
Dalam beberapa jam setelah tiba di rumah ini aku sudah berubah kembali menjadi pemalas. Selepas shalat Subuh dan tadarus, Adrian menarikku kembali ke atas tilam. Kenyamanan yang sempat hilang selama dua pekan terakhir, akhirnya kembali kurasakan.
Ia tak melepas tangannya dari pinggangku. Posisi kami yang saling berhadapan langsung, membuat jarak kami jadi begitu dekat. Keningku menempel dengan dada bidang yang berdebar, senyumku pun mengembang sendirinya. Ketika aku mendongak dengan jarak sedekat ini, tampak jambang tipis dari bawah pipi hingga dagunya. Refleks tanganku pun meraihnya.
"Aku akan membersihkannya kalau kamu nggak suka melihatku seperti ini." Adrian berbicara dengan mata tertutup dan suara berat.
"Aku suka."
"Baguslah. Aku sempat takut kamu nggak akan suka dengan pria brewokan."
"Aku memang nggak suka melihat pria brewokan. Tapi kamu pengecualian."
"Pria suka diperlakukan berbeda, Aleesa. Jangan pernah seperti ini di depan pria lain," jelasnya menepuk lembut lengan kananku.
"Tidak ada kesempatan untuk pria lain bisa kuperlakukan berbeda selama kamu selalu setia."
"Kamu meragukan kesetiaanku?"
"Aku hanya tidak bisa menahan cemburu melihatmu tersenyum saat bersama wanita-wanita cantik berbaju seksi itu. Menyebalkan seolah aku kalah telak dari mereka."
"Kamu selalu menang dari mereka, Sayang. Aleesa selalu menarik di mataku."
"I hope so. Mari kita sudahi pillow talk kita, dan tidur."
Cup!
"Istriku sudah berusaha keras sampai ada di titik ini."
Alarm kamar kembali berbunyi pukul enam lebih tiga puluh menit. Cahaya matahari pagi telah menyelinap masuk melalui jendela kaca dengan gorden terbuka. Suara itu ditambah juga dengan sinar matahari cukup mengganggu hingga memaksaku bangkit dari ranjang yang nyaman. Adrian pun telah lebih dulu meninggalkan kamar dariku.
Beberapa menit setelah bangkit dari tidur kedua pagi itu, aku sempat turun ke depan untuk memeriksa apakah Adrian pergi ke luar. Dan sepertinya ia tak sedang berada di luar rumah. Lalu jika kupikir lagi hanya ada satu tempat yang mungkin baginya berada saat ini.
Aku berdiri di dekat pintu, bersandar pada dinding untuk melihat ke dalam ruangan itu. Manusia yang tak bisa sehari saja meninggalkan olahraga itu tengah melakukan gerakan plank menghadap keluar. Ia tak menyadari keberadaanku hingga ia bersiap mengambil handuk.
“Udah bangun?” tanyanya berjalan menghampiriku. Inisiatifku datang untuk mengambilkan kaus hitam yang diletakkan sembarang. Menyembunyikannya di belakangku.
“Sepertinya ada yang ingin mengulang kegiatan semalam,” lontarnya menatapku lurus.
“Aku cuma mau tanya, kamu mau makan apa untuk sarapan pagi ini?” tanyaku agak mendongak.
“Aku mau.., kamu.” Kedua tangannya seperti biasa menarik tubuhku merapat.
Tak berhenti aku menatap tajam mata dinginnya yang juga tak ingin mengalah. Telapak tanganku menyentuh kulit dadanya hingga ke bawah perutnya. Napasnya pun berubah memburu, dan kedua daun telinganya kian memerah.
“Aleesa!”
“Ya? Kamu berkeringat banget loh, sebentar biar aku lap. Abis ini kamu mau sarapan atau mandi dulu? Rencananya aku mau buat sandwich yang simple aja.”
“Aleesa!” suaranya terdengar gelisah saat tanganku tak ingin berhenti.
“Apa? Kamu mau request menu sarapan yang lain? Udah bosan makan sandwich?”
“Ini salah kamu kalau kita telat sarapan.” Adrian mengangkat tubuhku, mendudukkanku agar setara tinggi dengannya.
Bibir kami kembali bertemu dan pagutan-pagutan itu terasa menyecap habis bibirku. Permainan itu tak akan ada habisnya jika terus menuruti kemauan Adrian. Aku mengelak bersamaan mendorong tubuhnya hingga ciuman panas itu terlepas.
“Nggak sabaran banget, ya?”
Adrian menarik kaus yang kugenggam erat di tangan kananku. “Sandwich, aku suka,” pungkasnya pergi meninggalkanku sendiri di ruang gym.
