
Adrian menanggalkan pakaian atasnya kemudian merebahkan diri di sebelah kiriku.
"Kamu mau ngapain, Mas?" tanyaku lirih.
"Nemenin kamu. Sini, sini, kamu bisa nangis, kamu bisa marah sepuasnya. Anggap aja semua ini salahku karena nggak bisa menjaga kamu dengan baik." Adrian memberikan lengannya untuk bantalan kepalaku.
"Ini bukan hotel, ini rumah sakit loh. Kalau ada perawat masuk gimana? Kamu nggak malu telanjang dada kayak gitu?"
"Kenapa? Kamu nggak suka kalau tubuhku dilihat wanita lain?"
"Udah, pakai lagi sana bajunya. Mana tahu nanti kamu kedinginan."
"Aleesa.., kamu nggak perlu pura-pura kuat dan menahan semuanya sendirian. Janin yang gugur itu adalah anak kita, aku mengerti jika kamu mau menangisinya. Asal kamu nggak berlarut-larut meratapinya."
Ucapan Adrian memantik air mataku. Aku memeluknya erat dan menangis sejadi-jadinya dalam dekapan eratnya. Ibu mana yang tak sedih karena kehilangan buah cinta yang baru akan tumbuh. Aku tak bisa menyalahkan siapapun kecuali diriku sendiri atas kejadian ini. Kehamilan pertamaku, dan aku harus mengikhlaskannya. Tapi seperti yang dikatakan Adrian, aku hanya boleh menangis, bukan meratapinya. Hanya malam ini
Aku percaya ujian dari Allah yang tak henti-hentinya ini akan meninggikan derajat kami. Setiap kesedihan dan berbagai hal yang sulit ini pasti akan menemukan sisi terang lainnya.
Setelah tiga hari aku tertahan di rumah sakit pasca kuretase, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Tak ada air mata, tak boleh ada isakan, begitulah tekadku melalui semua ini. Di rumah kami, Ayah-Bunda telah menanti kedatanganku dan Adrian dari rumah sakit. Pelukan hangat mereka, seakan menjadi obat kekecewaanku. Membuatku terbiasa untuk tak mengingat hal sedih di balik skenario Tuhan.
"Jadi gimana kata dokter?"
"Inshaa Allah baik-baik saja. Hanya saja.., untuk penyebab keguguran itu perlu diteliti lebih lanjut. Memang akhir-akhir ini Aleesa mengonsumsi obat yang diresepkan dokter, selain itu juga akan dilakukan pemeriksaan lagi agar kejadian serupa tidak akan terulang kembali," jelas Adrian.
"Apa jangan-jangan karena Hanna terlalu banyak bekerja?" tambah Ayah.
"Itu.., bisa juga jadi penyebabnya, Yah. Karena selama kehamilan, Hanna lebih suka berada di kantor dan mengurus pekerjaan kantor dibandingkan diam di rumah. Tapi itu juga baru dugaan."
Bunda menyeruput teh hijau dari cangkir yang disajikan. "Kapan kalian ke dokter lagi?" tanyanya.
"Dua minggu lagi, Bun. Inshaa Allah setelah itu akan keluar hasil diagnosis dokternya."
"Yang sabar, ya, Hanna, Adrian. Ini ujian kesabaran untuk kalian berdua. Memang seperti ini rasanya hidup berumah tangga, kalau tidak diterpa angin kencang, ya pasti bertemu badai."
Adrian merengkuh bahuku. "Aleesa adalah wanita yang kuat. Ia lebih dewasa dan mampu meyakinkan saya dengan setiap kata-katanya," tuturnya seraya tersenyum menatapku.
"Inshaa Allah, Allah akan berikan rezeki yang tepat di waktu yang tepat juga nantinya."
"Iya, Ayah ..., Inshaa Allah."
Perbincangan hangat di ruang tengah itu Alhamdulillah tak menimbulkan tangisan, meski ada pula rasa sesak setiap teringat akan hal yang sama. Keberadaan Ayah-Bunda di rumah kami selama beberapa hari ke depan juga memberikan aku rasa aman. Baru saat malam tiba, aku merasa ada yang hilang dari rumah ini.
__ADS_1
"Mba Rina, masak buat makan malam, ya?"
"Nyonya. Iya, saya masak untuk makan malam. Tapi ..., bukankah sebaiknya Nyonya beristirahat saja? Kenapa anda sampai turun ke dapur?"
