Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Pernikahan Sahabat


__ADS_3

"Bangun.., udah mau subuh." Sebuah tangan menggoyangkan lenganku.


"Iya, lima menit lagi." Suara serakku keluar dari bibir yang masih mencoba mengumpulkan kesadarannya.


"Ayo bangun dulu.., nanti kalau aku tinggal berangkat ke masjid, kamu pasti tidur lagi."


"Lima menit lagi.., Sayang. Emang kamu nggak cape apa?"


"Enggak sih."


Jawaban singkatnya itu seketika membuatku melek. Lirikan tajamku tertuju ke arah senyuman yang menggoda sembari memijat-mijat lenganku di balik selimut. Aku menahan tangan Adrian, menghentikan pergerakan tangannya. Kubawa tangan itu ke depanku, kugenggam seraya kuamati tiap lekukannya.


"Kenapa? Ada yang salah dengan tangan suamimu?"


"Tidak ada. Tangan lembut ini.., aku senang bisa menggenggamnya setiap saat."


"Kamu selalu tahu caranya menggoda. Tapi sekarang bukan saatnya untuk menggoda, saatnya kamu bangun, sebelum adzan subuh terdengar."


"Waaaa!" Adrian menarik selimut yang menutupi tubuhku.


Dengan AC yang menyala, dan kulit yang tak tertutup oleh apapun, aku meringkuk kedinginan. Sementara Adrian tersenyum manis setelah membuang selimut itu ke atas lantai kamar. Dari sorot matanya tampak puas setelah mengerjaiku hingga menimbulkan traumatis mendalam. Meski dengan sedikit terpaksa, aku segera bangkit ke kamar mandi sebelum Adrian semakin mengganggu.


Perlu beberapa puluh menit hingga aku keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan suara adzan subuh terdengar. Ternyata benar kata Adrian, aku jadi terlewat salat tahajud karena telat bangun. Tapi yang sampai sekarang masih membuatku heran dengannya adalah, bagaimana seorang pria di usia segitu memiliki stamina selayaknya anak muda usia 20-an, bahkan setelah seharian kemarin dia bekerja.


Mengingat semalam, lagi-lagi jantungku tak bisa berdetak konstan. Kuupayakan sebisa mungkin menghalau desiran halus di dada ini, seraya menyembah pada sang pencipta agar tak lupa syukur karena telah menciptakan manusia serupa Adrian untukku.


Click! Pintu kamar terbuka bertepatan denganku membaca Al-Qur'an. Kutahu Adrian datang, tapi beberapa saat kemudian ia kembali keluar dari kamar entah ke mana. Saat cahaya matahari perlahan masuk melalui celah gorden di jendela kaca sebelah timur, aku mengakhiri tilawah hari itu, turun ke bawah.


"Selamat pagi, Nyonya." Agatha menyambutku ketika pintu lift terbuka.


"Pagi."


"Ini adalah schedule anda hari ini," ucapnya menunjukkanku layar gadget di tangannya.


"Bisa tunjukkan schedule Adrian hari ini?"


"Baik, Nyonya."


"Pastikan kamu siapin baju untuk dipakai ke wedding Garrin malam ini. Oh ya, dan minta Pak Erwin untuk melaporkan kegiatan Adrian hari ini. Tugas kamu tinggal melapor ke saya."


Aku berjalan ke basement rumah, untuk mencari sesuatu yang belum kutemukan kemarin, Kebenaran. Sesaat setelah mencapai perpustakaan rumah, aku tak sengaja melihat Adrian sedang menggunakan ruang baca di ujung untuk bicara dengan Pak Erwin. Aku berlalu, karena tampaknya ia pun sibuk dengan schedule padatnya hari ini. Yang menjadi tujuanku saat ini adalah arsip keluarga, harusnya di rak kearsipan pribadi ini, aku bisa menemukan yang kucari.


"Sayang? Cari apa?" Suara Adrian mengejutkanku.


Aku menggeleng cepat. "Mau lihat album foto lama."


Aku kaget! Tapi semoga ia tak menyadari kegugupanku.


"Oh, aku tahu, kamu pasti belum lihat foto-foto yang ini, kan." Adrian berjinjit meraih album foto lama yang berada satu setengah meter di atasku.


Kesengajaan kah ini? Adrian mengajakku menjauh dari zona kearsipan pribadi menuju ruang baca. Ia juga menjelaskan padaku detail setiap foto dalam album itu, seakan aku tak mengenali wajah-wajah di dalam foto itu.


"Izin melapor, sudah selesai, Tuan. Saat ini anda masih ada waktu luang sampai pukul sembilan pagi, silakan nikmati waktu anda."


"Tunggu, hari ini ada meeting dewan perusahaan, dan beberapa kunjungan, kan?"


"Benar Tuan, lebih tepatnya ada tiga kunjungan ke cabang perusahaan baru mulai dari Jakarta, sampai ke Surabaya. Diperkirakan akan selesai pada pukul delapan malam, untuk menghadiri pernikahan Bapak Garrin Wijaya."

