Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Hari Baru


__ADS_3

Suara adzan sayup-sayup terdengar di kejauhan, tapi kantuk ini masih menguasaiku. Namun ketika kedua mata kupaksakan untuk terbuka, tersentak aku mendapati Mas Adrian berlutut di lantai kamar, memandangi perutku. Ini mimpi kah?


Ketika aku mencoba membuka mata perlahan, ia langsung melihat padaku. "Assalamualaikum ..., selamat pagi, Mama Aleesa."


Aku tertawa kecil mendengar suara itu. "Wa'alaikumsalam ...,"


"Kok nggak panggil aku Papa Adrian?"


"Iya ..., selamat pagi, Papa Adrian."


"Ih gemes. Bangun, yuk! Salat subuh dulu. Hari ini kita bakal sibuk banget sama acara tasyakuran si baby."


"Iya ..., ini juga udah mau bangun kok," ujarku beranjak dari tempat tidur.


Dengan sigap, Adrian membantuku berdiri. "Perlu aku bantu sampai kamar mandi?"


"Sebelumnya juga aku biasa aja ke kemana-mana sendiri. Udahlah, jangan terlalu berlebihan."


"Ya udah, iya .... Hati-hati ya. Aku berangkat ke masjid dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullah."


Bagaimana caraku menjelaskannya, bahwa pagi ini sangat indah. Aku teramat bersyukur atas perlakuan lembut dan perhatian Adrian padaku. Seperti momen-momen awal pernikahan kami.


Inisiatifku pagi ini, aku ingin memasak sarapan di dapur yang sudah berminggu-minggu kutinggalkan. Menu pagi telur orak-arik dan roti gandum sudah sangat pas untuk mengawali pagi ini. Sibuk kaki dan tanganku mempersiapkan sarapan, Adrian datang dari ruang gym menghampiriku.


“Sudah kubilang, kamu harus banyak istirahat, jangan cape-cape. Kenapa malah masak?”


“Oh ayolah …, aku cuma masak. Sama sekali bukan pekerjaan yang berat, Sayang.”


“Kalau gitu, sini. Biar kubantu.” Ia berjalan mendekat.


Dengan cepat aku menahannya untuk mendekati masakanku di meja kompor. “Stop! Nggak mau! Mandi dulu sana!”


“Ih, aku tadi udah mandi kok. Sini, kubantu, ya?” Jahilnya semakin menjadi melihat responku.


“Mas …, nggak lucu, ya. Kalau sekarang juga kamu nggak menjauh dari sini, nanti malam tidur di kamar tamu.”


“Yah. Ancamannya gitu.” Seketika ia tak lagi memaksa.


Baru beberapa hari yang lalu aku menyadari tentang kemampuan indra penciumanku yang semakin meningkat. Saat ini, jangankan bau parfum, keringat Adrian saja sudah bisa kucium dari jarak lima meter. Ini juga menjadi alasanku lebih sering mandi, karena bertemu banyak orang, dan berkeringat, rasanya sangat tak nyaman.


Perubahan lain yang kurasakan selama kehamilan ini, sepertinya berat badanku mulai bertambah, dan aku semakin doyan makan. Apalagi akhir-akhir ini pula aku sering merasakan sembelit dan bolak-balik ke kamar mandi. Tapi dokter bilang, itu hal yang wajar untuk ibu hamil, dan semakin ke sini, akan semakin banyak hal-hal yang berubah dari diriku.


Morning sickness atau mual dan muntah di pagi hari yang sebelumnya sangat parah, kini berangsur mulai berkurang. Tapi mual itu bisa tiba-tiba datang, saat hidung mencium bau-bau tak sedap atau parfum yang terlalu menyengat. Setidaknya itulah yang kurasakan sampai dengan detik ini.


“Selamat pagi, Nyonya.”


Seketika mataku berputar mencari sumber suara. “Agatha? Sepagi ini?”


“Sebenarnya saya sudah ada di sini sejak subuh, untuk mengatur persiapan acara anda hari ini. Apakah anda sedang memasak untuk sarapan?” tanyanya melongok pada piring di meja.


“Iya. Sudah lama dapur ini tidak kupakai. Di mana Erwin?”


“Di lantai bawah, mempersiapkan aula sekaligus menjaga Dena.”


“Kalian mengajak Dena?” tanyaku antusias.


