Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Lika Liku Masalah


__ADS_3

"Dua bulan lagi. Event ini termasuk salah satu event terbesar perusahaan kita. Karena itu kita perlu membentuk ketua tim penyelenggara," jelas Zola di tengah rapat terbatas itu.


"Langsung ke intinya saja. Menurut Pak Zola siapa yang tepat di posisi itu?" potongku tegas. Pria itu terdiam beberapa saat.


"Menurut saya Pak Zola adalah orang paling tepat untuk menangani event tersebut," seloroh Marie.


"Lalu siapa yang akan memimpin tim editor? Bukankah percetakan kita baru akan meningkatkan produksi di bulan mendatang?"


"Maaf, kata-kata anda seperti meremehkan anggota tim editor. Apakah anda belum percaya dengan kemampuan tim kami?"


"Maaf jika anda merasa seperti itu. Tapi apa kinerja tim bisa maksimal tanpa kehadiran seorang pemimpin? Saya menangkap perkataan anda seakan anda tidak membutuhkan Pak Zola dalam pekerjaan tim editor."


"Maksud saya adalah, Pak Zola mampu mengemban tugas sebagai pemimpin sekaligus-"


"Tidak ada yang bisa kita dapatkan dari perdebatan ini. Sebaiknya kita sudahi sampai di sini, dan saya akan melihat dari data penilaian kinerja bulan lalu. Rapat ditutup, sekian."


Keluar dari ruangan itu, aku merasa seperti bebas dari jeratan para pecundang. Agatha mengacungkan kedua ibu jarinya dan memuji kata-kataku selama kami berjalan dari ruang rapat kembali ke ruanganku. Sepertinya kepuasannya membalas pernyataan Zola dan Marie sudah kuwakilkan dalam rapat berjam-jam yang tak menghasilkan apa-apa itu.


"Anda mau saya bawakan apa untuk makan siang kali ini?"


"Hari ini kamu boleh pilih menu yang kamu suka. Aku sedang tidak bisa memikirkan apa yang aku inginkan sekarang."


"Baiklah, saya akan beli bento di restoran bento dekat kantor. Anda bisa-" Agatha yang membuka pintu ruangan direktur tiba-tiba berhenti.


"Saya akan segera kembali setelah membawa empat porsi bento. Silakan anda tunggu di dalam."


Clik! Aku membuka pintu itu kemudian masuk. Kedua mataku mendapati sosok tegap dengan tuksedo abu-abu duduk di kursi direktur. Siapa lagi yang berani melakukan itu kecuali Adrian. Ditambah lagi Pak Erwin berdiri di dekatnya duduk mengingatkanku pada interview kerja enam bulan lalu.


"Peserta terakhir, Hanna Aleesa," ucapku sambil duduk di kursi yang menghadap langsung dengan meja direktur.


Adrian menyatukan dua tangannya di atas meja. "Nggak usah basa-basi lagi. Nikah Yuk!"


Aku menggerakkan roda kursiku maju mendekat. "Ayuk!" kataku tak bisa menahan senyum.


Ia tertawa melihatku. "Ibu Hanna sudah makan siang?"


"Belum. Bagaimana dengan anda, Pak?"


"Ya udah, makan siang yuk!" ajaknya beranjak dari tempat duduk.


"Barusan Agatha pergi ke restoran bento dekat sini. Dia mau beli empat porsi bento. Pas, kan?"


"Kita tunggu Agatha dulu kalau gitu. Tapi aku mau kita makan siang di rumah aja."


"Kenapa gitu? Terus nanti bentonya siapa yang makan?"


"Maaf Nyonya, sebenarnya Agatha tidak keluar untuk membeli bento, ia hanya beralasan. Barusan Agatha memberitahu saya." Pak Erwin menunjukkan layar gadget di tangannya berisi chat itu.


"Nanti aku antar ke sini lagi deh. Pulang?" Adrian mengulurkan tangannya.


"Pulang." Aku menerima uluran tangan itu.


Akhirnya, siang itu sengaja aku dan Adrian pulang ke rumah untuk makan siang. Kebetulan pekerjaan kantorku juga tak begitu banyak untuk hari ini. Setelah ini aku juga masih harus menanyakan tentang penilaian kinerja pegawai ke Agata untuk memilih ketua pelaksana. Karena ini event pertamaku, aku tak boleh sampai mengacaukannya.


