Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Kandungan


__ADS_3

Dokter itu menyalami tangan Adrian. “Selamat, ya, Pak, usia anak anda sudah memasuki minggu ke tujuh.”


Aku berusaha duduk setelah mendengar ucapan dokter itu. “Tapi kamu baru saja...”


“Pagi tadi istri saya coba pakai test pack dan hasilnya satu garis, Dok,” sela Adrian.


“Kesalahan hasil test pack bisa saja terjadi. Tapi kesalahan analisis dokter kandungan terhadap kehamilan, itu sangat jarang terjadi. Istri anda sedang mengandung anak anda, itu adalah kenyataan, Pak.” Dokter Jennie tersenyum melihat Adrian yang panik.


Aku tak bisa menahan air mataku meleleh jatuh. Begitu pula dengan Adrian yang segera memelukku erat. Momen haru itu berjalan tak lama, mengingat kami sedang berada di ruang perawatan. Tapi tentunya kebahagiaan karena kabar itu menguasai kami hingga tak tahu harus bagaimana lagi mengucap syukur pad Tuhan.


“Apakah akhir-akhir ini ada gejala tidak biasa yang anda rasakan?”


“Saya sering pusing tiba-tiba dan cape sih dok. Kadang juga ngerasa mual pagi hari, tapi sebatas rasa mual, tidak sampai muntah.”


“Itu adalah gejala yang wajar selama masa awal kehamilan. Untuk Pak Adrian, sekedar informasi bahwa di awal masa kehamilan, kemungkinan istri anda akan lebih sensitif serta emosional. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan anda berdua satu sama lain. Karena itu, ini adalah masa terbaik untuk anda membuktikan janji anda kepada mertua.”


Adrian menggenggam erat tanganku. “Lalu, bagaimana dengan, hubungan suami istri?”


“Hubungan suami istri diperkenankan ketika kandungan sudah lebih dari 12 minggu, untuk memastikan bahwa janin sudah benar-benar kuat. Ada beberapa posisi pula yang bisa saya sarankan agar tidak mengganggu kandungan.”


“Tapi, kemarin kami baru saja.”


“Memang ada resiko tinggi jika melakukan hubungan suami istri ketika kandungan belum berusia lebih dari 12 minggu. Tapi setelah saya lihat, tidak ada tanda-tanda membahayakan yang perlu dikhawatirkan. Dari pada itu, ke depannya Pak Adrian bisa sedikit bersabar demi kesehatan janin yang dikandung istri, Bapak.”


“Baik, Dok.”


“Baiklah, saya akan membuat jadwal konsultasi rutin setiap dua minggu sekali. Jika ada gejala demam atau muntah yang tidak biasa anda bisa segera menghubungi saya atau Dokter Rina.”


Begitu keluar dari ruang itu, Adrian tak melepaskan genggaman tanganku, bahkan menatapku dengan mata berbinarnya. Baru pagi tadi aku tersentak oleh fakta testpack yang menunjukkan satu garis. Lalu siang harinya Allah mengganti dengan kabar yang lebih baik untuk kami.


Sampainya kami di luar rumah sakit, Pak Erwin dan Agatha telah berdiri di luar pintu mobil menunggu kami. Tanpa bicara lebih detail, Adrian memeluk Pak Erwin menumpahkan kebahagiaannya.


“Selamat, ya.” Begitu pun Agatha menyalamiku.


“Padahal saya sudah menduga sejak awal. Anda pingsan hari itu pasti karena ini, ditambah lagi anda lebih sensitif, dan sering meminta hal yang aneh-aneh.”


“Kenapa nggak bilang dari awal kalau emang udah tahu?”


“Tentunya saya tidak bisa dengan mudah menyimpulkan hasil pengamatan saya, kan? Anda juga mungkin tidak akan percaya semudah itu kecuali dokter kandungan sendiri yang mengatakannya.”


“Kalian mau apa untuk makan siang?” tanyaku melihat Pak Erwin dan Agatha bergantian.


