
"Sialakan masuk." Pak Erwin membukakan pintu ruangan.
Aku masuk dan duduk di kursi yang disediakan seperti biasa. Karena ini bukan pertama kalinya aku menghadapi wawancara kerja, mentalku sudah terbiasa dengan keadaan dan situasi yang menegangkan seperti ini. Belum lama aku duduk menunggu, seorang wanita mengenakan blouse abu-abu gelap duduk di kursi manager. Yang membuatku agak terkejut adalah melihat Agatha yang muncul di sana.
"Tes yang kami ajukan bukan seperti interview kerja. Melainkan kami akan memberikan sebuah situasi yang harus anda tangani. Pengujiannya pun menggunakan sistem operasi yang dimiliki oleh perusahaan ini. Sehingga apapun hasilnya, itulah kemampuan anda."
Aku menyimak penjelasan yang disampaikan Agatha dari awal sampai akhir. Sejauh ini aku paham dengan pengujian yang dimaksud. Secara garis besar, aku harus melakukan serangkaian tes yang disiapkan dan membiarkan sistem komando yang akan menentukan kecocokan potensiku dengan posisi di perusahaan ini.
"Sebelumnya sudah diberitahukan bahwa tes ini mungkin akan berjalan lebih dari lima jam?"
Aku mengangguk. "Iya."
"Baiklah, anda bisa ikut saya ke lantai tujuh." Agata berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar ke arah lift.
"Bisa saya tanya satu hal?"
"Silakan."
"Seperti apa gambaran umum dari tes ini?"
"Kuncinya adalah anda harus menjadi diri sendiri dan melakukan sebaik mungkin apa pun yang ada di depan anda. Karena penilaian dari sistem perusahaan kami tidak pernah salah."
"Apakah ada kriteria penilaian khusus?"
"Anda akan tahu setelah mencobanya sendiri." Agata tersenyum lantas berjalan keluar dari lift.
Ruangan serba putih dan kaca menyambut kedatangan kami. Aku sempat terpesona melihat sekeliling yang sepertinya memakai teknologi tinggi. Ini seperti sebuah aset berharga perusahaan yang hanya dipakai di saat-saat tertentu.
"Anda bisa masuk ke dalam ruangan di sebelah kiri ketika anda sudah siap." Tunjuk Agata.
Di ruang sebelah kiri yang ditunjuknya, berdiri seseorang berpakaian formal di sebelah pintu masuk ruang kubus tersebut. "Boleh saya masuk sekarang?" tanyaku.
Agata tersentak sesaat mendengar pertanyaanku itu. "Silakan."
"Karena tidak diperkenankan membawa alat atau perangkat apapun, kami akan memberitahukan setiap perubahan waktu kepada anda. Semoga berhasil," tuturnya seraya tersenyum dan tetap menunjukkan keformalitasannya.
"Di ruangan itu terdapat delapan belas kamera yang terhubung langsung dengan komputer perusahaan, dan perangkat milik Presdir," bisik Agata menahanku.
"Adrian bisa lihat langsung ujian ini?"
Agatha tersenyum pertanda 'iya' "Karena itu, tunjukkan kemampuan terbaik anda, Nyonya." Agata menunduk hormat, kemudian aku berjalan menuju ruang kubus itu.
Seperti yang diperingatkan oleh Agata di awal, aku baru menyelesaikan seluruh tes pukul empat sore. Memang ada waktu istirahat untuk salat dzuhur dan makan siang dari rentang waktu pukul sembilan pagi sampai empat sore, tapi rasanya cukup melelahkan. Begitu keluar dari ruangan itu, aku mendapat pemeriksaan psikologis dari ahli psikologi yang juga merupakan bagian perusahaan.
Hasil dari serangkaian tes itu dapat dilihat maksimal dua jam setelahnya. Sehingga Pak Erwin dan Agata kembali ke rumah bersamaku. Keduanya menanyakan beberapa hal mengenai proses ujian selama di perjalanan pulang. Akumulasi data dari seluruh tes yang kulalui akan diterima dalam bentuk poin dan pengkategoriannya pun berdasar pada poin tersebut.