Sampai di rumah, Mba Rina dan Mba Puput baru saja selesai menyiapkan hidangan ke atas meja. Baru beberapa menit setelah aku menduduki kursi di meja makan, Adrian undur diri untuk urusan pribadinya di kamar mandi. Sementara itu, aku masih duduk di tempat yang sama, menunggu Adrian seraya melanjutkan makanku.


Ting! Ting! Ting!


Suara bel pintu yang berbunyi membuat Mba Puput segera membukakannya. Aku yang masih menikmati makan siang tak beranjak dari kursiku. Cumi-cumi saus inggris favoritku menahan untuk tak beranjak sedikit pun dari sana. Beberapa saat kemudian, Mba Puput mendatangiku di tengah-tengah aku yang masih menikmati menu istimewa di makan siang hari ini.


"Ada tamu, Nyonya," ucapnya memberitahuku


"Siapa?" tanyaku.


"Wanita, saya tidak mengenalnya, tapi orang itu mencari pemilik rumah ini," tuturnya.


"Di mana orangnya?"


"Security di luar masih menahannya."


Aku segera berdiri setelah menghabiskan minumku. "Biar aku yang ke depan, Mba Puput tolong buatin minuman, ya," perintahku.

__ADS_1


Dari kamera pengintai yang mengarah ke balik pagar rumah itu, tampak sosok wanita yang kukenal. Aku segera meminta pada staff keamanan yang berjaga di luar untuk menyilakanya masuk setelah memastikan orang itu tak membawa barang berbahaya. Ketika sampai di lobby depan, aku berjalan pelan mendekatinya.


"Khadija?" panggilku pada wanita yang lantas berdiri dari kursi lobby begitu mendengar suaraku.


"Han, Hanna?" Khadija melihatku dengan sepasang matanya yang melotot seakan tak percaya.


"Udah lama banget enggak ketemu ya, kan?" Spontan aku memeluknya haru.


"I, iya," balasnya tergugup.


"Ada apa? Kamu datang tanpa bilang-bilang dulu, coba kalau aku lagi nggak di rumah gimana."


"Iya, Aku nggak terpikir untuk menghubungi kamu sebelumnya. Maaf."


"Kamu sama siapa ke sini?" tanyaku lagi.


"Sendiri. Tadi naik taksi sih."


"Dari mana mau ke mana emangnya?"


"Dari rumah, mau ke.., aku mau cari. Ah, enggak. Ada tempat yang aku kunjungi di dekat sini, jadi sekalian aku mampir," tuturnya terpatah-patah.


Aku menyadari ketidaknyamanan yang ada pada diri Khadija, tapi tetap kucoba mencecarnya dengan pertanyaan agar tak menumbuhkan kecanggungan. "Tadi kamu kenapa bilang ke security cari pemilik rumah? Padahal kalau kamu bilang nyari Hanna, langsung dibukain pintu," ungkapku diiringi tawa kecil.


"Iya.., hahaha, tadi sempat blank  waktu ditanyain depan."


"Astaghfirullah.., bisa-bisanya sampai blank."


Kami pun duduk di ruang tamu sembari bercerita macam-macam. Bertukar kisah yang selama hampir setahun ini tak pernah dibagi satu sama lain. Memang sejak aku menikah dengan Adrian, kami jarang berkomunikasi, walau sekedar saling menanyakan kabar. Pertemuan kali ini benar-benar seperti reuni setelah sekian lamanya tak bertemu.


Tapi seingatku aku belum pernah memberitahu alamat rumah Adrian kepada Khadija. Bahkan Adrian juga bilang kalau alamat rumah ini hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya saja. Rupanya Khadija sudah tahu tanpa diberitahu. Atau mungkin Garrin yang memberikan alamat rumah ini? Tapi sisi positidnya, kedatangan Khadija yang tak disangka hari itu seolah jadi penghibur untukku.


Cukup lama kami berbincang, aku juga sempat menawarkannya makan siang. Tapi ia menolak lembut dan beranjak pergi dari rumah ini. Aku juga memberitahunya bahwa Garrin kini bertetangga denganku sejak beberapa bulan lalu. Tapi ia memilih membuat ekspresi seakan tak peduli pada hal itu. Ataukah Khadija memang sudah tahu tentang Garrin yang tinggal di sebelah rumah ini?


