Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Ayah-Bunda


__ADS_3

Malam itu, sesuai ajakan Mas Adrian, kami berdua berangkat bersama menuju ke rumah Ayah dan Bunda. Sekira pukul delapan malam, setelah selesai alat isya' kami bisa duduk dalam satu ruangan untuk membicarakan tentang hal ini.


Di situasi itu, aku takut akan respon kedua orangtuaku bila tahu anaknya akan dimadu. Tapi sepertinya hanya aku yang terlalu takut memikirkan apa yang akan terjadi. Mas Adrian hampir tak menunjukkan rasa takutnya di hadapan Ayah dan Bunda dan keluarga Kak Zahra yang turut hadir di sana.


"Minggu depan, saya mohon Ayah dan Bunda berkenan datang ke rumah kami sebagai saksi akad nikah Adrian."


Keduanya diam selama beberapa saat. Ayah bernapas besar-besar memandangi wajah serius Mas Adrian. Sementara Bunda yang duduk di sampingku, menggenggam erat tangan kiriku sembari berusaha keras menahan air matanya. Tapi sia-sia, pada akhirnya Bunda tetap menumpahkan air matanya. Dan suasana hening itu pun makin larut sejak Ayah mulai berkata.


"Jika putri saya mengizinkan, maka itulah keputusan yang dia pilih. Ayah akan datang sebagai saksi Minggu depan, tapi dengan satu syarat. Kamu Adrian, jangan sekali-sekali memperlakukan putri saya dengan tidak adil. Jika sampai kamu khilaf menyakiti hati putri saya, saya sendiri yang akan menjemputnya pulang kembali ke rumah ini."


"Iya, Ayah. Adrian janji akan melakukan yang terbaik dan berlaku adil kepada Aleesa. InshaAllah."


Saat itu juga Ayah beranjak dari tempat duduknya dan beralih memelukku. Aku mengerti posisi Ayah dan Bunda yang tak bisa berbuat apa-apa lagi selain memintaku untuk bersabar. Itu adalah kedua kalinya aku melihat sosok Ayah yang tegar, mengeluarkan air matanya sembari memelukku.


"Kamu tidak perlu memaksakan hatimu, Nak ..., kamu bisa meminta Adrian mengembalikanmu kepada kami kalau kamu sudah tidak ingin tinggal di rumah itu lebih lama lagi," ucap Ayah memantik air mata haruku.


"Hanna nggak apa-apa Ayah ..., Bunda. Hanna yakin Mas Adrian bisa berlaku adil, seperti yang dilakukannya selama ini."


Baru sekarang aku sadar bagaimana beratnya menerima kenyataan bahwa akan ada satu orang lagi yang masuk ke dalam rumah tangga kami. Satu orang yang harus kuperlakukan dengan baik dan membagi apa yang pernah kumiliki sepenuhnya.


"Semoga Allah selalu memberikan kesabaran dan hati yang lapang untuk kamu, Hanna. Ingat, Ayah dan Bunda tidak pernah sehari pun mendoakan kebaikan kalian," pesan Bunda disela tangisnya.


"Malam ini kalian menginap di sini saja, ya? Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Adrian malam nanti."


"Baik, Ayah."


Jadilah malam itu kami berdua tak kembali ke rumah. Selain Mas Adrian yang akan membicarakan sesuatu dengan Ayah sampai larut, aku juga tak bisa tidur hingga waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Sebenarnya aku juga bingung kenapa respon Ayah ketika Mas Adrian mengatakan maksudnya untuk menikahi wanita lain seperti bukan hal yang asing.


Ah sebal! Kalau saja aku boleh bergabung dengan obrolan Ayah dan Mas Adrian


Click! Pintu kamar terbuka dan spontan aku melihat ke arahnya. Mas Adrian muncul dari balik pintu, memandangku serentak. Dari posisi awalku yang terduduk bersila menghadap pintu, segera kuubah dengan tiduran di balik selimut.


"Kok belum tidur? Bentar lagi subuh loh." Mas Adrian naik ke atas tempat tidur perlahan.


Aku yang merasakannya mendekatiku secepat mungkin berbalik badan membelakanginya. "Ngobrol apa aja sama Ayah? Lama banget."


"Biasalah, Ayah cerita-cerita soal anaknya, dan kasih beberapa wejangan untukku," balas Adrian dengan suara yang jauh.


"Apa yang Ayah ceritain tentang aku?" tanyaku masih membelakangi Mas Adrian.


"Ayah bilang, Hanna itu anak kesayangannya."