__ADS_1


"Kalau gitu aku minta reschedule, gantikan saya memimpin meeting hari ini, dan alihkan acara kunjungan ke cabang perusahaan di weekday. Hari ini saya harus menemani istri saya."


"Baik, Tuan. Permisi." Pak Erwin pergi meninggalkan kami.


Adrian pun menutup lembar terakhir album foto lama itu, lantas berbisik lirih. "Weekend ditemani suami. Itu, kan yang kamu mau?"


"Makasih, ya."


"No problem. Apa yang ingin kamu lakukan untuk menghabiskan waktu bersama dengan suamimu?"


"Banyak hal, ayo sarapan pagi!" Kutarik tangan itu, membawa Adrian keluar dari basement rumah menuju ruang makan. Sama seperti yang ia katakan, seharian ini kami berdua menghabiskan waktu bersama. Aku sendiri juga pada akhirnya merombak ulang jadwalku hari ini. Dan dalam sehari saja, aku lupa dengan semua masalah yang membebaniku akhir-akhir ini.


Sepanjang siang, kami pergi ke beberapa tempat yang ingin kudatangi. Makan di tempat yang kumau, dan melakukan hal-hal yang aku suka. Melihat wajah senyum Adrian tanpa beban, setidaknya mampu menghiburku, bahwa Adrian kini sudah lebih segar dari sebelumnya. Tatapan berat dan penuh beban kemarin juga tampaknya menghilang seiring dengan banyaknya ekspresi bahagia dari wajahnya.


Tujuanku sebenarnya, bukanlah refresh untuk diriku sendiri, tapi juga untuk Adrian yang mengabaikan kondisi psikologisnya. Setelah jalan seharian ini, kuharap mood-nya sudah lebih baik, dan otaknya lebih fresh untuk kembali bekerja hari Senin nanti.


*****


Pukul tujuh malam, aku dan Adrian memakai pakaian rapih dan senada bersiap menuju wedding ceremony Garrin-Johana. Kami tak ingin telat, juga tak ingin sampai kehabisan tempat, sehingga berangkat lebih awal. Sampai di tempat berlangsungnya prosesi, dua orang pria segera menjemput kedatangan kami ketika sampai di lobby.


"Tuan Adrian Al-Faruq?" tanya pria berbadan besar itu.


"Iya, benar."


"Tuan Garrin memerintahkan saya untuk mengantar anda sampai ke tempat beliau. Anda bisa ikut saya."


"Anda sudah pasti Nyonya Al-Faruq, anda bisa ikut dengan saya, Nyonya," ucap pria satunya lagi.


Aku mengikutinya dari belakang, berjalan pelan ke suatu tempat. "Ke mana kita pergi?" tanyaku pada pria itu.


"Lantas ke mana pria yang tadi membawa suami saya?" tanyaku lagi.


"Ke tempat Tuan Garrin. Tuan Garrin berpesan agar kami menjemput beliau, karena beliau bukan hanya sekedar tamu di sini," jelas singkat pria itu sampai kami akhirnya mencapai pintu masuk ballroom.


"Silakan, Nyonya. Kursi anda berada di sebelah kiri dari kursi Nyonya besar." Pria itu menunjukkan kursi kosong paling depan, bersebelahan dengan Mama Garrin, dan keluarga terdekatnya.


Meski agak ragu, aku tetap berjalan ke sana. "Hanna!" Mama Garrin memanggil namaku langsung.


"Iya, Tante. Apa kabar?"


"Baik, kamu juga gimana kabarnya? Terakhir kali kita ketemu mungkin setahun lalu sebelum kamu menikah, kan?"


"Sepertinya begitu."


"Siapa, Ma?"


"Teman Garrin kuliah dulu, Pa. Hanna-hanna yang sering diceritain itu loh."


"Oh, jadi ini Hanna. Sepertinya saya tidak asing melihat Hanna." Papa Garrin menggumam sendiri.


"Nyonya Al-Faruq, Papa.., istrinya Pak Adrian," pungkas Mama Garrin membantu suaminya mengingat.


"Oh, istrinya Pak Adrian. Iya.., saya ingat datang ke pernikahan kamu bersama anak saya."


"Kak Hanna?" Seorang gadis cantik lagi mendatangi kami, ia menyapaku lebih dulu, lalu duduk di kursi sebelah.


"Ini, adiknya Garrin, Teresa."

__ADS_1


Gadis itu tersenyum melihatku. "Assalamualaikum, Kak," ucapnya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah."


Setelah bertemu dengan orang tua Garrin yang cepat akrab karena sering mendengar cerita tentang aku dari anaknya, ditambah lagi dengan Teresa, adik perempuan Garrin yang kudengar ikut mualaf dengan Garrin waktu itu, aku merasa nyaman walau dikelilingi orang-orang baru.


