Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Perubahan


__ADS_3

Waktu semakin cepat beelalu bagai gravitasi yang menarik benda jatuh hingga berhenti dari kecepatannya membentur permukaan bumi. Sebetulnya, kalaupun aku bisa hentikan waktu, tak ada sedikit pun niat aku untuk menghentikannya, dan menghambat segala hal yang memang sudah sepantasnya terjadi. Di waktu yang sesingkat itu, kini Mas Adrian bukan hanya menjadi milikku seorang, tapi ia bertanggung jawab atas kehidupan dua istrinya.


Kondisi rumah ini pun akan berbeda sebentar lagi. Aku harus mulai terbiasa pada apa yang tak biasa kulihat dan apa yang tak biasa kulakukan. Keseharian baru, aktivitas baru, membayangkannya saja aku belum tahu akan jadi seperti apa. Juga akan ada Khadija yang bisa kutemui sewaktu-waktu di salah satu ruangan dari rumah ini. Aku hampir tak ingat untuk menyalami tangannya dan menunjukkan senyumku. Kapan kami akan berbaikan?


Dari balkon kamar ini, berbagai pertanyaan dan pikiran menyeruak di kepala. Sedikit saja melihat setitik cahaya, akan ada hal baru yang menambah beban pikiran di kepalaku. Tapi hawa sepi di ketinggian ini, membuatku tenang sehingga memaksaku tak boleh pergi.


Tring! Tring! Tring! Telepon di kamar berbunyi nyaring hingga suaranya memancar ke seluruh penjuru kamar.


Hanna Aleesa : Halo, assalamualamualaikum?


Johana : Wa'alaikumsalam, Hann, udah malem. Buruan gih tidur.


Hanna Aleesa : Wait, tahu darimana kalau aku belum tidur?


Johana : Lampu kamar kamu masih nyala kalii, keliatan jelas dari kamar kita. Garrin bilang suruh telepon kamu, kalau kamu belum tidur. Dan ternyata benar, kan, belum tidur.


Hanna Aleesa : Bentar lagi tidur kok ini. Cuma butuh udara segar aja.


Johana : Udara segar jam dua pagi? Yang benar aja Hanna...


Hanna Aleesa : Aku bener nggak apa-apa Jo, udahlah kalian berdua bobo aja sana. Bilangin ke Garrin, jangan suka curi-curi mata ke rumahku, takutnya gagal move on.


Johana : Ha, ... Ha, ... Ha. Nggak ada kah jokes yang lebih bagus? Aku lebih khawatir sama kamu daripada khawatir Garrin gagal move on tahu, nggak?


Hanna Aleesa : Aku enggak apa-apa, eh udah, ya, Harun telepon. Aku matiin teleponnya, assalamualamualaikum.


Johana : Wa, wa'alaikumsalam warahmatullah


Mataku kini beralih pada ponsel di atas meja. Nama Harun yang tertera di sana seketika mengingatkanku pada firasat buruk. Astaghfirullahhal'adziim... Hanna


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Halo, Assalamualaikum. Harun?


Harun : Wa'alaikumsalam, Kak


Hanna Aleesa : Ada apa? Kenapa telepon jam segini?


Harun : Bunda, Kak Hann.


Hanna Aleesa : Bunda kenapa?


Harun : Sebenarnya dari tiga hari lalu Bunda udah ngeluh sakit di dada dan sesekali pingsan waktu bantuin bibi siapin makan malam. Makanya kemarin pun Bunda nggak ikut ke rumah kakak.


Hanna Aleesa : Terus sekarang?


Harun : Sekarang Bunda masuk rumah sakit, Kak. Serangan jantungnya kambuh lagi. Ini Harun sama Ayah yang bawa Bunda ke rumah sakit, dan alhamdulilah langsung ditangani sama dokternya.


Hanna Aleesa : Rumah sakit mana? Biar Kakak ke sana sekarang juga.


Aku segera mengambil dompet, kunci mobil, dan tasku, bersiap pergi kapan pun dengan kekhawatiran ini. Beruntung aku memakai baju dan hijab yang sopan saat itu, maka segera pula aku keluar dari kamar dengan langkah cepatku.


