
“Nyonya, silakan diminum dulu airnya.” Mba Puput yang juga panik melihatku, segera menuangkan segelas air untuk menenangkanku.
Tangan kananku segera menerima gelas yang disodorkan untukku itu lantas meminumnya perlahan. Tapi bukannya merasa lebih baik, minuman itu terasa asin dan berbau seperti darah ketika masuk ke dalam kerongkonganku. Belum sampai air itu sepenuhnya masuk melewati kerongkongan, tiba-tiba sebuah dorongan secara otomatis menolaknya.
“Ukh!” Aku menutup mulut, berlari menuju kamar mandi terdekat.
Tak hanya memuntahkan air yang baru saja kuminum, aku memuntahkan seluruh makanan yang kumakan hari ini. Perutku seperti sedang diaduk-aduk, membuatku tak bisa sedikit pun merasa nyaman. Kepalaku juga pusing tiba-tiba, seakan tubuhku menjadi lemah dalam sesaat. Suara bel pintu dari luar yang ditekan berkali-kali sudah tak lagi menarik perhatianku.
Aku masih memikirkan kondisiku sendiri yang tak baik-baik saja kini. Rasa mual yang kurasakan terus mendorong isi perutku untuk memuntahkan semuanya keluar. Setiap aku berdiri hendak keluar dari kamar mandi, mual itu kembali lagi dan lagi.
“Aleesa? Ada apa, Sayang?” suara Adrian yang mencemaskanku diiringi tangannya memijat leher belakangku.
Aku masih tak menjawab pertanyaannya ketika perutku belum bisa merasa nyaman. Aku terus muntah hingga rasanya perutku benar-benar kosong karena begitu banyaknya makananku yang keluar. Setelah merasa cukup tenang, aku mulai mengatur napasku.
“Ada apa? Kamu salah makan? Atau ….” Pria itu menanyakannya dengan raut khawatir yang ditunjukkannya. Aku segera memeluknya dan menangis mengingat mimpi burukku barusan.
“Hei, kenapa, ada apa? Kamu mau apa?” Aku hanya menggelengkan kepala tanpa melepas pelukan itu.
"Jangan pergi."
“Tenang, aku nggak kemana-mana. Aku di sini, okay?” Tangannya mengusap rambutku, lantas mencium puncak kepalaku yang tak bisa berhenti menangis.
Setelah perasaan dan pikiran kacau yang kurasakan memudar, dan aku sudah lebih tenang, Adrian menggendongku sampai ke kamar tanpa peduli Mba Rina atau Mba Puput melihat kami. Ia kemudian menurunkanku duduk di tepi ranjang dengan hati-hati. Adrian berlutut di depanku, menggenggam kedua tanganku, menunggu hingga aku mau membuka suara.
“Kenapa kamu pulang pagi? HP kamu juga mati,” tanyaku lirih.
“Maaf, hari ini banyak banget kerjaan. Erwin juga sibuk banget sampai lupa charge HPku.”
“Aku mimpi buruk ….” Isakku berlanjut di depan kekhawatiran pria itu.
“Nggak apa-apa, Sayang …, cuma mimpi buruk, kan? Aku ada di sini, lebih baik sekarang kita tidur, ya,” ucapnya menenangkanku sekali lagi.
Aku mengangguk setuju, kemudian ia segera menyusul dengan berbaring di sebelahku. Tak seperti biasa, aku tidur dengan memiringkan tubuh ke kanan memunggungi Adrian. Ia tak melarangku, justru kurasakan tangan kirinya mengusap lenganku hingga aku terlelap dalam ranum malam dengan hawa tenang.
Ketika adzan subuh berkumandang, sebuah tangan dingin menyentuh kulitku. Suara bariton itu membangunkanku dengan nada lembut seperti biasa. Mungkin karena semalaman menangis, tidurku jadi terasa lebih nyenyak.
Setelah benar-benar bangun, aku menuju ke kamar mandi, dilanjut berwudhu, kemudian melaksanakan salat subuh dengan Adrian, security, serta dua asisten rumah tangga kami di musholla rumah. Ar Rahman, dan Yusuf mengawali subuh itu, membawa kami kembali menyambut terangnya matahari.
Setelah kejadian tengah malam kemarin, Adrian memutuskan untuk bekerja dari rumah demi menemaniku. Meski sudah kukatakan aku akan baik-baik saja pun, ia tetap bersikeras menemaniku seharian. Alhasil, yang kami lakukan hanya duduk berdua, bercerita, menonton film, membaca buku, tadarus, bercerita lagi, dan menghabiskan waktu berguling-guling di atas tempat tidur.
“Kamu enggak mau keluar? Ke mana gitu?” Adrian menyelipkan poniku yang terurai menutup mata.
__ADS_1
“Aku mau kerja, aku bosan di rumah nggak melakukan apa-apa, tapi kamu belum kasih izin.” Aku beralih memainkan hidungnya dengan jari-jariku.
Cup!
“Kalau itu nanti, ya, Sayang …”
Aku menghela napas karena sudah menebak jawaban itu yang akan keluar dari mulutnya, “Iya, Pak direktur. Lagi pula aku belum dapat ijazah S1 sih.”
“Oh iya, kapan graduationnya?” Adrian mengubah posisinya seketika.
“Aku … juga enggak ingat, mungkin aku harus tanya temanku dulu. Abisnya tinggal satu bulan sama kamu bikin aku lupa sama yang lain-lain,” aku terkikik mengutarakan kalimatku.
“Jadi gini rasanya digombalin sama istri sendiri,” desisnya dengan kedua tangan menggelitiki perutku.
