Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Bertamu


__ADS_3

"Assalamu'alaikum warahmatullah."


"Wa'alaikumsalam ..., ayo masuk."


"Iya Tante. Tante Jihan udah lama di sini?"


"Baru kemarin sore kok. Ummi kamu butuh teman, jadi tante inisiatif ke sini. Kalian kok lama banget sih? Jalanan macet, ya?"


"Ya, kurang lebih begitulah, Tan."


"Anna, kan ya, namanya?"


"Hanna, Tante."


"Oh iya ... Hanna, Anna, mirip-mirip lah .... Gimana? Udah isi belum? Yah, Tante tahu kamu masih muda banget, tapi jangan lupa sama umur suami kamu. Adrian itu udah waktunya jadi ayah. Mungkin sepuluh tahun lagi, dia udah cocok dipanggil kakek. Hahaha ...."


"Eh, sini! Hanna duduk dulu sini. Biar Adrian ketemu sama Umminya dulu, kamu sama Tante," pinta Tante Jihan menunjuk sofa kosong di sebelahnya.


"Iya, Tante." Aku menurutinya duduk di sana meski dengan sedikit rasa terpaksa.


Kulihat Mas Adrian segera pergi ke kamar Ummi sementara aku duduk di sebelah Tante Jihan. Sesuai dugaan, Tante satu ini memang bukan tipe yang pendiam. Tante Jihan adalah orang yang cenderung mengatur arah obrolan sesuai keinginannya. Selain banyak bicara, umpan pancingannya selalu termakan oleh lawan bicara hingga ia selalu menguasai dan begitu mudahnya mengatur arah pembicaraan.


Mau bagaimana pun dia adalah Tante Adrian, juga sekarang menjadi bagian dari kerabatku. Wanita itu adalah adik Ummi (yah ... walau hampir tak ada persamaan dari mereka berdua). Meski terbilang masih muda, tapi ia telah menjadi janda sejak beberapa tahun yang lalu. Suaminya meninggal karena memiliki riwayat diabetes. Kehadirannya di tengah keluarga besar Adrian selalu menjadi peramai suasana.


“Kalian udah pernah berantem, selama beberapa bulan pernikahan kalian ini?”


“Ah .., itu …, ya, beda pendapat pasti ada, Tan.”


“Ah iya juga. Nggak mungkin sih kalau rumah tangga nggak ada kendala. Tapi biasanya kalau masih awal-awal gini belum terlalu ngerti satu sama lain, jadi lebih gampang maaf-maafan. Nanti kalau udah tahu jeleknya satu sama lain, biasanya lebih heboh lagi berantemnya. Dan maaf-maafannya jadi ngga semudah awal pernikahan.”


“Tapi nggak usah takut, yang begitu itu wajar. Bumbu rumah tangga rasanya emang beda-beda. Nanti juga kalian bakal ngerasain sendiri. Siap-siap aja dari sekarang, biar nggak kaget.”


“Iya, Tante.”


“Oh iya, maaf nih ya, Tante mau nanya aja nih. Jarak umur kalian berdua berapa sih?”


“Oh, itu ….”

__ADS_1


“Nggak perlu merasa tersinggung. Sebenarnya Tante Jihan cuma penasaran aja. Soalnya pernikahan kalian yang sederhana kemarin itu sempat jadi trending topik di keluarga besar Adrian. Habisnya, kan dadakan, dan mereka juga pada belum kenal sama kamu. Sempat ada yang bilang katanya jarak kalian jauh gitu.”


“Mungkin kalau dari pandangan masyarakat awam, memang jarak usia kami cukup jauh. Tapi kami berdua nggak keberatan dengan jarak empat belas tahun.”


Tante Jihan membulatkan matanya seketika. Untungnya saat itu ia tak sedang meneguk minumannya. Mungkin beliau akan benar-benar tersedak jika hal tersebut benar terjadi. Ia tampak gelagapan setelah mendengar “EM PAT BE LAS TA HUN”.


“Ternyata kamu masih kecil, ya? Kok orang tua kamu tega sih nikahin anaknya padahal masih kecil? Eh, ah. Hahhahaha, aduh, mmaksud Tante …, ah, maaf, Tante cuma kaget aja. Tapi yang namanya cinta, ya …, nggak masalah selisih usia berapa pun. Ya, kan?”


“Iya, Tante. Doa in aja.”


“Oh iya, kamu kerja atau …, jadi ibu rumah tangga?” tanyanya berlanjut.


“Maunya sih kerja, Tan. Tapi Mas Adrian belum kasih izin, jadi untuk sementara ini saya jadi Ibu Rumah Tangga aja.”


“Oh gitu …, tapi nih, ya …, kalau Adrian bilang ‘Gini’ jangan melulu kamu turuti. Bukannya Tante mau ikut campur urusan keluarga kamu, tapi, Tante tuh ngerti sifatnya Adrian yang begitu. Dari dulu, dia sering nyembunyiin masalah. Bahkan dulu, dia sempat depresi waktu kekasihnya kecelakaan, tapi keluarganya pun nggak tahu.”


