
Setelah pergi dengan panik untuk mencari keberadaan Khadija yang terlupakan, Adrian tak juga kembali sampai tiba waktu salat ashar. Lagi-lagi perasaan tak enak itu kembali membelenggu dengan sendirinya. Bukan berarti aku tak suka dengan Adrian yang panik untuk mencari Khadija. Tapi rasanya agak menyakitkan juga karena menjadi bukan prioritas.
Selepas salat ashar di musholla rumah, aku kembali ke kamar untuk mengganti pakaian yang sudah seharian kukenakan. Sekaligus aku menutup pintu balkon mengingat hari yang semakin sore. Dan dari sana, tepat sebelum aku menutup pintu yang mengarah ke balkon, samar kulihat Khadija berjalan dari garasi samping. Suara tawanya tipis terdengar meski aku tak tahu alasan tawa itu.
Waktu yang terus berjalan, memaksaku untuk terus bergerak, mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan, dan menyelesaikan apa yang bisa kuselesaikan. Di depan cermin, aku memakai make up tipis dan membenahi hijabku. Lalu berpindah duduk di atas ranjang sembari memasukkan uang ke dalam masing-masing amplop kertas. Bismillah dengan niat sedekah, dan ungkapan syukur atas hadirnya baby, nominal uang ini tidak seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan yang kurasakan.
Click! Pintu terbuka menampakkan Adrian berjalan masuk.
"Assalamualaikum," ucapnya lirih.
"Wa'alaikumsalam."
"Kamu udah mandi?"
"Udah barusan."
"Udah salat ashar?"
"Udah tadi di bawah."
"Oh ...." responnya singkat hendak masuk ke kamar mandi.
"Udah ketemu Khadija?" tanyaku.
Pria itu berbalik badan menatapku. "Udah," balasnya lantas berjalan dan mengambil duduk di pinggir ranjang.
"Udah sampai sepanik itu aku cari-cari. Ternyata Khadija cuma pergi ke kampus untuk persiapan masuk kuliahnya. Itu pun ada Mba Puput juga yang temani. Oh ya, dia juga sempat mampir ke minimarket buat beli bahan makanan. Aku juga ketemunya di minimarket itu sih. Masa katanya, kasir minimarket langganan dia bisa selalu kasih harga diskon khusus sama Khadija." Ceritanya panjang lebar nan antusias.
"Minimarket mana?" tanyaku basa-basi.
"Itu ..., minimarket dekat SPBU. Yang biasa kasirnya suka nawarin beli pulsa. Ternyata Khadija bisa akrab sama kasir minimarket itu, padahal belum lama tinggal di sini. Dan gara-gara harga diskon, Khadija langsung deh tuh, beli bahan-bahan makanan banyak banget. Nggak tahu deh tuh, bisa abis dalam sebulan apa enggak."
"Emang belinya sebanyak itu?"
"Iya! Nggak percaya? Lihat deh ke luar, sampai-sampai tadi kasirnya nawarin jasa antar karena saking banyaknya."
"Terus akhirnya siapa yang bayar?"
"Aku. Abisnya, masa sih, aku biarin Khadija bayar barang belanjaan pakai uangnya sendiri? Hahaha." Adrian tertawa kecil diakhir kalimatnya.
"Oh ..., baguslah." responku seadanya.
Aku melanjutkan lagi aktivitasku mengisi satu per satu amplop kertas itu. "Ini buat acara nanti malam?" tanyanya melihat tumpukan amplop di depanku.
"Iya."
"Kenapa nggak minta Agatha aja yang ngisiin amplopnya?"
"Nggak apa-apa, aku sendiri bisa kok."
"Tapi kalo suruh Agatha, kan, lebih gampang."
"Iya ..., toh aku juga nggak ada kerjaan. Selagi aku bisa kenapa harus bikin repot orang lain?"
"Ya udah, kamu lanjut deh. Aku nggak mau ganggu." Ia beranjak menuju pintu kamar.
"Loh? Mau ke mana? Nggak jadi mandi?" tanyaku melihatnya hendak keluar kamar.
"Aku mandi di luar aja. Khadija juga kayaknya belum salat ashar. Jadi sekalian salat ashar di bawah."
"Oh."
"Iya. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullah."
...----------------...
Malam tiba, dan sekira pukul tujuh malam, rombongan panti asuhan datang membawa sekitar seratus anak asuhnya. Di antara mereka, sebagian besar adalah anak laki-laki yang masih sangat belia. Raut senang ketika mereka turun dari mobil itu membawa kelegaan dalam hati ini. Senang rasanya melihat senyum mereka terkembang dari wajah-wajah polos itu.
“Baiklah, semuanya. Kalian bisa berbaris rapih dan masuk dengan teratur. Tidak ada yang tidak dapat tempat, semuanya pasti dapat tempat duduk masing-masing, ya?” Agatha dan Pak Erwin mulai mengatur formasi anak-anak itu menuju aula rumah yang telah digelar karpet seluruhnya.