“Benar. Rasanya tak tega meninggalkan Dena hanya berdua dengan pengasuhnya di rumah.”


“Kalimat itu terdengar seperti bahasa seorang Ibu,” kataku menatap Agatha dengan senyuman.


“Anda akan segera mengerti rasanya, dalam tujuh bulan lagi.”


“Apa ada yang bisa saya bantu? Pak Adrian yang meminta saya untuk membantu anda di sini,” tambahnya.


“Tidak ada. Masakannya sudah jadi, hanya perlu menunggu sampai waktu sarapan tiba.”


Ketika hari semakin siang, Ayah-Bunda, Ummi, dan saudara-saudara lain mulai berdatangan. Ada yang membawakanku hadiah, padahal aku tak memintanya. Ada yang masih penasaran dan bertanya-tanya tentang bagaimana aku bisa hamil setelah diagnosis itu. Pun ada yang meminta maaf sembari menangis memelukku. Ummi.


Ummi adalah ibu mertua yang baik. Sejak awal, ia selalu memperlakukanku seperti anaknya sendiri, dan berbicara seolah kita adalah teman akrab. Lalu saat-saat di mana ia mulai hilang kepercayaan padaku menantunya, beliau mulai berubah. Hari itu, Ummi meminta maaf akan sikap kurang baik yang beliau tunjukkan sebagai serang mertua. Sementara bagiku, kesalahan itu bukanlah satu hal yang besar sampai menutupi semua kebaikan yang pernah Ummi lakukan. Jadi, bukan lagi hal besar lagi untukku memaafkan.

__ADS_1


“Kalau Bunda dulu, waktu mengandung kamu ngidamnya makan makanan pedas. Hari-hari pun Ayahmu ini selalu beli cabai,” cerita Bunda.


“Loh, sama. Saya juga dulu waktu mengandung Adrian ngidamnya makan makanan pedas. Rasanya makanan nggak bisa masuk mulut kalau nggak ada cabai. Padahal sebelumnya, saya ini bukan orang yang bisa makan makanan pedas,” papar Ummi menambahkan.


“Terus, setelah aku lahir, Ummi masih suka makanan pedas?” tanya Adrian.


“Setelah kamu lahir, Ummi balik lagi jadi orang yang nggak bisa makan pedas.”


“Bisa gitu, ya?”


Ummi menepuk pahaku. “Kalau kamu ngidam apa, Hann? Udah minta apa aja sama Adrian?” tanyanya.


“Entahlah, Ummi. Hanna juga nggak gitu kepingin sesuatu.”


“Nggak kepingin sesuatu atau kepingin sesuatu tapi nggak berani bilang-bilang, nih,” ujar Kakak Ipar di kursi seberang.


“Iya. Jangan-jangan Adrian galak sama istri nih. Makanya Hanna nggak berani bilang mau ngidam apa,” tambah Kak Erika memanasi situasi.


“Ck! Kalian ini, ya.”


“Oh iya. Kedepannya gimana? Kamu ada rencana ikut parenting class?”


“Ada Ummi. Hanna juga udah coba cari tahu tentang program parenting class.”


“Baguslah. Intinya memang kamu sudah harus lebih siap. Apalagi mendidik anak jaman dulu dan jaman sekarang, kan nggak bisa disamakan. Oh ya, kapan cek kandungan lagi?”


“Mungkin minggu depan. Mas Adrian juga mau ikut, jadi harus sesuaikan sama schedule  Mas Adrian juga.”


“Nanti kalau udah punya anak, kamu masih panggil "Mas" Adrian lagi, Hann?” tanya Kak Danar melirikku dan Adrian.


“Iya, kami berdua tahu kok.” Dengan cepat Adrian menyela demikian.


Aku tersenyum tipis. Dalam hati aku berpikir, Mama dan Papa? Aku tak bisa membayangkan Adrian memanggilku Mama. Sementara, aku yang memanggil Adrian dengan sebutan Papa, mungkin akan terlihat seperti anak memanggil ayahnya. Mau bagaimana lagi? *Jarak usia kami empat belas tahun**!! Tapi sepertinya akan sangat menyenangkan.*


Hari semakin siang, ruang keluarga pun semakin hangat diisi oleh perbincangan sanak saudara yang berdatangan satu per satu. Tak hanya saling berbincang, semua ikut ambil bagian mempersiapkan acara malam nanti. Rencananya pun siang ini, kami yang berumlah tiga puluhan orang akan makan siang bersama di sela istirahat siang, setelah salat dzuhur berjamaah.