Click! Saat kunyalakan lampu utama rumah, dan semua seketika menjadi terang, aku melanjutkan langkahku. Tapi belum sampai aku masuk lift, tampak Mas Adrian berdiri di depan pintu kamar Khadija, melihatku terkejut.


"Aleesa? Mau ke mana jam segini?" tanyanya menghampiriku cepat. menghalangi jalanku.


"Bunda masuk rumah sakit, Mas. Serangan jantung tiba-tiba kambuh."


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Terus sekarang kamu mau kemana?"


"Aku harus ke rumah sakit. Aku nggak bisa tenang kalau harus nunggu sampai pagi."


"Ya udah aku ikut, ya?"


"Siapa Mas ..., Mas Adrian, kamu ngobrol sama siapa?" Suara Khadija terdengar dari pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


Mas Adrian ragu melongok ke kamar itu, tapi dengan cepat kutepis keraguannya. "Udah Mas, aku bisa pergi sendiri kok. Nanti kalau udah luang aja kamu nyusul." Kembali kulanjutkan langkah cepatku hingga turun ke lantai satu.


Hanna Aleesa : Halo? Harun, kirim alamat rumah sakitnya sekarang, okay?

__ADS_1


Harun : Kak Hanna mau ke sini? Nggak perlu, Kak.


Hanna Aleesa : Nggak apa, Kak Hanna udah siap ini, tinggal berangkat aja.


Harun : Kak Hann, Bunda udah nggak apa-apa sekarang. Barusan beliau istirahat setelah dapat penanganan dokter. Kalau Kak Hanna datang sekarang pun nggak akan berefek apa-apa. Sebenarnya Ayah juga bilang supaya aku nggak perlu bilang ke Kak Hanna.


Hanna Aleesa : Harun ...,


Harun : Maafin Harun sampai telepon Kak Hanna malam-malam begini. Harun cuma takut kalau ini adalah terakhir kalinya kita bisa ketemu Bunda, jadi Harun buru-buru kasih tahu Kakak soal ini. Harun nggak mau kehilangan Bunda secepat ini, Harun terlalu panik, jadi Harun cuma bisa panggil Kak Hanna.


Hanna Aleesa : Ya udah kalau kamu bilang gitu. Yang penting sekarang kamu tenangin diri dulu, okay?


Harun : Iya Kak ..., tapi jangan bilang Ayah dan Kak Zahra kalau Harun yang kasih tahu Kakak soal Bunda, ya?


Hanna Aleesa : Iya, Kakak nggak akan kasih tahu. Kalau gitu Kakak datang pagi nanti. Kamu bisa kan kirim alamat rumah sakitnya?


Harun : Iya, Kak.


Hanna Aleesa : Terus sekolah kamu gimana?


Harun : Nggak apa, Kak. Harun lebih milih ketinggalan ujian daripada ninggalin Bunda sendiri di sini. Maaf, ya, Kak, udah telepon tiba-tiba.


Hanna Aleesa : Ya udah, nanti biar Kakak telepon ke sekolah kamu, sekarang kamu jagain Bunda, ya, sampai Kak Hanna datang ke situ. Kalau ada apa-apa lagi, kamu langsung telepon Kakak aja. Kakak nggak tidur kok.


Harun : Kak Hanna nggak tidur karena Harun telepon?


Hanna Aleesa : Engga, Kak Hanna emang baru minum kopi, soalnya mau begadang dan banyak urusan yang harus Kakak selesaiin.


Harun : Ya udah, Kak. Nanti kalau ada apa-apa, Harun telepon Kakak lagi. Assalamualaikum.


Hanna Aleesa : Wa'alaikumsalam warahmatullah.


[Call Ended]


Kumasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas, setelah Harun memutuskan panggilannya. Aku terduduk di kursi ruang tamu, mengatur napasku yang sempat berjalan tak beraturan. Sedikit saja aku sudah bisa bernapas lega karena Bunda sudah ditangani oleh dokter dan mendapatkan kamar inap. Sisanya, aku tinggal mengurusnya esok hari. Pikirku.


