Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Tinggi dan Rendah, Naik dan Turun


__ADS_3

Pukul tujuh pagi, aku pulang dari rumah sakit bersama Sonya. Tugas penjagaan Adrian kuserahkan kepada Erwin, sementara aku pergi ke kantor. Syukur, saat aku pergi pagi ini Adrian sudah jauh membaik. Ia sudah bisa berbicara walau pelan dan singkat. Ya, kami memang belum sempat banyak mengobrol walau semalam aku tidur di sana untuk menjaganya.


Ketika mobil yang dibawa Sonya mengurangi kecepatannya, kulihat di depan, Garrin bersana Jo dan anak mereka tengah berdiri di dekat pagar rumah. Aku pun meminta Sonya menghentikan mobilnya, lantas turun menghampiri mereka.


"Oh hai, selamat pagi tetangga," sapaku pada Garrin dan Johana bersama putra pertama mereka itu.


"Selamat pagi juga tetangga."


"Ada apa berdiri di depan rumah orang pagi-pagi begini? Ayo masuk!" tawarku yang baru saja turun dari mobil.


"Nggak usah ..., kami baru saja jalan-jalan dan dengar kabar Adrian sudah dipindahkan dari ruang ICU. Karena itu, kami ingin datang mengunjunginya kalau boleh."


"Oh ..., iya alhamdulillah. Semalam juga Adrian sudah mulai berbicara walau masih pelan. Kalau kalian mau datang, boleh saja, aku juga baru dari sana."


"Jadi nggak apa nih, kalau kita jenguk Adrian?"


"Iya ..., boleh aja kok. Tapi untuk sekarang, aku sendiri baru mau berangkat kerja, jadi ..., yah, di sana kalian bisa ketemu sama Pak Erwin."


"Oh gitu. Nanti ajalah kalau gitu, ya? Sekalian sama Hanna ke sananya."


"Nanti pulang dari kantor jam berapa Hann?"


"Pulang lebih awal sih. Palingan abis ashar aku langsung ke rumah sakit."


...----------------...


Selama beberapa hari ini, aku mulai terbiasa dengan rumah sakit. Sudah menjadi rutinitasku untuk mengunjungi bangunan serba putih itu setelah selesai dengan urusan kantor. Semua normal berjalan seperti biasa sampai hari itu tiba.


Aku sempat beberapa saat terkejut ketika melihat ruang VVIP-A1 kosong tanpa penghuni. Di sepanjang lorong pun tidak ada satu orang pun yang melintas. Aku pun pergi ke resepsionis untuk menanyakan ke mana perginya pasien kamar VVIP A1.


"Pasien atas nama Tuan Adrian sudah dipindahkan ke bangsal baru pukul sembilan pagi tadi."


"Dipindahkan? Ke mana?"


"Maaf, anda ..."


"Saya Hanna Aleesa. Istrinya."


"Emm maaf? Apakah ada dua Hanna Aleesa?"


"Saya tidak mengerti apa maksud anda, saya adalah Hanna Aleesa. Cepat katakan di mana kamar suami saya."


"Suami anda dipindahkan ke president suite di gedung C. Anda bisa menggunakan lift di sebelah kiri, dan berjalan lurus ke arah gedung C. Biarkan kami mengantar-"


"Tidak perlu. Saya hanya harus berjalan ke lorong di lantai empat dan sampai ke gedung C, kan? Selanjutnya saya bisa bertanya dengan petugas lain di sana."


"Iya."


"Terimakasih."


Kutinggalkan resepsionis dengan perasaan kesal yang tersisa. Apa coba maksudnya menanyakan ada dua Hanna Aleesa? Pertanyaan ambigu macam apa itu.


Sembari mengomel dalam hati, langkahku makin dekat dengan bangsal tingkat tertinggi itu. Tak sulit menemukan nama Al-Faruq di samping pintu kamar eksklusif yang memiliki view bagus di ketinggian ini.


"Assalamualaikum," ucapku lirih, membuka pintu itu.


"Iya, kan? Aku juga mikir begitu. Dulu aja kenapa kita nggak ke sana sama-sama. Sekarang tahu-tahu udah kepala tiga." Suara Rere tertawa lepas.


"Ingat terakhir kali kita duduk di taman belakang rumahku. Aku masih ingat jelas kata-katamu yang cheesy itu." Adrian terdengar ringan membalas ujaran Rere. Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba tercipta suasana hening. Membuatku ragu untuk masuk.


"Malam itu ..., mungkin kata-kataku terdengar cheesy. But I'm serious. My family can't do anything to contain my ego."


^^^~Tapi akus serius. Keluargaku nggak bisa melakukan apapun untuk mengekang egoku^^^


"Wait, what are we talking about?"


^^^~Tunggu, kita ngobrolin soal apa sih ini?^^^


"Actually I came back to tell you that again. Whatever my position in your heart, I can be Hanna, better than Hanna."


