Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Hari Bahagia


__ADS_3

Pagi-pagi buta setelah selesai salat subuh, aku berjalan keluar dari rumah sakit untuk pulang ke rumah setelah memastikan Bunda tak lagi sendirian. Sonya, sopir wanita yang dikirimkan Hugo untuk mengantarku itu telah menunggu di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari pintu keluar rumah sakit. Lantas mobil itu membawaku kembali ke rumah yang hampir selalu kutinggalkan selama beberapa malam.


Namun, ada sesuatu yang berbeda saat aku masuk ke dalam bangunan megah serba abu-abu itu. Suasana yang sangat sepi dan hampir tak ada siapapun menyambutku. Setelah naik ke lantai tiga menuju kamar, masih juga aku tak menemui sesiapa di sana. Tak mau ambil pusing, aku segera mandi dan bersiap pergi ke kantor, sebelum Pak Erwin datang menjemput.


Kira-kira dua puluh menit setelah aku masuk ke kamar mandi, akhirnya ritual pagiku usai. Masih dengan kimono di atas lutut yang tak begitu rapat menutup tubuhku, Mas Adrian mengejutkanku dengan keberadaannya yang seakan muncul tiba-tiba. Tanpa suara pintu diketuk atau memang aku tak mendengarnya, saat itu Mas Adrian sudah duduk di tepi ranjang, menghadap pintu kamar mandi, sembari melihat ponsel.


Aku segera menutup rapat kimono yang kupakai. "Mas ..., ko di sini?" tanyaku perlahan mendekat.


"Kamu kenapa nggak bilang kalau udah pulang dari rumah sakit? Aku, kan bisa jemput."


"Ya, aku pikir kamu juga sibuk, dan nggak akan sempat buka HP, sekalipun aku kasih kabar."


"Ya udah, buruan gih pakai baju. Hari ini aku mau ajak kamu jalan," ungkapnya kemudian menyimpan ponsel itu ke dalam saku celananya.


"Mau ke mana? Hari ini aku harus ke kantor lagi. Berkas yang kemarin belum semua selesai aku periksa."


"Lupain aja dulu masalah kantor. Hari ini kita berdua jalan."


Berdua?


"Okay, kalau kamu bilangnya begitu. Aku akan siap lima belas menit lagi." Tanpa pikir panjang, aku berjalan cepat ke walk-in closet.


"Kamu bisa tunggu di bawah aja, okay?" tambahku agak berteriak dari dalam walk-in closet.


"Ya udah, iya."


Click! Suara pintu kamar ditutup dari luar, terdengar beberapa saat setelah kalimat itu terucap.


"Berdua, Aleesa! Adrian yang ajak jalan berdua! Oh my my ..., udah lama banget, kan, nggak ada momen-momen begini. Karena itu, mari manfaatkan sebaik mungkin. Aaaah! Berdua aja sama Mas Adrian!" Tanpa sadar aku melompat-lompat kegirangan di depan cermin setinggi dua meter itu.


Ini adalah momen langka yang sangat jarang terjadi. Apalagi ini bukan akhir pekan. Wah, sekarang aku merasa seperti wanita paling bahagia di dunia. Kira-kira Mas Adrian mau mengajakku ke mana, ya?


"You seem so happy that I asked you out?"


^^^~Kamu kelihatannya senang banget karena aku ajak jalan?^^^


"Kamu masih di sini? Ih curang! Bukannya kamu udah keluar, tadi?"


"Daritadi aku di sini, dengerin semua nyanyian, dan monolog kamu."


"Ih, Mas Adrian, curang ah! Malu tahu ...."


"Kenapa malu?" Ia mendekatiku yang menunduk untuk menyembunyikan wajah.


"Kamu kangen, kan, bisa berduaan lagi? Aku juga, ko. Dan aku akan selalu berusaha untuk cari waktu terbaik untuk kita berdua," tuturnya lantas memelukku hangat.


Pelukan ini, harum tubuh ini, suara detak jantung yang tak beraturan ini, dan napas yang hangat ini, aku bisa kembali merasakannya saja sudah sangat bersyukur. Beratnya membagi seseorang yang kucintai, sekarang aku baru merasakannya. Tapi sisi positifnya, aku bisa lebih menghargai waktu-waktuku bersama dengan Mas Adrian saat ini.