Setelah beberapa saat mengatur napasku, kembali aku pergi ke dapur untuk membuat sandwich sebagai sarapan pagi kita kali ini. Kudengar suara air bergemercik dari kamar mandi bawah, perlahan mereda. Aku baru selesai menyusun isian sandwich ketika pria itu keluar dari kamar mandi dan duduk menghadapku.
“Aku akan pergi jam sembilan, dan kembali saat makan siang,”
“Pak Adrian memang selalu sibuk. Kehidupan sebenarnya baru akan dimulai, dan aku akan menjadi istri yang baik dengan menunggunya sampai pulang.” Aku meletakkan piring berisi sandwich tuna di meja depannya.
“Apa aku belum bilang kalau kamu akan ikut pergi denganku?” imbuhnya.
“Really?”
^^^Beneran?^^^
“Yes, yes.”
^^^Iyalah~^^^
“I don’t even have a cloths here.”
^^^Aku bahkan nggak punya baju di sini~^^^
“Agatha will bring clothes here for you. She'll be here in three minutes.”
^^^Agatha akan membawakan baju ke sini buat kamu. Dia akan tiba dalam tiga menit~^^^
“Now I’m feeling like a Big Boss’ wife.”
__ADS_1
^^^Sekarang aku ngerasa kayak istrinya seorang Boss besar~^^^
“Yes you are.”
^^^Emang iya~^^^
Adrian hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Aku turut menikmati sandwich dengan duduk berhadapan dengannya. Ketika hendak meninggalkan meja makan, aku teringat ada paket yang dititipkan dari rumah Ummi untuknya. Selagi ingat akan hal itu, aku segera kembali dan membawakan paket itu untuknya.
“Dari siapa?” tanyanya masih mengunyah makanan dalam mulutnya.
“Entahlah. Seseorang mengirim itu ke alamat Ummi. Emangnya nggak ada orang yang tahu kamu tinggal di rumah ini?”
“Keselamatan keluarga kita adalah hal yang paling penting. Prioritasku untuk menjaga semuanya tetap aman. Dan aku harus menjamin tempat ini cukup aman untuk jadi rumah keluarga harmonis,” jelasnya.
Aku mengusap kepalanya. “Okay-okay, iya, Sayang. Kalau gitu aku mandi dulu,” pamitku berangsur pergi dari ruang makan kembali ke kamar.
“Aku akan menyusul kalau masih sempat!” teriaknya dari bawah.
“Nggak akan sempat!” balasku berteriak kemudian menjulurkan lidahku untuk menggodanya.
Dari kedatangan Adrian kembali ke rumah, terhitung baru empat belas jam. Lalu kami harus meninggalkan rumah ini lagi selama beberapa jam untuk urusan pekerjaan. Meski tak begitu diperlukan dalam tindakan langsung pekerjaan itu, tapi Adrian tetap bersikeras membawaku bersamanya dengan alasan ingin membawaku terlibat dalam setiap keputusan yang dia ambil.
Selain mengiyakan permintaan itu, tak mungkin pula aku menolaknya. Seperti yang dikatakan pagi tadi, kami selesai dengan urusan pekerjaan Adrian tepat sebelum makan siang. Ini pertama kalinya aku menyentuh lantai bangunan perusahaan pusat AA Corporation.
Tak dapat dipungkiri, kehadiranku di sana cukup menarik perhatian para karyawan dan sukses membuat barisan gadis berbaju seksi itu bungkam melihatku menempel dengan Adrian. Sampai keluar dari sana, barulah pikiranku sedikit lebih tenang.
“Semua udah tahu kamu istriku satu-satunya. Masa kamu masih ngambek gini sih?”
Aku mencubit pinggangnya dari luar kemeja. “Aku nggak ngambek.”
“Ya udah, okay-okay. Kita makan siang, ya,” ajaknya membukakan pintu mobil yang entah sejak kapan sudah terparkir di depan kami.
Setelah duduk di kursi depan, baru aku sadar ini bukan mobil Adrian. “Ini mobil siapa?” tanyaku padanya yang duduk di kursi kemudi.
“Mobil kita,” jawabnya ringan.
“Wow! Terus Pak Erwin sama Agatha?”
“Ada di belakang. Aku minta mereka untuk ikut tanpa kamu sadari,” tambahnya membuatku penasaran dan melihat ke belakang. Dan, memang tak ada yang mengikuti mobil ini.
Lembutku menggenggam sebelah tangannya. “Oh iya Mas, kapan kita ke dokter kandungan?”
“Besok? Aku akan minta Erwin mengosongkan jadwal besok, dan kita bisa ke rumah sakit.”
“Jangan lupa, ya?” tanyaku tiba-tiba tak bersemangat.
“Kamu cape, ya?” suara Adrian kembali membangunkanku yang berapa saat tertidur.