^^^~Sebenarnya aku balik ke sini untuk mengatakan hal itu lagi. Apapun posisiku di hatimu, aku bisa jadi Hanna, lebih baik dari Hanna.^^^


"Sorry I don't get it." Adrian tertawa dengan tekanan dan suara yang tak nyaman.

__ADS_1


^^^~Maaf aku nggak ngerti.^^^


"Look, I haven't changed. Never will."


^^^~Dengar, aku belum berubah. Nggak akan pernah."^^^


Sunyi. Tidak ada yang bersuara lagi, dan tidak ada yang tahu juga sedang apa mereka di dalam sana. Aku masih berdiri di dekat pintu sembari mengatur napas dan mengusap perutku. Huuuft ..., sabar, ya, Nak. Mama memang selalu diuji amarahnya kalau sedang mengandung. Dulu aja waktu mengandung Kak Asyqar, Mama juga diuji kesabarannya lebih dari ini.


"Assalamualaikum."


Ketika kuucap salam dengan suara lebih lantang sembari berjalan masuk, Adrian serentak melihat ke arahku. Wanita itu masih menyeka air dari pelupuk matanya, baru melihatku.


Kuletakkan tasku ke atas meja sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. "Waktu itu aku sudah bilang ke Pak Lucas kalau aku menolak tawaran pemindahan kamu president suite. Jadi ... apa semua ini?"


"Hanna? Emm, mau bicara di luar dulu?" Wanita itu memegang lengan tanganku dengan tatapan tak nyaman.


Karena tak mungkin kutolak ajakannya itu, kami berdua berjalan ke luar. Ia duduk di kursi tunggu, sedangkan aku berdiri melihat ke pemandangan lapangan golf di sebelah kanan.


"Harusnya kamu tahu, memilihkan fasilitas terbaik untuk Adrian adalah hal terpenting saat ini. Supaya dia bisa cepat sembuh."


"Tapi sampai di situ bukan hak kamu untuk menentukan di mana Adrian akan mendapat perawatan. Aku istrinya."


"Aku lakukan ini sebagai bukti aku menyayangi Adrian. Apa yang udah kamu lakukan untuknya selain menjadi beban?"


"Keputusanku untuk tidak menempatkan Adrian di bangsal ini, karena aku tahu betul fasilitas di sini hanya dilebih-lebihkan demi kemewahan. Dan agama kami tidak mengajarkan itu. Bukan tentang sayang atau tidaknya aku dengan Adrian, tapi kupikir berapa banyak orang yang bisa kubantu dengan uang sewa kamar ini dalam satu malam? Dan berapa malam lagi Adrian akan tinggal di sini? Berapa banyak uang yang kami hamburkan untuk kemewahan?"


"Saya tahu anda menyayangi Adrian. Banyak orang menginginkan Adrian segera pulih. Saya juga mengharapkan hal yang sama. Tapi kumohon sadarlah dengan posisimu. Aku tidak tahu seperti apa  hubungan kalian di masa lalu, tapi sekarang semuanya sudah berbeda dari dulu. Dan jangan memakai identitasku untuk membuat keputusan tentang Adrian."


"Aku benci wanita sepertimu." Rere berlalu pergi begitu saja.


Aneh. Aku yang tak menjawab ucapan terakhirnya itu justru menitikkan air mata. Rasanya sakit, menyesakkan.


"Apa yang kalian bicarakan?" Adrian menanyaiku ketika aku kembali ke dalam ruangan bak hotel bintang lima itu.


"Tidak ada. Aku tidak ingin memarahimu saat ini. Jadi diam saja."


Adrian menghela napas panjang. "Sepertinya kamu banyak berbincang dengan Lucas semalam."


"Nggak juga. Beliau yang lebih banyak bercerita. Aku hanya mendengar." Aku duduk di kursi sebelah kiri ranjang seraya melepas niqab yang kukenakan.


"Maaf untuk apa?" Aku mengernyitkan dahi.


"Maaf karena meninggalkanmu dan Asyqar selama dua minggu. Sejak semalam aku memikirkannya, betapa aku sangat bersalah terhadap kalian berdua, dan sesegera mungkin aku ingin meminta maaf."


"Tidak ada yang salah. Kamu juga sampai jadi seperti ini demi menjaga keluarga kecil kita."


"Maaf. Aku ... masih bingung harus bicara apa denganmu."


Aku berdiri dari kursiku. "Nggak perlu bicara lagi. Istirahat saja. Aku juga akan mengerjakan pekerjaanku." Kutinggalkan kecupan di keningnya.


"Hey!" panggil lirih Adrian.


"Apa?"


"Boleh aku minta sekali lagi?"


Aku menghampirinya, mengecup sekali lagi.


*Cup**!*


"Sekali lagi?"


Aku harus bersyukur lagi-lagi karena Adrian tidak berubah semudah yang kubayangkan. Aku merasa beruntung karena ia masih lebih percaya padaku daripada Rere atau Aria yang sudah mengenalnya lebih lama. Tak ingin berlarut dengan ketakutanku sendiri, memang lebih baik bagiku untuk sedikit lebih percaya diri.