"Tenang aja ..., Adrian tahu kok kalau aku di sini." Aku duduk di salah satu kursi yang menghadap langsung ke meja dapur.
"Khadija ..., di mana, Mba?" tanyaku ragu.
"Mba Khadija pergi ke psikiater untuk terapi, beliau ditemani dengan Puput."
"Kok belum pulang?"
"Sebenarnya ..., Mba Khadija mungkin tidak akan pulang ke rumah ini lagi."
"Maksudnya?"
"Maaf, mungkin saya lancang jika saya yang menjelaskan hal ini kepada anda. Tuan meminta asistennya untuk menjaga Mba Khadija selagi masa pemulihan. Tuan juga menempatkan Mba Khadija di rumah yang sempat ditawar Pak Erwin, Nyonya."
Ternyata benar, Adrian segera mengambil langkah tanpa perlu terlalu memikirkan konsekuensi. Langkah yang diambil pun kurasa cukup logis, mengingat kondisi mental Khadija saat ini, sudah pasti ia tak ingin Khadija yang melakukan sesuatu terhadapku.
"Lalu, Mba Puput?"
"Puput akan segera kembali. Ia hanya mengantarkan persediaan obat untuk Mba Khadija."
"Iya, Nyonya. Tapi tidak apa-apa, di rumah juga saya merasa sepi."
"Tapi, kan harusnya masih ada waktu beberapa hari untuk libur. Dasar Adrian itu ...."
"Tidak apa Nyonya, di samping itu saya juga mengkhawatirkan keadaan anda. Jadi saya memilih datang ke sini daripada menghabiskan waktu liburan di rumah."
Aku tersenyum pada Mba Rina. Jarang sekali bisa menemukan asisten rumah tangga yang multitalenta, jujur, dan loyal seperti Mba Rina sekarang ini. Selain menjadi kepala asisten rumah tangga, ia juga siap menggantikan posisi koki yang berhalangan datang. Bahkan wanita kepala tiga itu bisa menjadi pendengar yang baik dan pemberi solusi yang tepat.
Di tengah malam yang hening jadi waktu tepat untuk beristirahat dan melanjutkan rencana esok hari. Aku terbangun kira-kira pukul dua pagi karena mendengar suara yang cukup mengganggu. Kebangkitan tubuhku menuju ke balkon kamar yang mengarah ke luar. Kurasakan udara dingin itu menerpa kulit tubuhku. Tak terasa air mengalir dari kedua sudut mata dalam kekosongan itu.
"Sayang ..., kamu udah bangun? Udah tidur lagi gih, baru jam dua pagi." Adrian mendatangiku, membuatku buru-buru menyeka air yang mengalir.
"Mas ..., kamu kebangun, ya?"
"Kamu ngapain, huh?"
"Aku cuma mau cari udara segar sebentar. Pasti kamu kebangun gara-gara aku buka pintu balkonnya, ya?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, aku emang udah adad mau niat bangun jam segini. Jangan lama-lama di luar, kalau udah cukup cari udara segarnya, cepat masuk lagi. Nggak baik."
"Iya."
Aku mengiyakan ujarannya, ia pun berjalan ke kamar mandi meninggalkanku. Selagi menunggunya keluar dari kamar mandi, aku sengaja berjalan ke dapur bawah untuk mengambil minuman segar di kulkas. Perlahan dan hati-hati aku berjalan menuruni tangga hingga kaki ini menginjak di lantai marmer abu-abu dapur.
"Aku udah lihat rekaman cctvnya, Put. Bukan cuma kamu, Tuan bisa saja menyengsarakan keluargamu kalau beliau mau." Suara Mba Rina marah tapi masih tertahan.
"Maaf, ya Mba Rina. Tapi tolong jangan menuduh tanpa dasar yang jelas."
"Kamu kira saya nggak tahu obat yang kamu berikan kepada Nyonya? Kamu kasih obat yang seharusnya nggak diminum oleh ibu hamil. Ya, kan? Aku sempat lihat bungkus obat itu berbeda dengan obat yang diresepkan Dokter Rani." Mba Puput terdiam tak membalas perkataan Mba Rina.
"Pukul sebelas malam, Mba Khadija menumpahkan sirup di anak tangga. Harusnya dia masih ngepel anak tangga bekas tumpahan air, dan saat itu juga telepon rumah bunyi. Tapi kamu nggak bantuin Mba Khadija, juga nggak pergi angkat telepon, malah narik Mba Khadija ke kamarnya," lanjut Mba Rina.
