
Hari itu aku sudah menentukan schedule padat, setelah selesai parenting class, aku akan kembali memeriksa cafe dan kemudian datang ke rumah Garrin untuk urusan yang menyangkut Karinda. Sudah semalaman aku menangis di kamar ketika membaca informasi yang ada dalam usb drive itu. Sampai-sampai hari ini aku harus memakai kacamata gelap untuk menutupi mataku yang bengkak.
Di tujuan pertama, parenting class, aku pergi dari rumah sejak pukul sembilan bersama Mba Rina. Ia lah yang menemaniku, bahkan menggantikan posisi Adrian dibeberapa sesi. Mau bagaimana lagi, aku tak bisa meminta Adrian dua puluh empat jam sehari untuk menemaniku karena kondisi kami.
"Parenting class kita hanya tinggal satu pertemuan lagi minggu depan. Untuk itu, kami sebagai tim penyelenggara ingin Bunda sekalian untuk memberikan evaluasi demi kemajuan kelas ini." Begitu sesi parenting class ditutup.
Parenting class selesai. Setelah pelajaran hari itu berakhir, seluruh peserta yang kebanyakan adalah wanita sosialita biasa duduk di kursi-kursi food court yang berada di bangunan paling depan dari seluruh bangunan yang ada. Di sana, aku
“Padahal minggu depan udah kelas terakhir, kan, ya. Tapi suaminya si Hanna itu kok nggak pernah kelihatan sih?”
“Malu kalii. Soalnya lakinya udah berumur,” sahut suara wanita yang lain.
“Eh, yang bener?” tanya yang lain ikut bergabung.
“Kata suamiku sih begitu. Nikahnya palingan karena si suami kaya raya. Apalagi Hanna juga kelihatan masih muda banget.”
“Aduuuh, ternyata gitu, ya. Emang sekarag tuh kalo nilai orang nggak bisa dilihat dari luarnya doang.”
“Iya. Padahal dari luar kelihatan alim banget, ternyata kalo nyari laki tetap aja dilihat dari seberapa gede dompetnya.”
“Wanita jaman sekarang mah mana ada yang mau nemenin dari nol gitu?”
“Dilihat dari kulitnya aja mulus, pasti dipelihara dari SMA sih itu.”
“Kenapa kita jadi ngobrolin dia sih. Haduuh, amit-amit jangan nular ke baby.”
Lagi-lagi. Rumor tentangku atau berita burung itu ternyata masih sama di semua tempat. *Memangnya salah kalau aku menyukai pria yang empat belas tahun lebih tua dariku? Toh Adrian juga bukan pria dengan tampang om-om. Memang ekspektasi manusia soal menikah dengan selisih usia jauh selalu saja buruk. Suamiku tuh ganteng tahu*!
“Bu, saya baru saja menghubungi Hugo untuk menjemput. Anda bisa minum dulu selagi menunggu.”
Aku menerima tumbler berisi jus buah yang dibawakan Mba Rina dari rumah. “Makasih, ya.”
“Minggu depan, sepertinya anda bisa meminta Pak Ad–”
“Abis ini kita langsung ke café, ya?” selaku mengalihkan topik.
“I- Iya, Bu.”
“Oh ya, yang soal tanah di dekat kampus kemarin menurut kamu gimana?”
“Bagus Bu. Tapi kalau saya boleh bilang, harga segitu masih terlalu mahal. Walau setimpal sih dengan lokasi strategisnya, tapi setahu saya masih ada tanah yang harganya lebih murah tidak jauh dari sana. Mungkin bisa jadi bahan pertimbangan lagi.”
“Gitu, ya. Coba deh nanti kupikir-pikir lagi.”
Hening. Di kepalaku mulai terpikir tawaran Kak Erika soal parenting class yang dulu diikutinya. Tapi aku menolak karena awalnya kupikir akan terlalu banyak uang yang dikeluarkan hanya untuk parenting class dengan fasilitas yang hampir sama.
Ah iya. Baru ingat kalau aku juga belum cuci baju.
__ADS_1
“Hugo sudah sampai di depan, Bu.” Mba Rina memanggilku setelah beberapa saat pergi ke depan.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Baru akan melangkah ke depan, suara-suara itu kembali terdengar. “Lihat. Mobil jemputannya ganti lagi hari ini. Udah pasti lakinya tua kaya raya, kan, tuh.”
“Eh iya, dong …, bener.”