"Pagi ini, tolong bawakan sopir untuk antar saya ke rumah sakit, ya?"


"Dengan siapa anda akan pergi, Nyonya?"


"Pak Erwin."


"Baik, akan segera saya siapkan untuk berangkat pukul sembilan pagi ini."


Setelah meminta bantuan Hugo menyiapkan sopir untukku, aku berencana kembali ke kamar. Kali ini sengaja aku memilih jalan panjang, melewati satu per satu anak tangga untuk sampai ke lantai tiga, tanpa harus berpapasan lagi dengan Mas Adrian atau pun Khadija.


Ketika aku melangkah di hampir dua anak tangga teratas, Mas Adrian sudah berdiri menungguku dengan ekspresi dingin. Tanpa berbicara sepatah kata pun, ia menarik tanganku sampai ke dapur. Dengan tenaga kuatnya, aku hanya pasrah karena tahu tak bisa memberontak sedikit pun dari tarikan kasar itu.


"Apa maksud kamu bilang 'aku bisa pergi sendiri' di tengah malam begini?"


Pertanyaan itu ia lontarkan dengan suara rendah penuh penekanan seakan mengintimidasiku. Aku sampai menundukkan kepala dan spontan bahuku terangkat naik akibat perlakuan kasarnya.


"Emangnya kenapa?"


"Kenapa?" Ia semakin mendekat dan kedua mata menatap tajam tanpa ampun.


Aku mengangkat kepalaku, membalas tatapan itu lurus. "Iya. Kenapa? Aku tanya kenapa, aku harus pergi sama kamu selagi aku bisa selesaikan semuanya sendiri? Kamu juga punya kewajiban kamu sendiri, kan? Aku tahu sekarang aku nggak bisa terlalu bergantung sama kamu. Karena itu aku nggak akan mungkin ngajak kamu pergi saat itu juga."


"Cukup, sampai sini aja. Kita bisa bicarakan lain kali."


"Iya. Berharap aja masih ada lain kali untuk kita bicara hal-hal kayak ini." Aku pergi meninggalkan Mas Adrian, kembali ke kamar.


Semua yang kulakukan barusan rasanya sudah benar kulakukan. Tapi begitu langkah kaki ini sampai di dalam kamar, mulai kembali timbul rasa menyesal. Kenapa aku tadi bersikap seperti itu sama Mas Adrian? Bukannya wajar kalau aku harus meminta izin dulu sebelum pergi ke mana atau melakukan sesuatu. Kenapa aku bisa bersikap egois seperti itu?


"Aku harus minta maaf. Yang kulakukan salah. Tapi ...," gumamku lirih seraya menggigit ujung ibu jari.


*Pokoknya harus minta maaf dulu*!


Aku kembali membuka pintu kamar dan keluar untuk mencari Mas Adrian. Rasa mengganjal ini akan terus mengganggu pikiranku sampai pagi kalau aku tak meminta maaf. Begitu yang kupikirkan saat melangkah cepat kembali ke dapur. Sayangnya Mas Adrian sudah tak ada di sana. Kemungkinan ia ada di kamar Khadija. Tapi meski begitu, tak mungkin bagiku mengganggu mereka di jam segini.

__ADS_1


Ah! Kenapa jadi seperti ini!


...----------------...


Pagi datang, dan mimpi burukku pun terjadi. Suasana di meja makan terasa sangat aneh. Aku duduk berhadapan dengan Mas Adrian, sementara Khadija duduk di sebelah kiri Mas Adrian. Karena sarapan kali ini hanya ada sandwich, aku juga tak terpikirkan untuk mengisi piring kosong di depan Mas Adrian. Rasanya sangat kaku dan tak nyaman. Sampai-sampai aku ingin lari dari sana.


"Kalau pagi, biasanya kamu minum apa? Kopi? Kamu mau kopi? Atau susu, biar aku bikinin?" tawar Khadija dengan satu tangannya bertengger di bahu Mas Adrian.