Spontan aku membalikkan badan. Bersamaan dengan itu, Adrian juga membalikkan badannya. Aku sempat tersentak karena jarak kami sangat dekat satu sama lain. Tapi ia menatapku tajam dengan tatapan serius. Bulu mata lentiknya yang mencuat tajam, makin menciutkan nyaliku untuk memandang mata hazel itu lebih lama.


"Makin ke sini, aku makin takut nggak bisa mengerti apa itu adil dan keadilan.


Apalagi aku. Yang takut nggak bisa bersyukur meski sudah diperlukan adil.


"Aku nggak tahu wejangan apa yang Ayah bilang ke kamu. Tapi ingat, selalu ada yang percaya kalau kamu bisa."

__ADS_1


"Aku harap juga begitu."


"Kok kamu jadi nggak yakin gini sih?" tanyaku yang tanpa sadar kuucapkan dengan meninggikan suara.


"Okay, sebaiknya kita tidur. Katanya kamu nggak boleh begadang biar kulitnya nggak rusak, kan?"


Memangnya aku begadang begini demi siapa? Ah, dasar masih sama aja nggak peka!


...----------------...


Pagi hari, sebelum matahari terlalu terik, kami pulang kembali ke rumah. Ekspresi wajah orang-orang rumah sudah lebih tenang dan bisa sedikit tersenyum dibandingkan dengan kemarin. Sama halnya dengan Mas Adrian yang kini sudah bisa tertawa walau semalam sempat bicara tentang keragu-raguannya.


Mulai dari hari itu, adalah H-6 akad nikah dilaksanakan. Berdasarkan kesepakatan yang telah disetujui oleh kedua pihak, akad nikah akan dilaksanakan di rumah kami, pun sebagai perayaannya tak begitu mewah karena dikhawatirkan akan menimbulkan kontradiksi di dalam keluarga besar Al-Faruq. Rencananya, tamu yang hadir cukup kerabat dan teman dekat kedua pihak saja.


Dan bagiku kini, tak ada yang tak baik-baik saja. Sepertinya otakku mulai mengerti dan menerima keadaan saat itu.


"Hari pertama pembukaan cafenya sehari setelah acara, ya? Kamu udah siapin apa aja?"


"Iya, aku udah minta Hugo atur semuanya, biar jadi acara yang sederhana aja."


"Terus progres renovasinya sampai mana?"


"Barusan dapat update dari Hugo, tinggal penataan ulang aja."


"Dengar-dengar, Johana ikut ambil bagian?"


"Iya, dia, kan udah punya pengalaman di bidang bisnis kuliner, beberapa kali aku ngobrol sama Jo soal ini. Hari ini juga rencananya aku mau ketemu sama Jo."


"Jo ajak aku ketemu di salah satu restorannya gitu. Nggak usah khawatir, nanti dia yang jemput ke rumah."


"Kamu perlu asisten baru?"


"Ah, nggak kok, nggak usah. Aku udah lebih nyaman sama Agatha. Tunggu sampai lahiran dulu aja baru minta dia kerja sama aku lagi."


"Okay. Tapi kalau ada apa-apa, bilang aku."


"Heeh, pasti."


Mobil kembali masuk ke garasi pukul sembilan pagi. Aku segera masuk untuk mengganti pakaian dan membawa barang yang kuperlukan. Memang benar aku dan Jo sudah janji akan membahas seputar bisnis kuliner hari ini. Tapi selebihnya, ada hal yang ingin kulakukan tanpa sepengetahuan Mas Adrian. Setidaknya untuk sekarang.


Tak perlu waktu lama, aku telah berganti dengan pakaian yang lebih rapih. Johana pun menghubungiku ketika ia sampai di pekarangan rumah. Membuatku bergegas pamit pergi.


"Sayang, aku jalan, ya ...," kataku setengah berteriak.


"Bener nggak perlu diantar?" tanyanya muncul dari dalam ruang kerja.


Aku melirik ke dalam ruangan itu. Melihat meja kaca yang penuh dengan tumpukan kertas dan laptop masih menyala. "Nggak apa-apa. Kerjain aja itu kerjaan kamu, masa semua harus dihandle Pak Erwin."


"Udah, ya. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Eh?!" Aku tersentak dengan tangan yang mencengkram erat pergelangan tanganku.


"Ada yang kelupaan."


"Hah? Nggak ada kok."


Cup!


"Lain kali jangan sampai kelupaan lagi, atau nggak kamu nggak boleh keluar dari rumah ini," peringatnya serius, tapi justru menarik tawaku karena tingkah manjanya itu.


