
Sore hari, rumah sederhana itu menjadi lebih ramai dengan tamu-tamu yang mulai berdatangan. Di belakang, tak ada satu pun orang yang bisa diam tenang. Mereka direpotkan dengan tugas masing-masing. Sementara di ruang tengah, acara tujuh bulanan terselenggara sesuai rencana.
Kakek pun datang bersama Tante Siti meski harus menggunakan tongkat bantu jalan. Ada pula orang tua Kak Ali datang bergabung hampir bersamaan dengan kedatangan Kakek. Senyum bahagia terlintas di wajah-wajah mereka sebelum, saat, dan setelah acara berakhir. Hingga pukul lima sore, semua tamu serta kerabat pulang ke rumah mereka masing-masing. Menyisakan kami bertujuh dan dua asisten rumah tangga di dalam rumah sederhana itu.
Memang hampir selalu jadi rutinitasku, setiap menjelang maghrib, aku sudah duduk bersandar pada kepala ranjang. Entah itu memainkan ponsel, menulis cerita atau diary, membaca buku atau al-qur'an, yang penting sebelum adzan maghrib berkumandang, aku sudah duduk di sana tanpa beban pikiran.
“Udah mandi?” tanya Adrian memasuki kamar masih dengan baju koko yang sama ketika acara tadi berlangsung.
“Udah, buruan gih kamu juga mandi sana. Hari ini kayaknya kamu banyak berkeringat dari biasanya,” tukasku.
“Iya Sayang … kamu perhatian banget sih. Bikin gumush deh."
"Apa sih ... jangan gitu deh."
"Eh, kamu dicariin Bunda tuh di bawah.”
“Ini juga udah mau turun, kamu buruan mandinya, terus ikutan ke bawah, ya … handuk sama alat mandi udah aku siapin. Baju gantinya juga udah ada di gantungan."
"Terima kasih, istriku."
Aku menutup pintu kamar perlahan hampir tak menimbulkan suara. Setelah meninggalkan Adrian, aku berjalan santai menuruni tangga sampai ke ruang tengah di mana Bunda dan Ayah sudah duduk-duduk manis bersama dengan Kak Zahra.
"Udah pada ngumpul aja, nih," cetusku.
“Kak Hanna sih, mandinya lama,” decak Harun memandangiku.
“Kayak kamu enggak pernah mandi lama aja deh,” sosorku.
“Mana ada? Aku nggak pernah mandi se-lama Kakak, ya.”
“Kamu mana sadar, kamu, kan lagi mandi, nggak mungkin ingat waktu.”
“Ih, aku nggak pernah mandi lama, kan, Kak Ra?” bantahnya.
“Udah-udah. Kalian ini masih sama aja. Ribut mulu kalau ketemu,” lerai Bunda.
“Yang mulai duluan Harun, Bunda …”
“Terus aja salahin Harun. Dari dulu tuh Kak Hanna emang enggak pernah ngalah. Mau-maunya Om Adrian sama cewek bengis kayak Kak Hanna.”
"Om?" Aku mengangkat sebelah alisku.
"Iya, Om Adrian. Soalnya dia udah tua sih, jadi lebih pantas dipanggil Om dari pada Kak. Beda sama Kak Ali yang masih muda."
“Ih, ini bocah kalau ngomong, ya …”
“Biarin, bwek,”
"Harun ... udah," lerai Kak Zahra lagi menyudahi berdebatan kami.
“Keseharian kamu kalau di rumah ngapain aja, Hann?” tanya Kak Zahra setelah berakhirnya perdebatanku dengan Harun.
Aku membenarkan posisi dudukku agar labih nyaman, baru mulai berbicara. “Ngapain ya? Palingan cuma nonton, baca buku, olahraga, coba-coba resep baru, cerita-cerita sama asisten di rumah, bantuin Mas Adrian kalau sesekali dia bawa kerjaan ke rumah, udah itu aja,” paparku.
“Kamu enggak ada niatan mau kerja?”
“Ada sih, Yah, tapi mas Adrian bilang … masih mau dipertimbangkan.”
__ADS_1
“Jangan terus-terusan ngerepotin Adrian, sebisa mungkin kamu harus jadi yang terbaik untuk suamimu itu,” pesan Ayah.