Kekasih? Siapa? Kok Mas Adrian nggak pernah cerita? Astaghfirullah ..., sabar Aleesa. Jangan terpancing, lebih baik dnegar ceritanya dari Mas Adrian langsung aja.


“Kadang, Adrian bilang ‘nggak usah’ ketika kita menawarkan bantuan, tapi sebenarnya dia cuma nggak mau ngerepotin orang yang dia sayang. Kalau sama Adrian emang harus ngertiin luar dalamnya. Kalau baru kenal satu atau dua tahun aja, belum bisa ngertiin Adrian”


“Dulu, Tante ingat banget, Adrian paing suka bikin huru-hara di sekolahnya sampai akhirnya dia masuk asrama. Dan dulu dia terkenal playboy, hahaha …. Bahkan kalau bukan kerabat pun, anak Tante udah mau dinikahin sama Adrian.” Tante Jihan kembali tertawa diakhir kalimatnya.


Tangan Tante Jihan menepuk pahaku tiba-tiba. “Tapi jangan cemburu. Meski dia dulunya playboy, sekarang udah nggak kok. Sebelum menikah sama kamu, Adrian memang putus dari kekasihnya yang udah menjalin hubungan enam tahun. Jadi, menurut Tante, Adrian itu orangnya setia sih. Sama yang dulu aja sampai enam tahun, harusnya sama kamu bisa lebih setia dong.”


"Aleesa? Masih di sini?"


"Keadaan Ummi gimana, Mas?"


"Ummi masih tidur, aku nggak enak mau bangunin. Kamu juga istirahat aja dulu."


"Oh iya, Mas. Tasnya masih di mobil-"


"Nggak apa-apa biar aku aja yang ambil."


"Sebentar, ya, Tan. Hanna ke depan dulu." Aku segera berdiri meninggalkan Tante Jihan. Mengikuti Mas Adrian ke depan cukup jadi alasan terbaik untuk menghindar saat ini.


"Udah dibilang nggak papa, biar aku aja yang ambil. Kamu nggak percayaan banget, sih." Mas Adrian menjinjing tas berisi pakaian kami berdua menuju ke dalam.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Mas. Justru kamu lebih kelihatan cape tuh kayaknya." Aku mengikuti Mas Adrian menuju ke kamar, pura-pura tak melihat Tante Jihan agar ia tak menahanku lagi.


"Kamu menghindar dari Tante Jihan?"


"Ah, gimana, ya ..., soalnya Tante Jihan ngobrolin topik yang nggak mau aku bahas."


"Sabar, ya, Tante Jihan emang gitu orangnya. Tapi dia baik kok. Mending sekarang kamu istirahat dulu deh, Sayang ...."


"Iya, aku cape banget sejak pindahan kemarin. Aku pakai kamar mandi duluan, ya?"


"Iya, jangan lama-lama." Mas Adrian menutup kedua matanya seraya merebahkan badan di ranjang, sementara aku segera ke kamar mandi.


Apalagi di momen seperti ini, rasanya sangat tak nyaman bila jauh-jauh dari kamar mandi. Beberapa menit saja di dalam kamar mandi, aku sudah selesai menuntaskan hajatku. Keluar dari sana, badan rasanya lebih fresh. Dan yang ada hanya pikiran untuk segera merebahkan badan, melepas rasa pegal dan capai.


"Udah, Mas." Suaraku membangunkan Mas Adrian dari rebahannya. Beberapa saat kemudian ia segera bangkit ke kamar mandi dan keluar dengan wangi maskulin body wash yang sama yang ia pakai setiap hari. Sementara Mas Adrian mencari baju gantinya, aku bersembunyi di balik bantal, menutupi wajahku yang lebih mirip dengan kepiting rebus. Mau bagaimana, aku masih takut-takut dan malu ketika melihat Mas Adrian telanjang dada seperti sekarang ini.


Sembari mengancingkan bajunya, Adrian menghadap ke arahku. "Sayang ..., udah tidur, ya?"


"Be, belum kok."


"Ya udah, kamu lanjutin aja istirahatnya, aku tinggal dulu, ya."


"Eh! Kamu nau ke mana?"


"Mau salat dzuhur di masjid, sekalian beli makan siang buat kita."


"Beli? Kenapa nggak masak aja?"


"Tadi aku cek di kulkas, bahan-bahan masakan banyak banget yang nggak kepakai, kelihatannya Ummi berhenti pakai jasa koki. Dengan kondisi Ummi sekarang, ditambah Tante Jihan yang nggak pernah masak, kita harus beli makan siang di luar."


"Di kulkas ada apa aja? Biar aku yang masak."


"Tapi katanya cape banget."


"Nggak jadi cape." Aku mengambil hijab yang baru saja kulepas, kemudian bangkit berdiri.


Mas Adrian tersenyum beberapa saat sebelum akhirnya mengantarku ke dapur yang ada di rumah ini. "Selamat berperang. Aku salat dulu, ya .... Nanti pulang dari masjid, kalau masih ada yang kurang aku bantu." Pamitnya pergi.

__ADS_1


__ADS_2