"Aku jalan, Assalamualaikum," ulangku lagi.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah."


Johana telah menungguku di dalam mobilnya. Ia tersenyum melihatku turun dari beranda rumah. Aku sendiri tak menyangka sampai akhirnya bisa akrab dengan Johana. Padahal di awal, aku melihatnya sebagai wanita yang kaku dan angkuh. Rupanya aku hanya perlu sedikit lebih mengenalnya agar bisa akrab dengan seorang Johana.


"Bu Hajjah kalau pamit sama suaminya lama, ya?" celetuknya mengangkat sebelah alisnya.


"Biasalah."


"Udah semua, kan, nggak ada yang kelupaan?" tanyanya memastikan sekali lagi setelah aku duduk di sebelah.


"Aman semua."


"Okay, kita berangkat."


Mobil keluar dari pekarangan rumah perlahan. Hingga tak terasa mulai menyatu bersama keramaian jalanan yang cukup padat kendaraan. Tak perlu waktu lama untuk mencapai tujuan pertama kami karena letaknya dekat dengan rumah.


Setelah mencari tempat parkir mobil, kami berdua masuk ke bangunan itu. Bangunan yang tampak agak tua, tapi masih berdiri dengan banyak orang berlalu-lalang. Beberapa saat kami berjalan, sampai di sebuah lorong yang ramai akan orang-orang menunggu antrean. Termasuk aku, aku harus turut mengantre karena tak ada akses VVIP di sini.


"Nyonya Hanna Aleesa!"


Aku baru beranjak dari kursi tunggu setelah namaku dipanggil. Bersama Jo, ia menemaniku masuk ke ruangan yang ditunjukkan oleh perawat. Di dalam ruangan yang sudah beberapa kali ini aku kunjungi, Dokter Jennie melakukan pemeriksaan menyeluruh. Baru kemudian aku merasa lega sekaligus senang ketika ia mengonfirmasi bahwa testpack yang kupakai itu tidak salah.


"Usianya memasuki tiga Minggu. Selamat, ya. Mujizat Tuhan memang tidak ada yang tahu."


"Berikut ini saya resepkan susu ibu hamil yang bisa dikonsumsi di minggu-minggu awal seperti sekarang. Di masa-masa awal memang belum terlalu ada peningkatan berat badan. Tapi kalau udah jalan tiga atau empat bulan, kenaikan berat badan ibu hamil itu adalah hal yang lumrah. Oh ya, masih sering mual di pagi hari?"


"Sebelumnya mualnya parah banget, Dok, tapi sekarang sudah bisa dikontrol."


"Mual juga gejala yang wajar di awal kehamilan. Yang paling penting saat ini, kurangi aktivitas yang berat-berat. Bukan berarti kandungannya tidaks sehat, tapi memang kita harus memastikan janinnya benar-benar kuat sampai berani melakukan aktivitas fisik seperti biasa. Kenapa Pak Adrian nggak ikut?"


Aku terdiam sejenak mendengar pernyataan terakhirnya. "Itu ...."


"Tidak apa-apa. Hanya saja, akan lebih baik kalau Pak Adrian juga ikut mendengar tentang ini. Apalagi di saat-saat sekarang, biasanya bumil mudah terbawa perasaan dan sering memutuskan sesuatu dengan gegabah karena mengandalkan emosi. Dalam hal ini, sudah tugas suami untuk memastikan kondisi emosional bumil tetap terjaga. Ada yang ingin ditanyakan lagi?"


"Oh, itu ..., apakah diusia kandungan sekarang, bumil sudah boleh berenang?"


"Singkatnya, berenang boleh saja, tapi dengan syarat, air kolam renang tidak kurang dari 30⁰ celcius dan tidak lebih dari 33⁰ celcius. Ibu juga tidak boleh berada di dalam air lebih dari setengah jam, untuk mengantisipasi terjadinya perambatan suhu yang mempengaruhi janin di dalam kandungan si ibu. Pastikan juga air di kolam renang tidak mengandung terlalu hanyak zat kimia dan tidak berbau."

__ADS_1


"Sebelum mulai berenang juga harus minum setidaknya segelas air putih dan dua gelas air putih setelahnya. Jangan lupa untuk melakukan pemanasan, dan yang terakhir, jangan melakukan gerakan-gerakan yang terlalu beresiko. Saya akan tuliskan gaya renang yang diperbolehkan dan tidak boleh dilakukan selama kandungan memasuki trimester pertama."


"Dan satu lagi, itu belum boleh dilakukan untuk sekarang,"


__ADS_2