"Kamu nggak sekalian mampir ke rumah Garrin? Kayaknya orangnya ada di rumah sih."


"Nggak usah. Aku buru-buru hari ini. Lain waktu saja aku akan datang lagi. Taksiku juga sudah datang."


"Padahal aku bisa minta Pak Erwin atau Hugo anterin kamu sampai ke rumah loh. Gratis lagi," candaku mengantar wanita itu hingga pagar rumah.


"Kalau gitu hati-hati di jalan, ya..," ucapku melambaikan tangan.


"Iya ... Asalamu'alaikum," pamitnya yang sudah duduk di dalam taksi online itu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah."


Setelah mengantarnya sampai dengan pagar rumah, hingga bayangan mobil itu menghilang, aku kembali berjalan melewati pekarangan panjang. Meski cukup menyenangkan bisa bertemu dan mengobrol dengan Khadija, tapi suasana di antara kami entah bagaimana terasa tak nyaman. Pikiran itu terus berputar dalam kepalaku hingga sampai kembali ke dalam rumah.


"Kata Mba Puput barusan ada tamu? Siapa?" tanya Adrian sekali lalu mengancingkan kemejanya.


"Temanku yang sering aku ceritain itu..," ujarku antusias kemudian membantunya mengancingkan kemeja.


"Siapa, Sayang?"


"Khadija... sahabatku dan Garrin."


"Oh... yang itu. Eh ayo, kita berangkat sekarang. Kamu udah siap?" ajaknya.


"Iya, sebentar aku ambil tasku dulu."


Setelah mengambil tas di ruang makan, aku segera memasuki mobil yang telah siap. Adrian mengantarkanku kembali ke kantor dengan semangatku yang tak terbendung. Entah kenapa, setiap melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, aku selalu lebih bersemangat dan bisa melakukannya dengan sepenuh hati.


"Tadi... kamu nggak keluar dari kamar, ya, waktu aku ngobrol sama Khadija. Kenapa?"


"Iya, soalnya Mba Rina bilangnya itu sahabat kamu, jadi aku nggak mau ganggu kalian ngobrol. Kayaknya tadi seru banget ngobrolnya,"


"Kamu pengertian banget sih?"


"Suami siapa dulu dong..,"


"Bisa ae kamu Mas,"

__ADS_1


"Oh iya, dua bulan lagi mau ada event itu loh.. Tapi aku belum tahu siapa yang jadi ketua pelaksananya nanti."


"Kamu perlu bantuanku?"


"Exactly. Kira-kira siapa yang tepat jadi ketua pelaksananya?"


"Ada rekap data nilai kinerja pegawai di dokumen yang dibawa Erwin. Biar aku minta Erwin kasih datanya ke kamu secepatnya."


"Makasih banyak, ya."


Setiap kali kerja usai, rasa mual yang menggangu itu kembali. Namun begitu aku mengalihkan pikiranku ke hal-hal yang berbau pekerjaan, rasa mual itu dapat kuusir. Atau jangan-jangan inikah ngidamku? Aku ngidam maniak kerja? Mungkinkah hal seperti itu?


Sejak sore tadi ketika aku pulang dari kantor, aku kembali memfokuskan perhatianku pada pekerjaan. Hingga tak terasa aku sudah selesai membaca-baca rekap data nilai kinerja pegawai serta mendapatkan catatan penting di dalam notesku.


"Sayang, udah dong.., kamu udah baca data itu dari tadi sore. Ada waktunya kerja, ada waktunya juga istirahat." Adrian menutup MacBook di atas ranjang itu.


"Kamu tahu, nggak? Kayaknya ngidamku itu ... kerja. Aku paling semangat kalau ngerjain pekerjaan kantorku sampai aku lupa mual."


"Aku udah tahu. Dengan lihat kamu yang begini aja aku tahu ngidam kamu maniak kerja. Tapi harus ingat istirahat  juga dong?" nasihatnya, lantas menyelipkan rambutku yang jatuh hampir menutup setengah wajahku.