“Kami sudah memesankan meja untuk anda di-”


“Untuk kita berempat. Aleesa mau kita makan siang sama-sama sekalian membahas tentang perubahan beberapa peraturan,” tegas Adrian.


“Jangan terlalu formal.” Adrian berjalan menggandeng tanganku menuju ke mobil yang terparkir di depan mobil Pak Erwin dan Agata.


“Kapan kita bagi berita bahagia ini ke Ummi, Ayah-Bunda?”


Adrian yang menarikkan safety belt-ku terkikik. “Sabar.., nanti satu per satu kita kasih tahu.”


“Oh ya, menurutku Pak Erwin perlu cuti deh? Menghabiskan waktu dengan keluarganya, atau istrinya.”


“Setiap hari Erwin udah ketemu sama istrinya, kok.”


“Istrinya kerja sama kamu juga?”


Ia terdiam sebentar setelah menyalakan mesin mobil. “Agatha.”


“Hah? Tunggu, apa? Agatha istrinya Pak Erwin?”


“Aku kira kamu udah tahu dari awal.”

__ADS_1


Berarti kotak perhiasan yang dibawa Pak Erwin malam itu untuk Agatha? Untuk ulang tahun pernikahan mereka?


Di private room yang telah dipesan Pak Erwin kami duduk berempat menikmati makan siang. Dasar Hanna manusia nggak peka. Bisa-bisanya aku nggak menyadari kalau Pak Erwin dan Agatha adalah pasangan suami-istri. Kritikku dalam hati.


Selesai makan siang, aku dan Adrian undur diri mencari musholla untuk salat dzuhur sebelum akhirnya kembali lagi ke sana. Baru selesai salat dzuhur, Adrian mulai membahas tentang perubahan peraturan kerja.


“Tadi di mobil, kita berdua sempat membahas tentang beberapa hal yang berkaitan dengan peraturan karyawan. Dan ada beberapa yang memang sepertinya perlu diubah. Tolong kalian catat dan kalian juga bisa berpendapat kalau sekiranya keputusan kami kurang tepat.”


“Pertama, kami akan menempatkan kalian berdua, Mba Rani, dan Mba Puput di rumah utama. Apartemen yang sudah diberikan nggak akan dicabut dan itu tetap jadi milik kalian sesuai perjanjian sebelumnya. Ada masukan?”


“Tambahkan Hugo. Keberadaannya di rumah utama pasti akan sangat membantu.”


“Hemm, boleh, setuju. Berikutnya, mulai lusa Hanna akan jadi pimpinan direksi di AA Media. Agata ditugaskan sebagai sekretaris"


"Ada masukan?”


“Kenapa aku yang jadi pimpinan direksi? Emang aku bisa?”


“Saya setuju, Nyonya. Anda memang tepat berada di posisi itu.”


“Tenang.., kan ada Agatha yang bantuin kamu.”


“Aku nggak bisa jamin perusahaan kamu akan berkembang seperti yang kamu harapkan.”


“Aku nggak akan marah bahkan jika kamu menghilangkan seluruh aset AA Media. Tenang aja.”


Pak Erwin dan Agatha sama-sama mengangguk setuju. Pembicaraan pun berlanjut hingga akhir. Beberapa peraturan yang menurutku terlalu menuntut dan ketat, kini sudah diperlonggar sesuai permintaanku. Adrian juga tak begitu keberatan dengan aturan-aturan baru yang kuberikan.


“Terakhir.” Aku mengangkat tangan kananku.


“Boleh memakai perhiasan saat bekerja, asal tidak berlebihan. Utamanya perhiasan pemberian dari orang terkasih, masalahnya, kalau setiap hari kerja, dan setiap kerja nggak boleh pakai perhiasan apapun, terus gimana dong sama pemberian itu? Masa cuma disimpan doang?” Aku memegang lengan Adrian, sampai ia melihatku sebentar.


“Disetujui.”


Malam harinya, seluruh staff diundang ke rumah utama untuk jamuan sekaligus pemaparan dari beberapa aturan yang diubah. Wajah-wajah bahagia terlihat dari setiap senyum yang mengembang. Kira-kira seratus lima puluh orang berkumpul di aula rumah menjadi pemandangan asing yang jarang tampak dari rumah ini.