Tak hanya aku yang mendengar perkataan itu. Mba Rina pun bereaksi cepat begitu mendengarnya. “Hush …, udah. udah.” Aku menahan Mba Rina yang juga mendengar suara itu dari balik dinding kaca itu.
Aku memberikan tasku kepada Mba Rina, memintanya pergi ke depan lebih dulu. Jujur, telinga ini panas mendengar gunjingan yang semakin menjadi. Beberapa saat setelah Mba Rina keluar mendahuluiku, sekira berjarak sepuluh meter, baru aku berjalan pelan menyusulnya.
“Eh, Hanna udah mau pulang, ya?”
“Iya nih kayaknya, itu mobil jemputannya yang udah berhenti di depan, kan?"
Aku tersenyum manis menatap satu per satu mereka. “Iya nih. Saya pamit pulang dulu, ya …. Eh iya, permisi, saya mau buang sampah,” ucapku kemudian membuang tumbler dari brand hydro flask ke tempat sampah di belakang mereka.
Beberapa dari mereka tidak bisa menahan ekspresi terkejut dan spontan mulutnya menganga. Sementara sebagian lainnya terdiam dan tertawa kaku seraya memandangi satu sama lain.
“Mari …,” ucapku sekai lagi sambil tersenyum.
Sampai di dalam mobil, aku tak bisa menarik senyum, hanya bisa menghela napas panjang sampai mobil lekas berjalan. *Ah, aku terbawa emosi sampai berlaku sombong seperti itu*!
“Astaghfirullahhal’adziim …,” lirihku memukul kening.
“Nggak apa-apa, Bu. Yang Ibu lakukan keren kok.” Mba Rina tersenyum melihatku dari pantulan cermin depan.
“Tetap aja Mba, aku khilaf dibutakan amarah.”
“Wanita sok sosialita yang duduk di depan tadi, sempat nyebarin rumor yang enggak-enggak soal Ibu. Terus waktu aku mau samperin, Ibu bilang nggak usah. Eh tahunya, Ibu sendiri yang keluar sambil buang tumbler harga dua juta.”
“Hahaha. Pasti langsung pada kena mental tuh. Apalagi kalau minggu depan Pak Adrian sendiri yang antar.”
“Adrian kan sibuk. Mana mungkin juga aku maksa.”
“Sesibuk-sibuknya suami, kalau untuk istri yang sedang hamil tua begini apa sih yang enggak, Bu?”
Yah, mau gimana lagi. Istrinya nggak cuma aku sendiri. Aku memalingkan wajahku melihat jalanan yang cukup lenggang menuju café. Sampai mobil berhenti di depan café, aku mulai terpikir dengan kalimat terakhir yang diucapkan Hugo. Kalau demi istri yang hamil tua, harusnya suami mau dong nurutin permintaannya. Toh permintaannya juga bukan permintaan yang sulit.
Kaki menginjakkan kaki ke lantai café. Pintu yang terbuka bersamaan dengan bel berbunyi nyaring. Di siang hari yang panas itu, pelanggan bisa terbilang cukup ramai di mana hampir sembilan puluh persen kursi terpakai dan area parkir pun dipenuhi kendaraan.
“Selamat datang, Bu.” Salah seorang pegawai menyambutku.
“Gimana? Yang katanya semalam ada acara ulang tahun, lancar?”
“Alhamdulillah tidak ada masalah, Bu. Uangnya juga sudah dibayar lunas di depan.”
“Alhamdulillah. Silakan lanjut kerjanya.”
__ADS_1
“Oh, itu Bu. Ada yang menunggu anda sedari tadi.”
“Siapa?”
“Namanya …, Henri. Duduk di meja 34.” Aku spontan melihat ke arah meja yang disebutkan.
“Okay, makasih, ya. Kamu bisa lanjutkan kerja kamu.”
Apa lagi sekarang?
Aku mendatangi meja nomor 34. Tempat di mana hanya ada seorang pria duduk di sana mengenakan stelan serba hitam dan wajahnya yang selalu tersenyum penuh kepalsuan. Melihatku berjalan mendekat, serentak ia berdiri dan kembali menunjukkan senyum palsunya sekali lagi.
“Selamat siang Nyonya Al-Faruq. Saya tahu anda akan datang kemari, karena itu saya menunggu di sini.”
“Ada apa lagi?” tanyaku mengambil duduk.
