
Waktu berlalu begitu cepat dengan kebahagiaan yang kami rasakan. Tak terasa satu bulan berlalu sejak hari kelulusanku itu. Aku mendapatkan kursus mengemudi eksklusif dari Adrian di setiap akhir pekan. Setidaknya kesibukan baru itu mengurangi kebosananku di rumah sepanjang hari. Dari pagi setelah sarapan sampai hampir waktu makan siang, kami akan kebut-kebutan di sirkuit yang disewa Adrian itu. Tak jarang kami kembali lagi ke sana setelah makan siang hingga sore hari.
“Seratus lima puluh?” tantangnya.
“Let’s try!” ucapku bersemangat kembali menaikkan kecepatan mobil yang kukemudi itu.
“Good Girl, the road is yours.”
Siang itu setelah cukup kebut-kebutan, kami keluar dari sirkuit ke jalan raya. Sampai akhirnya mobil hitam itu berhenti di rumah makan padang langganan Adrian. Kami melaksanakan salat dzuhur, baru kemudian menghabiskan makan siang di sana yang secara kebetulan bertemu dengan salah satu dosen yang pernah mengajarku saat semester awal ketika aku belum berangkat ke Australia. Beliau pun tampaknya masih mengenaliku, sampai menyapa kami lebih dulu.
Dunia terasa begitu sempit setelah mengetahui bahwa dosen itu merupakan rekan Adrian. Beliau bersama dengan sang istri dan putri kecilnya lantas bergabung dengan meja kami. Sembari menghabiskan makan dan bercerita, aku terhibur oleh putri kecilnya yang tampak mudah akrab dengan orang baru. Pipinya chubby dan mata bulat itu seperti boneka hidup yang bergerak-gerak.
“Usianya berapa, Kak?” tanyaku pada wanita pertengahan tiga puluhan itu.
“Baru satu setengah tahun,” balasnya
“Lagi imut-imutnya ini. Ih, lucu banget. Halo, nama kamu siapa?” tanyaku gemas seraya mencubit pipi chubbynya.
“Alice Tante. Namaku Alice,”
“Alice mau nggak digendong sama tante Hanna?” Aku mengulurkan kedua tanganku pada makhluk menggemaskan itu yang segera diindahkannya.
“Uuuh.” aku menggendongnya senang ketika bayi mungil itu cepat sekali menurut.
“Sayang … aku main sama Alice dulu, ya,” pamitku lirih pada Adrian kemudian membawa bayi kecil itu bermain di taman milik rumah makan ini bersama dengan Bu Anna.
Alice sangat menggemaskan, bahkan keimutannya sanggup membuatku luluh hanya dalam beberaoa detik setelah melihatnya. Bayi kecil itu juga sepertinya senang bertemu dengan orang baru. Matanya yang membulat dan bulu mata tebal, menambah rasa gemasku padanya. Hampir tak ada waktu bagiku melepaskan pandangan dari makhluk super menggemaskan itu ketika kami bermain bersama di dekat gemericik air dan kolam ikan.
“Kalian, pengantin baru, ya?” tanya Bu Anna padaku.
“Ah iya.”
“Kamu juga kelihatannya masih muda banget, tapi kamu udah kelihatan punya sifat keibuan loh.”
“Ah, masa sih?”
“Iya, buktinya Alice yang nggak gampang akrab sama orang baru aja, mau kamu gendong.”
“Kalau itu … mungkin karena saya memang dari dulu sangat suka dengan anak kecil, sejak SMP saya jadi jasa penitipan anak tetangga kalau di rumah. Saya juga gemas kalau lihat anak kecil begini,” timpalku dibalas gelak tawanya.
Bermain dengan anak kecil menggemaskan seperti Alice memang tidak akan pernah ada bosannya. Sesekali aku menyadari Adrian memandang ke arah kami sembari tersenyum meski tak sampai menampakkan gigi-gigi putihnya. Kami menghabiskan banyak waktu di sana hingga perbincangan antara Adrian dan dosenku itu berakhir.
Seolah menjadi sebuah kode rahasia antara kami, sepulang dari pelatihan mengemudi, Adrian terus-terusan membahas tentang betapa menggemaskannya Alice. Dan ketika malam datang, Adrian pun memintanya. Meski tanpa perencanaan panjang, tugas bisa terlaksana dengan baik hingga membuat kami berdua kompak bangun kesiangan.
“Hari ini aku nggak ngantor deh,” ujarnya malas.
__ADS_1
“Eh? Kenapa?” Aku menoleh karena terkejut.
“Males, cape. Aku mau istirahat di rumah aja, sekalian nemenin kamu,” putusnya kemudian melingkarkan kedua tangan di pinggangku.
“Kamu itu bossnya, harusnya kamu yang jadi panutan untuk karyawan-karyawan yang lain dong.” kataku mengusap puncak kepalanya yang telah bertengger di pundakku.
“Nggak ada sesuatu yang mendesak kok, lagian Erwin pun bisa handle semuanya. Kecuali kalau kamu emang nggak mau aku temenin, ya udah aku berangkat aja,” ancamnya seperti anak kecil yang merajuk.
“Iya … iya … terserah kamu aja, toh kamu Bossnya.”
“Ya udah, kalau gitu ayo kita sarapan,” ajaknya masih menempelkan dagu di bahu kiriku.
“Ayo.”
