Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Sahabatku -2-


__ADS_3

Pukul tujuh malam, aku dan Khadija telah kembali ke rumah monokrom itu. Bertepatan dengan kedatangan kami, Ummi tampaknya baru saja hendak pamit akan pulang. Aku segera keluar dari mobil dan menyapanya sebelum terlewat.


"Ummi.., sudah mau pulang? Nggak menginap di sini aja malam ini?" sapaku segera mencium tangannya.


"Kamu dari mana, Hann?" ucapnya balik menanyaiku.


"Ini Ummi, barusan antar Khadija sahabatnya Hanna, untuk beli beberapa pakaian."


"Gimana keadaan calon cucu Ummi? Hari ini kamu baru ke dokter kandungan lagi, kan? Udah ada perubahan apa gitu?"


"Itu.., tadi siang-"


"Ummi.., kan tadi Adrian udah bilang, kata dokter Hanna dan kandungannya baik-baik aja. Kalau masih delapan minggu emang belum ada perubahan signifikan. Ya, kan, Sayang?" Adrian merengkuh bahuku dari belakang.


"I, iya Ummi. Alhamdulillah semuanya baik-baik aja kok."


"Bagus deh kalau gitu. Kamu banyak istirahat, ya, Hanna. Jangan cape-cape."


"Iya, Ummi juga."


"Ya udah Ummi pamit pulang dulu. Soal yang tadi, jangan lupa kamu kasih tahu Hanna juga," tambah Ummi kepada anak bungsunya itu.


"Iya, Ummi... Inshaa Allah."


"Sudah, ya, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu."


Kami berdua mengantarkan kepergian Ummi dari rumah kami hingga mobil hitam yang membawanya keluar tak lagi tampak dari tempat kami berdiri. Seperginya Ummi, aku baru akan menanyakan perihal kata-kata Ummi tadi kepada Adrian. Tapi pria itu justru melepaskan rengkuhan tangannya dan masuk ke dalam rumah begitu saja.


Masa dia marah karena aku pulang telat? Pikirku sekilas. Aku pun meminta Mba Puput kembali menemani Khadija ke kamar serta membawa barang belanjaan yang kami beli selama beberapa jam pergi ke pusat perbelanjaan di dekat sini. Aku mengecek ponselku dari dalam tas dan kulihat belasan panggilan tak terjawab dari Adrian selama aku sibuk belanja.


"Marah beneran, ya?" gumamku lirih lantas masuk ke dalam rumah.


Di dapur, aku memperlambat jalanku saat kulihat Adrian duduk di sana sembari menuangkan air ke gelasnya. Perlahan aku mendekatinya, tepat ketika aku mendudukkan tubuhku di kursi yang berhadapan dengannya, ia serentak pergi. Bakal susah nih, kalau menghindar terus kayak gini. Pikirku kesal.


Selama hampir tiga jam aku belum berani naik ke kamar. Tas masih aku letakkan di lantai ruang keluarga, sedang aku sendiri duduk bersandar dengan setengah tubuh tertutup selimut menikmati acara TV. Tentu saja arah mataku dan arah pikiranku bertentangan saat itu. Remot yang kupegang di tangan sesekali kutekan salah satu tombolnya agar tampak seakan aku benar-benar menikmati acara TV itu.


"Sampai kapan kamu nggak mau masuk kamar? Kenapa?" Suara Adrian datang dari belakang menghampiriku.


"Mas? Kamu belum tidur?" Aku memperbaiki posisi dudukku segera.


"Kenapa nggak masuk kamar? Mau tidur di sini?" tanyanya ketus.


"Abis ini aku naik ke kamar. Tanggung banget acara TV nya bentar lagi selesai nih," ujarku beralasan.


"Sejak kapan kamu nonton TV? TV di kamar aja kamu nggak tahu cara nyalainnya. Kamu menghindar?"


"Hah? Enggak kok. Aku kira kamu perlu ruang untuk sendiri, jadi aku sengaja-"


Tak kusangka respon Adrian akan seperti itu selepas mendengar alasanku yang belum selesai kuucapkan. Pria itu bukannya pergi, justru duduk di sebelahku, menyamai posisiku duduk. Bahkan ikut bergabung dalam selimut itu.


"Bukannya udah pernah nonton film ini, ya, sebelumnya? Yang trilogi itu, kan? Bahkan kalau nggak salah kita juga ada di Home Theater," celotehnya tanpa canggung sembari memandang lurus ke depan.


Dari posisiku duduk saat ini, aku bisa melihat wajah sampingnya yang masih selalu mempesona. Tanpa sadar, aku menarik senyum di wajahku. Tak perlu waktu lama sampai kepalaku secara otomatis bersandar di dadanya yang berdebar. Secara otomatis pula, tangannya mengusap-usap kepalaku lembut.


"Maaf, ya, Sayang..."


"Apa? Barusan kamu ngomong apa? Aku nggak dengar." Melihat tingkahnya yang disengaja itu, aku tak mengulangi kalimatku tadi.


