Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Kertas Bercerita


__ADS_3

Ada seorang perempuan lugu yang mengemis untuk diberikan pekerjaan demi uang dan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Di sisi lain, ada seorang perempuan modis yang hidup nyaman dan merasa lebih dari cukup dengan apa yang ia miliki saat itu. Jujur saja aku lebih tertarik dengan perempuan kedua, tapi aku tak bisa mengabaikan seseorang yang meminta tolong.


Aku pun menawarkan keduanya dua pekerjaan berbeda. Si perempuan satu menerima tawaran yang kuberikan dengan berat hati, sementara si perempuan kedua menolak mentah-metah tawaran menjanjikan itu. Seiring berjalannya waktu, baru kuketahui ternyata kedua perempuan itu saling kenal satu sama lain. Tapi dari mata seorang pria, jujur aku lebih tertarik kepada perempuan kedua.


Berkali-kali kucoba memanfaatkan kedekatan mereka berdua untuk tujuanku sendiri, tapi perempuan kedua itu memang menarik. Semakin menarik karena sekeras apapun aku mengejarnya, ia hanya akan menolakku dan terus menolakku. Berbeda dengan perempuan pertama, ia rela bekerja apapun demi mendapatkan uang. Aku tak menyebutnya murahan, hanya saja dia sedikit obsesif terhadap uang.


Setelah setahun bekerja denganku, perempuan pertama itu akhirnya memutuskan kontrak. Penyebab utamanya adalah sebuah pertemuan memalukan antara dirinya dengan pria yang disebut sebagai sahabat. Di saat bersamaan, aku menyadari bahwa perempuan kedua yang sudah kutandai itu semakin jauh dari jangkauanku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menyerah karena lelah terus berusaha menangkap incaran yang terlalu lincah.


Aku tak berniat mengungkit masa lalu antara kita. Tapi aku penasaran bagaimana kalian, persahabatan antara dua wanita dan satu pria yang berjalan bertahun-tahun lamanya tapi tidak pernah jujur satu sama lain. Bukankah kebohongan yang bertumpuk itu akan menghantarkan kalian pada kehancuran? Kudengar perempuan pertama yang pernah bekerja denganku itu sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.


Semoga kalian bisa menyelamatkan satu dan yang lainnya. Atau mungkin justru terpecah ketiga-tiganya.


*****


Tok! Tok! Tok!


Aku melipat kembali kertas itu, lantas menyelipkannya di tempat teraman sebelum Adrian masuk ke kamar mandi. Aku ingin memberitahunya tentang ini, tapi aku harus tahu dulu apa maksud dari cerita Pak Rama dalam kertas itu. Ini sudah kedua kalinya aku membaca tulisan itu, tapi rasanya aku belum menemukan petunjuk apapun selain keadaan Khadija saat ini.


“Sayang..., masih lama?” Suara Adrian menungguku di depan pintu.


“Nggak kok, ini udah selesai.” Kataku menekan tombol flush.


“Nggak apa-apa, kalau masih lama aku bisa pakai kamar mandi luar.”


Aku membuka pintu dan melangkah keluar. “Dibilangin udah selesai kok nggak percayaan amat sih.” Adrian terkekeh melihatku.


“Kamu belum mau tidur, kan? Aku mau bicarain soal liburan buat Erwin sama Agatha."


"Okay, jangan lama-lama di kamar mandinya," sambutku.


"Enggak, bentar doang kok."


Bersamaan dengan Adrian yang masuk ke kamar mandi, senyumku turun. Aku memegangi kepala, berjalan ke tempat tidur. Hari ini sangat panjang dan melelahkan, tempat tidur memiliki magnet yang menarik kuat tubuhku. Setelah pulang dari rumah Ummi sore tadi, perkataan Khadija membuatku berpikir.


"Hanna memang orang yang selalu peduli. Dia juga sangat ramah dan ceria. Tapi ketika dia berubah menjadi Hanna yang ceria, dia akan lupa dengan kepedulian kepada sahabatnya. Itu bukan salahnya, tapi aku jadi tidak bisa jujur dengannya." Khadija tersenyum pada Mba Puput ketika mengucapkan kalimat itu.


Apa benar aku seenggak peduli itu sampai Khadija nggak bisa terbuka denganku?


"Kamu kenapa bengong gitu? Ada yang kamu pikirin lagi?" Adrian naik ke tempat tidur, duduk bersandar di sebelah kananku.


