Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Ketika Tuhan Lebih Tahu


__ADS_3

"Iya, gue juga takut kalau ternyata sebagian uang dari perusahaan ini malah disumbangin ke organisasi radikal gitu."


"Eh, hati-hati kalo ngomong. Pak Adrian itu orang baik loh, suka sedekah, rajin ibadah. Jangan main tuduh radikal aja."


"Bukan apa-apa nih ya. Tapi coba aja lo lihat Bu Hanna deh, istrinya aja ke mana-mana pakai cadar, bajunya hitam panjang. Nggak ada nasionalismenya sama sekali."


"Emang menurut lo nasionalisme bisa dilihat dari penampilannya doang? Lo nggak saar sekarang pakai baju kebarat-baratan gini? Lo udah merasa paling nasionalis?"


"Duh, emang susahnya ngomong sama lo. Orang sekantor aja tahu dan udah mulai curiga sama Bu Hanna. Katanya salah satu anggota divisi keuangan lihat data yang bocor, tentang keuangan perusahaan yang disumbangkan ke sesuatu yang nggak jelas selama Bu Hanna menggantikan posisi Pak Adrian. Dengan kemungkinan paling besar yang bisa terjadi, Bu Hanna yang mengalirkan dana perusahaan ke organisasi radikal."


"Terus maksud lo, kalau orang bercadar itu udah pasti radikal?"


"Sekarang gini aja deh. Jadi agamis boleh aja, tapi kan ini kita ada di perusahaan multinasional, nggak perlu sampai pakai cadar lah."


"Kenapa sih kalian harus berpikir buruk cuma gara-gara penam-"


"Udahlah ya. Emang susah ngomong sama orang yang belum ngerti dunia luar. Lo mungkin lihat Bu Hanna sebagai orang yang baik, tapi kita nggak pernah tahu dalamnya seperti apa. Koruptor aja masih bisa sembunyi di balik topeng agama."


Dua orang wanita dan seorang pria itu akhirnya pergi meninggalkan seorang wanita lainnya di lorong dekat toilet yang menghubungkan ruangan divisi empat dengan lift. Tak sadar pembicaraan itu sudah didengar langsung oleh Hanna yang berdiri di ambang pintu toilet.


...----------------...


Di tengah jalanan padat yang diguyur hujan, Hanna memandang ke luar jendela mobil di sisi kirinya. Jajaran tempat makan, bangunan-bangunan tinggi dan berbagai toko ia nikmati tanpa suara. Di bangku depan, Agatha mengunci bibir, menciptakan keheningan dan menyibukkan diri dengan gadget di tangannya.


Untuk keduakalinya Hanna memilih pulang tanpa Erwin. Kemarahannya lebih mudah tersulut bila teringat akan hari perdebatannya dengan Pak Erwin beberapa waktu lalu.


"Hari ini aku dengar ada karyawan yang membicarakan tentang radikalisme di kantor kita. Apa itu topik yang sedang ramai di antara para karyawan?" Hanna memecah kesunyian.


"Maaf, saya tidak terlalu mengikuti rumor-rumor yang beredar di kantor," balas Hugo.


"Tidak perlu dipikirkan, Bu. Itu hanya rumor tidak benar yang sebentar lagi akan hilang," tambah Agatha.


Hanna menghela napas. "Aku bukannya peduli dan merasa rumor itu menggangguku. Hanya penasaran siapa yang memulainya."


"Ini hanya tebakan saya saja. Tapi pasti sumber dari semua ini tidak jauh dari Rere. Selama dia masih ada di sini, dia akan terus mengacau segala hal yang berkaitan dengan anda."


"Iya, aku tahu itu."


"Tapi menurut pendapat pribadi saya, apa yang dilakukan Rere memang sengaja ingin membuat anda merasa terancam karena keberadaannya."


"Aku bisa saja mengabaikan Rere dan hasutannya. Tapi bisakah kalian berdua tangani perihal rumor radikal yang sedang beredar di perusahaan? Aku tidak percaya hanya dengan memakai niqab, orang-orang bisa menilai ku sebagai radikal."


"Ada yang membicarakan anda seperti itu, Bu?" tanya Hugo melihatku dari pantulan kaca.

__ADS_1


"Iya. Beberapa orang dari divisi empat. Aku hanya tidak ingin suatu saat Adrian mendengar itu di perusahaan lagi. Entah apa yang akan dilakukannya jika tahu tersebar rumor seperti itu di perusahaannya."


"Keterlaluan."