Aku melihat pada Khadija dan berlanjut ke arah raut muka Mas Adrian. Segera kupercepat sarapanku pagi itu karena tak bisa terus-menerus menahan diri memandangi sepasang pengantin baru itu. Tentu saja penderitaan yang kurasakan tak berhenti sampai di situ. Khadija yang sudah sangat akrab, benar-benar menunjukkan padaku bagaimana menjadi sosok istri yang begitu perhatian kepada suami.


Aku berdiri begitu sandwich di piringku habis. "Udah selesai makannya?" tanya Mas Adrian basa-basi.


Aku tersenyum tulus menatapnya. "Udah. Oh ya, abis ini aku harus ke rumah sakit, setelahnya ke cafe, dan sore aku harus gantikan kamu meeting  sama karyawan. Mungkin aku pulangnya agak malam, bisa aku titip ini, untuk Garrin?" tanganku menyodorkan sebuah amplop berisi surat kerjasamaku dan Johana.


"Ada urusan apa sama Garrin?"


"Kita ada kerjasama antara cafe sama salah satu brand makanan milik Johana. Jadi, nanti Garrin yang akan ambil langsung ke sini. Tolong, ya?" pintaku sambil tersenyum sekali lagi.


Jangan ditanya lagi bagaimana sakitnya tersenyum di hadapan suami dan istri barunya. Lebih sakit lagi karena yang ada di posisi itu adalah Khadija. Rumitnya hidup ini sangat tak sesuai dengan hidupku di masa lalu yang terbilang simpel dan sederhana. Semuanya akan serba rumit mulai sekarang.


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Hugo?


Hugo : Iya, Nyonya?


Hanna Aleesa : Mobil dan sopirnya sudah siap?


Hugo : Sudah Nyonya, sopir wanita yang anda minta sedang salam perjalanan ke kediaman anda bersama dengan Pak Erwin.


Hanna Aleesa : Baiklah, terimakasih.


Hugo : Sudah tugas saya, Nyonya.


[Call Ended]


Panggilan berakhir bersamaan dengan pagar rumah yang dibukakan oleh security. Mobil hitam yang biasa dipakai Mas Adrian untuk bekerja itu memasuki pekarangan rumah. Aku memeriksa sekali lagi barang-barang yang kubawa sebelum akhirnya pergi. Setelah semua selesai, aku melangkah menuruni anak tangga teras rumah, dan sopir wanita yang kuminta itu segera membukakan pintu mobil.


"Silakan, Nyonya," ucapnya menunduk hormat.


"Tidak perlu sungkan, santai saja. Saya tidak ingin orang yang bekerja dengan saya menilai saya sebagai orang yang gila hormat." Wanita itu mengangguk mendengarku berkata, lalu aku masuk ke kursi belakang mobil.


"Pak Erwin. Gimana jadwal hari ini? Masih bisa, kan, kalau saya ke rumah sakit dulu?"


"Bisa, Nyonya. Ini schedule kita hari ini." Pak Erwin yang duduk di sebelah kiri depan, memutar badannya untuk menyerahkan iPad berisikan jadwal hari ini.


Aku membacanya satu per satu dengan teliti. Mas Adrian memang selalu sesiibuk ini kalau soal pekerjaan. Pikirku dalam hati.


"Oh ya, Pak Erwin?"


"Iya, Nyonya?"


"Agata gimana kabarnya? Kandungannya sehat-sehat aja, kan?" tanyaku.


"Puji Tuhan, istri saya dan kandungannya sehat-sehat. Sudah semakin dekat dengan hari lahiran, makin susah bergerak."


"Alhamdulillah kalau begitu. Semoga sehat-sehat aja sampai lahiran nanti."


"Yuk, jalan sekarang."


"Baik."


Mobil keluar dari pekarangan rumah perlahan, menjauh meninggalkan rumah itu, hingga kini berada pada jalan panjang yang penuh dengan ramainya kendaraan berlalu-lalang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


^^^Mulai hari ini, Suddenly Married (Tiba-tiba Menikah), update episode baru setiap pukul 10 malam atau 22.00 WIB.^^^


^^^TERIMAKASIH untuk yang senantiasa menunggu-nunggu kelanjutan cerita ini🙏^^^

__ADS_1


__ADS_2