Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Terbawa Arus


__ADS_3

Hari itu Adrian pulang sebelum adzan Maghrib. Tapi setelahnya, ia tak keluar dari ruang kerja kecuali untuk salat dan pergi ke kamar mandi. Entah kenapa aku jadi merasa sedikit bersalah melihatnya membawa pekerjaan kantor ke rumah. Setelah menidurkan Asyqar di kamarnya, aku lantas menghampiri Adrian di ruang kerja.


Ia fokus pada monitor di hadapannya, sesekali memegangi kening, lalu membuat coretan-coretan di layar iPadnya. Ia tak menyadari kehadiranku di ruangan itu sampai aku berdiri tepat di belakangnya dan memijat pelan kedua bahu itu.


"Maaf, ya. Gara-gara aku yang minta kamu cuti untuk datang ke acara Ayah-Bunda, kamu jadi jadi harus lembur gini."


"Nggak apa-apa ...." Adrian meraih tanganku yang semula bertengger di bahunya.


"Asyqar mana? Udah tidur?"


"Udah. Jarang-jarang loh, Asyqar tidurnya cepat banget hari ini."


"Bagus dong."


Tunggu. Bukan itu jawaban yang aku mau.


Aku memeluknya dari belakang. "Masih banyak ya? Mau aku bantu?"


"Kamu balik ke kamar aja, tidur, jangan begadang. Nanti kalau tiba-tiba ada jerawat muncul, kamu panik lagi kayak kemarin. Ini aku tinggal sedikit lagi kok."


"Ya udah. Aku balik ke kamar, ya?"


"Iyaa Sayang."


"Jangan terlalu diforsir."


*Cup**!* Aku meninggalkan sekilas kecupan di lehernya lalu kembali ke kamar.


Beberapa menit aku menunggunya keluar dari dalam ruang kerja. Aku masih menunggu Adrian meski dengan sembunyi di balik selimut. Ketika terdengar suara pintu tertutup, aku menebaknya tengah berjalan ke kamar mandi. Semua yang dilakukannya bisa kutebak dengan tepat, sampai akhirnya ia masuk ke dalam selimut.


Jangan bayangkan Pak Suami akan senantiasa memeluk kita saat akan tidur, atau rela menjadikan lengannya untuk bantalan kepala. Setelah hampir tiga tahun menikah, posisi tidur ternyaman adalah saling membelakangi satu sama lain, menghadap ke arah masing-masing. Pun demikian dengan posisi tidur kami.


Aku berbalik arah menghadapnya. "Belum tidur?" tanya Adrian menyadari gerakanku.


"Kamu juga, kenapa nggak tidur?"


"Hmm."


"Sayang ..., kamu udah ngantuk?"


"Belum juga."


Aku mendekat beberapa sentimeter ke arahnya. "Kamu cape banget ya?"


"Enggak kok. Masih terlalu awal untuk aku cape."


"Mmm. Asyqar akhir-akhir ini udah makin pintar ya. Hampir nggak pernah kebangun malam-malam lagi. Jadi lebih tenang gitu. Hari ini juga." Aku melingkarkan tangan ke perut Adrian dari belakang.


"Baguslah. Asyqar nggak bikin repot Mamanya lagi."


*Dia peka nggak sih*?


"Iya. Kapan lagi kita bisa lepas dari Asyqar di malam hari."


Adrian tak juga bereaksi. Itu membuatku makin geram dengan tingkahnya yang seakan mempermainkan aku. Aku meniup telinganya, memainkan jariku di perut kotak-kotaknya. Ia bernapas berat, lalu berbalik menghadapku. Sebentar, ia menatapku tajam dalam keremangan. Kaki kirinya lantas dilingkarkan untuk mengunci pergerakanku.


"Don't tease me if you don't wanna do it to the end."


^^^~Jangan menggodaku kalau kamu nggak mau melakukannya sampai selesai^^^


"You didn't react at all, did y-" Aku berhenti ketika pahaku merasakan sesuatu yang mengeras di bawah.


^^^~Kamu sama sekali nggak bereaksi k-^^^


"I didn't react? I've been holding on to it ever since."


^^^~Nggak bereaksi? Padahal aku udah berusaha menahannya dari tadi^^^


*Cup**!*


"I could barely breathe when I see the lingerie under that kimono."

__ADS_1


^^^~Aku hampir nggak bisa bernapas waktu lihat lingerie di balik kimono itu^^^


"Prepare an excuse for Harun why we're late for getting up tomorrow morning." Suara bariton itu terdengar membisik di atasku.


^^^~Siapkan alasan untuk Harun kenapa kita bangun kesiangan besok pagi^^^


...----------------...


