Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Permasalahan dari Luar


__ADS_3

Keluar dari lift, spontan bibir ini mendesis seraya memegangi pinggang. Pegal-pegal di leher karena susah tidur semalam, masih diperparah dengan pinggang yang sakit, benar-benar sanggup membuatku meringis mengawali pagi hari itu. Dengan keadaan seperti sekarang, untuk sekedar makan saja susah. Niat hati ingin mencuci baju sendiri pun harus terkubur karena keadaan yang tak memungkinkan. Sejak kandungan memasuki minggu ke-34, aku terpaksa menyerahkan tugas cuci bajuku pada ART.


Sebelum memulai aktivitas harian, pukul enam pagi aku sudah berjalan memutari lapangan basket di belakang rumah, hingga ke pekarangan depan rumah dan melihat dedaunan hijau segar yang baru selesai disiram oleh Pak kebun. Sepi sekali, sejuk, dan menenangkan. Setelah hampir dua tahun kami menikah, aku baru tahu kalau rumah ini memang dibuat senyaman ini. Bukan hanya karena barang-barang mewah atau furniture mahalnya, tapi tata letak dan lokasinya yang jauh dari bising jalanan dan polusi adalah faktor terpentingnya.


"Untuk ukuran seorang pria yang hidup sendiri, rumah ini sudah keterlaluan megahnya," gumamku tiba-tiba mengucapkan semua pikiran yang terlintas di kepala.


"Anda mengatakan sesuatu, Bu?" Mba Rina yang berdiri di sebelah kursi taman langsung menangkap gumamanku.


"Enggak, bukan apa-apa kok. Oh ya Mba, tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu. Tolong beritahu semua staff untuk berkumpul di aula sebelum makan siang, ya?"


"Semua, Bu?"


"Iya. Untuk selebihnya, kamu bisa minta bantuan Hugo."


"Baik, Bu."


Aku beranjak dari kursi taman, hendak berjalan kembali ke dalam rumah, sampai kulihat seorang wanita berdiri di balik pagar depan rumah yang sedikit terbuka. "Karinda!" Spontan bibirku memanggilnya. Sayang, wanita itu justru kabur ketika mata kami sempat bertemu beberapa beberapa detik.


Meski dalam hati aku ingin mengejarnya, tapi jika dipikir secara logika, kondisi saat ini belum baik sepenuhnya. Sekalipun aku ingin mengejarnya, aku sendiri belum tahu apa yang akan kukatakan pada Karinda pertama kali. Situasi yang membingungkan ini akhirnya membuatku memutuskan untuk tak banyak memikirkannya dan fokus pada hal lain yang lebih penting. Ketika kaki ini melangkah menaiki satu per satu anak tangga beranda rumah, aku berpapasan pada beberapa asisten yang membawa koper-koper besar keluar dari dalam rumah.


"Kalian mau ke mana? Barang-barang ini ..."


Dua di antaranya berhenti, menghadapku. "Maaf, Nyonya. Ini barang-barang milik Karinda yang masih tertinggal. Tuan meminta kami untuk mengeluarkan semuanya dari rumah, karena kamar yang sebelumnya milik Karinda akan direnovasi."


"Terus semua barang ini mau kalian kemanakan?" Keduanya saling berpandangan mendengar pertanyaanku.


"Kami juga belum tahu, Nyonya. Untuk sementara waktu, mungkin kami akan bawa ke gudang."


Aku berpikir sebentar, saat ini Karinda tinggal di mana? Mungkin saja kalau aku meminta sopir mengirimkan barang-barang itu, tapi tempat tinggal Karinda saat ini saja aku tak tahu di mana.


"Permisi Nyonya, Pak Garrin dan istrinya meminta izin untuk bertemu dengan anda. Kata beliau, ada suatu hal penting." Staff keamanan mendatangiku.


*Ada apa sampai datang pagi-pagi seperti ini*?


"Okay, aku mengerti. Izinkan mereka masuk. Sekalian antarkan mereka ke teras samping. Katakan, kalau saya menunggu mereka di sana."


"Baik, Nyonya."