Baru membuka MacBook di atas meja, aku teringat sesuatu. "Kamu lebih nyaman di sini atau di ruangan sebelumnya?"


"Emm, mungkin di sini. Karena lebih banyak pengunjung yang boleh datang, tempatnya lebih luas, jauh dari bangsal lain."


"Oh..."


"Dan yang terpenting..."


"Huh?"

__ADS_1


"Yang terpenting kamu nyaman menemaniku di sini. Bukannya double bed di sini kelihatan lebih luas dan nyaman dari ruangan sebelumnya? Terasa seperti hotel. Tidak ada bau obat-obatan sama sekali."


*****


Waktu demi waktu keadaan Adrian kian membaik. Setelah dilakukan beberapa kali fisioterapi, dokter pun mengatakan bahwa fisik Adrian yang baik sejak awal, membantunya mempercepat pemulihan. Bahkan dibeberapa kasus yang sering terjadi, pasien pasca koma seringkali mengalami komplikasi dan kelumpuhan/cacat di bagian tertentu.


Sehari sebelum akhirnya kami memutuskan untuk membawa Adrian pulang, dokter sekaligus melepas cast di tangan kanannya. Hari terakhir di bangsal ekslusif itu semakin membuatnya tak sabar segera pulang. Ada Asyqar yang sangat ia rindukan, ada banyak pekerjaan yang sempat ia tinggalkan. Semua menunggu kepulangan Adrian.


"Besok jam sembilan, kan?" tanyanya berbaring menyamping menghadapku.


"Iya, jam sembilan pagi kalau dokternya udah ke sini."


"Ah. Jadi nggak sabar pengen gendong Asyqar. Dia udah bisa ngapain aja ya?"


"Asyqar udah bisa berdiri. Terus melangkah sambil pegangan benda-benda sekitar. Matanya juga makin mirip sama kamu." jelasku menatapnya.


"Tapi mungkin Asyqar akan kaget kalau ketemu kamu. Kaya... Who's this bearded man?"


^^^~Siapa pria berjenggot ini?^^^


Adrian tertawa sedang tangannya memegangi dagunya. "Aku justru nggak sabar mau kasih lihat jenggotku ke Asyqar."


"Ahm! Aku juga ngga sabar mau kasih lihat ini ke kamu," ujarku memberikan kotak kecil berwarna biru pada Adrian.


Ia membukanya, sesaat kemudian ekspresinya berubah. "Kamu hamil?!"


Aku mengangguk sungguh-sungguh. "Usianya satu bulan tiga minggu."


"Kok bisa?" tanyanya masih membulatkan mata menatapku. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang sambil mengamati foto USG yang belum terlihat jelas.


"Ya bisalah. Kan kamu sendiri pelakunya. Lupa?"


"Hah. Alhamdulillaahirabbil'aalamiin. Aku- aku bingung harus ngomong apa. Ini seriusan kan? Nggak becanda?"


"Seriusan lah. Masa sih aku bohong."


"Jadi ..., sebentar lagi anak kita ada dua?"


"Iya."


"Sebentar lagi Asyqar punya adik?"


"Iyaa." Adrian lantas memelukku dalam posisi itu. Erat, sukar dilepaskan.


*Tok! Tok! Tok**!*


Kami segera melepas pelukan juga setengah menahan rasa keterkejutan. Aku meminta Adrian kembali ke ranjang pasien, dan membenahi double bed yang hampir acak-acakan. Segera kuambil ponselku dan duduk dengan menunduk melihat layarnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Oh, Kak Zahra? Eh? Kak Danar juga?" Aku menyambut rombongan itu menyilakanya masuk.


"Hann? Apa kabar?" Kak Danar menanyaiku daripada Adrian yang duduk di ranjang pasien.


"B- baik Kak."


"Maaf, ya. Adikku emang suka bikin repot."


"Dih, apaan sih, Kak. Baru datang ngajak ribut aja," seru Adrian.


Kak Danar kemudian mendekat ke arah ranjang Adrian. "Ini bocah yang katanya koma, sekarang udah bisa teriak-teriak lagi?"


Seisi ruangan pun tertawa. Tapi tidak dengan Kak Zahra. Ia memaksakan senyumnya, tapi aku tahu dari pandangan matanya, pikirannya tidak sedang berada di tempat ini.


"Kak?" Aku sengaja menyenggol lengan Kak Zahra.


"Alhamdulillah, ya, Adrian udah pulang besok."


"Iya, alhamdulillah. Kak Zahra kenapa sih?" Sekali lagi aku mencoba menanyainya.


Beberapa saat perhatian seisi ruangan tertuju padaku dan Kak Zahra. Situasi tiba-tiba mendadak hening, sampai Kak Zahra menitikkan air matanya, memelukku dan terisak.


"Ada apa, Kak?"

__ADS_1


Tolong jangan diam saja. Aku tidak mengerti. Ada apa ini?


__ADS_2