Beberapa saat berlalu, ponsel dalam tas itu berdering. Hanna segera menerima panggilan itu ketika tertulis kontak rumah sakit tertera di layarnya.


..... Hanna POV .....


"Apa? Sekarang?! Baik, saya akan segera datang."


Tidak ada lagi alasanku menunda, jika pihak rumah sakit sudah menghubungi. Setiap hal tentang Adrian menjadi prioritas utamaku. Masalah perusahaan, rumor radikal, atau apapun, aku sudah tak peduli lagi.


"Ke rumah sakit, cepat! Ada kabar terbaru dari Adrian." Perintahku pada Hugo.


Ia lantas mempercepat laju mobilnya, menerobos deras rintik hujan menuju ke rumah Sakit. Jantungku makin cepat berdetak, perasaan tak karuan itu menyapaku lagi setelah begitu lamanya tak merasakan perasaan aneh itu.


Agatha membukakan payung untukku dan membawaku masuk ke rumah sakit. Rasanya ruang ICU jadi sangat jauh dari biasanya. Rasa takutku sebelum benar-benar mencapainya, selaras dengan kaki yang sudah semakin cepat melangkah. Ya, aku ingat aku sedang hamil dan kandunganku baru memasuki minggu ke empat. Tapi aku mengabaikannya.


"Nyonya?" Dokter Rani memegang kedua tanganku, ketika aku tiba di depan ruang ICU sembari mengatur napas.


*Click**! * Ia membukakan pintu untukku.


"Assalamu'alaikum," kataku spontan melihat Adrian yang terbaring di ranjangnya itu sudah membuka mata walau masih lemah.


"Beliau baru saja tersadar. Mungkin perlu waktu sampai beliau bisa kembali berbicara dan merespon, tapi ini sungguh keajaiban Tuhan karena Tuan Adrian bisa kembali. Kami akan keluar, tolong beritahu kami jika ada sesuatu." Salah seorang dokter mengatakan itu padaku dengan senyuman tulus, lantas pergi keluar meninggalkan kami.


Aku berusaha menghapus air mata haruku, dan mendekat pada Adrian. "Sayang ..., ini aku, Aleesa. Hanna Aleesa, istrimu."


"Aku buru-buru datang ke sini, jadi aku tidak sempat membawa Asyqar. Kamu pasti rindu, kan? Terimakasih sudah kembali. Banyak orang yang merindukan kamu," lugas ku dengan gerakan bibir tegas, berharap Adrian bisa menerima perkataanku.


Tapi beberapa saat kemudian, ia menangis sembari menatapku dengan tatapan lemahnya. Air mata itu meleleh di kedua pipinya. "Terimakasih sudah merespon ucapanku." Dengan ini saja, aku sudah bahagia.


Alhamdulillah, malam itu juga Adrian bisa segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Aku melalui Dokter Rani memintanya untuk mencarikan ruangan yang bisa dikatakan memiliki fasilitas lengkap. Bukan semata-mata karena ingin perawatan VVIP atau berbeda dari pasien lain, tapi kesembuhan Adrian yang paling kubutuhkan saat ini.


Sampai malam tiba, aku lega karena akhirnya kami mendapatkan kamar seperti yang ku mau. Dengan semua fasilitas yang ada, aku tidak perlu lagi repot-repot pulang, dan kami bisa menerima anggota keluarga yang mungkin ingin berkunjung nantinya.


Pukul sepuluh malam, setelah sempat pulang ke rumah untuk bertemu dengan Asyqar, aku kembali ke rumah sakit. Mulai malam ini dan seterusnya, aku memang sudah bertekad untuk menjaga Adrian. Menemani, dan memantau setiap perkembangannya ke depan.


...----------------...


"Permisi, Bu. Direktur Rumah Sakit ingin bertemu dengan anda." Agatha memberitahuku dengan suara pelan.


Aku serentak berdiri, memasangkan lagi kain hitam yang menutup sebagian wajahku. "Di mana ruang direktur?" tanyaku.

__ADS_1


"Maksud saya direktur rumah sakitnya sudah menunggu di depan pintu. Apakah saya persilakan masuk sekarang?"


"Oh, antarkan masuk kalau begitu." Aku mengubah jalanku, ke arah ruang tamu.


Setelah Agatha membukakan pintu, pria itu pun masuk membawa buket bunga di tangannya. "Selamat malam, Bu."


"Iya, selamat malam, Pak direktur."


"Ah, istri seorang Adrian Al-Faruq tidak perlu memanggil saya seformal itu. Cukup panggil saya Lucas." Pria itu tersenyum lebar.