Acara malam hari ini rencananya akan dimulai dengan salat isya berjamaah. Dilanjutkan dengan acara makan bersama, lalu disambung dengan doa bersama dan terakhir pemberian santunan. Untuk pemberian santunan sendiri, dari Mas Adrian telah menyiapkan perangkat alat sekolah, alat ibadah, dan peralatan mengaji, serta uang saku yang dikemas dalam satu paket. Sementara aku sendiri menyiapkan uang saku yang akan kutitipkan pada masing-masing pengasuh panti asuhan.
Takutnya, tak semua anak semuda itu bisa menjaga uangnya dengan baik. Maka kuputuskan untuk menitipkan uang itu pada pengasuh mereka, untuk diberikan di saat-saat yang diperlukan. Semoga cara ini adalah keputusan terbaik. Ketika menuruni anak tangga menuju ke aula, aku berhenti sebentar saat mendengar suara dua orang saling berbincang.
“Oh iya, ini anakku, namanya Muhammad. Muhammad …, ayo beri salam.” Suara itu samar terdengar berasal dari lantai bawah.
“Masha Allah, pintar, ya.”
“Qayyim, ayahnya telah berpulang saat ia masih di dalam kandungan. Karena itu ia tak mengenal sosok Ayahnya sedari kecil.”
Rasa penasaran ini mendorongku untuk melihat dengan siapa suara wanita itu berbicara. “Berapa usianya sekarang?”
“Menuju enam tahun. Aku membawanya kembali ke Indonesia karena di tempat kami sangat tidak memungkinkan untuk memenuhi pendidikan Muhammad.”
“Kapan kalian kembali?”
“Saat Muhammad baru genap berusia lima tahun. Rumah dan keluargaku masih mau menerimaku, alhamdulillah.”
“Tapi kenapa harus tinggal di panti asuhan?”
“Usiaku sudah kepala tiga. Aku tidak bisa bepergian jauh hanya dengan Muhammad. Wanita tak bersuami sepertiku, rasanya akan lebih baik jika melanjutkan hidup di Indonesia dan menjadi pengasuh untuk anak-anak lain juga..”
“Jadi, kamu memutuskan menjadi pengelola panti asuhan?”
“Iya. Salah seorang temanku yang memberitahu. Apalagi Muhammad adalah seorang yatim, maka rasa itu tergerak di hati untuk ikut mengasuh dan membesarkan saudara-saudara Muhammad yang lain.”
“Kamu juga nggak banyak berubah, Adrian.”
“Sebenarnya ada banyak hal yang mau kutanyakan tentang kehidupanmu di sana. Tapi sepertinya tidak semuanya bisa kamu ceritakan.”
“Tinggal di sana sama seperti mempertaruhkan hidup. Tekanan mental itu masih ada sampai sekarang. Tapi aku bisa bercerita kapan saja kalau kamu mau mendengarnya.”
“Senang mendengarnya.”
Adrian pergi menuju musholla rumah, diikuti wanita itu bersama dengan anak laki-laki kecil bersamanya. Aku hanya menduga, apakah mungkin wanita itu yang diceritakan Adrian beberapa waktu lalu? Wanita periang dan dermawan yang pada akhirnya memilih untuk menjadi volunteer dan menghindari pernikahan dengan Adrian? Benar kah?
Selepas salat isya, aula rumah kembali ramai oleh riangnya teriakan anak-anak itu. Dengan arahan Agatha, mereka berbaris untuk mengambil makanan yang mereka inginkan satu per satu. Tentunya menu-menu yang berjajar rapi itu adalah hasil kerja keras Mba Rina dan asisten-asistennya.
Di aula rumah itu, semua duduk membentuk lingkaran besar di atas karpet. Tak hanya anak-anak dari panti asuhan, tapi juga sanak saudara yang datang. Semuanya duduk membentuk lingkaran besar yang memenuhi ruang aula. Kemudian acara makan bersama, doa bersama, pemberian santunan, dan semuanya berakhir dengan sangat baik sesuai harapan kami.
...----------------...
“Kami sekeluarga mengucapkan terimakasih banyak kepada para pengasuh panti dan semua pihak yang terlibat langsung di dalamnya. Berkat anda-anda semua, anak-anak bisa merasakan perlindungan dan kasih sayang orang tua. Semoga anda sekalian diberikan kesabaran dalam mengasuh anak-anak sehingga menjadi amal jariyah nantinya.”
“Aamiin. Saya juga mewakili pengasuh panti mengucapkan banyak terimakasih pada Pak Adrian sekeluarga. Inshaa Allah, apa yang Pak Adrian sekeluarga berikan hari ini, akan dilipat gandakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.”
“Aamiin yaa rabbal alamiin.” Aku turut menarik senyum mengaminkan doa wanita kepala empat itu.
“Bu Hanna. Terimakasih banyak untuk malam yang luar biasa ini. Saya belum bisa membuat anak-anak ini tertawa begitu lepas dan tersenyum dengan tulus. Tanpa anda, mereka mungkin tidak bisa merasakan sajian makan malam nikmat seperti hari ini.”