"Nggak ada kok. Jadi gimana soal liburan buat Pak Erwin sama Agatha?"


"Jadi gini, aku kemarin sempat lihat-lihat tempat liburan sama Erwin. Aku bilangnya untuk kita honeymoon sih, terus dia juga bilang ke aku tentang selera liburan Agatha. Jadi, aku putusin ke Maldives. Gimana?"


"Nggak buruk juga. Kapan berangkat?"


"Besok malam."


"Bisa secepat itu?"


"Iya, Semuanya udah diurus sama Erwin. Erwin emang selalu bisa diandalkan. Mungkin sampai sekarang pun dia masih ngira kalau liburan itu untuk kita."


"Terus kapan kamu mau kasih tahu ke mereka?"


"Besok pagi. Aku udah bilang ke Erwin dan Agatha untuk datang waktu sarapan."


Aku memperbaiki selimut yang menutupi tubuh bawahku. "Bagus deh."


"Kok kamu kayak nggak senang gitu sih. Bukannya di awal kamu yang paling semangat untuk ini?"


"Aku senang kok. Cuma hari ini aku agak cape. Bisa kita istirahat sekarang, kan?"


Adrian menarikkan selimut untukku, lalu mengusap keningku. “Astaghfirullah. Badan kamu panas.”


“Masa sih?” Aku mengucek mata yang terasa pedas untuk harus terbuka lebih lama lagi.


“Kamu beneran nggak apa-apa? Nggak ngerasa apa-apa?”


“Aku baik-baik aja kok, cuma aak pusing tadi, sebentar. Sekarang udah nggak apa-apa.”


Mendengarku mengatakannya, Adrian segera beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan keluar meninggalkanku dengan cemas dan tergesa. Tak sampai lima menit sejak ia keluar kamar, Pria itu kembali lagi membawa serta Mba Puput.

__ADS_1


Jauh dari tempatku berbaring, Adrian berbicara dengan seseorang melalui ponsel. “Iya, bisa ke sini? Nggak mual, dia demam, pusing. Apa? Kalau gitu bisa resepkan obat? Untuk sementara aja, aku nggak mungkin biarin istriku demam semalaman.”


“Kalau gitu bicara sama asistenku, dia punya pengalaman jadi perawat di rumah sakit. Ya.” Adrian meyodorkan ponselnya kepada Mba Puput, kemudian memegang tanganku yang panas tak nyaman.


Beep! Beep!  Adrian melihat angka yang tertera di thermometer setelah menariknya. Ia mengembuskan napasnya besar, menatapku tajam dengan tatapan mengintimidasi karena kepura-puraanku seolah baik-baik saja sejak tadi.


“Tiga puluh delapan koma sembilan. Dan kamu bilang baik-baik aja,” tunjuknya lantas menggelengkan kepala.


“Saya sudah catat resep yang diberikan Dokter Rani, Tuan.” Mba Puput menyerahkan kembali ponsel itu.


“Kalau gitu segera beli, bilang ke security di depan dan minta Hugo yang antar kamu ke apotek.”


“Baik, Tuan. Saya juga akan memanggil Mba Rina untuk mengompres Nyonya. Saya permisi.”


Mba Puput pergi keluar dari kamar kami setelah itu. Tersisa aku yang mencoba keras untuk bertahan di posisi itu, dan Adrian yang tak berhenti menggenggam tanganku. Pria itu khawatir sampai tak mampu memarahiku, atau sedikit saja memprotes keadaan yang saat ini kualami.


Kurasakan napasku yang besar-besar ini mengembuskan udara panas. Di satu sisi tubuhku merasa dingin, dan di sisi lainnya terasa panas yang tak nyaman. Sementara, Adrian duduk di tepi sambil menggenggam tanganku dan sesekali terasa bibirnya menyentuh keningku.


“Malam ini kamu tidur di ranjang tambahan aja, ya. Jangan sampai demamku nular,” lirih kalimatku terucap dengan mata tertutup.


“Sssh…, Udah, kamu nggak usah mikirin aku dulu, yang penting kamu nyamanin diri kamu aja. Lagian aku nggak akan ketularan demam semudah itu.”


Aku tersenyum mendengar pembelaannya. “Bukan Adrian Al-Faruq kalau nggak mendebat sama istrinya.”


Cup! “Iya, iya…, apa pun itu asal Aleesa cepat sembuh.”


