Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Mengenalmu


__ADS_3

Tak dapat dipungkiri suara Ibu-Ibu kompleks yang membicarakanku siang tadi masih terngiang dalam kepala. Sudah diputuskan bersama sejak sebulan setelah kepindahan kami ke rumah ini, aku berhenti mengonsumsi pil kontrasepsi. Tapi sampai sekarang, sepertinya belum ada juga tanda-tanda aku hamil.


Anak. Adrian pasti juga menginginkannya segera. Tapi semakin hari, kesibukan masing-masing seolah menjadi penghambat untuk melakukan itu. Pasti karena capai, atau lembur kerja sampai pagi. Waktu untuk kami bisa berduaan semakin sedikit tersisa. Kalau begini, apa iya omongan Ibu-Ibu tadi benar? Adrian belum mau punya anak, karena nggak mau tubuhku berubah.


Apa mungkin seperti itu?


“Assalamu’alaikum …,”


“Wa, wa’alaikumsalam.”


“Lama-lama rumah ini jadi bau kue tiap hari. Kamu udah salat Isya?” Adrian mengambil gelas dari tempatnya, diisi dengan air kemudian duduk menghadapku seraya meminumnya.


“Udah … Pak.”


“Hm?” Ia mengerutkan keningnya, berhenti meneguk air dalam gelas itu.


“Kamu …, barusan ngomong apa?” tanyanya memiringkan kepala.


“Udah. Udah salat maksudnya.”


“Bukan, tadi …, kamu manggil aku apa?”


“Mas … Adrian?”


Adrian sontak berdiri menghampiriku, mengacak rambutku lantas berbisik. “Barusan kamu panggil aku ‘Pak’ loh. Kamu nggak sadar?”


“A, Aku? Barusan? Masa sih?”


“Iya. Mungkin kamu sedang terbawa suasana, atau memikirkan hal-hal lain.” Aku menghela napas mendengar ucapannya.


“Aku naik dulu, ya. Kalau kamu udah selesai, cepetan nyusul. Ada yang mau aku bicarain.”


“Oh, iya. Ini bentar lagi selesai kok.”


Adrian mau bicara apa sampai harus menungguku selesai? Nggak bisa, ya dibicarain di sini aja. Dengan isi kepala yang penuh tanda tanya, tanganku tak berhenti menguleni adonan. Setelah pamit naik ke kamar duluan, Adrian pun tak kembali turun. Membuatku segera menyelesaikan aktivitasku karena otak menimbun semakin banyak rasa penasaran.


Satu setengah jam berlalu, aku baru selesai. Kusiapkan jiwa dan ragaku bila saja pria itu merancang sesuatu yang akan membuatku terkejut. Sesaat setelah kubuka pintu kamar, Adrian yang berbaring di ranjang menoleh ke arahku. Aku pun maju perlahan, meski separuh niatku termakan ragu dan separuh lainnya habis tertutup takut.


“Kenapa kaku gitu? Sini …,” katanya tanpa ekspresi.


Aku duduk di sebelahnya, kemudian Adrian mengambil tas kerja sekaligus benda yang ingin ia tunjukkan padaku. “Aku nggak sengaja lihat buku ini di antara jajaran novel laris dalam sepekan. Karena nama penulisnya cukup menarik, jadi aku beli."

__ADS_1


Adrian menunjuk nama penulis buku itu dengan ekspresi datar dan tatapannya yang mengintimidasi. Ketakutanku sedikit demi sedikit meningkat hingga bertemu di puncak ketakutan, saat Adrian bertanya dingin, "Kenapa diam aja?"


Sesaat aku memejamkan mata seraya mengembuskan napas. "Maaf aku nggak bilang dulu sama kamu, Mas. Aku takut kamu nggak akan kasih izin."


"Aku pasti kasih izin, Aleesa, cuma mungkin emang perlu waktu lebih aja."


"Mas, aku beneran minta maaf. Janji deh, aku nggak akan nerbitin buku lagi tanpa seizin kamu. Itu juga naskah lama yang aku buat dari aku awal-awal kuliah dulu. Maaf, ya ..."


"Kalau aku masih nggak bisa maafin gimana?"


"Aku akan minta penerbitnya untuk tarik buku itu dari pasaran?"


Pria itu tertawa ringan, kembali mengacak rambut teruraiku dengan sebelah tangannya. "Aku maafin kok. Tapi, janji nggak akan diulangi. Okay? Aku bukannya mau menghalangi hobi kamu yang suka menulis, tapi kalau ada apa-apa, jangan lupa izin ke aku dulu." Aku mengangguk mantap menanggapinya yang tak marah sedikit pun.


"Kalau boleh jujur, ceritanya bagus sih, cuma ... aku nggak terlalu suka sama tokoh laki-laki di novel itu," komentarnya.


"Itu bukan Garrin kok. Emang sih, 75% terinspirasi dari sosok Garrin, karena cuma dia satu-satunya laki-laki yang akrab banget sama aku. Tapi beneran, itu tokohnya bukan Garrin."


"Iya, iya, aku percaya kok." Adrian membuka-buka tiap lembar halaman itu, membacanya sekilas.


"Tapi, Mas."


"Tapi apa?"


"Sesuatu apa?"


Aku terdiam sebentar mengamati raut pria itu. Sesaat untuk memastikan bahwa Adrian tidak sedang dalam kondisi marah, dan mood nya sedang baik. Mungkin topik ini agak sedikit sensitif, karena itu aku benar-benar harus memperhitungkan kapan waktu yang tepat untuk membahasnya. Tapi dari ekspresi penasarannya yang tak menampakkan kemarahan, aku pun meyakinkan diriku sendiri. Harus kulanjutkan!