"Kamu biarin air yang tumpah itu beleber kemana-mana, bahkan kamu juga nggak beresin alat pel di lantai. Nyonya udah panggil-panggil kamu dari dapur atas tapi masih aja kamu nggak mau datang. Kamu sembunyi di dalam kamar sampai Nyonya sendiri yang turun tangga dan terpeleset gara-gara pekerjaan kalian berdua yang belum selesai. Sebenernya niatan kamu apa sih, Put?"
"Begini, ya, Mba Rina ... beberapa hari yang lalu, Tuan sama Nyonya minta ke semua ART untuk nggak jalan-jalan di rumah ini dari pukul sepuluh malam. Semuanya harus udah pada masuk ke kamar masing-masing jam segitu. Jadi telepon rumah bunyi itu bukan kewajibanku dong." Pembelaan Mba Puput terdengar.
"Oh iya. Mba Rina, kan nggak lihat kejadian malam itu. Nyonya kita yang begitu syar'i dan selalu sopan itu menyambut tuan dengan cumbuan panas di lobby utama. Tepatnya di depan semua asisten yang masih kerja. Aku juga nggak percaya sih, kalau nyonya kita ternyata kurang tata kra-"
Plak!
Terdengar suara kulit telapak tangan menghantam kulit wajah ketika aku hanya menunduk mendengar cerita Mba Puput. Aku menahan keras air mataku turun karena aku masih ingin tahu seperti apa pandangan mereka terhadapku sebenarnya.
"Jaga omongan kamu, ya! Kamu nggak pantas ngomong gitu ketika tiap bulan kamu masih dapat uang dari orang yang kamu sebut-sebut kejelekannya itu. Kamu nggak sadar ini rumah siapa? Kamu nggak sadar kamu bisa makan dari mana? Kamu lupa siapa yang biayain sekolah keperawatan kamu sampai lulus?" Suara marah Mba Rina kita tak tertahankan lagi. Ia meledak saat itu juga.
"Aku cuma ngomongin fakta. Kalau nyatanya, tata krama nyonya kita itu nggak sebaik gamis dan jilbab panjangnya yang selalu dipakai kemana-mana!"
"Kamu udah kelewatan, Put. Nyonya bahkan nggak pernah ngomongin kejelekan kamu meski banyak kerjaan kamu berantakan. Nyonya nggak pernah nyalahin kamu atas kandungannya yang gugur karena kelalaian kamu dan Mba Khadija. Tapi kamu malah begini di belakangnya."
"Karena emang bukan salahku kok. Bukan salahnya Mba Khadija juga. Lagian Mba Khadija itu datang sebagai tamu, kenapa dia juga harus disalahin? Mba Khadija bahkan nggak seharusnya pegang alat pel atau alat bersih-bersih di rumah ini."
"Kamu bisa pura-pura nggak merasa bersalah, Tuan dan Nyonya bisa terus percaya sama kamu. Tapi aku akan selalu mengawasi apa yang kamu lakukan. Ingat itu!"
"Terserahlah ... toh aku juga nggak bersalah. Soal obat itu, bukannya dokter Rani juga bilang kalau efek obatnya nggak seberapa. Emang wanita itu aja yang diam-diam punya PCO, tapi nggak ngaku."
Plak!
"Aku nggak tahu dendam pribadi seperti apa yang kamu miliki, tapi saya, tidak akan pernah membiarkan kamu yang berhati busuk bisa menyentuh kehidupan Nyonya."
Aku menghela napas, sesegera mungkin pergi dari sana. Belum lagi rasa sedih ini hilang, mendengar percakapan mereka membuatku kembali menyesal. Bukan menyesal pada keadaan, tapi menyesal pada diriku sendiri yang begitu ceroboh. Kenapa aku harus meminum obat yang tidak diresepkan dokter? Kenapa juga aku harus turun tangga hari itu?
__ADS_1
Aku segera naik kembali ke kamar, mengurungkan niatku mengambil minum, dan memilih untuk mengambil wudhu. Di atas sejadah yang terbentang menghadap kiblat, tak ada yang mampu kulakukan selain menyerahkan semuanya kepada Allah. Sungguh hingga detik ini Allah lah yang membantuku kuat menjalani hidup. Tidak ada siapapun yang lebih baik sebagai tempatku berserah selain Tuhanku.