“Singkat saja. Saya akan memberitahukan semua informasi tentang Karinda kepada suami anda, Tuan Al-Faruq. Tapi saya tidak akan memberitahukan informasi itu, dengan satu kondisi.”
“Tidak perlu. Katakan saja semuanya, itu justru mempermudah saya untuk mengungkap kebenaran. Saya muak dengan cara anda memeras saya.” Aku berdiri dari tempat dudukku.
“Oh ya. Satu lagi. Jika ada waktu, saya ingin bertemu dengan kakak kandung anda. Rian, kan, namanya.”
Beberapa jam sebelumnya ….
“Setelah saya selidiki bersama dengan tim, benar bahwa Nyonya Karinda pernah melahirkan. Saya datang ke rumah sakit tempat beliau melahirkan dan ternyata anak itu masih hidup hingga sekarang. Itu adalah, maaf, anak dari seorang pria bernama Rian. Setelah saya selidiki, Rian ini tak lain adalah kakak kandung Henri, pria yang memeras anda itu. Secara biologis, Henri adalah paman, karena itu, ia mengasuhnya hingga kini. Kemungkinan, uang yang ia dapatkan dari anda, kurang lebih adalah untuk memenuhi kebutuhan anak itu.”
Aku melempar pandangan pada layar laptop di hadapanku. “Kalau dihitung lagi, harusnya anak itu berusia delapan atau sembilan tahun sekarang? Tapi kamu bilang Karinda tidak pernah menemuinya setelah ia melahirkan?”
“Benar. Tapi bukan berarti keluarga Nyonya Karinda tidak tahu. Pak Rahman, pamannya pernah menolak untuk mengasuh Arsya, (nama anak itu) karena alasan finansial. Informasi tentang Rian yang berhasil saya dapat, ia sering berpindah-pindah alamat. Tapi keberadaan Arsya sendiri sudah terkonfirmasi. Tim kami berhasil mendapatkan foto anak itu.” Hugo menyerahkan beberapa lembar kertas.
Astaghfirullah. Bagaimana lagi aku bisa menolak informasi di depan mataku ini. Wajahnya mirip sekali dengan Karinda.
“Ada informasi lain lagi?” tanyaku dengan suara sembab menahan air menitik dari kepolak mata.
“Setelah melahirkan, Nyonya Karinda melakukan mengangkatan rahim di rumah sakit xxx. Tujuannya …, maaf, Nyonya Karinda tidak ingin memiliki anak lagi. Dan beberapa waktu setelahnya, beliau mengalami gangguan kejiwaan, namun Rian ini sepertinya bertanggung jawab dan beberapa kali membawa Nyonya Karinda berobat. Lalu, beberapa waktu kemudian, Nyonya Karinda kembali bertemu dengan Pak Adrian dan berjanji untuk berhenti melakukannya.”
"Selama ini, Nyonya Karinda membayar orang untuk menghindari pertemuan dengan Henri, dan semua yang berhubungan dengan masa lalunya, termasuk suami dan anaknya."
“Ada lagi?”
“Nyonya Karinda diam-diam melakukan pekerjaan 'itu' selama beliau di kampus. Dan salah satunya adalah dengan, maaf, Garrin Wijaya.”
Flashback mode off…
Aku pergi keluar dari café setelah merasa tak ada lagi yang perlu kubicarakan dengan pria bernama Henri itu. Masalah ini sangat rumit. Aku sendiri harus mengulangnya berkali-kali untuk memahami semuanya. Situasi yang dihadapi Karinda saat ini, posisiku dan Mas Adrian, lalu Garrin. Semuanya saling berkaitan dan membuat keadaan makin rumit untuk dipahami.
“Hanna!” Pria itu memangilku dengan suara keras yang menutup getaran ketakutan.
__ADS_1
“Sepertinya anda sudah tahu banyak informasi tentang saya dan kakak saya. Saya ingin membenarkan, kakak saya dan Karinda sudah menikah, dan sebenarnya belum bercerai. Maaf. Saya akan mengembalikan semua uang anda, dan memberitahu suami anda baik-baik.”
Aku berbalik menatapnya lurus. Melihat ekspresinya yang tampak jujur, takut, dan penuh sesa, napas ini tak bisa kukendalikan. Tubuhku lemas seketika, dan terjatuh tepat sebelum masuk ke dalam mobil. Kedua mataku gelap melihat ke sekeliling, dan semua menghilang dari pandangan.