Kurasakan tangannya merapihkan rambutku yang bebas terurai berantakan. Ia masih juga tak berpindah dari tempatnya meski kudengar suara Mba Rina masuk ke kamar kami. Saat membuka mata hanya menambah rasa tak nyamanku, aku hanya bisa terima dengan memejamkan mata untuk mencari posisi ternyaman tubuh ini.


Setelah Mba Rina keluar dari kamar seusai kompres hangat itu menempel di keningku, rasa kantuk datang dan menyapa semakin tajam. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya kecuali sesekali keningku merasakan sentuhan hangat dan dingin. Di luar itu, ingatanku hanya terbawa ke alam mimpi.


*****


“Udah subuh, bangun, yuk!” suara bisikan Adrian terdengar akrab di dekat telingaku.


Tubuhku yang merespon segera bangkit dari posisi berbaring ke posisi duduk. Meski tak segera membuka mata, tapi aku ingat semalam aku tak terbangun sama sekali setelah meminum obat yang dibelikan Mba Puput. Meski demamku sudah turun, dan tubuhku jauh lebih baik dari kemarin, tapi rasa pusing itu masih tersisa di kepalaku ketika berjalan ke kamar mandi.


Alhasil, Adrian sampai harus repot-repot membantuku berjalan ke kamar mandi, mengambil air wudhu, sampai ke atas sejadah. Yang biasanya Adrian membaca surat-surat panjang, subuh itu ia mempersingkat surat yang dibaca. Padahal jujur saja aku bisa berdiri dalam waktu yang lama melihat keadaanku kini sudah jauh lebih baik.


"Nyonya, anda tidak apa-apa? Saya dengar kemarin ada yang menyentuh pipi kiri anda," bisik Agata mendekat.


"Bukan apa-apa kok."


"Kalian berdua, bisa ikut kita ke ruang pertemuan sebentar." Adrian meminta Pak Erwin dan Agatha mengikuti kami ke ruang pertemuan belakang.


"Udah bawa yang kuminta, kan?" tanya Adrian melihat pada Pak Erwin.


"Sudah, Pak."


"Langsung saja, singkatnya aku dan Aleesa, kami berdua sudah sepakat untuk memberangkatkan kalian ke Maldives. Jadi tolong kalian siapkan empat staf keamanan dan dua asisten terbaik untuk menjaga kalian selama satu minggu di sana."


"Baik, Pa-  Eh! Apa? Maaf, tadi..., maksudnya?"


"Kita berdua sepakat memberikan kalian liburan satu minggu atas kerja keras kalian selama ini. Dengan kata lain, ini adalah liburan untuk kalian. Jadi, manfaatkan sebaik mungkin," pungkasku teriring senyum.


"Maaf, Tuan, Nyonya, bisa anda jelaskan supaya kami tidak salah paham?" Pak Erwin dengan raut terkejutnya menatapku dan Adrian bergantian.


"Nggak usah terlalu formal. Kalian berdua udah bekerja keras selama ini untuk kami. Terlebih untukku. Jadi, kalian pantas mendapatkan imbalan atas pekerjaan kalian. SIlakan nikmati bulan madu satu minggu di Maldives. Setelah kembali, aku ingin performa kerja kalian bisa lebih baik lagi dari sebelumnya."


Akhirnya, berkali-kali kami meyakinkan mereka sampai dua orang itu percaya dengan apa yang kami berikan. Tentunya senyum dan ekspresi senang mereka sudah bisa membuatku merasakan senang yang sama.


"Kalian akan berangkat pukul sebelas malam, jadi mulai sekarang adalah hari libur kalian." Adrian melemparkan salah satu kunci mobil dua pintunya kepada Pak Erwin dan tersenyum.


"Adrian yang dulu udah dewasa sekarang." Pak Erwin menyingkirkan formalitasnya dan memeluk anak laki-laki yang telah diasuhnya sejak masa-masa muda.


Tak mau kalah dengan suaminya, Agatha memelukku. "Makasih, Aleesa. Bukan hanya rumah ini, tapi berkat kamu juga Adrian bisa berubah menjadi seperti sekarang." Ia masih berbisik ketika mengucapkannya.


"Berhubung ini adalah waktu spesial untuk kalian berdua, silakan nikmati tanpa interupsi, jadi semua perangkat bisa kalian titipkan ke staf yang ikut dengan kalian. Kami tidak akan mengganggu."


"Saya akan menantikan untuk bekerja lagi bersama anda."