"Ada apa, Pak, sampai datang ke ruangan ini? Sebenarnya saya juga tidak keberatan untuk mengunjungi ruangan direktur rumah sakit," ujarku mengarahkan pembicaraan ini agar segera usai.


"Maaf, saya datang selarut ini. Suami anda adalah rekan lama saya. Begitu mendengar beliau keluar dari ICU, saya langsung ingin datang mengunjungi."


"Terimakasih banyak atas perhatian anda. Semua juga berkat pertolongan Tuhan melalui Dokter dan fasilitas-fasilitas canggih rumah sakit ini."


"Benar. Tapi ..., sebenarnya saya ingin menawarkan Adrian untuk menempati president suite. Fasilitas di sana jauh lebih lengkap dengan double bed untuk penunggu, lemari pakaian, smart TV 72", telepon, sofabed, kulkas, set meja makan, kamar mandi dengan air dingin dan panas, kitchen set dengan ukuran lebih besar, ruang tamu, kursi tunggu, dan masih banyak lagi."


Aku tersenyum mendengar penjelasannya dengan suara bangga itu. "Terimakasih banyak atas penawarannya, Pak Lucas. Tapi sepertinya, ruang VVIP A1 ini sudah sangat cukup untuk kami. Jadi, tidak perlu repot memindahkan suami saya ke president suite."


"Tapi saya menyiapkannya memang untuk Adrian."


"Saya sangat menghargai niat baik Pak Lucas, tapi kami benar-benar sudah sangat cukup dengan fasilitas ini."


"Ayolah ..., anda mungkin keras kepala, tapi saya bukan tipe orang yang mudah mengalah loh. Lagipula saya tidak akan meminta Anda membayarnya."


"Eh?! Jangan begitu, Pak. Kami harus tetap membayar sebagaimana pasien yang lain. Apapun status Adrian dan hubungannya dengan anda, Adrian tetaplah seorang pasien yang memakai fasilitas di rumah sakit ini. Sudah selayaknya kami membayar dengan wajar." Tolakku sedikit geram.


"Ini bukan hanya sekedar itikad baik karena saya dan Adrian yang punya relasi atau semacamnya. Saya ingin sekali membalas budi Adrian. Sebagai pengingat bahwa bangunan ini berdiri di atas tanah milik Adrian Al-Faruq."


Aku sedikit terkejut, dan perlahan mulai menyimak ceritanya. "Dulu, saya hanya seorang dokter yang baru lulus dan bermimpi untuk memiliki rumah sakit saya sendiri. Saya pikir mimpi itu selamanya akan jadi mimpi, sampai saya bertemu dengan Adrian yang baru berusia dua puluh dua tahun. Saat itu ia baru selesai dari pendidikan arsitek, dan memiliki keinginan untuk membuat sebuah bangunan miliknya."


"Singkatnya, kami bertemu dan saling bertukar mimpi, tanpa ada pikiran suatu saat kami akan saling mewujudkan impian masing-masing. Lalu sampai pada saat dimana Adrian akan kembali melanjutkan pendidikannya, dan ia meminta saya membangun rumah sakit saya sendiri di atas tanah ini, yang ternyata tersertifikasi nama Adrian."


"Saat itu saya hampir tidak percaya. Bahkan saya bingung karena mimpi saya yang dulunya terasa jauh, tiba-tiba begitu dekat, hingga hampir tercapai. Lalu Adrian memberikan rancangan bangunan rumah sakit, dan mencari pinjaman dana dari kakak dan ayahnya demi mewujudkan mimpi kami. Sekarang, impian saya sudah berhasil dibangun berkat pondasi kokoh yang dibuat Adrian."


"Anda tidak percaya, kan? Suami anda itu melakukan hal luar biasa ini tanpa peduli latar belakang agama atau keyakinan antara kami yang berbeda, dan mengukuhkannya atas dasar kemanusiaan."


"Cerita yang sangat panjang. Saya baru pertama kali mendengarnya. Terimakasih sudah menceritakannya, tapi saya masih akan tetap pada pendirian saya sejak awal."


"Ah ..., baiklah. Sudah terlalu larut, saya akan keluar. Tolong segera hubungi saya jika anda berubah pikiran, saya sangat menunggu sampai anda menerima tawaran saya."


Pria itu keluar dari ruangan bersama dengan wanita yang bisa kutebak adalah asistennya. Dasar Adrian, meski sudah terbiasa dengan cerita mengejutkan tentangmu, masih saja selalu ada hal baru yang membuatku makin takjub padamu.

__ADS_1


__ADS_2