
Selesai salat Isya’, seperti biasa ketika Adrian hendak tidur, ia melepas lagi bajunya, kemudian tidur tengkurap agar memudahkanku memijit bahu dan leher belakangnya. Mungkin aku tak pandai memijit, tapi yang pernah kudengar, bahwa pijatan seorang istri yang tulus kepada suaminya, lebih ampuh dari kemampuan tukang pijat andal sekali pun.
"Enak?"
"Heeh."
"Kalau ada bagian lain yang pegal lagi, bilang," kataku menrunkan pijatan ke bahunya.
Adrian memiringkan kepalanya hingga ia bisa melihatku dengan jelas. “Sayang, kamu dengar, kan, Ayah sama Bunda tadi bilang apa? Sampai masakin tiram buatku juga loh.”
“Iya, aku tahu maksudnya.”
“Kamu sendiri gimana? Enggak mau berhenti aja dulu minum pil kontrasepsinya?” tanyanya lirih tapi belum bisa kujawab saat itu juga.
“Aku sih enggak maksa kamu. Kalau aku pribadi, mau punya anak di usia empat puluh pun juga enggak apa-apa asal kamu nya siap,” tambahnya.
“Ini salahku sih. Aku akan berhenti minum itu, aku juga minta maaf udah bikin kamu bohong di depan orang tuaku. Padahal harusnya aku bisa jujur kalau sebenarnya aku yang minta tunda punya anak dulu,” sesalku tanpa menghentikan tanganku yang terus memijit.
“Bukan salah kamu juga, kalau kamu masih takut, kita bisa panggil dokter untuk konsultasi.”
“Iya, Sayang. Makasih, ya, udah pengertian banget sama aku,” bisikku lirih di dekat telinganya.
“Aleesa. Jangan mancing deh, kita di rumah Ayah-Bunda loh,” pekiknya tertahan seraya menghindar ketika sengaja aku mengembuskan napasku di belakang telinga Adrian.
Tanpa mengindahkan ucapannya, aku kembali mengembuskan napasku di belakang telinganya. “Emang kenapa kalau di rumah Ayah-Bunda?” tanyaku mengoda.
“Oh, berani? Di samping ada kamar Kak Ali sama Kak Zahra, ya? Kalau aku sih nggak malu, kita 'itu' di sini. Toh mereka juga akan ngerti karena kita masih pengantin baru."
“Udah ah, kamu ngomong apa sih.” Aku segera berdiri karena merasa cukup memijat Adrian.
“Awas aja kalau kita udah sampai rumah besok, aku pastiin kamu nggak akan tidur semalaman,” ancamnya seraya memelukku erat dari belakang.
"Mungkin kita emang nggak perlu nunggu sampai pulang ke rumah," bisikku.
"Really?"
Adrian menatapku dalam, merebahkanku dengan gerakan sangat pelan. Ia membuatku kembali merasakan desiran halus dan debaran tak menentu. Jari-jarinya menyentuh kulitku, bergerak dari pelipis kiri, turun hingga berhenti memegang ujung dagu. Sorot matanya kali ini sedikit berbeda karena lebih intens dari Adrian yang biasanya.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum, Hann ..."
Suara Bunda dari depan pintu itu menghancurkan keinginan kami menuntaskan tugas malam itu. Mas Adrian segera berbaring dan menutup kedua matanya dengan lengan tangan. Muka merahnya itu ia sembunyikan dibalik lengan kekarnya. Aku pun segera turun dari ranjang, mengancingkan kembali baju piyama itu seraya memakai kain seadanya.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Bun?" tanyaku ketika membuka pintu.
__ADS_1
"Maaf ya, ganggu istirahat kamu malam-malam begini. Tadi kamu bawa minyak urut dari kotak P3K?"
"Iya, Bun. Ah, Hanna lupa belum balikin."
"Itu, Ayah kamu juga kayaknya pegal-pegal badannya. Minyak urut di kamar Ayah kebetulan juga habis hari ini."
"Sebentar, Bun, Hanna ambilin." Aku kembali masuk dan mengambil botol berisi minyak urut itu.
