Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Jatuh


__ADS_3

"Harun?"


"Kakak? Nggak ... mungkin kan?"


Aku bergegas pergi. Stroller itu masih di tempat semula terkahir kali aku meninggalkannya. Restoran mulai ramai, membuatku semakin panik dengan desakan keadaan itu. Kuminta Adrian untuk mencari di luar resto, sementara aku mencari ke dalam. Ketakutanku semakin menjadi jika ingat pada kejadian malam itu.


Malam ketika beberapa orang datang ke rumahku dan memberiku luka tusukan di punggung. Jika mereka tega melakukan hal seperti itu pada wanita, entah apa yang tega mereka lakukan pada anak kami. Pikiranku tak bisa tenang, bahkan semakin takut karena hampir setengah jam berjalan dan Asyqar tak juga ditemukan.


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Halo?


Hugo Ranvier : Ya, Bu?


Hanna Aleesa : Tolong datang ke restoran XXX sekarang. Bawa setidaknya lima orang. Asyqar hilang


Hugo Ranvier : Ap- Baik, Bu


[Voice Call]


"Gimana?" Aku mendatangi Adrian yang datang kembali bersama security resto.


"Nggak ada. Nggak ada siapa pun yang lihat bayi di luar."


"Di dalam juga nggak ada yang lihat. Mas ..., gimana dong?" Kekuatanku makin tipis, ketegaran yang tadi menggebu sirna sudah oleh ketakutan.


"Tenang dulu. Kita ..., kita coba cek cctv, okay? Nggak apa. Semuanya pasti baik-baik aja." Adrian merengkuhku, berjalan ke arah ruang teknisi.


Setelah berbicara dengan bagian keamanan restoran tersebut, kami memeriksa semua cctv. Kamera cctv yang terpasang di tempatku meninggalkan Asyqar dan Harun dikonfirmasi tidak berfungsi sejak seminggu lalu. Sisanya hanya beberapa cctv yang merekam separuh atau sebagian kecil stroller Asyqar. Hasilnya pun nihil.


"Maaf, Pak. Kami sudah cek seluruh cctv, dan tidak terlihat ada seseorang membawa bayi di mana pun." Kalimat itu yang pada akhirnya memaksaku menitikkan air mata.


Rasanya begitu hancur. Dunia seakan runtuh tanpa daya. Tidak mungkin aku akan kehilangan buah hatiku untuk kedua kalinya. Beberapa saat setelahnya, Hugo datang bersama personel untuk menutup seluruh akses keluar-masuk resto dan memeriksa semua bagian restoran. Aku hanya bisa menaruh harapku pada hasil pencarian mereka. Restoran ini sangat luas, perlu waktu berjam-jam sampai bisa menyisir seluruh bagiannya.


Adrian terus menenangkanku meski dirinya sendiri sama paniknya. Tapi yang kulihat, ia tetap mencoba mempercayakan pencarian pada personel keamanannya. Di sisi lain, ia menghubungi seseorang dari ponselnya. Berbicara dengan tegas, dan mengakhirinya tanpa bertele-tele.


Selama dua jam kami hanya duduk diam di dalam mobil, menunggu laporan pencarian dari Hugo. Tangisku belum juga berhenti, pun Adrian yang masih berusaha mengusap-usap bahuku. Foto-foto Asyqar yang memenuhi galeri ponsel semakin membuatku khawatir akan keadaan cinta ketigaku itu.


"Udah, ya ... Sekarang kita pulang aja dulu." Tangan Adrian menutup ponselku.


"Terus Asyqar gimana?"


"Nggak apa-apa. Aku yakin Asyqar nggak kenapa-napa. Dia anak kita yang pintar, dan berani. Asyqar pasti ketemu. Okay? Kita pulang dulu, ya?"


Aku mengusap air mata, mengatur napasku, lalu segera berpindah ke bangku depan. Adrian memandangku dengan arti, ia membantuku memakaikan safety belt sembari memintaku agar tetap tenang melalui senyumannya. Baru saja mesin mobil dinyalakan, seseorang mengetuk kaca mobil. Adrian segera membukanya sesaat setelah memastikan siapa yang mengetuk pintu.


"Sorry, ini ... ah, aku emang nggak lihat sendiri, tapi orangku tadi lihat ada bayi merangkak ke tempat parkir sendiri dan sampai di tempat parkir, ada laki-laki yang bawa bayi itu pergi.”