Di sebelahku, masih ada satu kursi kosong bertuliskan nama "Khadija". Sebenarnya aku juga menunggu seraya berharap akan kedatangan sahabatku itu. Sesekali bahkan aku masih melihat ke arah pintu masuk Ballroom, berharap kursi ini kedatangan pemiliknya.


Pembawa acara pun mengambil alih untuk kendali serangkaian acara yang akan berjalan. Hingga saat yang dinanti pun tiba. Di mana Garrin Wijaya duduk gugup di depan wali hakim, semeja dengan dua saksi lainnya. Saksi? Adrian juga tampak duduk di salah satu kursi di sana. Ia menjadi saksi?


"Saudara Garrin Wijaya, mewakili Bapak Lucas Immanuel Wijaya di sini, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan seorang wanita bernama Johana Amelie, putri Bapak Stefanus Abraham, dengan mas kawin seperangkat alat salat, dan uang sebesar Rp 20.102.019,- (Dua puluh juta seratus dua ribu sembilan belas rupiah), dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Joana Amelie putri Bapak Stefanus Abraham, dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."


"Alhamdulillahi rabbil'alaamiin ...."


Proses akad berlangsung dan orang tua kedua mempelai tak sanggup menahan air mata mereka. Aku pun pada akhirnya menangis haru melihat sahabatku menikah meski tanpa didampingi oleh keluarganya. Begitu juga dengan Johana Amelie yang seakan dihadapkan pada pilihan sulit karena tak bisa dinikahkan langsung oleh Ayahnya. Tapi yang pasti, ini adalah jalan hidup yang mereka berdua pilih untuk dijalani bersama.


Acara berlanjut meski tangis haru keluarga keduanya belum juga berakhir. Adrian kembali padaku setelah tiba-tiba ditunjuk menjadi saksi nikah. Kami berdua sedikit menepi untuk memberi keluarga mereka ruang momen haru. Baru beberapa menit kemudian, Garrin dan Jo mendatangi kami. Pria itu memeluk Adrian, tak bisa menutupi kebahagiaannya. Begitu pun Jo memelukku erat dan membisikkan kata-kata terimakasih. Hijab yang dipakainya, hampir membuatku pangling tak mengenali Johana.


"Khadija nggak datang, ya?" Garrin bertanya datar padaku.


Aku menggeleng, "Mungkin dia sibuk."


"Setidaknya acara malam ini berjalan lancar berkat kedatangan kalian berdua." Jo menepuk pundak Garrin, mencoba mengalihkan topik pembicaraan kami.


"Iya. Terimakasih banyak kalian udah datang. Utamanya Adrian, makasih banyak udah jadi saksi nikah kami, karena kondisi keluarga kami yang seperti ini."


"Nggak ada salahnya membantu sahabat istriku," balas Adrian sembari merengkuh bahuku.


"Oh iya, setelah acara ini selesai, kita akan adakan party after ceremony di rumah Garrin."


"Rumah kita." Garrin membenarkan kalimat yang diucapkan Jo.


"Iya, Party after Ceremony di rumah kita, kalian berdua bisa datang, kan? Kita cuma mengundang orang-orang terdekat aja kok."


Adrian melihatku sebentar, "Kami akan datang."


"Bagus, silakan nikmati makanannya, kami berdua harus menyapa kerabat yang juga datang malam ini." Keduanya pamit undur diri untuk menyapa kerabat mereka.


"Garrin kelihatan bahagia banget akhirnya perjalanan cintanya berakhir dengan wanita seperti Jo."


"Adrian juga bahagia akhirnya perjalanan cintanya berakhir dengan-" Aku menutup mulut yang selalu meniru itu.


"Aku tak sabar untuk Party after Ceremony," kataku sambil berjalan pergi meninggalkan Adrian.


*****


Di rumah Garrin yang letaknya tepat di sebelah rumah kami, Party after Ceremony berlangsung dengan sedikit orang. Ini kali pertama aku datang ke rumah Garrin meski kami bertetangga dekat. Tapi jika kulihat, memang gaya rumah ini sangat sesuai dengan Garrin. Modern, simple, dan kesan mewah tak ketinggalan muncul dari nuansa rumah itu.


"Adrian mana?" Garrin mendatangiku yang tengah asyik melihat cahaya bulan dan langit malam.


"Mungkin di dalam," jawabku singkat.


Ia tak berkata apa-apa, lalu tiba-tiba menyerahkan buku tebal dengan cover coklat yang sudah usang. "Jaga baik-baik. Satu-satunya alasanku kasih buku itu, supaya kita semua tahu satu sama lain, dan bagaimana kehidupan kita sebelumnya. Sekarang ini, aku ingin hidup tanpa menyimpan rahasia antara kita, karena itu yang selalu membuatku tak tenang setiap waktu."


Setelah menyerahkan buku tebal itu, Garrin pergi lagi.

__ADS_1


__ADS_2