“Enggak kok. Aku cuma…”
“Kamu pucat, Sayang,” cetusnya sembari menempelkan tangannya ke keningku. “Badan kamu agak panas, ya?” tambahnya lagi.
Cup! Sekilas kecupan di bibirnya itu kuharap cukup untuk menenangkan kehawatirannya. “Aku nggak apa-apa.”
“Kita makan di rumah aja kalau gitu. Mungkin kamu kurang istirahat.” Aku mengangguk setuju mendengar usulannya.
Sejujurnya kepalaku agak pusing beberapa saat setelah keluar dari kantor perusahaan tadi. Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Apa mungkin….
“Kamu mikirin apa?”
“Ah, enggak. Bukan apa-apa, kok. Paket yang aku kasih ke kamu pagi tadi udah dibuka?” tanyaku mengalihkan topik yang hanya akan mengkhawatirkan diriku.
"Udah."
"Dari siapa?"
“Dari teman lama.”
“Apa isinya? Kayaknya berat banget.”
“Buku-buku lama. Bukan sesuatu yang penting kok.”
Adrian berbohong! Spontan logikaku berbicara. Kualihkan mataku memandang ke luar untuk menepis kecurigaanku kepada pria itu. Padahal Adrian tampak tak ragu mengucapkannya, tapi kenapa tiba-tiba terlintas pikiran bahwa dia berbohong?
Kami sampai ke rumah setelah melalui perjalanan yang cukup panjang. Tanpa menunggu Adrian membukakan pintu, aku telah lebih dulu keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Kamar yang pertama kali kutuju, mengambil air wudhu, kemudian mengeluarkan mukenaku dari dalam tas.
“Kamu kenapa?” Adrian menghampiriku selepas aku selesai salat.
Kupejamkan mataku seraya menghela napas dalam-dalam. “Aku nggak nyaman, Mas. Aku bingung.”
“Sayang.., hey, tenang. Kamu bisa cerita sama aku pelan-pelan. Okay?”
“Tolong kasih aku waktu, aku bingung sekarang!” Tiba-tiba aku berteriak di depan Adrian.
“Astaghfirullahhal’adziim.., maaf, Mas. Aku nggak ngerti kenapa tiba-tiba...” Aku mengusap wajahku dengan telapak tangan untuk meredam amarah.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, aku akan kasih kamu waktu sendiri. Panggil aku kalau ada apa-apa, ya?”
“Iya. Makasih, Mas.”
Sepeninggal Adrian dari dalam kamar, aku duduk di lantai seraya menggigit ibu jariku. Ada apa dengaku? Tak ada ketenangan yang bisa kurasakan saat itu. Kegelisahanku bahkan semakin bercampur dengan amarah.
Emosiku semakin memburuk ketika hari berangsur gelap. Di balkon kamar tempatku berdiri, sinar bulan malam itu memantul dari air kolam renang bawah membentuk bayang-bayang yang tak berhenti bergerak. Angin malam itu menemaniku dari rasa sepi.
Dari suara pintu yang baru terbuka, Adrian masuk ke dalam kamar, menghampiriku dengan langkah pelan. “Udah malam, Sayang. Angin malam nggak baik buat kamu,” peringatnya lirih.
Mataku berlinang air mata tiba-tiba. “Maafin aku, aku nggak tahu kenapa aku tiba-tiba begini,” tangisku pun keluar di pelukan hangat Adrian. Tangannya tak berhenti mengusap punggungku seraya membisikkan kata-kata yang menenangkanku.
“Mungkin kamu hampir datang bulan, makanya emosi kamu nggak stabil. Udah, nggak usah terlalu dipikirin, sekarang kita tidur aja, ya?” pungkasnya, berjalan masuk ke kamar seraya merengkuhku.
Setelah air mata keluar dan tersisa isakan, aku mulai merasa tenang dan bisa tertidur sebelum pagi tiba. Seharian itu, aku seperti orang gila yang tak mengerti dengan kehendak hatiku sendiri.
*****
Aku terbangun ketika kudengar suara adzan subuh dari masjid dekat rumah. Adrian seperti biasa sudah duduk di atas sejadahnya sebelum aku terbangun. Tapi pagi itu, sebelum aku berjalan ke kamar mandi, Adrian menghentikanku sebentar.
“Mau coba pakai ini? Aku membelinya dari Surabaya sebelum pelang. Entah kenapa tiba-tiba aku kepikiran.” Ia menyerahkan benda yang diambilnya dari bawah meja lampu.
“Test pack?”
“Iya. Nggak ada salahnya dicoba.”
Meski ragu, akhirnya aku menerima benda itu untuk kupakai. Tak pernah terbayang betapa mendebarkannya melihat hasil dari tes kehamilan. Dari yang kubaca di prosedur, sepertinya apa yang kulakukan sudah benar. Sekarang saatnya menunggu, kan?