Sama rasanya seperti menunggu pengumuman hasil seleksi UTBK. Sedikit terbesit dalam pikiranku tentang rasa takut bila hasilnya jauh di bawah perkiraan. Tapi semua itu segera kusangkal dalam hati. Toh aku sudah mengupayakan yang terbaik.
"Sebelum sampai ke rumah, mungkin Nyonya perlu sesuatu?"
Aku berpikir sejenak. "Kalau begitu tolong carikan es krim. Saya mau es krim stroberi. Agatha? Kalau kamu mau juga nggak apa-apa. Hari ini karena kalian sudah menemani saya seharian, saya mau traktir." Aku mengangkat salah satu kartu kredit dari dalam dompet.
"Maaf Nyonya, kami tidak bisa menerima penawaran seperti itu. Itu jelas melanggar peraturan yang dibuat Presdir."
Aku mengangkat ponselku mendengar penolakan Pak Erwin seperti yang sudah kuduga sebelumnya. "Mungkin ada beberapa peraturan yang perlu diubah setelah Presdir kalian itu pulang dari pekerjaannya."
[ Voice Call ]
Hanna Aleesa : Assalamualaikum, Sayang? Kamu di mana?
Adrian Al-Faruq : Wa'alaikumsalam. Ini baru pulang dari kantor. Ada apa tumben banget manggil Sayang duluan
Hanna Aleesa : Oh, nggak mau? Kalau nggak mau aku tarik nih
Adrian Al-Faruq : Iyaa mau dong. Gimana tesnya?
Hanna Aleesa : Bukannya kamu bisa lihat langsung?
__ADS_1
Adrian Al-Faruq : Iya sih, tapi aku mau jawaban dari kamu langsung, gimana perasaan kamu setelah tes?
Hanna Aleesa : Baik-baik aja. Dan ada yang lebih penting dari pada tes atau ujian apalah itu.
Adrian Al-Faruq : Apa? Kamu mau minta apa?
Hanna Aleesa : Jadi gini, aku lagi mau makan es krim stroberi. Karena kamu belum pulang, aku minta ditemenin Pak Erwin dan Agatha. Tapi mereka nolak kalau aku yang bayar, katanya melanggar peraturan Presdir. Kamu sebagai Presdir, gimana nih? Padahal aku pingin banget traktir mereka berdua
Adrian Al-Faruq : Hahaha, kamu bilangin tuh sama mereka, peraturan ada untuk dilanggar
Hanna Aleesa : Okay aku udah loud speaker suara kamu barusan. Makasih, ya...
Adrian Al-Faruq : Sama-sama, Aleesa Sayang, kalau aku pulang aku juga minta kamu traktir jalan-jalan, ya. Kira-kira kamu mau kemana untuk honeymoon kita? Hadiah dari-
Hanna Aleesa : Udah, ya, aku tutup teleponnya. Assalamualaikum.
Pipiku yang memerah, ditambah ekspresiku yang terkejut tak sanggup kututupi. Aku mengakhiri panggilan itu kemudian menyimpan kembali ponselku. "Gimana? Dengar sendiri, kan?"
Pak Erwin dan Agata pun menyetujui permintaanku. Aku puas memakan es krim stroberi yang tiba-tiba muncul dalam pikiranku itu, sementara Pak Erwin dan Agata menikmati makanan mereka. Untuk pertama kalinya kartu yang diberikan padaku itu berfungsi. Bill pun aku yang membayarnya. Sampai rumah, perut kenyang, hati senang, dan perasaan jadi lebih terlegakan.
Sekira pukul enam petang, begitu selesai salat maghrib, Pak Erwin dan Agatha menungguku di ruang tamu. Laptop di depan mereka menampilkan tulisan dan diagram yang menimbulkan kesunyian selama beberapa saat. Aku memandang dua orang itu bergantian, tapi tidak ada yang menjawabku.
"Anda harus lihat ini, Nyonya." Agata menunjukkan layar laptopnya.
Aku membaca tulisan yang tertera di sana. "Poin 3423, Hanna Aleesa Al-Faruq."