“Tunggu! Apa warna baju yang dipakai?”


“Katanya bayinya pakai baju warna biru, dan topi gurita merah. Benar?”


“Sayang, nggak salah lagi itu pasti Asyqar.” Aku memegang lengan Adrian.


Adrian mematikan mesin mobil, memintaku untuk tetap di dalam sementara ia pergi menemui Hugo dan berbicara dengan orang-orang Pak Rama yang menjadi saksi langsung kejadian itu. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi. Begitu doaku selama menunggu dalam mobil hingga Adrian kembali.


"Gimana?" tanyaku ketika Adrian baru saja masuk ke dalam mobil.


"Kayaknya benar itu Asyqar. Saksi mata yang lihat kejadian itu juga mau diajak kerjasama untuk mempermudah pencarian. Karena di situasi itu hanya ada dua orang yang melihat langsung pelaku membawa Asyqar, jadi kita udah terbantu banget."


"Terus sekarang gimana?"

__ADS_1


"Sekarang kita pulang dulu, kamu yang tenang. Hugo udah panggil personel lain untuk cari Asyqar."


Aku mengangguk pelan, meski hati rasa berat meninggalkan tempat itu.


........


Adrian dan Hanna tiba di kediaman mereka. Asisten rumah tangga yang sudah tahu dengan keadaan terkini yang mereka hadapi berusaha turut menenangkan Hanna. Mba Rina sebagai salah satu orang yang paling Hanna percaya, menjadi penenang paling ampuh, sementara Adrian kembali meninggalkan rumah bersama beberapa orangnya.


Dalam tiga puluh menit sejak kepergian Adrian, Zahra datang bersama Ali dan kedua anaknya. Mereka datang setelah Adrian menghubungi dan menceritakan apa yang terjadi. Karena saat ini ia tahu yang sangat Hanna butuhkan adalah support mental dari orang-orang terdekatnya.


...----------------...


“Saya yakin. Itu jaket yang sama seperti yang dia kenakan di restoran.”


Adrian dengan cepat melihat pada Hugo. “Hugo.”


“Baik Pak.” Tanpa bertanya lebih lanjut, Hugo turun bersama seorang lainnya.


Beberapa saat berlalu, dan seluruh personel sudah turun untuk menerobos keamanan rumah itu. “Kami sudah berhasil masuk. Penyisiran di lantai satu bersih. Selanjutnya kam-”


Sinyal terputus di tengah suara Hugo yang senantiasa melapor. Keadaan semakin mencekam ketika terdengar suara tembakan dari dalam. Adrian meminta Erwin menjauhkan mobilnya dari area rumah berpagar tinggi itu untuk sementara waktu. Hingga suara baku tembak itu berhenti, masih tidak ada tanda-tanda kembalinya personel di bawah pimpinan Hugo.


“Sudah sepuluh menit sejak suara tembakan berhenti. Aku harus turun.” Adrian mengambil jaket tak jauh dari tempat duduknya.


“Adrian! Jangan gegabah. Kita tidak tahu kondisi di dalam seperti apa.” Erwin yang berusaha mencegah tak lagi dihiraukannya.


Adrian tersenyum, dengan senyuman menyeringai, juga tatapan penuh amarah. Di dalam mobil yang saat ini tersisa hanya Erwin dan satu saksi mata itu, kini ketiganya ikut turun. Orang dalam mobil-mobil lain yang terparkir di seberang jalan, satu per satu mulai keluar ketika melihat Adrian bersiap masuk ke rumah itu.


Erwin lantas turun dari dalam mobil, mengambil walkie talkie. “Driver 2 kanan 1 kiri, turun! Ikut Tu-”


“Jangan. Kalau mereka ikut masuk, kita akan kehilangan lebih banyak orang.”


“Tapi nggak mungkin kamu akan masuk sendiran.”


“Jangan bercanda dengan maut, Adrian.”


“Aku tidak bercanda. Aleesa sudah menungguku untuk membawa Asyqar pulang. Nggak ada waktu lagi sampai Asyqar benar-benar kembali tanpa luka.”


"Aturan pertama sebelum melakukan misi penyelamatan. Pastikan kita bisa menyelamatkan diri sendiri lebih dulu."


"Benar. Dan sekarang aku sudah tidak hidup sendiri, Erwin. Sebagian diriku ada pada Asyqar. Menyelamatkannya adalah kewajiban, bukan lagi hak." Erwin terdiam mendengar Adrian yang sangat berbeda dari Adrian dimasa mudanya.