Seperginya staff keamanan itu, aku kembali pada dua asisten yang membawa koper-koper besar tadi. "Untuk sementara, cukup kalian taruh barang-barangnya ke garasi aja, ya? Sisanya biar aku yang bicara ke Adrian nanti."


"Baik, Nyonya."


...----------------...


Di teras samping rumah, atau lebih tepatnya di musholla rumah, aku sempatkan delapan rakaat dhuha sebelum Garrin dan Johana sampai. Selesai dengan delapan rakaat beserta doanya, aku lantas keluar musholla, di mana kulihat Garrin dan Jo sudah duduk di kursi pinggir kolam renang, mendiskusikan sesuatu.


"Assalamualaikum." Aku berjalan mendatangi mereka berdua yang agak sedikit berdebat.


"Waalaikumsalam." Keduanya lantas mengalihkan pandangan mereka padaku.


Aku turut mengambil duduk tak jauh dari mereka. "Ada apa?"


"Siapa yang mau bicara duluan?" Jo menawarkan kesempatan bicara pada Garrin dengan nada amarahnya.


"Kamu aja dulu."


Jo lantas mengambil napas panjang. "Jadi gini Hann, kita sebagai tetangga dan partner bisnis yang cukup dekat, tahu lah tentang masalah kalian dan Karinda. Intinya dia memang wanita yang begitu. Di sini aku mau tanya aja sih, tentang gimana hubungan persahabatan kalian bertiga dulunya."


"Kita ... sahabatan biasa aja kok. Nggak ada sesuatu yang gimana-gimana," jawabku.


"Tuh, kan. Emang nggak ada apa-apa, Jo," tambah Garrin.


"Nggak. Sst! Kamu diem dulu!"


Jo menatapku tajam kali ini. "Hann, aku udah tahu tentang Garrin yang dulu sempat mau ngelamar kamu, dan lainnya. Aku udah terima semua itu. Tapi antara Garrin dan Karinda, sepertinya emang dari awal ada yang nggak beres sama mereka berdua, kan?"


"Kamu tahu, Hann? Hari dimana Karinda keluar dari rumah kamu, dia pergi ke kantor Garrin, maksa masuk, sampai-sampai Garrin batalin meeting sama dua klien pentingnya."


"Kan aku udah bilang-"


"Diam ya! Selama aku nikah sama Garrin, dia nggak pernah memperlakukanku seperti itu. Jadi, ada apa di antara mereka berdua?"


"Kan aku udah bilang, kita cuma sahabat aja Jo. Kamu terlalu berpikir jauh soal itu," ungkap Garrin membela diri.


"Gimana dengan hari Rabu kemarin? Kamu nggak mau temenin aku ke dokter kandungan, tapi sendirinya ketemu sama Karinda di cafe, kan? Hari Minggu juga, kamu kasih dia izin tinggal di apartemenku, padahal kamu sama sekali nggak bilang apa-apa ke aku. Riwayat transaksi ATM juga. Aku baca sendiri kalau kamu emang bener transfer uang ratusan juta ke Karinda. Mau mengelak apa lagi? Aku udah cari tahu semuanya sendiri, karena percuma tanya ke kamu, kalau kamunya nggak pernah bisa jujur."


"Kamu nggak berhak memata-matai suamimu sendiri, Jo! Darimana kamu sampai dapat rekam transaksi ATM ku?"


"Emangnya itu penting untuk sekarang? Aku cuma mau minta kejelasan. Kamu tuh ngapain aja sama sahabat kamu itu, Garrin? Mana mungkin aku yang punya status sebagai istri ini harus terus diam lihat suamiku terus-terusan bantuin sahabatnya yang juga seorang wanita dewasa." Jo meledakkan emosinya. Ia menggigit bibir bawahnya menahan isakan yang mendukung turunnya air mata dari kedua kelopak itu.


"Tetap aja, kamu nggak berhak untuk mencari tahu apapun tentangku tanpa seizin dariku," kilah Garrin menaikkan nada bicaranya.

__ADS_1


Pria itu berdiri dari tempat duduknya. "Ayo, selesaikan masalah ini di rumah."