"Kenapa? Apa itu nilai yang setara karyawan biasa?" tanyaku lagi pada keduanya.
"Nilai anda dua angka lebih tinggi dari milik Presdir enam bulan lalu." Pak Erwin mengatakannya dengan mata masih membelalak ke arah layar.
Bibirku spontan ikut menganga mendengarnya. Aku pun menepi sembari mencari-cari nama Adrian Al-Faruq di ponselku. Tentu saja aku harus menghubunginya untuk memamerkan kemampuanku itu.
[ Voice Call ]
Hanna Aleesa : Assalamualaikum
Adrian Al-Faruq : Wa'alaikumsalam
Adrian Al-Faruq : Ya ampun, kedengarannya kamu senang banget bisa mengalahkan nilai pemilik perusahaan
Hanna Aleesa : Emang bener, ya?
Adrian Al-Faruq : Ya, nggak salah sih. Tapi itu tesku enam bulan lalu. Mungkin aja sekarang berubah lagi
Hanna Aleesa : Tapi untuk sementara aku berhasil mengungguli kemampuan anda, Presdir. Benar begitu?
Adrian Al-Faruq : Anda benar Nyonya Al-Faruq.
Hanna Aleesa : Aku mau minta hadiah.
Adrian Al-Faruq : Hadiah apa? Akhirnya loh, kamu minta sesuatu dari aku. Kamu mau apa?
Hanna Aleesa : Aku mau kamu mempercepat kerjaan kamu di sana. Begitu kamu pulang, kita ke dokter kandungan, dan kita serius bikin program.
Adrian Al-Faruq : Hah? K- kamu serius? Itu hadiah yang kamu mau?
Hanna Aleesa : Iya, aku serius. Kita belum pernah serius ngobrolin soal itu, dan kali ini aku mau serius. Presdir juga butuh penerus, kan?
Adrian Al-Faruq : Aku masih nggak percaya kamu tiba-tiba minta ini
Hanna Aleesa : Aku minta maaf, mungkin selama ini aku nggak peka. Kamu pasti juga nunggu sampai waktu ini datang, kan?
Adrian Al-Faruq : Nggak perlu minta maaf. Aku senang banget dengar permintaan kamu barusan
Hanna Aleesa : Iya, makanya cepat pulang
Adrian Al-Faruq : Kayaknya aku baru bisa pulang akhir pekan nanti. Sabar, ya...
__ADS_1
Hanna Aleesa : Akhir pekan? Delapan hari lagi dong? Kok diperpanjang lagi, sih?
Adrian Al-Faruq : Iya, aku juga nggak tahu, tapi itu permintaan perusahaan, jadi, mau nggak mau aku harus nurut. Setelah ini, kan aku resign
Hanna Aleesa : Ya udah, nggak apa-apa, aku tungguin kok
Adrian Al-Faruq : Sabar, ya, Sayang..., dan lagi, untuk hasil tes tadi kamu emang paing sesuai jadi pemimpin. Mungkin nanti aku bisa tempatin kamu jadi kepala divisi untuk sementara.
Hanna Aleesa : Emangnya aku bisa?
Adrian Al-Faruq : Lebih dari yang kamu bayangkan
Hanna Aleesa : Okay deh. Aku ikut mau kamu aja
Adrian Al-Faruq : Udah sana, syukuran sama orang-orang rumah
Hanna Aleesa : Makasih, ya. Kamu juga istirahat gih, pasti cape banget. Assalamualaikum
Adrian Al-Faruq : Wa'alaikumsalam
Setelah hasil tes hari itu diumumkan, selama tiga hari, aku mendapat pelatihan ekstra dari Agata dan Pak Erwin sebelum akhirnya aku menjadi bagian dipertemuan klien nantinya. Macam-macam hal yang kupelajari lebih dari sekedar teori. Tapi kalau boleh jujur, praktek di lapangan lebih menyenangkan dibanding yang kukira.