Connecting door yang menghubungkan kamar kami dan kamar Asyqar selalu dibuka setiap malam. Paginya, suara tangis Asyqar yang pada akhirnya membangunkan kami bahkan lima belas menit lebih awal dari suara adzan subuh. Mau tak mau, kami terpaksa bangun dan sesegera mungkin mengumpulkan kesadaran. Satu orang menjaga Asyqar, dan satu lainnya pergi mandi bergantian.


Tapi setidaknya aku senang melihat Adrian sudah jauh lebih segar dari yang sebelumnya lesu dihadapkan pada setumpuk pekerjaan. Itu artinya, support mental berupa 'service'  yang kuberikan semalam cukup berdampak baik.


"Papa sudah berjuang sangat keras demi memberi kita kenyamanan. Kalau nanti kamu sudah besar, tolong balas kebaikan Papa dengan hadiah surga ya, Nak."


"Ann Ma! Ma! Pa!"


Adrian yang baru keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya mendekat. "Ada apa Asyqar, anak Papa ... Kamu pintar banget ya, bangunin Mama sama Papa biar nggak terlewat subuh."


"Iya dong ..., jagoannya Mama."


"Untung aja Asyqar nggak sampai bangun dan jatuh dari tempat tidur."


"Iya juga, ya. Kalau sampai Asyqar tiba-tiba berdiri, bisa aja jatuh. Apalagi Asyqar udah makin tinggi aja."


"Hari ini kita pergi, yuk! Lihat-lihat tempat tidur bayi yang ukurannya lebih besar dan pagarnya lebih tinggi lagi."


Aku melihatnya yang dengan ringan memberikan tawaran itu. "Kamu mau lembur lagi? Kerjaan kamu gimana?"


"Sebenarnya ..., semalam aku lembur bukan cuma ngerjain tugasku yang kutinggal selama kita di rumah Ayah-Bunda, tapi aku sekalian selesaiin beberapa pekerjaan untuk minggu depan. Jadi, besok bisa lebih santai."


"Dasar, ya? Padahal udah bikin orang khawatir. Jangan terlalu ngeforsir tubuh lah. Kerja yang sewajarnya aja."


"Iya maaf. At least karena aku lembur semalam, jadi dapat special service dari istriku."


"Ah, udahlah! Sana ke masjid. Udah hampir iqamah tuh. Nanti telat nggak dapat 27 derajat."


Adrian mencium pipi chubby Asyqar. "Kalau telat jamaah di masjid, yaa tinggal pulang lagi, kan masih bisa 27 derajat sama Mama dan Asyqar. Ya, kan, Nak."


Setelah bersiap, Adrian berangkat ke masjid dengan berjalan kaki bersama beberapa staff keamanan yang akan berganti shift pagi. Bersama dengan Asyqar, aku mendatangi kamar Harun. Baru berniat membangunkannya, tapi Harun sudah tidak ada di kamarnya. Aku lantas turun ke lantai bawah barangkali menemukan Harun di sana.


"Eh, Mba Rina lihat Harun nggak?"


"Adik anda sudah keluar dari rumah sebelum adzan subuh. Katanya mau cari masjid dekat sini. Lalu saya minta dua orang staff untuk menemani ke masjid."


"Ooh. Makasih ya, Mba Rina."


"Iya. Emm, itu ... apa perlu saya jaga kan Baby Asyqar untuk anda?"


"Nggak apa Mba Rin. Lanjutkan saja aktivitas yang lain, Asyqar biar sama saya aja. Sekalian kami menunggu Adrian pulang dari masjid."


Begitu aku dan Asyqar akhirnya bermain di ruang keluarga. Tenaganya yang semakin besar dan otot-otot di tubuhnya yang semakin kuat membuatku sadar bahwa puteraku itu sudah bisa merangkak cepat ke sana-sini. Meski cukup merepotkan, tapi tetap saja mengasuh bayi adalah hal yang menyenangkan. Apalagi jika bayi yang diasuh tak lain adalah buah hati kita sendiri.


"Assalamualaikum!"


Aku sedikit terkejut mendengar salam yang diucapkan ketus. "Waalaikumsalam."


"Harun ..., ada apa?" tanyaku pada Harun yang melangkah cepat hendak kembali menuju kamarnya.


Mendengar pertanyaanku, Harun berbelok ke ruang keluarga tempatku dan Asyqar bermain. Wajahnya masam kesal pada sesuatu, dan sepertinya sangat ingin menceritakannya padaku. Tapi di belakang, tak jauh dari kedatangan Harun, Adrian tertawa lepas.


"Kenapa? Ada apa?"


"Tanya Om Adrian tuh!"


"Heey, Kakak tanyanya ke kamu. Cerita buruan, ada apa sama Mas Adrian?"


"Huuuft. Kan tadinya aku cuma mau dengar suara orang yang ngaji di masjid. Terus tiba-tiba Om Adrian datang, dia bilang ke salah seorang di sana kalau aku ini biasa jadi muadzin. Terus aku diminta jadi muadzin subuh selama liburan di sini."