"Kenapa? Sekarang kamu berlagak peduli denganku seakan kamu pria bertanggung jawab di depan Hanna? Biar kutebak, kalau sekarang kita berdua pulang ke rumah, kamu cuma akan mencumbuku dan semua berakhir di ranjang, lalu kamu akan meminta maaf, seakan ini masalah sepele. Iya, kan? Kamu bahkan nggak punya nyali untuk menyelesaikan masalah ini, Garrin. Yang kamu lakukan cuma menghindar."


Aku mengusap-usap lengan Jo, berusaha menenangkannya walau aku sendiri mungkin tak bisa tenang bila berada di posisi itu. Tapi ini adalah kali pertamaku melihat Jo sampai se emosional ini.


"Iya, kamu benar Johana. Memang itu yang akan aku lakukan kalau kamu menuruti ajakan ku pulang ke rumah. Lalu, sekarang mau kamu apa?"


"Siapa yang lebih penting, istrimu, atau sahabatmu itu?"


Pertanyaan Jo mungkin terdengar biasa saja. Tapi ekspresinya ketika menyatakan pertanyaan itu tak main-main. Marah, sedih, dan kekecewaan bersatu memunculkan ekspresi wajah yang baru pertama kali kulihat ada pada diri Johana. Sepertinya ia telah sampai pada batasnya. Jika jawaban Garrin sesuai dengan keinginan Jo, kemungkinan mereka bisa berbaikan masih dapat diusahakan. Sebaliknya, jika Garrin memberi jawaban yang tidak diharapkan, hubungan mereka benar-benar tak akan baik-baik saja.


"Sia-sia menjawab pertanyaan itu. Kamu nggak ngerti situasinya." Garrin pergi meninggalkan Jo dan aku.


Aku sendiri kesal melihat Garrin yang keluar dari rumah ini tanpa sedikitpun rasa bersalah tersirat di wajahnya. Ia sampai tega meninggalkan Jo yang menangis histeris. Sudah pasti sakit menahan semua beban itu sendiri. Sedikit banyak, aku mengerti perasaannya Jo sebagai wanita. Dan si brengsek Garrin itu benar-benar sudah kelewatan.


"Hann, aku harus gimana ...!"


"Tenang dulu, Jo .... Aku bakal dengerin semua cerita kamu kok. Sekarang kamu tenangin diri dulu. Kalau kamu belum mau pulang, kamu bisa tinggal di sini. Aku juga akan bantu sebisaku."


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Halo? Mba Rina di mana?


Mba Rina : Saya di aula, Bu. Ada perlu sesuatu?


Hanna Aleesa : Bisa tolong siapkan kamar tamu di lantai satu? Jo perlu tempat untuk istirahat. Oh ya, sekalian ambilkan air minum untuk Jo, tolong bawa ke teras samping.


Mba Rina : Baik Bu, akan segera saya siapkan. Ada perlu tambahan lain?


Hanna Aleesa : Tolong beritahu juga asisten dapur, makan siang hari ini bikin porsi lebih banyak. Kira-kira untuk semua staff yang akan berkumpul hari ini


Mba Rina : Baik, Bu. Segera saya selesaikan


Hanna Aleesa : Terimakasih


[Call Ended]


Setelah tangis dan isakannya cukup mereda, Jo lekas bicara lagi. Ia menceritakan tentang Garrin yang selalu memprioritaskan Karinda sejak ia keluar dari rumah kami. Jo juga sudah mencoba memeriksa isi ponsel Garrin, tapi yang ia dapatkan hanya kemarahan Garrin, sampai pria itu keluar dari rumah dan meninggalkan Jo sendiri selama dua malam. Garrin yang sekarang, menurutnya adalah pria yang tempramen. Tak seperti dulu.


Di luar itu, bahkan di perusahaan dan antara asisten di rumah mereka sepertinya mulai terbentuk dua kubu. Satu kubu yang membela Garrin dan satu lagi kubu membela Johana. Jadi, semakin tampak perang dingin ini melibatkan banyak pihak yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan sama sekali.


"Makan siang sudah siap, Bu. Para Staff, termasuk Agatha juga sudah datang."


"Minta semuanya berkumpul di aula. Aku akan turun sebentar lagi."