Setelah Bunda menerima minyak urut itu, beliau pun kembali ke kamarnya. Begitu pula denganku yang segera kembali ke tempat tidur setelah mengunci pintu kamar.
"Besok aja, kalau kita udah di rumah, ya." gumam Mas Adrian pasrah.
Aku hanya tersenyum dan terkikik pelan melihatnya masih tak membiarkan satu lengannya itu tak menutupi kedua matanya. Baru setelah aku membaringkan tubuhku di sebelahnya, ia memiringkan badan memelukku dari belakang. "Mau gimana lagi, emang waktunya belum tepat aja. Selamat tidur, Sayang."
Kami kembali terlelap dalam indahnya arung mimpi hingga terbangun pukul dua pagi. Terdengar suara gemercik air dari kamar mandi sesaat setelah Adrian tak lagi berada di sebelahku. Aku pun mengerjapkan mataku, bangkit perlahan kemudian mengikutinya mengambil air wudhu.
Di balik sosok Adrian yang dingin dan maskulin itu, ada diri seorang muslim yang kukuh. Dalam dua bulan hidup bersama pria 35 tahun itu, belum pernah sekali pun ia meninggalkan tahajjud dan dhuha. Semakin lama pun, aku makin terbiasa dan sering kali ia mengajakku ikut menjadi makmum.
Kali ini pun aku ikut menjadi makmum untuk delapan rakaat. Selanjutnya Adrian masih menyelesaikan dua rakaat-dua rakaat lainnya hingga terdengar suara qiro’at dari masjid. Sembari menunggu dikumandangkannya adzan subuh, aku biasa membaca satu juz al-qur’an seperti yang biasa kulakukan di rumah, sementara Adrian akan kembali ke tempat tidur.
Ketika adzan subuh berkumandang, aku akan membangunkan Adrian untuk kembali mengambil wudhu dan melanjutkan salat subuh berjamaah. Surah yang sering ia baca dirakaat kedua salat subuh kami adalah surah As-Syams. Sesekali ia juga membaca surah yang lebih pendek jika dirasa malam itu tidurku kurang. Pengertian sekali bukan?
“Hari ini aku berangkat kerja, ya? Entah jadi apa kantorku setelah ditinggal tiga hari,” ujarnya selesai melipat kembali sejadah.
“Aku senang bisa mengenal Ayah dan Bunda lebih dekat. Mereka juga baik, aku harap kita enggak mengecewakan permintaan mereka yang kemarin.”
Aku mundur beberapa senti. “Yang kamu pikirin itu lagi, itu lagi.”
“Kita itu harus berbakti sama orang tua. Aku, kan berusaha jadi menantu yang baik untuk mertuaku, jadi kamu juga harus support dong,” kilahnya.
“Tapi kamu maunya itu mulu. Semalam juga yang kamu bahas itu lagi. Emang kayaknya yang ada di pikiran kamu cuma itu deh dari kemarin.”
“Karena aku paling nggak bisa bohong. Lagian, kamu tahu kan maksud Bunda sampai bikinin Tiram saus padang kemarin? Itu kode keras banget.”
Pukul delapan pagi, setelah selesai mengikuti sarapan di kediaman Ayah-Bunda, aku dan Adrian pamit pulang karena Adrian harus kembali bekerja. Seusai mendapat pesan, dan petuah dari Ayah-Bunda, kami pun keluar dari rumah memorable itu kembali ke kehidupan kami yang sesungguhnya.
Sampai di rumah, Mba Puput dan Mba Rina menyambut kami, begitu pula Pak Erwin yang telah berpakaian rapi. Selagi Adrian disibukkan dengan perbincangannya bersama Pak Erwin, aku segera naik ke kamar dan menyiapkan baju untuknya bekerja hari ini. Hari kemarin biarlah jadi hari kemarin. Tapi hari ini, dan besok, aku akan terus berjuang.
Suara pintu terbuka ketika Adrian memasuki kamar. “Kayaknya hari ini aku akan pulang tengah malam,” keluhnya memelukku dari belakang.
"Banyak banget, ya, kerjaannya?"
"Aaah, mau balikin waktu jadi kemarin."
