
Seorang wanita tampak berjalan mondar-mandir di beranda rumah. Rautnya samar terlihat cemas oleh redup lampu malam. Tak berapa lama pun sebuah mobil memasuki pekarangan rumah itu, dan turun seorang wanita lagi dari sana, berjalan mendekat lantas berpelukan cukup lama.
"Hann ... Gimana Adrian, Nak?"
"Alhamdulillaah Ummi. Mas Adrian sudah jauh lebih baik. Kata dokter, besok ventilatornya sudah bisa dilepas."
"Mashaallah tabarakallah." Wanita itu memeluk Hanna erat. Tapi ekspresi Hanna tak bisa ditutupi karena kekhawatirannya pada Adrian masih harus ditambah dengan kondisi sang Ayah di tanah suci.
"Mari masuk dulu, Ummi," ucapnya menyilakan masuk, dengan senyum hambar.
Selagi Ummi duduk bermain dengan Asyqar di ruang keluarga, Hanna meminta Hugo untuk terus mencoba menghubungi Ayah atau Bundanya. Puncaknya pada saat Hanna harus menangis sendirian di kamar membayangkan betapa hal-hal buruk itu bisa menghampirinya dengan mudah.
...----------------...
"Hanna ke mana, ya, kok nggak balik-balik?"
"Sepertinya Bu Hanna sedang perlu ruang untuk menyendiri. Sewaktu di perjalanan menuju rumah sakit tadi, beliau mendapat informasi bahwa Ayah beliau tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit saudi."
"Pak Darmawan?"
"Iya, Nyonya."
"Assalamualaikum." Zahra masuk ke ruang keluarga bersama suami, dan adiknya.
"Waalaikumsalam warahmatullah. Nak Zahra?" Ummi segera berdiri menyalami tamu yang baru datang itu.
"Oh, Ummi di sini juga ternyata."
"Iya, Ummi datang untuk menanyakan keadaan Adrian. Eh, silakan duduk. Mba Rina, tolong panggilkan Hanna."
Wanita enam puluh tahunan itu duduk mendekat. "Pak Darmawan katanya sakit, ya, di sana?"
"Sebenarnya, kami barusan dapat informasi kalau Ayah meninggal dunia pukul 4 tadi waktu Arab Saudi."
"Innalilahi wa innailaihi raji'un. Zahra ..., Harun ..., Ummi ikut berdukacita yang sedalam-dalamnya, ya. Inshaallah Allah menempatkan Pak Darmawan di tempat terbaik." Wanita itu spontan memeluk Harun dan menggenggam tangan Zahra.
"Iya, Ummi. Kami berdua baik-baik saja. Tapi, Hanna ...."
"Kakak? Harun? Udah lama? Ada apa malam-malam begini?"
"Mereka baru mendengar keadaan Adrian yang kritis, dan memastikannya ke sini," ujar Ummi cepat.
"Oh ..., Alhamdulillah Mas Adrian udah jauh lebih baik kok. Inshaallah besok ventilatornya bisa dilepas. Makasih banyak atas doa semuanya."
Hanna duduk di sebelah Ummi. "Kok si kembar nggak diajak, Kak?"
"Iya, mereka udah tidur tadi. Besok lah kita bawa si kembar ke sini supaya bisa main lagi sama Asyqar."
"Yeay! Besok Asyqar banyak teman mainnya. Ada Kak Farhan-Raihan, ada Om Harun juga," ucap Hanna memegang tangan Asyqar yang masih ada di pangkuan Ummi. Beberapa saat kemudian Asyqar turun dari pangkuan Ummi dan merangkak ke arah Hanna.
"Eh, Asyqar ngantuk ya? Iya? Mau bobo? Iyaa, sini-sini, sama Mama, Sayang."
"Ummi, Kakak, aku ke atas dulu, ya. Kayanya Asyqar udah mulai ngantuk."
"Iya, kamu naik aja, Hann. Biar Zahra dan Ali, Ummi yang ajak ngobrol di sini."
"Maaf, ya ..., kalau ada perlu apa-apa, bisa minta tolong ke Mba Rina aja. Hanna naik dulu."
Seperginya Hanna ke lantai tiga, membawa Asyqar ke kamar, dan usaha menidurkannya dengan lantunan sholawat. Setelah beberapa saat, Asyqar pun bisa tertidur pulas di ranjang bayinya yang hampir tak muat dipakai. Padahal rencana hari itu akan jadi jalan-jalan keluarga untuk membeli ranjang baru Asyqar. Tapi siapa sangka, ada cerita serumit itu yang menguji keluarga Adrian.