Di aula rumah, seluruh perwakilan staff telah menungguku. Termasuk juga Agatha. Setelah berbasa-basi ini dan itu selama beberapa saat, aku lantas mengalirkan topik ke inti yang ingin kukatakan.


"Saya ingin kedepannya tidak ada lagi yang memanggil saya 'Nyonya'. Selama dua tahun ini saya sudah berusaha untuk menerimanya, tapi semakin ke sini, jujur saya merasa tidak nyaman dengan panggilan itu. Karena itu, saya mohon dengan sangat, untuk tidak memanggil saya 'Nyonya' lagi kedepannya."


Sesaat, mereka saling berpandangan, bingung mendengar permintaanku yang terkesan begitu tiba-tiba.


"Cukup panggil saja 'Bu', 'Ibu', atau nama saya langsung, saya tidak keberatan dengan itu," tambahku.


"*Question*!" Agatha mengangkat tangan kanannya.


"Ya?"


"Jika itu memang permintaan anda, kami tidak masalah. Tapi bagaimana dengan Pak Presdir?" tanyanya.


"Oh ya. Ini berlaku untuk saya, suami saya, bahkan anak kami nanti. Untuk Adrian, panggil saja 'Pak' seperti biasa. Kecuali memang sedang ada di lingkungan perusahaan, kalian bisa memanggilnya Presdir. Yah, saya tahu mungkin akan sulit membiasakannya mulai sekarang, tapi saya mohon kerjasama semuanya."


Setelah membicarakan tentang penggantian panggilan di rumah ini, aku melanjutkan topik selanjutnya yang juga tak kalah penting.


"Selanjutnya, mulai bulan depan, setiap hari Jumat, semua staff yang bekerja dengan kami, dalam devisi apapun, disilakan untuk mengambil makan dan minum sepuasnya di resto dan cafe milik kami. Caranya dengan menunjukkan tanda pengenal kalian yang sudah Adrian berikan sejak kalian diterima bekerja bersama kami."


"Gratis? Sepuasnya?"


"Iya, benar. Kalian bisa mengambil makanan apapun gratis dan sepuasnya dari jam buka sampai pukul lima sore."


"Ini benaran?" Agatha maju selangkah, memastikan ucapanku.


"Iya, benar kok. Aku juga udah izin sama Adrian."


"Intinya seperti itu. Untuk informasi lebih lengkapnya, Agatha yang akan mengumumkan kembali, baik secara tulis maupun lisan nantinya. Untuk selanjutnya, silakan ikut Mba Rina yang akan mengantar kalian ke ruang makan, dan silakan menikmati makan siang kalian. Terimakasih atas perhatian dan kerjasama semuanya."


Aku kembali ke atas setelah mengumumkan hal itu. Tak sabar rasanya untuk segera memberitahu Adrian pasal ini. Tapi sebelum itu, aku lebih dulu memeriksa Jo yang sepertinya tertidur lelap di kamar tamu. Terbukti dengan pintu yang tidak terbuka sama sekali meski sudah kuketuk dan kupanggil-panggil beberapa kali.


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Halo, Assalamualaikum ...

__ADS_1


Adrian Al-Faruq : Waalaikumsalam warahmatullah. Gimana keadaan kamu?


Hanna Aleesa : Baik-baik aja alhamdulilah. Kamu sendiri?


Adrian Al-Faruq : Alhamdulilah. Ini baru balik ke hotel, baru selesai salat maghrib


Hanna Aleesa : Loh, emang di situ jam berapa?


Adrian Al-Faruq : Jam ... sepuluh malam. Maghribnya sekitar tiga puluh menit yang lalu. Di situ pasti lagi makan siang, kan?


Hanna Aleesa : Iya. Pada makan siang di bawah. Kamu udah makan?


Adrian Al-Faruq : Ini lagi tunggu Erwin ambil makanan


Hanna Aleesa : Oh ya, Sayang aku mau kasih tahu kamu kalau barusan aku udah umumin ke semua staff soal rencana yang aku bilang ke kamu waktu itu


Adrian Al-Faruq : Udah?