__ADS_1


"Cium aku."


"Apa?"


"Setelah selesai peluknya, cium aku." Aku mempererat lingkaran tangan di punggung lebarnya.


Terdengar suara Mas Adrian tertawa kecil. "Tanpa kamu minta pun aku bisa kasih sebanyak yang aku mau."


...----------------...


Sebelum kami keluar dari rumah, Mas Adrian sempat menghubungi Pak Erwin untuk menghandle pekerjaan kantor yang seharusnya menjadi tugasku. Ia juga menghubungi Hugo untuk memperketat pengamanan rumah ini selama kita pergi. Sebenarnya aku ingin bertanya kemana perginya Khadija dan asisten rumah tangga yang lain, termasuk Mba Rina, tapi sepertinya Mas Adrian sendiri tak ingin membahasnya.


"Mas, sebenarnya kita mau ke mana sih?"


"Kita mau pacaran. Udah lama, kan kita nggak pacaran berdua, jalan-jalan kayak anak muda."


"Kita berdua, kan, sama-sama nggak suka pergi ke tempat ramai? Emangnya kita mau ke mana?"


"Kemana-mana. Pokoknya jalan-jalan berdua. Dan sebelum itu ...."


Mas Adrian mengeluarkan kain hitam dari dalam tasnya. Ia sampai memakaikan kain hitam itu untukku. Kain hitam yang menutupi seluruh wajahku kecuali kedua mata. "Aku nggak mau istriku yang cantik ini dilihat oleh laki-laki lain, sampai menimbulkan syahwat dan jadi ladang dosa. Karena itu ... ditutup aja, ya? Kalau kamu ngerasa nggak nyaman, dilepas lagi nggak apa-apa."


Ah ..., kenapa Mas Adrian jadi manis begini sih!


Aku mengangguk setuju, menyipitkan mata tatkala bibir tersenyum.


Aku artikan, hari itu sebagai hari bahagia.


Kami benar-benar pergi berdua saja. Dan tujuan pertama kami adalah pusat perbelanjaan. Mas Adrian menawarkan banyak barang yang mungkin ingin kumiliki. Tapi, aku bukan tipe manusia yang cepat bosan dengan barang-barang seperti tas dan sepatu. Apalagi baju, rasanya masih banyak baju dan barang-barang lain yang belum sempat kupakai dari pemberian Mas Adrian.


"Ini sepatu kayaknya bagus buat kamu. Masa sih kamu nggak mau beli apa-apa?"


"Di rumah masih banyak yang belum kepakai, Sayang ..., kita cari barang yang lain aja yang lebih bermanfaat, ya?" tolakku halus.


Ia mengembalikan benda itu ke tatanan rak. Meski tak menunjukkan kecewa secara langsung, tapi dari sorot mata itu aku tahu ia tak terima dengan penolakan ku. Selanjutnya kami pergi ke zona permainan, mencoba basket, bowling, dan berbagai permainan yang akhirnya bisa membuatku lepas pada beban di pundak ini.


"Ternyata gampang banget bikin kamu bahagia gini. Aku aja yang belum ngerti."


Aku menggenggam erat tangan itu, berjalan di depan dengan sengaja untuk mempercepat langkah kaki Mas Adrian. "Abis ini kita ke mana? Next place?"


Mas Adrian berdiri menatapku. Tangannya tak mengizinkanku berjalan pergi. "Nggak adakah yang kamu inginkan di antara banyak benda yang belum kamu miliki?" tanyanya dengan nada sedih dan kecewa.


"Nggak ada. Aku udah punya semua. Kamu udah beliin semua yang aku butuhkan."


"Satu aja. Tolong biarin suamimu ini membelikan sesuatu untuk istrinya. Ya?"


"Ya udah .... Kamu boleh beliin aku sesuatu, tapi satuuu aja, nggak boleh lebih." Aku tersenyum memandangi wajah sedihnya.

__ADS_1


"Dua deh."


"Satu ajaa."


"Dua." Adrian menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


"Okay, dua." Pada akhirnya aku yang mengalah setelah ia merajuk seperti itu.