Sebaga tuan rumah, tak ingin ketinggalan, aku ikut membantu Mba Rina dan beberapa asistennya untuk menyiapkan menu makan siang. Meski mereka sempat menolak bantuanku, tapi setelah kupaksakan, mereka pun terima dengan kehadiranku, untuk menambah tenaga koki di dapur. *Lagian mana mungkin aku bisa diam, melihat Mba Rina dan asistennya itu bersenang-senang di dapur. Dapur adalah istanaku*!


“Menu utamanya, cak kangkung, rawon, cumi saus inggris, ayam teriyaki, dan kari. Untuk menu tambahan, steak salad, cakalang kuah asam, dan udang goreng tepung,” jelas Mba Rina sebagai kepala dapur.


Ia kemudian mendekat padaku, “Bu, sebaiknya anda pilih menu yang gampang-gampang saja. Saya tidak ingin Pak Adrian sampai marah, kalau anda bekerja terlalu keras.”


“Kalau gitu aku masak rawon aja.” Seketika semua hening dan saling berpandangan.


“Bu. Apa tidak sebaiknya anda memilih menu lain?” setengah berbisik, Mba Rina melontarkan pertanyaan itu.


“Kalian meragukan kemampuan memasakku?” Aku balik bertanya.


“Bukan. Kami hanya–”


“Okay. Sudah diputuskan. Aku akan ambil kompor itu dan siapkan rawon. Sisanya, silakan ambil bagian kalian masing-masing.” Aku melangkah pergi ke depan kompor di ujung meja, bagian sudut dapur.


Walau terdengar egois, tapi semua terima dengan apa yang kukatakan. Mulai dari mengambil kemiri, kepayang, lengkuas, serai, hingga jeruk purut, kulakukan sendiri dengan senang hati. Jika kuingat soal ngidam, mungkin ini adalah ngidamku, memasak rawon untuk sanak saudara yang hadir bertamu ke rumah ini. Tiba-tiba saja aku begitu excited  ketika Mba Rina menyebut Rawon, dan akhirnya aku bisa mengambil bagian, khususnya memasak olahan rawon.


Beberapa menit, semua koki mulai disibukkan pada apa yang mereka hadapi di depannya. Di dapur yang berisi enam belas kompor dan meja panjang, juga food storage yang terdiri atas cold store, dan dry store, semua diharap bisa memasak makanan bercita rasa lezat, dengan hati yang ringan.


“Aleesa ada di sini?” Suara bariton di depan pintu dapur terdengar sampai ke tempatku berdiri.


Semua memandang ke arahku yang baru memindahkan kaldu sapi. “Di sini!” kataku setengah berteriak.


“Sayang, kamu ngapain di sini?”


“Masak rawon,” jawabku singkat.


“Hey, kita ke depan aja, yuk! Ngobrol sama Ummi atau Bunda.”


“Nggak ah, aku mau masak. Mas kalau nggak mau bantu aku, mending ke luar aja deh,” ujarku sambil memilih-milih bawang merah untuk ku kupas.


“Sayang, aku nggak mau kamu kecapean.”


Aku menoleh pada pria itu, dan diam beberapa saat, “Mas .., aku cuma masak. Lagian aku kepingin banget nunjukin ke mereka rasa rawon buatanku.”

__ADS_1


“Tapi–”


“Mas ….”


“Maaf, Pak. Bukan maksud saya ingin menyela. Mungkin Nyoya memang ngidam ingin memasak rawon. Apa tidak sebaiknya dituruti saja?” Mba Rina datang disaat yang tepat.


“Kamu juga. Kenapa nggak kamu larang? Udah tahu Aleesa nggak bisa cape-cape.”


“Bukan begitu, Pak. Saya sudah coba menolak, tapi Ibu sepertinya sangat ingin. Sebagai wanita yang juga pernah diposisi Ibu, saya tahu betul perasaan Ibu. Dulu saya juga pernah ngidam manjat pohon mangga milik tetangga saya di kampung.”


Sekali lagi Adrian memandangiku, menghela napas panjang. Aku pun tersenyum sembari mengangkat sebelah alisku. “Bantuin, ya?” pintaku seraya meraih celemek dan menyerahkannya pada Adrian yang berdiri mematung.


