"Sakit, ya?" tanya Adrian memelukku dari belakang.
"Iya."
"Maaf, itu salahku, seandainya aku ada di saat-saat seperti itu, kamu nggak akan pernah punya luka ini," ujarnya menyentuh kulit punggung yang ketat karena bekas jahit.
"I- Itu nggak sakit kok."
"Tadi katanya sakit."
Aku menoleh padanya. "Yang itu nggak sakit. Aku kira kamu nanyain yang lain."
"Emang apa yang sakit?"
Aku menghela napas berat. "Dasar, ya. Nggak sadar diri banget." Aku berdiri meninggalkannya menuju ke kamar mandi dengan langkah pelan.
"Sayang? Yang sakit mana? Sayang..., bilang dong."
"Nggak."
"Aleesa, Sayang ...."
__ADS_1
"Pikir aja sendiri."
"Sayang ...."