"Sebelumnya aku minta maaf karena rasanya aku nggak berhak tahu soal ini. Tapi aku benar-benar penasaran."


"Nggak apa-apa, udah, ngomong aja."


"Itu ..., Tante Jihan pernah ngomong soal kamu yang dulu pernah punya kekasih sebelum nikah sama aku. Aku ..., penasaran kenapa akhirnya kamu memilih aku, dan ..., dan …, siapa wanita itu?"


Aku tercekat ketika tatapan tajam Adrian seakan menyerangku tiba-tiba. Ia tak bersuara selama beberapa menit. Dan entah kenapa aku jadi kesal karena ia tak segera menjawab pertanyaanku itu. Memang benar, ternyata aku menikahi seorang laki-laki misterius yang tak kukenal sama sekali. Mungkin saja dalam diamnya itu, ia memikirkan skenario untuk membohongiku.


"Maaf, ya, Mas, aku tanya yang aneh-aneh. Nggak perlu dijawab kok, bukan kapasitasku juga untuk tahu hal-hal yang menyangkut masa lalu kamu. Kita cuci muka, terus tidur aja yuk!" Aku beranjak dari ranjang, hendak mencapai kamar mandi.


Tangannya menahanku pergi. "Aku belum mulai bicara, Aleesa," ujarnya datar.


"Aku akan jawab pertanyaan kamu kalau itu bisa bikin kamu lebih percaya dan bisa terbuka sama aku."

__ADS_1


"Kamu tahu, kan, setelah aku lulus dari SMA, ada selisih pendapat tentang keputusanku mengambil jurusan kuliah? Setelah aku dapat gelar Bachelor of Science di akhir usia ke-20, Baba segera memintaku untuk memenuhi perjanjian kami. Empat tahun berikutnya, aku belajar tentang bisnis dan setelah lulus dari sana, Baba mengenalkanku pada dunia bisnis yang sebenarnya."


"Baba memberitahuku banyak hal melalui praktik nyata, dan terjun langsung ke lapangan. Aku juga ikut di beberapa perjamuan yang diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Aku terlalu fokus dan senang bergelut dengan bisnis, hingga ketika usiaku dua puluh tujuh, aku bertemu dengan seorang gadis. Pertemuan kami bukan sebuah pertemuan indah yang direncanakan, tapi ternyata aku mengagumi gadis itu."


"Lanjut?" tanyanya kubalas anggukan.


"Setelah pertemuan singkat itu, aku harus kembali fokus menyelesaikan gelar masterku dan kembali ke Amerika. Di sana, bukan hanya kuliah, aku juga memegang kendali perusahaan multinasional yang sekarang sudah menjadi milik Kak Danar. Sementara, Gadis itu sempat berjanji untuk menungguku sampai aku pulang, tapi ketika aku pulang dan menunggunya, tak ada seorang pun yang datang menemuiku. Bahkan aku sempat mencarinya selama dua tahun, tapi akhirnya aku menyerah."


"Waktu pertama kali kami bertemu, gadis itu berusia 17 tahun. Jadi setelah kupikir lagi, aku hanya terlalu serius menanggapi perkataannya kala itu. Kami juga tidak punya hubungan seperti layaknya 'kekasih'."


"Siapa namanya?"


"Karin ..., Karin ..., Karinda."


"Pasti cantik, yah."


"Jujur, aku sudah nggak ingat lagi wajahnya. Apalagi setelah kecelakaan waktu itu, aku benar-benar lupa tentang gadis itu."


"Kamu sempat kecelakaan?" tanyaku tersentak.


"Iya, beberapa hari setelah Baba meninggal, aku mengalami kecelakaan tunggal yang mengakibatkan gegar otak dan dislokasi di tangan kiriku. Sebagian memoriku terganggu dan tangan kiriku sudah tidak asli lagi."


Sepasang mata tajam itu sekilas melihatku. "Tapi sekarang aku udah nggak apa-apa, kok, semuanya udah baik-baik aja. Jangan khawatir."


Aku terdiam sebentar. “Ka, Kalau suatu saat gangguan memori kamu itu sembuh, apa kamu akan mencari Karinda?” tanyaku pelan.


“Kenapa aku harus mengingat masa lalu dan mencari Karinda kalau aku sudah punya masa depan bersama Hanna Aleesa. Kamu nggak perlu takut, okay?”


“Aku cuma khawatir kalau kamu akan memilih wanita itu suatu saat nanti. Dari cerita Tante Jihan, katanya kamu dan wanita itu sudah hampir menikah.”


Adrian membawaku bersandar di dadanya. “Kamu tahu sendiri Tante Jihan orangnya kayak apa, kan? Apa iya, kamu percaya sepenuhnya semua kata-kata Tante Jihan?”


Iya juga sih, kenapa aku jadi begini? Pikirku terheran sendiri.


"Tapi, makasih banyak yah, kamu udah mau jawab pertanyaanku. Rasanya jadi tenang kalau kamu mau cerita tentang diri kamu. Aku jadi lebih mengenalmu."


“Sebenarnya, dari pada kita mengkhawatirkan masa laluku, bukankah lebih baik kalau sekarang kita memikirkan masa depan?”


“Masa depan? Apa yang perlu kita pikirkan?” tanyaku lugu.


“Apa kamu nggak ada pikiran untuk memberikan Ayah-Bunda dan Ummi cucu yang lucu, cantik-ganteng, solih-soliha?” Adrian membawa tanganku berhenti di luar pakaian bawahnya.

__ADS_1


“Hah? Tung– Ap–”


[Malam yang indah dan penuh keringat pun terjadi]


__ADS_2