Ia benar-benar menerima celemek itu lantas membantuku memasak rawon. Menu makanan yang katanya sulit untuk di-copy itu, nyatanya mudah dikerjakan oleh tanganku. Apalagi keberadaan Adrian yang sudah sering memasak makanan nusantara, jadi asisten koki yang sangat membantu.


"Aku harus ngapain?" tanyanya datar.


"Senyum dulu dong ..., rawonnya nggak enak ntar, kalo kamu nggak senyum," lontarku.


Adrian lantas menampakkan gigi-giginya dengan paksa. "Yang ikhlas!" bantahku.


"Ini udah senyuman paling ikhlas, Ma ...."


"Ish!" Aku mencubit perutnya karena panggilan 'Ma' yang belum siap kudapatkan itu.


"Sekali cubit lagi, Papa lepas celemeknya, nih!"


Aku tak kuasa membuka mulut menganga lebar antara rasa jijik dan malu. Juga merahnya pipiku tak dapat ditahan ketika mendengar kalimatnya itu. "Mas! Malu-maluin banget sih," bisikku menunduk, melirik sekeliling.


Tanpa memperdulikan aku yang malu, Adrian memanggil Erwin yang tengah berjalan melewati pintu dapur. "Erwin!"


Tanpa penolakan, Erwin datang ke tempat kami berdiri. "Ada apa, Pak?"


"Tolong bawa bahan-bahan masakan ini ke dapur atas, ya."


"Semua?"


"Iya, semua yang ada di meja ini, pindahin ke dapur atas," perintahnya seraya menarikku keluar dari dapur.


"Mas! Serius?"


"Kamu, kan, yang nggak mau dilihat banyak orang? Di atas, nggak akan ada yang lihat kita."


Kami sampai di dapur atas beberapa saat sebelum bahan-bahan rawon dibawakan oleh orang suruhan Pak Erwin. Padahal tadinya sengaja mau masak ramai-ramai biar lebih seru, tapi karena ada Adrian, keseruan pun beralih. Meski kubilang rawon adalah olahan yang tak sulit untukku, tapi dengan Adrian yang manja dan menggangguku, mungkin rasa rawonnya akan berbeda dari biasanya.


"Tahu gini, mendingan aku masak di bawah aja."


"Kenapa? Toh nggak ada yang berani masuk ke sini, karena dapur ini dan semua fasilitas yang ada di sini punya kamu, kan?"


"Iya sih."


Pukul satu siang, rawon dan menu makan siang lainnya sudah selesai dibuat. Mba Rina dan koki-koki bawahannya menyajikan makanan di ruang makan. Karena kebetulan juga sedang ramai, kerabat dan saudara bisa sekalian makan bersama dengan para pekerja. Semakin siang, dan semua pun telah selesai salat Dzuhur, maka satu per satu mereka mengambil lauk dari ruang makan.


Berbeda dengan kami para pekerja dapur, ditambah Adrian. Giliran kami menunaikan salat Dzuhur, sebelum akhirnya bergabung dengan yang lain untuk makan siang. Empat rakaat Dzuhur di musholla rumah yang di imam i oleh sang pemilik rumah langsung itu tak berlangsung lama. Setelah salam, Mba Rina beserta semua bawahannya sudah melipir pergi. Menyisakanku dan Mas Adrian.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hey, kalian berdua!" Sontak aku dan Adrian melihat ke arah suara.


"Wa'alaikumsalam, Ummi."


"Udah selesai salatnya? Ayo temani saudara yang lain makan siang."


"Iya, Mi." Aku berdiri dari duduk, setelah melipat dan mukena putih itu. Ummi yang mengulurkan tangannya untuk menggandengku segera kusambut dengan langkah antusias.


"Eh, astaghfirullah!"


"Ada apa, Mas?"


"Khadija. Seharian ini aku belum bertemu Khadija. Kamu pergi makan siang dulu aja sama Ummi. Nanti aku nyusul, ya." Terburu langkahku segera keluar dari musholla.


"Gimana sih, sama istri sendiri kok bisa lupa. Ati-ati tuh, jalannya yang bener!" Peringatku setengah becanda dan sedikit suara tawa.


Kalau aku yang belum ditemuinya selama seharian, apa dia bisa sampai se khawatir itu juga?

__ADS_1


__ADS_2