Hal-hal sederhana seperti itulah yang menghiasi keseharian kami. Jujur saja aku hampir melupakan hari kelulusan atau wisuda yang harusnya jadi hari paling ditunggu-tunggu para mahasiswa setelah sidang skripsi yang memakan habis mental keberanian mereka.
Tanpa dihitung lagi banyaknya hari-hari berlalu, hari itu pun tiba. Saat-saat aku memakai toga dan selempang bertuliskan “Hanna Aleesa S.M.” dan “Cumlaude”. Meski ketegangan dan hati yang berdebar hebat seakan menghantuiku, tapi sejak awal Adrian telah meyakinkanku bahwa semua ini akan baik-baik saja, dan ‘It will pass’.
“Mahasiswi program double degree dengan IPK 4,00 Hanna Aleesa Putri Darmawan S.M.B.B.A, putri dari Bapak Haidar Darmawan,” panggil sang protokoler disambut meriahnya tepukan mengantar langkahku menaiki panggung dan menyalami rektor.
“Keren!”
Setelah mendapatkan ucapan selamat dari teman dan dosen, datang Garrin dan Khadija bergantian mengucapkan selamat dan hiruk pikuk lainnya. Untuk sampai hingga titik ini, aku telah melewati berbagai masa sulit, banyak pengorbanan, dan tentunya banyak ibadah serta memohon kepada sang kuasa.
Selayaknya wisudawan lain, Ayah, Bunda, Kak Zahra, Kak Ali, serta Harun datang dengan membawa bunga dan ucapan selamat. Tak ketinggalan, mereka juga berfoto denganku beberapa kali dengan kebanggaan yang tak terucap, serta syukur yang melimpah.
“Happy graduation!” ucap Adrian datang dengan buket bunga mawar putih serta sepaket make up yang tak sanggup menahan mulutku untuk tak tersenyum pada pria itu.
“Terima kasih, Pak Adrian!” Spontan saja aku memeluknya untuk melampiaskan kebahagiaanku hari itu.
“You are smart, kind, sweet, beautiful, and I don’t know how much I love you, yesterday, today, and tomorrow. I’m so proud of you. You know what? I feel so lucky to be your husband.”
Aku menahan tawaku mendengarnya. “Stop saying like that. I must be happier to marry you, Big Baby,” timpalku melampiaskan kebahagiaan kepada pacar halalku.
“You should know that I have some thing for you.”
“What’s that thing?”
“Just wait and see, you’ll know when we get home.”
“So you wanna keep me in suspense until we get home?”
__ADS_1
“Yeah, I can’t wait to show you after this.” Adrian mengedipkan sebelah matanya kemudian menggigit bibir bawahnya.
Setelah melalui sehari nan melelahkan bersama keluarga, sahabat, dan suami, akhirnya kami kembali pulang ke rumah masing-masing. Sebelum menginjakkan kaki di pekarangan rumah itu, Adrian menutup kedua mataku dengan tangannya dari belakang. Ini adalah kejutan yang sepertinya benar-benar dipersiapkan dengan penuh perhitungan.
Aku harus berjalan melewati pekarangan rumah yang sangat luas itu dengan kedua mata tertutup. Tak ada lagi rasa yang lain selain takut dan penasaran dalam hati. Adrian sama sekali tak memberikan celah untukku bisa menebak apa yang telah dipersiapkannya. Buket bunga mawar putih sudah cukup romantis untukku ketika ia memberikannya dengan senyuman dan tatapan memesonanya itu.
Tapi apa pun itu, aku harus siap karena Adrian memang manusia yang penuh kejutan. Setelah membawaku melangkah jauh, akhirnya kami berhenti entah di mana.
“Are you ready?” bisiknya lirih.
“Now or never,”
“Alright, one … two …”
“Three!” kedua tangannya terlepas, dua mataku berkedip beberapa kali hingga mampu melihat ke depan.
“Are you kidding me?” Kataku tak percaya.
“No, Babe, I’m dead serious,” balasnya tersenyum senang melihat responku.
“No way,”
“Yes way, happy graduation my sole sweet wife Hanna Aleesa Al-Faruq S.M.B.B.A.” Adrian memelukku yang masih tak percaya melihat ferrari hitam terparkir di garasi rumah itu.
“Selamat atas kelulusannya, Sayang,” ucapnya sekali lagi lantas menciumku.
Aku menyembunyikan wajahku pada dada bidang Adrian seraya memeluknya. “Satu kali aja, ya, hanya untuk sekarang, lain kali jangan lakuin ini lagi.”
“Kenapa? Ini kecil untukku, apalagi untuk wanita yang aku cintai.”
“It’s too much, Babe. I love you, not your treasure.”
“Okay, kalau itu yang kamu mau … lain kali aku akan minta pendapat kamu dulu sebelum beli sesuatu. Tapi hadiah ini … kamu suka, kan?”
“Aku suka apa pun yang kamu berikan, terima kasih, Sayang.”
"Okay, tahan posisi itu, satu..., dua.., tiga!"
Suara jepretan lensa kamera terdengar beberapa kali, mengarah pada kami yang masih tersenyum bahagia dengan kejutan itu.
Sekali lagi manusia bernama Adrian Al-Faruq ini mengejutkan hidupku, memberinya warna, dan pasti selalu menerbitkan sneyum dalam wajahku. Selalu saja syukur yang terucap setiap kali Adrian berbuat atau mengatakan sesuatu. Semua itu indah hingga tak bisa dideskripsikan betapa beruntungnya aku dipertemukan dengan laki-laki seperti Adrian.
__ADS_1