Sesaat Adrian melirik cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya. "Mungkin kamu berpikir aku sudah berubah. Dan, ya. Tanpa kusadari Aleesa memang merubahku. Sekarang semua perkataannya adalah perintah mutlak dan harapannya tak mungkin kukecewakan. Tenang saja, aku akan kembali." Dengan kepercayaan dalam dirinya, Adrian berjalan cepat, menyelinap masuk.


...----------------...


Mobil-mobil itu satu per satu memasuki pekarangan rumah. Mendengar suara deruman itu, Hanna yang masih sembab karena air matanya tak bisa berhenti selama berjam-jam segera beranjak dari sofa ruang tamu, berlari ke depan. Zahra yang semula bersamanya pun mengikuti di belakang. Lalu ekspresi Hanna seketika berubah lega melihat Asyqar tertawa-tawa di gendongan Hugo.


"Asyqar! Mashaallah, anak Mama!" Hanna segera mengambil alih Asyqar dari tangan Hugo.


"Maafin Mama, ya, Sayang ..., Mama nggak bisa jagain kamu." Tangisku kembali pecah ketika melihat senyum dari Adrian kecil.


"Udah, nggak apa-apa. Semuanya udah baik-baik saja sekarang." Zahra tersenyum mengusap-usap punggungku.


"Sebelum kami datang ke mari, Asyqar sudah lebih dulu kami bawa ke rumah sakit untuk memastikan tidak ada cedera atau luka. Dan puji Tuhan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan."


"Alhamdulillah. Terimakasih, Hugo. Terimakasih banyak semuanya. Kalian bisa kembali beristirahat."


"Baik, Bu."


Pria-pria dengan setelan hitam itu membubarkan diri setelah mendengar ujaran Hanna. Tapi Hugo tak kunjung berpindah dari tempatnya berdiri hingga tersisa Hanna, Asyqar, Kak Zahra, dan Hugo berdiri di beranda depan rumah. Hanna lantas menyilakan pria itu masuk ke dalam untuk bercerita lebih lanjut.

__ADS_1


Di ruang keluarga, Hanna masih menciumi Asyqar berkali-kali karena terlampau bahagia melihatnya baik-baik saja. Selesai mandi, di sofa ruang keluarga telah duduk Hanna dan Asyqar, Zahra, Ali juga kedua buah hati mereka, serta Hugo.


Sesaat kemudian ekspresi Hanna kembali serius. "Jadi, siapa dalang di balik ini semua?"


"Itu kami masih menyelidikinya. Pelaku tidak bekerja untuk dirinya sendiri. Bisa dikatakan bahwa pelaku yang kami temui hari ini hanya boneka yang dibeli untuk melakukan tindak kejahatan."


"Belum ada kemungkinan siapa dalang di balik ini semua?"


"Sebenarnya ..., saya mencurigai seseorang. Tapi rasanya tidak etis menuduh seseorang tanpa bukti."


"Benar juga. Sebaiknya selidiki dengan lebih serius dulu sebelum benar-benar menemukan bukti kuat untuk menangkap pelakunya."


"Oh ya. Siapa yang akhirnya menemukan Asyqar lebih dulu? Tolong katakan siapa orangnya, aku ingin berterimakasih secara langsung."


"Sebenarnya Pak Adrian sendiri yang pada akhirnya membawa Asyqar keluar dari rumah itu."


"Adrian?" Sontak kedua alis Hanna terangkat, dan bibirnya pun ikut menyunggingkan senyum kecil.


"Iya, Pak Adrian."


*Jadi pada akhirnya Allah memilih Papa sebagai perantara untuk menyelamatkan kamu, Nak*?


Hanna melihat ke pintu yang mengarah ke depan, lalu memperhatikan sekeliling. "Terus sekarang Adriannya mana? Harun juga tadi ikut kalian, kan?"


Hugo tercekat. Ia membenarkan posisi duduknya, dan mendehem beberapa kali. "Maaf, Nyonya. Saya tidak tahu apakah saya boleh mengatakan hal ini kepada anda. Pak Adrian saat ini sedang berada di rumah sakit untuk menerima perawatan, Pak Erwin dan adik anda turut menemani beliau. Karena itu saya ditugasi untuk mengantar Asyqar sampai kepada anda."