Sementara itu, Zahra, Ali, dan Ummi yang masih duduk di sofa ruang keluarga itu melanjutkan perbincangan mereka selagi Hanna belum turun untuk bergabung. Semakin kalut perbincangan di antara mereka, semakin tak bisa air mata ditahan. Dengan kondisi Hanna yang sekarang, tak tega mereka memberitahunya.
"Bukan hanya berita meninggalnya Ayah kami. Informasi terbaru, Bunda kami juga terpaksa dirujuk ke rumah sakit. Sepertinya karena terlalu terkejut, Bunda terkena serangan jantung mendadak."
__ADS_1
"Innalilahi."
Zahra tersenyum pasrah. "Kami hanya bisa berdoa, dan meminta doa yang terbaik dari semuanya untuk orangtua kami di sana."
"Pasti. Pasti Ummi doakan. Tolong Hanna jangan diberitahu dulu, ya. Ummi takut Hanna tidak bisa menahan semuanya sendirian saat ini."
"Iya, Ummi. Kami juga tidak bermaksud akan memberitahu Hanna secepat ini." Zahra menangis dalam pelukan Ummi.
...----------------...
Pukul dua belas malam, Hanna masih terjaga. Ia membongkar buku-buku lama Adrian setelah menghubungi pihak Rumah Sakit. Ia mencari dokumen-dokumen yang mungkin penting dan bisa memberinya petunjuk untuk segera membuat Adrian tersadar. Harapannya sudah hampir hilang selama sepuluh hari ini, dan kini cahaya harapan mulai muncul.
Untuk menemaninya berjaga, Hanna meminta Asisten Mba Rina untuk membawakan minuman ke kamarnya. Setelah lima menit berlalu, seseorang berdiri di depan pintu kamarnya sembari membawa nampan berisi segelas jeruk peras.
"Maaf, ya, meminta bantuan malam-malam beg- loh? Ummi?" Hanna segera mengambil alih nampan dari tangan wanita yang berdiri di depan pintu kamarnya itu.
"Maaf, mengejutkan kamu, ya? Ummi hanya penasaran, kenapa kamu masih bangun dan meminta asisten membuatkan jeruk peras tengah malam begini."
"Hanna sedang mencari barang-barang lama milik Mas Adrian. Mempersiapkan apa saja yang harus Hanna katakan besok."
"Katakan saja semua tentangmu. Karena dulu, Adrian sangat bersemangat setiap kali Ummi membicarakan kamu."
Akhirnya wanita enam puluh tahun itu menemani Hanna. Membiarkan Hanna tidur di pangkuannya, dan menceritakan semua yang belum Hanna ketahui tentang Adrian. Bukan hanya tentang Adrian yang sangat menyukai Hanna Aleesa, tapi juga cerita tentang Adrian saat ia kehilangan sosok Baba dalam hidupnya. Ummi menceritakan kisah itu sembari mengusap rambut Hanna yang terurai.
"Eh, Hann?" Ummi terkejut melihat Hanna yang tiba-tiba bangkit dari tidurnya, berlari menuju kamar mandi.
Ummi mengikuti Hanna, melihat menantunya itu dari cermin kamar mandi, sembari membantu dengan memberikan pijatan di belakang lehernya. Hanna mengeluarkan seluruh makan malamnya hari ini. Ia memuntahkan semuanya, sampai perutnya benar-benar lega.
"Hann? Kamu telat makan, ya?" Ummi membantu Hanna berjalan kembali ke kursi sudut kamar.
Hanna terdiam sebentar untuk mengingat. "Sepertinya Hanna tidak telat makan, Ummi. Seminggu terakhir ini Hanna teratur makan tiga kali sehari."
"Ah ..., mungkin Hanna kecapaian. Hari ini pun pekerjaan di kantor sangat padat," pungkas Hanna.
Ummi mengambilkan jeruk peras dari nampan itu pada Hanna. "Ya sudah, minum dulu ini. Setelah itu langsung tidur, Ummi nggak mau kamu kecapaian begini lagi. Ingat, Adrian perlu kamu. Kalau kamu sakit, siapa yang bisa membantunya?"
"Sama-sama. Ummi turun dulu, ya, kalau gitu. Kamu cepat istirahat."
"Iya, Ummi."
Wanita yang baru keluar dari kamar menantunya itu berhenti beberapa saat tak jauh dari pintu yang baru ditutupnya. Meski menantunya itu mengatakan bahwa dirinya kecapaian, tapi pandangannya sebagai mertua, mengatakan bahwa mual itu bukan disebabkan kecapaian biasa.