"Ya bagus dong ..., apa salahnya?"


"Salahnya, orang yang diberitahu sama Om Adrian adalah salah satu pengasuh di pesantrenku. Karena aku yang paling muda di kelas tahfidz Qur'an, sebenarnya aku nggak pernah dikasih kesempatan untuk jadi muadzin. Malu bangeeet."

__ADS_1


"Nggak apa-apa dong."


"Tuh, kan ..., dibilangin nggak apa kok. Nggak perlu malu-malu gitu." Adrian berdiri di belakang Harun.


"Ah udahlah. Kakak juga sama aja, nggak ngerti." Harun pergi melarikan diri. Sebentar, Adrian menatapku, lalu ia mengangkat kedua bahunya.


...----------------...


Pukul sembilan pagi, aku, Adrian, Harun, dan Asyqar keluar dari rumah. Kami sepakat mencari sarapan di luar, sebelum nantinya pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli ranjang baru Asyqar. Di resto yang belum jauh dari rumah kami, Adrian sudah memesankan tempat.


"Ehm, aku keluar bentar, ya?"


"Mau ke mana?"


Adrian serentak mengambil ponselnya dari atas meja. "Angkat telepon bentar."


"Oh. Okay."


Beberapa menit lamanya Adrian keluar dari restoran, meninggalkan meja kami. Hingga seseorang mendatangi meja kami yang kukira sebelumnya adalah Adrian.


"Udah selesai teleponnya, Mas?"


"Hanna?"


"Pak Rama?" Aku memaksakan senyum melihatnya.


"Sarapan di sini, juga?" tanyanya.


"I, iya Pak."


"Sama siapa?"


"Ini, anak saya, dan adik saya."


"Sama Adrian juga, ya? Tadi aku lihat di dekat parkir, ngobrol sama seseorang sebelum masuk ke sini."


"Iya. Mungkin urusan kerjaan."


"Aku kira kamu tipe istri cemburuan yang nggak akan izinin Adrian ngobrol berdua sama wanita lain loh. Ternyata kamu orangnya enggak begitu, ya?" Pak Rama tertawa kecil.


"Eh, rekomendasi paket breakfast untuk satu orang di sini enaknya apa, ya?" ucapnya cepat mengalihkan pembicaraan.


Setelah Pak Rama pergi ke mejanya sendiri, aku memutuskan untuk tetap tinggal di mejaku. Harun yang acuh tak acuh pada keadaan sekelilingnya, segera menyelesaikan sisa sarapan dengan cepat. Karena tak ada alasan untuk tetap tinggal di meja itu, aku segera membayar bill makanan kami, kemudian keluar bersama Harun, juga Asyqar yang duduk di stroller nya.


"Harun, jagain Asyqar, ya? Kakak mau ke toilet sebentar." Aku pergi menjauh dari Asyqar dan Harun. Menyusul Adrian yang mungkin masih ada di area parkir.


Di sana dapat kulihat Adrian berdiri, berbicara berhadapan dengan Aria. Tak kusangka wanita itu membuntuti kami sampai sejauh ini. Aku tak segera mendatangi mereka, kubiarkan dua orang itu mengobrol panjang hingga selesai. Setelah kulihat tersisa Adrian berdiri sendiri di sana, aku lantas menghampirinya.


"Aku udah bayar bill nya."


"Oh? Ah ..., ya udah, kita pergi sekarang?"


"Nggak ada yang perlu kamu jelasin dulu sebelum kita pergi?" Pertanyaanku sontak menghentikan senyuman palsunya.


"Jelasin?"


"Aria. Kenapa dia sampai tahu kita ada di sini? Kamu sampai keluar resto dan tinggalin makanan demi ketemu sama dia? Daritadi aku tungguin kamu nggak balik-balik, kamu ngobrol sama Aria, kan?"


"Kita nggak sengaja ketemu. Lagian kita bicarain tentang bisnis, bukan urusan yang lain."


"Bisnis apa lagi? Kemarin kan kamu bilang kalau urusan bisnis sama pekerjaan hanya akan dibahas di kantor. Ini sekarang kamu ngobrolin bisnis di sela waktu kita sarapan?"


"Kamu kenapa curigaan banget sih?"


"Kamu sendiri kenapa nggak bisa dipegang kata-katanya?"


"Om Adrian! Kak Hanna! Ade Asyqar ada sama kalian? Stroller nya kenapa ditinggal di depan pintu resto?


"Harun! Apa maksud kamu?"


"Stroller Ade Asyqar udah kosong waktu aku balik."

__ADS_1


"Kamu darimana? Kan tadi Kakak minta kamu jagain Asyqar?!"


"Aku diminta sebentar untuk bantu fotoin orang tadi. Kakak yang bawa Ade Asyqar, kan?"


__ADS_2