Film terus berjalan sampai tak ada lagi benteng kecanggungan yang berdiri membatasi kami. "Ummi mengadakan santunan yatim-piatu besok malam, kita akan ke sana. Acara itu untuk kamu."


"Kok buat aku?"

__ADS_1


"Intinya mah untuk syukuran atas kehamilan kamu. Makanya, besok siang kita harus datang ke rumah Ummi." Adrian mencubitku gemas.


"Ummi sampai ngelakuin itu buat aku? Yahh, aku jadi nggak enak banget sama Ummi. Padahal banyak di luaran sana menantu yang nggak seberuntung aku mendapat mertua sebaik Ummi,” sesalku.


"Udahlah, Ummi juga pasti bisa ngerti setelah aku cerita semua tentang kamu dan sahabat kamu hari ini."


"Kamu udah cerita tentang aku dan Khadija?"


"Tenang aja…, aku udah ceritain semuanya. Dan kamu bukan di posisi yang buruk."


"Terus? Respon Ummi gimana?"


"Ummi nggak mempermasalahkan soal itu sih. Ummi juga, kan, dulunya pernah punya sahabat. Emang sih, tadi Ummi agak jutek waktu tahu kamu nggak ada di rumah, tapi beliau pasti maklum akhirnya," tutur lugas Adrian.


"Kamu bela-in aku lagi di depan Ummi. Makasih, ya."


"Apa? Kamu barusan bilang apa?"


"Terimakasih, Sayang..."


"Hah? Apa? Yang kenceng dong ngomongnya, aku nggak dengar." Adrian mengeraskan suaranya sembari memiringkan kepala.


Dengan tingkah yang makin ngeselin itu, aku menatapnya dingin seraya bangkit dari posisi bersandar. Atas Inisiatifku, aku berpindah duduk ke atasnya, mencium bibir itu dengan kedua tanganku menahan pada sofa tempatnya bersandar pasrah. Semakin lama, semakin dalam pula ciuman itu kuberikan.


Setelah melepasnya, kami berdua sama-sama mengatur napas yang tersengal. "Kamu manis," katanya menarikku hingga ia membalik keadaan, mengungkung tubuhku di sofa.


"Sayang.., nanti ada yang lihat." Aku menahan dada bidangnya sedikit menjauh dariku.


"Siapa yang akan masuk ke sini malam-malam begini?" tanyanya kembali menciumi sekitar leherku yang kini telah terekspos.


"Sayang!" erangku tak sengaja keluar ketika Adrian menyentuh bagian kulitku yang cukup sensitif.


"Apa? Masih kurang?" Pertanyaan itu membuatku merinding seketika.


"Ke kamar, yuk! Udah malam. Kamu juga perlu istirahat," ajak Adrian seraya bangkit, membawa serta tasku, dan berjalan ke kamar mendahuluiku.


*****


Ketika pagi tiba, semua telah kembali normal seperti biasa. Karena subuh itu hujan deras mengguyur daerah sekitar tempat tinggal kami, Adrian memutuskan salat di musholla rumah bersama denganku, Mba Rina, Mba Puput, serta Khadija. Dengan surah Yusuf dan surah Al-Mulk yang dibaca, mengawali pagi kami.


Seusai menunaikan salat subuh, cuaca sangat mendukung untuk kembali ke tilam masing-masing. Baru hendak meraih Al-Qur’an di atas meja, rasa mual memaksaku berlari ke kamar mandi. Mungkin sebagian besar ibu hamil juga merasakannya. Selama beberapa menit aku hanya berdiri di kamar mandi, namun tak juga ada yang bisa aku keluarkan.


Adrian baru datang beberapa saat setelah mendengar suaraku di dalam kamar mandi. “Kamu nggak apa-apa? Perlu apa, biar aku bantu?”


Tanganku mendorong pria itu menjauh, sampai ia keluar dari kamar mandi, dan aku menguncinya dari dalam tanpa menjawab tawarannya. Setelah semuanya sudah lebih baik, aku membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi.


“Kamu kalau perlu sesuatu bilang aja,” sambutnya ketika aku keluar dari kamar mandi.


“Kamu…, sejak kapan di sini?” tanyaku membulatkan mata.


“Dari tadi. Aku nungguin kamu nggak keluar-keluar, aku mau masuk malah kamu usir.” Katanya menyerahkan selembar handuk putih.


“Iiih …, kamu jahat banget sih, Mas.” Aku berjalan ke ranjang menahan kesal.


Adrian mengikutiku “Loh? Loh? Kok jahat? Aku khawatir kamu kenapa-napa.”


Aku meringkuk di tempat tidur, menyembunyikan wajahku karena tak bisa menahan malu. Beberapa kali Adrian mencoba melepaskan bantal yang kugunakan untuk menutup wajahku, tapi berkali-kali juga aku merebutnya kembali.