"Rumah sakit? Ada apa dengan Adrian sampai harus dibawa ke rumah sakit? Rumah sakit mana?"


"Pak Adrian terkena tusukan di perut dan paah tulang di tangannya. Beliau memang belum siuman, tapi saya yakin beliau akan baik-baik saja."


"Rumah sakit mana?"


"Rumah sakit XXX."


"Mba Rina!" Spontan Hanna memanggil asisten kepercayaannya itu. Ketika wanita itu datang, segera Hanna menyerahkan Asyqar padanya, sedangkan Hanna sendiri meminta Hugo untuk mengantar ke rumah sakit yang ia maksudkan.


Sekitar pukul enam petang, mobil yang dikemudikan Hugo telah berhenti di parkir rumah sakit. Suasana menjelang maghrib yang mencekam seolah memengruhi atmosfer menjadi kelam. Tanpa menunggu Hugo, Hanna segera keluar dari mobil, berlari ke resepsionis, dan mendatangi ruangan yang ditunjukkan oleh resepsionis. Langkahnya yang terburu, serta isakannya menjadi beban berat secara emosional. Langkahnya baru memelan ketika ia sudah berada beberapa meter di depan Erwin.


"Nyonya?"


"Di mana Adrian?"


"Beliau baru saja dipindahkan ke ruang ICU. Sepertinya dokter belum me-"


Mengabaikan penjelasan Erwin, Hanna berlalu dari hadapan pria itu. Ia langsung menemui dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU, menanyakan detil keadaan suaminya sembari menahan isakan.


"Pak Adrian mengalami cedera di tangan kanan dan kepalanya walau bukan kategori cedera serius. Tapi beliau juga mendapat luka tusukan di bagian perut hingga mengenai rongga perutnya. Ketika dilarikan ke rumah sakit ini, beliau sudah mengalami pendarahan kelas tiga, sehingga perlu segera dilakukan operasi dan transfusi darah."


"Beruntung, pendarahannya sudah bisa dihentikan, dan sekarang kita tinggal menunggu hasil CT scan kedua."


Hanna tersenyum pahit. "Itu artinya suami saya tidak apa-apa, kan, Dok?"


"Saya tidak berani menjamin. Karena saat ini pun Pak Adrian sedang berjuang dalam dirinya untuk kembali sadar. Beliau mengalami penurunan kinerja organ-organ dalam tubuhnya, Pak Adrian berada pada titik kesadaran terendah atau yang biasa dikatakan koma."


Saat dokter mengatakan bahwa Adrian berada di titik kesadaran terendah, maka saat itu pula Hanna merasa hancur sesaat. Titik rapuh seorang wanita yang baru membangun sebuah keluarga, dan harus dihadapkan pada setumpuk beban. Cahaya harapan yang pernah bersinar, kini tenggelam dalam pekat hitam.


Keluar dari ruangan dokter itu, Hanna berjalan lunglai menuju ruang ICU. Keberadaan Erwin, Hugo, bahkan Agatha di kursi tunggu terabaikan karena Hanna begitu patah hanya dengan melihat Adrian terbujur lemah di ranjang ICU. Setelah mendapat izin dari dokter dan dengan syarat yang ketat untuk bertemu langsung dengan Adrian, Hanna tak lagi bisa menahan gejolaknya.


Ventilator, infus, selang makan, kateter, dan monitor yang terus menerus mengeluarkan nada-nada pedih menyayat hati. Di kacamata Hanna, pria itu benar-benar lemah hingga tak bisa membuka mata, juga tangan kanannya yang dibalut dengan cast tebal. Pemandangan itu yang kemudian membuat tangisnya kembali bercucuran.


"Sayang ..., cepat kembali ya? Asyqar menunggu kamu di rumah. Aku juga perlu kamu, Adrian." Perlahan ia menyeka air matanya sendiri.

__ADS_1


Hanna berjalan selangkah mendekat. "Kamu sendiri, kan, yang bilang kalau Asyqar suatu saat nanti bakal punya adik perempuan yang cantik. Kita bakal renovasi rumah lagi, untuk bikin kamar baby warna pink. Kamu nggak mungkin bohong, kan? Kamu nggak pernah bohong sama aku, kan?"


Hanna terduduk di lantai, kedua kakinya lemas dan segala emosinya kini hanya mengarah pada kesedihan dan rasa sakit yang hanya bisa ia tanggung seorang diri.


__ADS_2