Hanna Aleesa : Iya. Semoga aja bermanfaat buat mereka dan kinerja mereka makin baik, ya


Adrian Al-Faruq : Aamiin. Tapi sebenarnya waktu aku bilang untuk pikirin sekali lagi, kukira kamu bakal batalin rencana itu sih. Ternyata kamu beneran


Hanna Aleesa : Nggak apa-apa kan?


Adrian Al-Faruq : Ya ..., enggak apa-apa sih


Hanna Aleesa : Oh ya, sama satu lagi. Aku tadi ... minta ke semua staff untuk ganti panggilan mereka ke kita. Mulai sekarang nggak akan ada lagi 'Nyonya', 'Tuan', dan 'Pak Presdir' di rumah ini


Adrian Al-Faruq : Nggak kaget sih. Dari dulu emang kamu nggak nyaman dipanggil begitu. Aku tinggal menyesuaikan aja deh, sama kamunya


Hanna Aleesa : Oh ya. Sama ....


Adrian Al-Faruq : Sama apa?


Aku ceritain nggak, ya? Kalau aku ceritain, nanti Adrian kepikiran, lagi.


Hanna Aleesa : Hmm. Kamu kapan pulangnya? Urusan di situ masih lama?


Adrian Al-Faruq : Mungkin dua Minggu lagi. Itu perkiraan paling lambatnya sih


Hanna Aleesa : Hari ini tanggal dua, kan, ya. Kalau dua minggu lagi ..., berarti tanggal lima belas September?


Adrian Al-Faruq : Mungkin di tanggal empat belasnya sih


Hanna Aleesa : Masih lama, ya


Adrian Al-Faruq : Kenapa? Kamu mau aku pulang sebelum tanggal sepuluh?


Hanna Aleesa : Hah?! Enggak kok. Aku nggak bilang gitu. Lagian kalo kamu pulang, siapa yang nyelesaiin masalah di sana coba


Adrian Al-Faruq : Erwin, kan ada


Hanna Aleesa : Kamu tuh, ya! Baru aja aku mau marah karena kamu manja, pake minta Pak Erwin ambilin makanan buat kamu. Harusnya tuh kamu ambil sendiri, Sayang ....


Adrian Al-Faruq : Tapi beneran deh. Kalau emang kamu mau aku pulang sebelum tanggal sepuluh, bilang aja


Hanna Aleesa : Yah ..., kalau nurutin kemauan ku mah, aku minta kamu pulang sekarang juga. Tapi aku nggak egois kok. Selesaiin aja dulu semuanya. Biar kamu juga tenang kalau udah sampe Indonesia. Ya, kan?


Adrian Al-Faruq : Iya, Mama. Udah berasa banget nih diomelinnya


Hanna Aleesa : Ya udah. Buruan sih makan, aku juga belum makan nih soalnya. Aku tutup, ya?


Adrian Al-Faruq : Ya udah iya. Selamat makan siang, jangan sampai sedikit makannya ya, Ma. Abis ini Papa masih harus kerja lagi, jadi nggak bisa ingetin kamu terus-terusan


Hanna Aleesa : Entah kenapa aku merinding dengar kamu panggil aku Mama. Rasanya belum pantas aja gitu. Ah udahlah. Aku tutup, ya. Assalamualaikum ....


Adrian Al-Faruq : Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh


[Call Ended]


Sebenarnya aku hendak menceritakan tentang Garrin dan Johana yang terlibat kesalahpahaman dan menyangkut Karinda. Tapi sepertinya ini belum saat yang tepat bagiku mengatakannya, jadi aku terpaksa mengalihkan topik yang lain daripada berbicara ke arah sana.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamarnya diketuk dari luar. Suara Agatha dari balik pintu kecil terdengar memanggilku. Aku pun segera menyimpan kembali ponsel, dan berdiri dari dudukku di pinggir ranjang.


"Iya, sebentar!"


Ketika kaki ini berdiri namun belum melangkah, perut bawahku tiba-tiba terasa seperti keram dan rasa kencang. Punggungku juga terasa sakit yang tidak seperti biasanya.


Tunggu, apa? Nggak sekarang, kan?

__ADS_1


__ADS_2