Wanita itu hendak mencium tanganku, namun segera aku menarik tangan dan menunduk. “Kami hanya melakukan sebisa kami. Tentunya anda yang lebih dekat dengan mereka, tanpa anda tidak mungkin mereka bisa sampai di sini.”
“Uang yang anda titipkan pada saya, inshaa Allah akan saya sampaikan dengan sebaik mungkin. Kami sangat-sangat terbantu atas pemberian Bu Hanna. Semoga anda dan kandungan anda bisa sehat dan senantiasa dilindungi oleh Allah.”
“Aamiin. Doa dari anda dan anak-anak adalah satu hal yang tak ternilai dengan materi. Semoga di lain kesempatan saya bisa membagi kebahagiaan yang sama.”
__ADS_1
“Aamiin.”
Satu per satu rombongan anak-anak panti asuhan itu diantar kembali ke panti. Sementara para pengasuh panti asuhan menyusul setelah berpamit dan mengucap terimakasih. Sebetulnya, akulah yang paling berterimakasih atas doa dari anak-anak suci yang inshaa Allah mustajab.
“Semoga sehat-sehat sampai lahiran, ya,” ucap wanita yang tadi kulihat mengobrol dengan Adrian di bawah tangga.
“Aamiin. Terima kasih doanya.”
“Adrian, Ummi, kami pamit pulang. Terimakasih untuk malam ini.”
“Iya. Hati-hati di jalan,” balas Adrian yang berdiri di sebelahku.
Mobil terakhir yang membawa pengasuh panti asuhan keluar dari pekarangan. Maka kami dan keluarga kembali masuk ke dalam rumah. Meski beberapa kerabat sudah ada yang pulang lebih dulu, tapi masih ada Ummi, Ayah, Bunda, Kak Zahra, Kak Ali, Kak Danar dan Kak Erika. Kami kembali berkumpul di ruang keluarga.
Tak langsung ikut duduk bergabung, aku pergi ke belakang untuk memeriksa barangkali masih ada air panas untuk sekedar membuat teh atau kopi sebagai teman ngobrol. Di dapur belakang, tepat berpapasan dengan Mba Rina yang juga membereskan piring-piring bekas pakai.
“Ada apa, Bu? Anda perlu sesuatu?” tanyanya menghampiriku.
“Masih ada air panas? Saya mau bikin teh,” jawabku.
“Mba Mir …, tolong bikinkan teh untuk keluarga Ibu di ruang tamu!” perintahnya pada salah seorang wanita di sana.
“Iya, Mba.”
“Nanti sekalian bawa ke depan, ya.”
“Baik, Mba.”
“Sudah Bu, Ibu sebaiknya kembali ke depan. Kapan lagi anda punya kesempatan untuk bincang dengan sanak keluarga?” tutur Mba Rina.
Agak ragu, namun kemudian aku kembali berjalan ke depan. “Makasih banyak, ya. Atas kerja kerasnya hari ini.”
“Sudah tugas kami, Bu.”
Aku kembali bergabung sesuai tuturan Mba Rina. Setelah mendengar tuturan Mba Rina tadi, aku baru terpikir bahwa kami memang jarang berkumpul selengkap ini. Kecuali ada acara yang memang benar-benar penting.
“Karinda katanya mulai masuk kuliah lagi semester depan, ya?”
“Iya, Ummi, doakan inshaa Allah kalau dokter sudah mengizinkan, semester depan Karinda sudah boleh masuk kuliah lagi.”
“Oh iya, Adrian dapat tawaran ngajar di kampus itu juga, kan?”
“Iya, Kak. Udah kangen kepingin ngajar lagi, jadi kemarin langsung kuterima tawarannya.”
“Wah asyik dong, kalian berdua bisa pulang pergi bareng, nggak ribet.”
“Syukuri ajalah.”
“Terus Hanna gimana soal parenting classnya?”
“Iya. Itu …, rencananya besok baru mau cari tahu yang lokasinya dekat-dekat rumah aja.”
“Kalau aku dulu ikut parenting class, Mas Danar selalu temani tiap sesinya loh. Bahkan dia sampai kosongin jadwal kantornya. Adrian gimana? Rela nggak nih bolos kerja demi bumil?” lanjut Kak Erika.
“Rel–”
“Tapi di website aku lihat ada kok yang parenting class khusus ibu hamilnya aja.”
“Oh ya? Baru tahu nih.”
“Eh, Karinda kapan atuh mampir ke rumah kita?"
"Iya nih, kalau nggak ada acara ke mana-mana, mainlah ke rumah kita. Hugo dan sopir-sopir yang lain tahu rumah kita kok, nggak perlu takut nyasar.”
__ADS_1
Obrolan berlanjut hingga larut. Aku yang tak tahan dengan kantuk, lebih dulu pamit naik ke atas. Ummi dan Kak Erika pun pamit pulang bersama dengan Bunda dan Kak Zahra dengan di antar sopir kami. Mungkin hanya tersisa para kaum adam yang masih terus membincangkan berbagai hal di ruang keluarga itu sampai larut.