“Iya, Yah …”
Aku mengambil piring dan sendok, diikuti mengambil nasi kemudian lauk untuk Ayah dan Bunda. Makan malam kali ini agak berbeda karena rutinitas makan malam tak terjadi di ruang makan, melainkan dipindahkan ke ruang tengah. Berbagai makanan dihidangkan dalam wadah-wadah yang ditata di meja kaca itu.
Beberapa saat kami kembali bercerita, membicarakan banyak hal yang kulewatkan selama dua bulan meninggalkan kediaman Ayah dan Bunda. Misalnya saja Harun yang berhasil menyelesaikan hapalannya sampai dua puluh juz. Juga Bunda yang mengabarkan pekerjaan Ayah kini sudah bisa dikerjakan di rumah.
Kak Zahra juga turut menularkan kebahagiaan dengan memberitahukan fakta bahwa ia mengandung anak kembar sekaligus. Tentu saja berita itu menjadi hal yang membahagiakan untuk didengar dan dibagikan. Terlalu fokus pada cerita-cerita itu, aku sampai lupa tak mengambil makan malam untukku sendiri.
“Adrian mana?” tanya Ayah kemudian.
“Masih di atas, Yah. Mungkin baru selesai mandi. Bentar lagi juga turun.”
“Nanti kalau perlu minyak urut, ambil di kotak P3K aja ada.”
“Minyak urut? Buat apa, Yah?”
“Iya, tadi kan suamimu juga ikut bantu pasang lampu, sama mindah-mindahin meja-kursi. Pasti pegal-pegal nanti lehernya.”
“Mas Adrian bantu pasangin lampu?” Aku membulatkan kedua mata mendengar pernyataan Ayah yang cukup mengejutkanku.
“Iya. Makanya nanti kalau mau tidur, pijitin dulu, kasian kalau besok kerja terus lehenya kaku.”
“Iya, Yah.”
“Nah, ini yang diomongin datang juga.” sambut Kak Ali dengan kedatangan Adrian.
Aku bergeser sedikit ke kanan, pria itu segera mengambil duduk tepat di sebelahku. Setelah menawarkan makan, aku mengambilkannya sepiring nasi putih yang masih hangat dengan rendang favoritnya.
"Eh, tadi Mba Raras sengaja bikinin tiram loh khusus buat Adrian."
"Kenapa Mas?" Kak Ali segera menggeleng merespon pertanyaan Kak Zahra.
Bunda yang semula diam pun ikut berkomentar, "Kalau Ali nggak usah, ya, Nak. Yang ini spesial buat Adrian sama Hanna aja."
"Ayo Hann, ambilin tiramnya yang banyak buat Adrian."
"Kamu mau tiram, mas?" bisikku sebelum benar-benar mengisi piring dengan olahan tiram saus padang.
Adrian tampak menelan salivanya. "B- boleh deh."
Aku pun kemudian mengambilkannya tiram sesuai permintaa, lalu mengisi piring lain untuk makan malamku sendiri.
Disela-sela kami menyantap makan malam, Kak Ali, Kak Zahra, Harun, Ayah dan Bunda meneruskan bercerita. Sesekali tampak senyuman dari wajah Adrian yang membuatku lega karena ia bisa cepat beradaptasi dengan keluarga ini. Lebih lega lagi karena kemarahan Mas Adrian pagi tadi tak dibawa sampai ke sini.
“Belum lama ini teman kamu datang ke sini, Hann, dia nanyain soal dosen pembimbing kamu. Ayah suruh dia langsung hubungi kamu aja, tapi katanya dapat info dari Ayah aja sudah cukup.
Siapa? Khadija?
“Siapa, Yah?”
“Itu … anakanya Pak Wijaya yang baru dapat gelar Master,” jawab Ayah jelas.
“Oh … Garrin,” sahutku cepat.
Setelah menyebut nama itu, aku baru sadar bahwa manusia itu hampir menghancurkan keharmonisan antara aku dan Adrian pagi ini. Sesaat setelahnya pandanganku beralih pada Adrian yang juga menatapku bersamaan. Responsnya biasa saja, tapi kemudian ia segera menghindarkan pertemuan mata kami dan melanjutkan makannya.