Tok! Tok! Tok!
“Gimana? Kamu bisa pakainya? Perlu bantuanku?” tanyanya dari luar.
Aku membuka pintu kamar mandi. “Tinggal tunggu hasilnya kok.”
Kami menunaikan salat subuh selagi alat itu bekerja. Di kesempatan sujud, aku merasa Adrian menambahkan durasi sujudnya. Bahkan ketika ia berdoa, aku sempat mendengar ia terisak meski tak begitu terdengar jelas.
Aku melihat jam, kemudian berjalan ke kamar mandi setelah melipat mukena. Apapun yang kulihat nanti, aku tidak akan kecewa. Apapun yang kulihat nanti, aku tidak akan kecewa. Apapun yang kulihat nanti, aku tidak akan kecewa. Apapun yang kulihat nanti, aku tidak akan kecewa. Dalam hati aku menguatkan diriku sendiri sebelum mengambil alat tes itu.
“Bismillahirrahmaanirrahiim.” Aku terdiam sesaat ketika mataku melihat garis yang muncul di sana.
“Satu garis? Itu.., artinya belum, ya?” pertanyaan Adrian mengejutkanku dari belakang. Spontan test pack yang kupegang itu jatuh ke lantai kamar mandi.
Adrian dengan cepat mengambilnya kembali. “Maaf, ya, udah bikin kamu terlalu berharap. Pagi ini kita akan ke rumah sakit untuk konsultasi, nggak perlu kecewa,” tuturnya lantas memelukku dari belakang.
Pagi hari, selesai sarapan Agatha datang membawakan nomor antrean rumah sakit yang akan kami datangi. Meski Adrian bisa saja memanggil dokter untuk datang kemari, tapi kurasa akan lebih baik jika kami berkonsultasi dengan datang langsung ke rumah sakit yang dipilihkan Adrian.
Sebelum hari semakin terik, kami berangkat ke rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Aku takut ternyata aku memiliki masalah dengan organ reproduksiku. Bukankah yang seperti itu sama saja artinya bahwa aku wanita yang cacat? Pertanyaan itu menghantui pikiran dan hatiku.
Di kursi tunggu rumah sakit, kami cukup meninggu selama beberapa menit saja. Sampai akhirnya namaku dipanggil.
“Permisi …,”
“Silakan duduk,” ucap ramah dokter itu.
“Tidak perlu grogi, di sini semua pasangan kami anggap sama, dan privasi sudah pasti terjamin. Anda bisa menceritakan semuanya tanpa takut,” jelasnya diakhiri dengan senyuman.
Kami berdua pun menceritakan detil masalah kami, meski sedikit terbesit ketakutan di benakku karena ini pertama kalinya aku pergi ke dokter kandungan setelah menikah dengan Adrian.
“Selanjutnya, Ibu Hanna bisa berbaring di sebelah sini,” tunjuknya.
“Loh? Hanna?” Suara wanita itu terdengar bersamaan dengan munculnya seorang wanita dari balik tirai.
“Johana?”
“Di sini juga, toh?” tanyanya menyalami tanganku lebih dulu.
“Jangan memotong antrean,” peringat dokter itu menatap sinis ke arah Johana.
“Ah iya, kenalin, Dokter Jennie ini kakakku. Karena aku dan Garrin akan menikah dua minggu lagi, jadi kami datang ke sini untuk cek. Kalian..., pasti datang untuk cek kandungan, ya? Silakan dilanjutkan, aku nggak akan mengganggu.” Wanita itu pergi setelah menyalamiku.
Dokter Jennie menunjukkan keprofesionalitasannya dengan melanjutkan pemeriksaanku. “Baiklah, Ibu Hanna, anda bisa bernapas rileks.”
“Berapa usia anda, Ibu Hanna?”
“Dua puluh satu, menuju dua puluh dua,” jawabku.
“Lalu, berapa usia suami anda?” tanyanya lagi.
“Ah! Tidak perlu sungkan begitu, pertanyaan seperti ini wajar untuk ditanyakan kepada pasangan yang datang untuk berkonsultasi mengenai kandungan.”
“Tiga puluh lima,” balas Adrian datar.
“Memang di usia kepala tiga, masih aman dan mudah bagi pria untuk mendapatkan keturunan. Tapi, untuk ke depannya, saya sarankan anda segera membuat program berikutnya, karena memiliki keturunan diusia kepala empat rasanya pasti kurang seimbang.”
Dokter itu menyalami tangan Adrian. “Selamat, ya, Pak, usia kandungan istri anda sudah memasuki minggu ke tujuh.”
__ADS_1
Aku berusaha duduk setelah mendengar ucapan dokter itu. “Tapi kami baru saja ….”