Di sisi lain, Hanna yang selesai meneguk habis air jeruk peras dari gelasnya itu, berjalan ke ruang sebelah yang jadi tempat tidur putera pertamanya. Hampir sama dengan sang mertua, sebenarnya Hanna juga memikirkan bahwa mual itu bukan pertanda kecapaian atau telat makan. Tapi ia tak bisa terlalu percaya diri mendiagnosis diri sendiri.
"Asyqar ..., gimana kalau ternyata kamu beneran akan punya adik? Padahal kamu masih sekecil ini untuk berbagi kasih sayang Mama dan Papa."
"Tapi kalau Asyqar punya Adik, Asyqar nggak akan kesepian lagi mainnya."
...----------------...
Pagi hari, Hanna kembali ke Rumah Sakit. Kembali menghadap Adrian yang terbaring di ranjang ruang ICU. Ia menceritakan bagaimana perasaannya ketika menerima lamaran Adrian, ketika akhirnya hidup di rumah yang sama, dan menjalani hari-hari menyenangkan itu berdua. Hanna menceritakan setiap momen dengan perasaannya yang tertuang di dalam cerita-cerita itu.
"Oh ya, Mas. Aku ingat saat kamu bernyanyi lagu itu untukku. Bagaimana kalau kali ini aku yang menyanyikannya?"
^^^I praise Allah for sending me you my love^^^
Aku bersyukur Allah mengirimmu padaku, Kasih
^^^You found me home and sail with me^^^
Kau temukan tempat untukku pulang dan berlayar bersama denganku
^^^And I'm here with you^^^
__ADS_1
Dan aku di sini bersamamu
^^^Now let me let you know^^^
Sekarang biarkan kau mengetahuinya
^^^You've opened my heart^^^
Kau telah membuka hatiku
^^^I was always thinking that love was wrong^^^
Dulu aku selalu berpikir bahwa cinta itu salah
^^^But everything was changed when you came along^^^
Tapi semua berubah ketika kau datang
^^^And there's a couple of words I want to say^^^
Dan ada beberapa kata yang ingin kusampaikan
^^^For the Rest of My Life^^^
Selama sisa hidupku
^^^I'll be with you^^^
Aku akan bersamamu
^^^I'll stay by your side honest and true^^^
Aku akan ada di di sisimu
^^^Till the end of my time^^^
Sampai akhir waktu
^^^I'll be loving you.^^^
Aku akan mencintaimu
^^^^^^(For the Rest of My Life - Maher Zain)^^^^^^
"Ah ..., sepertinya aku sudah cukup lama duduk di sini. Cepat bangun, ya." Hanna berdiri dari kursinya. Mencium kening Adrian cukup lama.
Lalu menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Adrian. "Segera bangun, ya, Mas. Asyqar akan menjadi seorang kakak," bisik Hanna lirih.
Beberapa jam sebelumnya ...
Rumah itu sudah sepi lebih awal dari biasanya. Erwin dan Agatha yang datang untuk bertemu dengan Hanna, terlewat. Hanna sudah lebih dulu keluar dari rumah itu menuju ke rumah sakit. Tapi pagi itu ia tidak datang ke rumah sakit seorang diri, melainkan mengajak serta Mba Rina dan Asyqar.
Sebelum ia mengunjungi ruang ICU, Hanna sudah lebih dulu mengunjungi dokter Jennie di poli kandungan. Meski sempat menunjukkan ekspresi terkejut, tapi Dokter Jennie berusaha bersikap profesional. Walau pada akhirnya ia juga ikut terkejut mengetahui kehamilan kedua Hanna.
"Usia kandungannya satu bulan. Selamat ya," ucap Dokter Jennie kemudian.
"Satu bulan? Tapi kami baru melakukannya, mungkin sekitar dua minggu yang lalu."
"Iya, karena usia kandungan dihitung dari hari pertama haid terakhir. Ovum keluar pada hari ke-14 setelah menstruasi terakhir. Jadi, usia janin bisa diprediksi dengan menghitung hari terakhir menstruasi." Hanna mengangguk-angguk mendengar penjelasan Dokter Jennie.
"Beruntungnya ini kehamilan keduamu, ya. Kasus ini paling sering terjadi sama orang-orang yang menikah di akhir hari-hari menstruasi. Biasanya kandungannya lebih tua dari usia pernikahannya. Kan, bisa jadi masalah dan berita nggak baik, kalau orang awam salah paham tentang hal ini. Padahal bukan masalah hamilnya sejak kapan, tapi perhitungan usia kandungannya."
"Karena ini kehamilan keduamu, dan ..., sepertinya kamu belum lupa dengan rasa menjadi seorang ibu hamil, jadi ..., aku hanya bisa memberikan resep yang sama."
__ADS_1
"Iya, terimakasih."
"Selamat, ya. Adrian harus segera tahu tentang ini."