Setelah cukup lama kami saling diam, akhirnya Adrian kembali berbicara, tanpa merebut bantal yang kupeluk. “Kenapa sih? Aku nggak bisa ngerti kalau kamu tiba-tiba kayak gini.”


“Aku tuh malu, Adrian,” cetusku.


Ia tertawa kecil. “Kamu sampai panggil namaku langsung. Malu kenapa?” tayanya masih memunggungiku.

__ADS_1


“Ish! Aku tuh nggak mau kamu lihat aku puke. Aku jelek banget kalau lagi begitu, pasti juga bau. Aku nggak mau,” suaraku perlahan berubah menjadi isakan.


“Kamu itu cantik, Sayang, emang aku pernah bilang kamu jelek?”


“Tapi aku nggak mau bikin kamu ilfeel,” lanjutku makin terisak.


“Hey, Aleesa. Selama setahun aku lihat wajah kamu waktu tidur. Aku lihat kamu yang baru bangun tidur. Aku lihat kamu yang tanpa make up, emang aku pernah bilang kamu jelek? Kamu itu selalu cantik, Sayang.”


“Ketahuan gombal banget.”


“Bukannya gombal. Aku emang nggak peduli dengan penilaian kamu terhadap diri kamu sendiri. Karena aku juga punya penilaianku sendiri. Dan bagiku kamu cantik. Udah.”


“But my body isn’t as good as Johana. I’m not pretty as Johana.”


^^^~Tapi tubuhku nggak sebagus Johana. Aku juga nggak secantik Johana.^^^


“Who cares about Johana or anyone else?”


^^^~Siapa yang peduli soal Johana atau siapa pun itu?^^^


“But the way you look at Johana and look at me differently,” seringaiku tajam.


^^^~Tapi caramu melihat ke Johana dan aku berbeda.^^^


“Kenapa harus membandingkan diri kamu dengan Johana? Cantik yang kulihat bukan 100% dari fisik, kan? Sama kamu aku nyaman, sama kamu aku tenang, lihat kamu senyum aja aku bahagia.” Adrian berbalik badan sehingga kami tidak saling memunggungi lagi.


"Lagian menurutku kamu udah sempurna kok. Ada beberapa bagian tubuh kamu juga yang jadi favoritku." Ucapnya terkikik.


"Jangan becanda!"


“Nggak becanda. Kamu tuh mau pakai piyama, mau pakai gamis, mau pakai daster pun tetap cantik buatku.”


“Benar?”


“Serius …,” ungkapnya mengangkat kedua jari.


“Lebih cantik lagi kalau pakai lingerie hitam.” Adrian bergumam lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya jelas. Tanganku spontan memukulnya, lantas ia tertawa.


Cup!  “Sekarang kamu maunya apa?” tawarnya lembut.


“Baby mau dengar surah Yusuf dan Maryam. Tapi harus suara dari Papanya langsung. Boleh, ya?” pintaku manja.


“Okay-okay…, sini dong deketan. Cari posisi yang nyaman dulu.”


Hingga hujan mulai mereda dan sinar matahari masuk melalui celah gorden, aku berbaring di pangkuan Adrian seraya mendengar suaranya melantunkan surah Yusuf dan Maryam. Suaranya memberiku ketenangan, dan aku yakin baby di dalam perut ini juga senang mendengarnya. Hebatnya lagi rasa mualku berangsur hilang perlahan.


Namun karena hidup ini tak hanya sekedar berduaan dan bersenda gurau, kami berdua kembali melanjutkan kegiatan kami seperti pagi-pagi sebelumnya. Sebelum matahari bersinar lebih terik, kami berlanjut dengan dua belas rakaat duha, baru turun untuk sarapan.


“Hari ini aku antar kamu ke kantor, ya? Sekalian aku mau beli sesuatu.”


“Yah, kalau kamu nggak ada kerjaan nggak apa-apa sih. Terus nanti Agatha gimana?”


“Kamu bilangin, hari ini aku yang antar kamu.”


“Ya udah, kamu turun duluan aja. Biar aku telepon Agatha,” ujarku melipat mukena yang baru selesai kukenakan.


Adrian menurutiku dan turun lebih dulu, sementara aku menghubungi Agatha. Setelah berbincang beberapa saat, dan ia mengerti akan perintahku, aku pun turun untuk menyusul. Sepertinya memang aku perlu adaptasi dengan rumah ini. Daripada lift yang dipasang di rumah ini, aku memilih menggunakan tangga untuk turun.


Di meja makan, Khadija duduk diam, sepertinya ia menungguku. Mba Rina seperti biasa membantu menyiapkan sarapan bersama Mba Puput. Sedangkan Adrian berdiri di depan pintu kulkas entah apa yang dilakukannya. Pelan aku berjalan menuju meja makan yang hanya tinggal beberapa meter lagi, Khadija berjalan cepat ke arahku.


“Pagi, Khadija. Gimana tidur semalam? Nye–”


Plak!

__ADS_1


“Ah!” Aku tertunduk menahan panas yang baru saja menghantam pipi kiriku.


__ADS_2