"Yes!" Ia menarikku. Wajahnya berubah menjadi antusias seketika membawaku ke salah satu band sepatu pilihannya.


Jujur, aku tak begitu tertarik membeli barang branded karena banyak alasan mendasar. Pertama, masih ada banyak barang yang belum pernah kupakai dari pemberian Mas Adrian di awal pernikahan kami. Kedua, aku tidak terlalu suka mengikuti trend. Ketiga, aku bukan seorang publik figur yang mengutamakan penampilan, dan bisa dengan mudahnya membuang satu baju yang baru dipakai satu kali.


Selama dua setengah jam memilih dua jenis barang untukku, akhirnya kami keluar juga dari pusat perbelanjaan itu. Tujuan kami selanjutnya adalah golf. Aku yang suka olahraga dan tak memiliki cukup ruang untuk berolahraga tanpa dilihat oleh yang bukan mahram, akhirnya bisa menikmati olahraga di lapangan golf yang luas itu. Tak pernah kukira Mas Adrian bisa sampai memperhatikanku seperti itu.


Sama halnya dengan kolam renang di dalam kamar yang terdengar seperti sesuatu yang mustahil. Karena tahu aku sangat suka berenang, ia sampai merogoh kocek yang tak sedikit untuk membuat kolam renang di dalam kamar.


Belum lama kami berada di lapangan luas nan hijau itu, ponsel Mas Adrian berbunyi. Nama Pak Erwin tampak di layarnya, sehingga aku segera memintanya untuk menerima panggilan itu.


[Voice Call]


Adrian Al-Faruq : Ada apa?


Erwin : Maaf Pak, baru saja saya meninggalkan kantor menuju ke rumah sakit. Istri sa-, maksud saya, Agatha sepertinya akan menjalani operasi cesar, jika memang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal.


Erwin : Sekarang saya sedang perjalan ke rumah sakit. Dan lima belas menit lagi, akan ada meeting dengan klien di ruang pertemuan lantai tujuh. Saya mohon maaf, tapi, anda atau Nyonya harusnya bisa segera kembali.


Adrian Al-Faruq : Baru kali ini, ada sekretaris yang berani memberi perintah kepada Bossnya sendiri.


Erwin : Maaf, Pak. Keadaan ini sangat mendesak.


Adrian Al-Faruq : Iya, iya ..., selesaikan saja dulu masalahmu.


Erwin : Terimakasih, Pak.


[Call Ended]


Mas Adrian menutup teleponnya. Karena suara Pak Erwin juga sanggup kudengar, maka ia tak perlu mengulang apa yang dikatakan Pak Erwin. Aku segera mengemasi barang-barangku, bersiap pergi.


Aku memegang bahu kiri Adrian yang naik-turun. "Udahlah, nggak usah marah. Yang penting udah bisa berduaan, kan?"


"Aku nggak marah kok ..., ayo kerja!" Aku mengajaknya segera kembali ke mobil dan pergi ke kantor.


Meski baru sebentar, bagiku sudah sangat cukup. Lagipula aku takkan mengeluh jika harus dipaksa kembali ke kantor, toh Mas Adrian masih bersamaku. Tapi ia sama sekali tak berbicara sejak kami melangkah dari lapangan golf sampai masuk ke mobil, hingga mobil itu membawa kami ke arah jalanan besar.


"Maaf, selalu saja ada interupsi," ucapnya setelah melajukan mobil setengah jalan menuju kantor pusat AA Corps.


"Aku kan udah bilang, aku nggak apa-apa."

__ADS_1


Sampai di kantor, kami berdua hampir terlambat. Namun berkat pertolongan Allah, kami bisa sampai ke tempat pertemuan, satu menit sebelum klien memulai presentasinya. Di ruangan itu, beberapa saat perhatian sempat teralih pada kami. Atau khususnya padaku. Pasalnya, sejak kami bersenang-senang tadi, aku sampai tak sadar kalau masih memakai niqab. Sementara yang kita tahu, konotasi niqab sendiri masih sangat awam di kalangan masyarakat kita. Bisa saja mereka mengiraku ******* yang diam-diam menyelundupkan bom di ruangan itu.


__ADS_2