“Ayo …”
“Iya, Ayo … tapi ini lepasin dulu, Sayang … gimana caranya turun kalau kamu nggak lepasin dulu tangannya,” protesku kemudian Adrian tertawa seraya melongarkan pelukannya.
Triing!! Triing!!
Belum sempat kaki ini menyentuh lantai kamar, suara dering telepon di meja membuatku dan Adrian berpandangan selama beberapa saat. Ini pertama kalinya aku mendengar dering telepon sepagi ini sejak dua bulan tinggal di sini. Adrian dengan sigap beranjak mengangkatnya, sekaligus mengaktifkan loud speaker agar aku bisa mendengar suaranya.
“Halo, Assalamu’alaikum,” ucapnya dengan mata masih melihat ke arahku duduk.
“Wa’alaikumsalam. Di mana anak saya!”
“Gimana kabar kalian berdua? Sehat?”
“Alhamdulillah kami berdua sehat, Yah,” balas Adrian gugup.
“Bagus ya kalian berdua. Masih sehat, tapi udah lupa sama Ayahnya. Kamu Adrian! Mentang-mentang udah dapetin anak saya, lupa sama mertua. Kamu juga Hanna, mentang-mentang udah punya suami dan rumah sendiri, jadi lupa sama orang tua!”
“Emang kamu belum pernah telepon ke rumah?” bisik Adrian pelan padaku.
Aku menggaruk kepalaku. “Kayaknya belum, deh.”
“Gimana sih kalian ini!” nyaringnya suara Ayah kembali terdengar memaki kami.
“Udah, Yah … sini biar Bunda yang ngomong, kalau Ayah bentak-bentak gitu Hanna malah enggak mau ke sini.” Suara Bunda kini terdengar mendekat.
Bunda : “Assalamu’alaikum,”
Adrian : “Wa’alaikumsalam, Bunda. G- gimana kabar Ayah dan Bunda?”
Bunda : “Alhamdulillah baik, Adrian … kalian sendiri gimana?”
__ADS_1
Adrian : “Alhamdulillah Hanna dan Adrian sehat-sehat di sini, Bun.”
Bunda : “Maaf, ya … si Ayah jadi marah-marah, padahal tadinya cuma mau nanyain kabar kalian berdua.”
Adrian : “Enggak apa-apa, Bun … salah Adrian juga enggak kasih kabar dua bulan ini.”
Bunda : “Ya … namanya juga pengantin baru, kalau Bunda mah maklum. Oh iya, besok acara tujuh bulanan Zahra, kamu bisa antar Hanna ke sini, kan?”
Hanna : “Bi … bisa Bun, inshaa Allah,” jawabku sesaat setelah melihat pada Adrian yang terdiam.
Bunda : “Alhamdulillah kalau begitu. Acaranya sore sih, tapi nggak apa-apa, kan kalau Hanna kamu antar ke sini dari pagi? Kalau bisa, selesai acara besok Hanna juga nginap di sini walau cuma semalam.”
Hanna : “Iya, Bun ….”
Bunda : “Ya sudah, Bunda tutup teleponnya, ya ... Assalamu’alaikum.”
Hanna : “Wa’alaikumsalam,” jawabku.
Adrian masih terdiam bahkan setelah telepon ditutup. Ia juga tak berpindah, sementara kedua matanya menatap ruang hampa.
“Sayang ….” panggilku.
“Mas Adrian!” ulangku dengan tangan kanan menarik-narik shirt yang dipakainya.
“Iya,”
“Kamu kenapa?” selidikku.
“Enggak, enggak apa-apa.” Ia menggeleng pelan kemudian pergi keluar kamar tanpa bicara.
Entah kenapa sikapnya barusan sangat aneh buatku. Tak seperti Adrian biasanya, ia bahkan pergi tak mengucapkan apa-apa. Meski baru dua bulan pernikahan, tapi ini pertama kalinya Adrian bersikap acuh tiba-tiba. Sikapnya benar-benar banyak berubah selama seharian ini.
Saat malam tiba, kukira Adrian akan kembali menjadi Adrian sebelumnya. Ternyata ia masih agak dingin dan tak banyak bicara. Ia juga fokus duduk di karpet kamar menghadap laptonya sejak selesai salat Isya’. Keadaan seperti ini membuatku jadi serba salah karena tak tahu harus bagaimana.
“Udah selesai urusan kantornya?” tanyaku ketika Adrian menanggalkan pakaiannya bersiap untuk tidur.
Ia hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaanku. Setelah menaiki ranjang dan berbaring di sebelahku, baru ia melingkarkan tangannya ke perutku seperti biasa. Menyadarinya membuatku sedikit lebih lega, meski rasanya masih ada yang mengganjal dengan perubahan sikap Adrian yang tiba-tiba, tapi dengan posisi tidur kami seperti biasa, sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Besok kamu mau aku antar ke rumah Ayah-Bunda jam berapa?” tanya lirih Adrian dengan mata terpejam.
“Pagi, gimana kalau sebelum jam delapan? Kepagian nggak? Atau … jam sembilan aja gimana?”
“Jam sembilan, biar kamu juga udah sarapan dari rumah.”
“Acara tujuh bulanan enaknya dibawain apa, ya? Eh, aku juga belum nanya hasil USG bayinya cewek atau cowok. Aduuh enggak sabar pengen bangun besok,”
__ADS_1
“Udah … kamu tidur aja, besok pagi pasti dapet jawabannya.”
“Iya, selamat tidur, Sayang.”