"Pasti."

__ADS_1


Pertemuan empat orang itu pun usai tanpa penutup. Aku dan Adrian baru akan beranjak keluar dari ruang pertemuan sementara Erwin dan Agatha mulai mempersiapkan keberangkatannya malam nanti


"Oh iya, hari ini kamu istirahat di rumah aja, ya. Biar aku yang pergi ke kantor." bisik Adrian merengkuh bahuku.


"Padahal aku kepingin kerja."


Adrian mencubit gemas hidungku yang minimalis. "Bumil jangan ngeyel deh."


"Hanna mau pergi ke mana?"


Kami berempat spontan melihat ke arah pintu masuk ruang pertemuan itu. Berdiri di sana Khadija dengan raut bingungnya. Pintu itu sebelumnya sudah dikunci dari dalam. Kehadiran Khadija berdiri di sana membuat kami terkejut dan segera Adrian menarikku ke belakang. Khadija memasang muka bingung, mendekat selangkah demi selangkah ke arah kami hingga jarak antara kami hanya tiga meter.


"Ke mana?" Suara pelan itu keluar dari mulutnya, sementara sepasang matanya menatap langsung kepadaku.


"Nona Khadija, sepertinya sudah waktunya anda pergi beristirahat." Pak Erwin mendekat pelan dengan suara lembut.


"Mba Khadija! Mba Khadija!" Puput datang dari luar, melihat Khadija, kemudian segera menarik tangan Khadija, merayunya pergi dari ruangan itu.


"Maaf, saya yang salah karena membiarkan Mba Khadija berjalan-jalan di luar pengawasan. Oh ya, obat untuk Nyonya sudah saya siapkan di atas meja makan. Saya permisi."


Situasi macam apa ini?


*****


Entah kapan aku mulai merasakan rasa tak nyaman. Mulai dari punggungku terasa sakit, lalu pusing yang tiba-tiba muncul. Otakku terus berpikir positif bahwa semua ini adalah gejala yang biasa dialami dalam masa awal-awal kehamilan. Tapi tetap saja aku tak bisa bertahan dengan pikiran positifku. Rasanya ada yang mengganjal, sampai malam tiba.


[Voice Call]


Adrian : Assalamualaikum


Hanna : Wa'alaikumsalam, udah hampir jam sepuluh malam, kok belum pulang?


Adrian : Iya nih, aku mampir ketemu teman sebentar. Kamu baik-baik aja, kan?


Hanna : Baik-baik aja. Tapi kamu cepetan pulang dong. Sebentar lagi, kan kita mau antar Pak Erwin sama Agatha ke Bandara.


Adrian : Hey, hey, yang antar aku, bukan kita.


Hanna : Okay-okay, yang penting kamu pulang dulu deh. Aku kangen banget.


Adrian : Bumil pinginnya nempel terus yah?


Hanna : Ih, kamu ngomong gitu lagi, kan? Emangnya salah kalau kangen sama suami sendiri?


Adrian : Iya, ini aku udah di jalan. Bentar lagi sampai rumah. Enam menit lagi


Hanna : Aku tunggu di depan, ya, Assalamualaikum.


Adrian : Wa'alaikumsalam warahmatullah.


[End Call]


Aku berlari kecil ke lobby utama untuk jadi yang pertama menyambut kedatangan Adrian. Mungkin ini hormon ibu hamil, aku benar-benar hampir tak bisa jauh dari Adrian barang sebentar saja. Saat melewati ruang makan, Mba Puput memanggilku, mengingatkan untuk meminum obat yang ia siapkan.


"Makasih, ya."


"Sudah tugas saya, Nyonya." Ia menunduk hendak berlalu.


"Eh, Mba Rina mana, Mba Put?"


"Mba Rina, kan izin pulang ke rumahnya, Nyonya. Baru sore tadi berangkat."


Aku menepuk keningku sendiri. "Oh iya, lupa. Kalau Khadija?"


"Mba Khadija sepertinya tadi bersih-bersih kamarnya. Sepertinya beliau tidak ingin diganggu, jadi saya tinggalkan sendiri."


Beep! Beep!


"Saya ke depan dulu, ya. Kamu jangan begadang, lekas istirahat biar besok bisa fresh lagi."


"Iya Nyonya, terima kasih."

__ADS_1


Meninggalkan Mba Puput di ruang makan, aku kembali berjalan cepat ke ruang terdepan di rumah ini.


__ADS_2