Di sisi lain, kabar kehamilanku itu pun kami beritahukan kepada Ummi, Ayah, dan Bunda. Mendengar berita itu, tentunya mereka juga turut bersyukur. Rencananya mereka akan datang ke rumah kami keesokan harinya. Tak ketinggalan, Garrin pun kuberitahu, berikut juga Khadija. Namun sayangnya, sahabatku itu belum juga membalas pesan yang kukirim sejak sore.


“Jangan sampai kecapean. Kalau kamu perlu istirahat, segera istirahat, pesta utamanya udah selesai.” Adrian melingkarkan kedua tangannya dari belakang.


“Aku belum cape, kok. Aku senang akhirnya rumah ini nggak sehening sebelumnya.”


“Masih ada keramaian lagi esok hari. Sebaiknya kamu istirahat, ya?” pintanya.


“Aku belum cape, Sayang.., udah kamu lanjut ke sana aja.”


“Istriku ini memang keras kepala. Tapi kalau Aleesa nggak keras kepala seperti ini mana mungkin aku jatuh hati,” celetuknya menggodaku.


Masih berdiri di lantai dua, di tempat yang sama, aku memainkan jari-jari tangan Adrian. “Aku punya satu permintaan lagi."


"Apa?"


"Boleh, ya? Aku mau kasih hari libur ke Pak Erwin dan Agatha. Mereka hampir nggak pernah libur karena selau ngurusi kebutuhan kita berdua.”


“Itu mungkin agak susah. Tapi akan aku usahakan. Yang terpenting, kamu harus pastikan kalau kamu bisa melakukan pekerjaan dan kebutuhan diri kamu tanpa bantuan Agatha. Kalau kamu bisa, aku pun bisa mengabulkan permintaan itu.”


“Makasih, ya.” Aku menyandarkan kepalaku di dadanya untuk mendapat kenyamanan di posisi itu.


*****


“Kapan cek kandungan lagi?”


“Kalau kita kemarin bikin janjinya dua minggu sekali sih. Tapi untuk cek yang perdananya mulai minggu depan inshaa Allah.”

__ADS_1


“Terus gimana? Kamu ada gejala mual atau gimana?”


“Mual sih ada, tapi alhamdulillahnya nggak begitu mengganggu aktivitas Hanna, Ummi.”


“Kalau ngidam? Kamu udah minta apa aja ke Adrian? Ingat, ya, kalau kamu mau sesuatu harus bilang ke Adrian langsung. Kalau Adrian nggak mau kasih, kamu lapor Ummi.”


“Akhir-akhir ini sih Hanna kepengen makan es krim. Sama …”


“Maunya nempel terus. Tidur aja kalau nggak pegang tanganku langsung kebangun nyariin. Nggak bisa jauh-jauh deh,” sela Adrian mengambil duduk di sebelahku.


“Wajar dong …, justru bagus itu, seenggaknya Hanna nggak minta kamu tidur di sofa,” timpal Kak Danar.


“Iya tuh, dulu aku waktu hamil Elena paling nggak suka deket-deket sama Mas Danar. Bawaannya pengen maraaah aja kalau lihat Mas Danar mah.”


“Kak Erina sampai segitunya?”


“Iya, ngerepotin banget, kan. Ngidamnya juga aneh-aneh dia, masa dia pernah nih ya, ngidam kepengen jadi kasir mini market.”


Adrian segera menoleh ke arah Kakaknya. “Terus? Kakak turutin?” tanyanya tak percaya.


“Iyalah. Dua jam dia ngerasain jadi kasir mini market. Aku harus bayar manager mini marketnya demi Erina ngerasain jadi kasir,” curhat pria tiga puluh tujuh tahun itu.