Setelah tiga hari yang padat akan pelatihan, aku bersama dua orang yang selalu menyertai itu berangkat ke Jakarta untuk pertemuan dengan klien pertama sebagai uji coba lapangan masa training ini. Di situlah, pekerjaanku yang sebenarnya benar-benar dimulai. Walau tak bisa dikatakan mudah, namun semua yang telah kupelajari membuatnya menjadi lebih ringan.
Hingga tak terasa hari-hari di Jakarta telah usai, Agatha dan Pak Erwin menilai kemampuanku cukup baik dari ekspektasi mereka berdua. Kesibukan pun beralih pada acara pindahan rumah. Seperti yang sudah diberitahukan bahwa aku akan kembali ke rumah utama sekaligus menyambut kedatangan Adrian dari Surabaya. Mengingat hal itu, jantungku berdebar kencang setiap waktu. Akan jadi seperti apa pertemuan kami nanti.
Ketika baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, aku berhenti di depan cermin. Dengan selembar handuk yang melilit di tubuhku, tampak jelas ada perubahan bentuk tubuh yang hampir tidak kusadari. Aku menghadap ke kanan, depan, kiri, dan makin tampak beberapa bagian tubuhku menimbun lemak.
Click! Pintu kamar terbuka tiba-tiba, spontan aku melipat kedua tanganku di depan dada.
"Oh! Maaf, Nyonya. Saya tidak ada niat untuk mengganggu waktu anda. Silakan dilanjutkan." Ia kembali menutup pelan pintu kamar.
"Eh! Tunggu bentar. Coba ke sini dulu deh," perintahku menahannya pergi.
"Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya lakukan untuk anda?" tanyanya perlahan menutup kembali daun pintu dan berjalan ke tempatku berdiri.
Aku mengacungkan jari telunjukku tepat di depan matanya. "Tolong kamu jawab jujur pertanyaan saya, ya."
"Iya, Nyonya."
"Saya gendutan, ya? Iya, kan?" tanyaku memperlihatkan bayangan tubuhku di cermin.
Agatha hanya terdiam melihatku dari cermin. "Tuh, kan? Saya gendutan, kan?" Aku mengulang pertanyaan yang sama.
"Kalau saya lihat, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada yang berubah dari tubuh anda, Nyonya," komentarnya.
"Tapi saya gendutan, Iya, kan? Jangan bohong!"
"Saya sudah mencoba berkata jujur, di mata saya, tidak ada yang berubah dari tubuh anda."
"Tapi berat badan saya naik empat kilo dalam seminggu," curhatku kesal beecampur gelisah.
"Apa perlu saya bawa Mba Rina kemari? Kalau anda tidak cukup puas dengan jawaban saya, anda bisa percaya dengan Mba Rina, kan?" tawarnya.
Bibirku terdiam selama beberapa saat, mencoba menghibur diri sendiri agar tak termakan emosi sesaat. Aku duduk di pinggir ranjang dengan masih melihat sedikit ke arah cermin. Agatha pergi ke luar dari kamar untuk memanggilkan Mba Rina. Sementara itu aku hanya bisa percaya bahwa ucapan Agatha tentang bentuk tubuhku yang tak berubah adalah fakta.
Tapi dilihat dari sisi manapun, jelas tampak perkumpulan lemak di bagian perut dan lengan. Ini adalah sesuatu yang mengerikan bagiku, karena untuk pertama kalinya berat badanku naik empat kilo dalam seminggu. Saat Mba Rina datang kepadaku, pertanyaan yang sama dengan yang kuajukan pada Agata kembali kutanyakan.
"Berdasarkan pengamatan saya, tidak ada yang berubah, Nyonya."
"Tapi timbangan saya naik empat kilo...," keluhku sekali lagi.
Tok! Tok! Tok!
"Presdir akan tiba di rumah utama dalam dua jam. Saya yakin anda tidak ingin telat datang." Suara Pak Erwin dari luar pintu.
"Percayalah Nyonya, Presdir tidak akan menyadari perubahan anda. Perubahan sekecil itu sama sekali tak akan terlihat di mata beliau."
__ADS_1
"Anda harus segera bersiap. Kami akan menunggu di luar."