Aku pun segera menurutinya, turun dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi seperti yang biasa kulakukan sebelum tidur. Dari pantulan cermin kamar mandi, biasanya aku berdiri cukup lama untuk mengamati apakah ada perubahan signifikan dari tubuhku. Dan sepertinya memang ada beberapa bagian yang lebih berisi dari sebelumnya.


Apa Adrian juga menyadarinya? Pikirku sekilas tersenyum. Selepas bercermin, dan skincare routine, baru aku keluar dari kamar mandi. Baju pun sudah kuganti dengan piyama yang lebih nyaman untuk tidur malam ini.


"Sayang, HP kamu bunyi terus dari tadi," katanya memberitahu tanpa melirik sedikit pun.


"Kok nggak kamu angkat?"


"Bukan Ayah-Bunda sih, jadi aku nggak berani angkat."


Hah? Garrin? Ngapain dia telepon jam segini?


"Garrin Wijaya. Boleh aku angkat?" tanyaku meminta izin.


Adrian menutup buku di tangannya, kemudian melihatku. "Angkat aja. Semakin cepat kamu selesaiin, semakin cepat kamu bisa istirahat."


[Voice Call]


Garrin Wijaya : Assalamualaikum, Hanna?


Hanna Aleesa : Wa'alaikumsalam. Kenapa Rin?"


Garrin Wijaya : Tolong bilangin ke security rumah lo, suruh mereka izinin gue masuk. Sebentar doang, gue perlu bantuan lo.


Adrian mengambil ponsel dari tanganku.


Adrian Al-Faruq : Kenapa sih, ganggu istri orang malam-malam gini. Lihat-lihat waktu dong kalau mau bertamu.


Garrin Wijaya : Adrian? HP lo kemana aja sih daritadi gue teleponin nggak diangkat? Pokonya sekarang gue butuh kalian berdua. Tolong bantuin dong..., sekali ini aja deh. Masa depan gue nih terancam saat ini


Adrian Al-Faruq : Drama banget


Garrin Wijaya : Ini serius, Adrian. Tolonglah bantu kali ini aja


Meski tampak tak peduli dan terkesan dingin, tapi Adrian adalah orang yang peduli. Hanya karena tak mau mengakui bentuk kepeduliannya itu, ia membungkusnya dengan sikap dingin dan ekspresi datar. Tapi faktanya lain, ia segera turun dari kamar menuju ruang tamu bahkan membukakan pintu secara langsung.


Setelah menyilakan Garrin masuk dan duduk, ia tanpa sadar mengeluarkan sifat pedulinya dengan menenangkan Garrin yang tenggelam dalam kepanikan. Ketika keadaan sudah lebih tenang, Garrin bercerita tentang Johana yang marah seharian ini karena ia lupa akan janji fitting gaun bersama.


"Gimana dong? Kalau Johana sampai bilang ke keluarganya tentang ini, bisa-bisa kita batal nikah," keluhnya frustasi.


"Yang paling benar, ya, lo harus minta maaf ke Johana. Lo bilang apa adanya, jangan sembunyiin sesuatu yang udah pasti bisa diketahui wanita." Adrian menepuk pundak Garrin.


"Masalahnya sekarang gue nggak bisa hubungi Johana. Gue juga udah minta bantuan dari asisten gue, tapi masih nggak diangkat juga."


"Kan lo ada hacker yang waktu itu? Kenapa lo nggak minta dia cari lokasi Johana, dan lo samperin langsung?"


Garrin terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya juga, kok gue nggak kepikiran sampai situ." Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang yang memiliki kemampuan di bidang it itu.


Setelah sepuluh menit menelepon dan sesekali mengeluarkan keluh kesahnya pada Adrian, Garrin kembali heboh seraya menunjuk pada layar ponselnya. "Ini kan? Ini kan? Nggak mungkin Johana di-"


Adrian mengambil ponsel dari tangan Garrin untuk melihat lokasi Johana yang dikirimkan orang suruhan Garrin itu. Karena jarak tinggiku dan Adrian terpaut dua puluh tiga sentimeter, aku berjinjit-jinjit untuk melihat ke arah layar ponsel itu.

__ADS_1


"Dimana, Sayang?" tanyaku menyerah karena masih tak bisa melihat layar ponsel itu dengan benar.


"Ini ..., di depan rumah kita."


__ADS_2