__ADS_1
Makan malam berakhir dengan cukup baik. Adrian kembali menjadi Adrian yang baik dan tak pernah marah padaku. Awalnya tak kusangka ia tidak akan mempermasalahkan tentang Garrin lagi. Ia memang tak suka mengungkit masalah yang sudah berlalu. Sisi dewasanya yang seperti itu membuatku nyaman dengan Adrian.
“Kalian … udah ada rencana untuk calon cucu Ayah-Bunda, kan?”
"Udah dong harusnya.
Aku tertegun sesaat melihat Bunda yang jelas menatap lurus ke arahku. Sementara Adrian mendehem entah itu disengaja atau memang kerongkongannya gatal tiba-tiba. Tatapan kami kembali bertemu seraya berkode satu sama lain. Aku menelan salivaku sendiri di tengah kediaman kami.
“Kenapa? Kok pada diam?” Harun menyela seraya memandangiku dan Adrian satu per satu.
“Kalian ... enggak nunda, kan?” Bunda menambah pertanyaan itu dikeheningan suasana ini.
“Itu …”
“Kita nggak nunda kok, Yah, Bun. Memang belum waktunya aja,” pungkas Adrian tenang.
“Iya … kalau bisa sih secepatnya. Bunda sama Ayah, kan enggak sabar pingin dengar suara-suara anak kecil ngeramaiin rumah ini lagi.”
“Kode keras nih,” sahut Kak Ali melihatku dan Adrian.
“Kode keras tuh, Sayang.” Adrian berbisik pelan tapi sanggup membuatku merinding.
"Iya ... aku dengar kok. Toh Kak Zahra juga belum lahiran, nanti malah Bunda yang kerepotan kalau cucunya ngumpul sekaligus."
Usai dari obrolan malam serta makan malam, semua kembali ke tempat semula. Tak terkecuali aku dan Adrian. Teringat dengan kalimat Ayah tadi, sebelum mengikuti Adrian sampai ke kamar, aku mengambil minyak urut dan membawanya ke kamar. Aku nggak yakin manusia yang sudah kaya sejak lahir seperti Adrian pernah melakukan kegiatan seperti angkat-angkat barang dan memasang lampu sendiri.
“Aih! Pakai baju dulu dong!” protesku pada Adrian yang membaca buku dengan telanjang dada.
“Apa sih responsnya gitu banget, kayak enggak biasa lihat aja,” komentarnya datar.
"Bukannya gitu, cuma kaget aja barusan. Lagian kenapa nggak pakai baju? Udah mau tidur?"
"Secepatnya sih kalau bisa mau istirahat."
“Huuft ... untung cuma ada aku, kalau kelihatan dari luar gimana coba?” kataku seraya mendekat, duduk di pinggiran ranjang.
Aku menghela napas panjang. “Udah salat Isya’?”
“Belum.”
“Salat Isya’ dulu yuk. Abis itu aku pijitin kamu,”
“Pijit?” tanyanya agak terkejut.
“Iyaa, aku pijitin kamu.”
“Pijit apa nih? Pijit secara arti murni atau resapan?”
“Astaghfirullah … pijit, Sayang. Kamu tadi abis bantu ayah angkat-angkat barang, kan? Badan kamu pegel, kan?”
“Oh, pijit yang itu, kirain yang lain.”
Aku mengembuskan napasku panjang melihat responsnya yang tiba-tiba berubah tak bersemangat. Sebenarnya, apakah isi otak laki-laki selalu berpikir ke arah sana setiap waktu? Atau memang Adrian yang sengaja menggodaku dengan kata-katanya?
Adrian pun beranjak mengambil wudhu kemudian salat Isya berjamaah. Surah Ar-Rahman, dan An-Naba’ lagi-lagi dilafalkannya dengan indah. Sekali lagi aku dibuat luluh dengan suara bacaannya yang mempesona itu. Kuakui, aku benar-benar jatuh cinta begitu dalam pada makhluk ciptaan Tuhan ini.
Selesai salat Isya’, seperti biasa ketika Adrian hendak tidur, ia melepas lagi bajunya, kemudian tidur tengkurap agar memudahkanku memijit bahu dan leher belakangnya. Mungkin aku tak pandai memijit, tapi yang pernah kudengar, bahwa pijatan seorang istri yang tulus kepada suaminya, lebih ampuh dari kemampuan tukang pijat andal sekali pun.
__ADS_1
"Enak?"
"Heeh."