“Yang semangat dong. Selain giat berdoa, juga harus imbang kerja kerasnya. Kalau kamu perlu bantuan, kan ada aku yang pasti bantu,” hiburku.
__ADS_1
Cup!
“Karena aku enggak bisa datang sebelum makan malam, kamu harus makan malam dulu, okay? Jangan sampai kamu telat makan lagi,” peringatnya.
“Iya, Mas … aku bisa jaga tubuhku sendiri.”
“Harus,” tegasnya sembari menenggerkan kepalanya di bahuku, menghirup napasnya dalam-dalam.
Setelah berganti pakaian, Adrian kembali meninggalkanku untuk menjalankan rutinitasnya yang vakum tiga hari ini. Meski tak bersemangat ketika hendak keluar dari kamar, aku memberinya vitamin penyemangat dengan caraku sendiri. Dengan begitu, ia bisa segera berangkat tanpa berlama-lama manja kepadaku.
Sepeninggal Pak Erwin bersama Adrian, aku merasa rumah itu kembali ke keadaan sebelumnya, sepi dan kosong. Entah dapat pikiran dari mana, sepertinya ada benarnya juga jika kami segera memiliki momongan yang tangisan dan tawanya akan memenuhi dan meramaikan rumah ini.
Setiap saat harus berada di rumah, aku mengasah otak dengan game tetris dalam iPad. Sesekali juga aku melihat lagi data keuangan Adrian yang membaik sejak kami menikah. Kenapa aku mengatakan keuangan Adrian membaik? Tentu saja karena menteri keuangan di rumah ini dapat mengaturnya, dan memaksa Adrian untuk nggak boros soal duit.
“Mba Puput,” panggilku pada wanita 31 tahun itu.
“Iya, Nyonya.”
“Saya minta nomornya Pak Erwin dong.”
“Iya, sebentar Nyonya … ini Nyonya,” tunjuknya menyerahkan iOS 5 inch itu.
“Makasih, ya …” ucapku kemudian setelah mendapatkan apa yang kumau.
Ada beberapa hal yang membuatku penasaran hingga seharian ini aku tak tidur siang sama sekali. Aku juga tak beranjak dari ranjang karena begitu fokus. Aku baru beranjak ketika akan salat atau ke kamar mandi. Sisanya, seharian ini aku hanya fokus menghadap macbook itu.
Saat menjelang sore, aku semakin tak sabar untuk segera bertemu dengan Adrian. Aku bahkan tak bisa makan malam dengan tenang karena Adrian yang tak kunjung pulang. Tapi karena rasa lelah seharian tak istirahat, aku pun menyerah menunggunya pulang.
Kedua mata ini tak tahan lagi ingin segera dipejamkan dan menyambut mimpi-mimpi indah hingga fajar menjemput. Baru beberapa saat ketika kantuk mulai menguasai, suara pintu kamar yang dikunci membuatku mengerjap beberapa kali kemudian bangkit dari tidurku.
Adrian telah berdiri di sana, berjalan dengan mengendap-endap, sepertinya ia sengaja tak ingin membangunkanku. Karena terlanjur bangun, aku menyalakan lampu utama kamar dan segera mendekat padanya lantas membantunya. Ada sesuatu yang sangat ingin segera kutanyakan perihal keanehan yang mengganggu pikiranku sejak siang tadi.
“Kamu udah pulang? Pasti capai, aku siapin makan, ya?” tawarku dengan kedua tangan sigap membantunya melepas dasi dan kancing kemejanya.
“Enggak usah, aku udah makan sama Erwin di kantor. Padahal aku enggak mau bangunin kamu, maaf ya jadi ganggu istirahat kamu,” lanjutnya.
“Enggak apa-apa lagi … aku juga sebenernya nungguin kamu sih ada yang mau aku tanyain.”
“Tanya apa?”
“Bukan apa-apa. Udah, kamu mandi dulu aja sana.” Aku mendorong Adrian sampai ke depan pintu kamar mandi.
“Kamu udah mandi? Mau ikut nggak?” godanya.
“Ish, buruan mandi, Sayang.” perintahku sekali lagi, segera diturutinya dengan menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1