“Seenggaknya kamu nggak keluar uang banyak, kan? Coba kalau waktu itu aku nurut apa kata kamu. Kakak ipar kamu ini, Hann, saking nggak mau ribetnya, dia mencetuskan ide untuk beli mini market itu,” papar Kak Erina dengan ekspresi lucu. "Berasa paling kaya aja dia. Seenaknya beli beli"


Seisi yang hadir tertawa, bahkan menggelengkan kepala mendengar cerita Ngidam Kak Erina. Semakin malam, semakin banyak pula cerita yang mengocok perut kami. Setelah Adzan isya’, rumah jadi semakin ramai dengan kedatangan Ayah-Bunda bersama Harun, Kak Ali, Kak Zahra, dan si kembar.


Kepulangan Ayah-Bunda dari Samarinda rupanya lebih cepat dari dugaan. Tak lama berselang, Garrin dan Johana turut datang dan bergabung dengan kami. Rasanya seperti tak ada lagi batasan dalam bergurau dan saling membagi cerita satu sama lain. Banyak pengalaman dan cerita menghibur yang kudapat dari kedatangan mereka.


Sekira pukul sepuluh malam perbincangan itu baru dibubarkan. Kak Erina, dan Ummi memutuskan tinggal semalam karena Elena sudah terlelap sejak tadi, sementara Kak Danar kembali ke kantornya untuk urusan perusahaan. Ayah dan Bunda juga kuminta untuk tinggal semalam, namun mereka menolak karena beberapa hal yang tidak bisa ayah tinggalkan.


“Sehat-sehat terus, ya, Nak.” Bunda memelukku cukup lama.


“Iya, Bunda juga jaga kesehatan, ya. Bunda perlu istirahat setelah perjalanan dari Samarinda, kan?”


Ayah yang juga berdiri di sana tak mau kalah menepuk bahu menantunya. “Jangan lupa jaga anak dan calon cucu saya,” pesannya singkat namun penuh penekanan.


“Iya, Ayah."


"Tapi kamu juga jangan lupa tetap jaga diri sendiri. Nanti terlalu fokus sama istri, lupa sama kesehatan sendiri," sambung Ayah menepuk bahu Adrian.


"Siap, Yah. Terimakasih banyak sudah menyempatkan datang malam ini. Semoga lain kali Ayah dan Bunda bisa tinggal semalam untuk nemenin Hanna.”


“Cukup. Cukup melihat Hanna tersenyum malam ini, Ayah sudah tahu kamu bisa membahagiakan anak saya. Inshaa Allah kami akan sering-sering datang.”


Pukul sebelas malam, barulah aku bisa duduk tenang dengan meluruskan kedua kakiku dan bersandar pada kepala ranjang. Mata yang berkedip menambah kadar rasa kantuk mendoktrin otak.


“Sayang, lihat HPku, nggak?” Suara Adrian membangunkanku dari sekilat tidur.


“Eh, aku ngagetin kamu, ya?”


“Huuuft. Kaget banget. Tadi aku lihat HP kamu di atas meja dapur kalau nggak salah.”


“Meja dapur?” Ia segera berlalu keluar kamar.


Beberapa saat kemudian ia kembali masuk ke kamar. Meski aku sudah setengah sadar, tapi aku masih sanggup mendengar suara pitu kamar yang ditutup dengan penuh hati-hati. Kubayangkan saat itu mungkin Adrian berjalan mengendap-endap sampai berhasil naik ke atas ranjang.


“Cape banget, ya, kayaknya.” Adrian menggumam sendiri namun tak kutanggapni karena kantuk sudah lebih dari setengah menguasai tubuhku.


Cup! Kurasakan kecupan mendarat di keningku. Namun karena sudah tak kuasa bergerak, aku tak membalas apa pun perlakuannya.


...----------------...


...Terimakasih banyak sudah membaca karya Author. Untuk mendukung karya Author, kalian bisa menekan tombol LIKE, memberikan VOTE, serta TINGGALKAN KOMENTAR untuk kritik dan saran membangun demi perubahan yang lebih baik dari cerita/karya Author ini ke depannya....

__ADS_1


...Sekali lagi terimakasih atas dukungannya....


Salam sayang, Im Human


__ADS_2