Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
#spin off - penutup "Suddenly Married"


__ADS_3

"Kamu udah siap?" tanyaku melongok ke dalam kamar.


"Udah, Mama ..., Bentar lagi ini."


"Cepetan dong, lama banget sih," protesku.


"Iya, sabar atuh."


Aku segera turun ke lantai bawah, mendahuluinya masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir menghadap ke arah pagar rumah. Hari ini kami akan pergi bersama setelah sekian lama. Kami pun pergi bukannya tanpa ada alasan serius. Tapi memang untuk suatu keperluan penting. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, akhirnya mobil itu mulai keluar dari rumah, menuju ke tempat tujuan kami.


Kami berdua berjalan berdampingan melewati rumah-rumah kecil yang berhimpitan. Aku menggandeng tangan kirinya, dan sebelah tanganku membawa bunga. Cukup lama kami berjalan, sampai berhenti di depan rumah kecil yang menjadi tujuan kami. Doa dan bacaan ayat Al-Qur'an kami lantunkan di depan tanah rata dengan batu nisan yang menandainya.


"Papa ..., inshaa Allah besok anak kita akan menikah dengan gadis pilihannya. Mama bisa menilai gadis itu sebagai perempuan yang baik. Inshaa Allah gadis pilihan Asyqar akan jadi menantu sekaligus anak perempuan seperti yang kita inginkan dulu."


"Pa ..., maafin Asyqar karena baru sekarang datang ke rumah baru Papa. Selama setahun ini banyak hal yang terjadi sama Asyqar. Tapi Asyqar janji, kedepannya akan selalu jagain Mama, jagain Azam dan Aydan untuk Papa. Maaf kalau Asyqar dulu sering ngelawan Papa. Sekarang Asyqar tahu rasanya menjadi seorang laki-laki, dan betapa besar tanggungjawab yang Papa lakukan demi keluarga kita."


Angin bertiup seakan jadi penghantar sendu kala itu.


"Papa, inshaallah besok Asyqar akan memulai keluarga baru. Tapi seperti yang Papa selalu bilang dulu, Asyqar janji akan selalu ada untuk Mama. Asyqar akan berbakti kepada Mama seperti pesan Papa."


Aku tersenyum melihat sosok Adrian pada diri Asyqar, putraku. Dari sorot mata teduhnya sampai postur tubuhnya pun, tidak jauh berbeda dari Adrian yang kuingat. Melihatnya saja, membuatku semakin rindu pada Adrian.


Dua tahun lalu, Adrian didiagnosis oleh dokter mengidap aneurisma otak. Selama delapan bulan ia berjuang keras, dari operasi, hingga berbagai perawatan dilakukan. Sampai Allah berkehendak lain, Allah angkat rasa sakit itu dari raga Adrian, dan Allah bawa ruh Adrian bersamanya. Kami sekeluarga merasa sangat kehilangan. Tapi seperti yang pernah kukatakan, bahwa hidup harus terus berjalan.


Maka, tak ada lagi yang perlu diratapi. Kini Adrian telah tenang di sisi yang kuasa. Dan kami yang masih diberi kesempatan untuk hidup, hanya bisa terus mendoakannya. Tak ada air mata. Aku dan Asyqar bangkit dari duduk, berjalan keluar dari tempat pemakaman dengan senyum lega. Tak ada yang perlu ditangisi. Aku justru bersyukur karena tidak perlu melihat Adrian menderita lagi.


Selama di dalam mobil, Asyqar menanyaiku banyak pertanyaan tentang ceritaku dan Adrian sampai kami menikah. Ia menanyakan bagaimana sikap Adrian padaku, dan banyak hal lain. Sampai tanpa sadar, kami sudah tiba di restoran, tempat kedua yang kami tuju.


"Ma," panggil Asyqar padaku sebelum kami turun.


"Apa lagi?"


"Asyqar mau tanya, tapi Mama jangan sedih, ya?"


Aku kembali duduk, menatapnya dalam-dalam. "Mau tanya apa? Kalau diawal kamu udah bilang gitu, bisa-bisa Mama nangis nih."


"Jangan dong. Itu ... tadi Asyqar lihat, Mama sama sekali nggak nangis, ya, waktu di makan Papa? Emang Mama nggak sedih? Asyqar aja hampir nangis tadi."


"Sedih itu pasti ada, Nak. Tapi Mama nggak mau jadi beban buat Papa yang udah tenang di sana. Mama justru lebih sedih kalau ingat Papa yang kesakitan. Mama lebih sedih kalau ingat Papa menangis karena nggak bisa berdiri untuk salat di tengah kondisinya. Tapi sekarang, Papa udah dapat tempat terbaik, jadi Mama nggak perlu nangis lagi."


Asyqar tersenyum mendengar penjelasanku. "Ternyata apa yang Papa bilang selama ini nggak salah. Mama adalah wanita terkuat yang pernah ada." Putraku itu memelukku erat. Dan justru itulah yang memantik air mataku. Pelukan dari putra yang sebentar lagi akan menanggung tanggung jawab berat sebagai kepala keluarga di rumahnya sendiri.


"Waktu tiga puluh tahun untuk mengenal Papa di dunia ini sudah lebih dari cukup buat Mama. Karena Papa pernah janji sama Mama, akan menunggu Mama di surganya Allah. Abadi."


"Udah ..., nggak usah sedih. Sekarang kita turun aja, Azam sama Aydan katanya udah sampai, kan?"


"Iya, mereka udah nunggu di dalam." Asyqar buru-buru turun, membukakan pintu untukku.


Alhamdulillah, syukur aku bisa mendapatkan putra-putra yang soleh. Sama seperti Papanya, anak pertama kami adalah seorang pemerhati bahkan untuk hal yang kecil sekalipun. Wanita yang dipilihnya pasti sangat beruntung. Begitu pun aku ibunya, juga sangat beruntung memiliki putra seperti Asyqar.


Memasuki restoran itu, kami segera diarahkan menuju private room yang telah dipesan dua minggu sebelumnya. Meski ini adalah restoran milik keluarga kami, tapi satu hal yang kutanamkan pada anak-anakku, untuk tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan bagi mereka melakukan tindakan semaunya. Karena itu, Asyqar sendiri yang memesan tempat itu dan harus menunggu selama dua minggu antrean, baru kami bisa memakainya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, loh, Mama datang sama Kak Asyqar? Pantesan tadi aku mau jemput, nggak mau." Azam serentak berdiri dan mencium tanganku, diikuti Aydan.


"Iya, tadi kita ada acara penting dulu yang perlu didatangi," balas Asyqar.


"Acara apa?" tanya Aydan ikut bersuara.


"Acara yang cuma bisa didatangi Mama dan anak sulungnya," celetuk Asyqar sengaja menggoda adik bungsunya.


"Ooh gitu. Puas-puasin dulu aja main sama Mama. Besok kan udah punya istri tuh, jadi udah nggak bisa main sama Mama lagi."


"Apa sih ngasal banget kalo ngomong. Kuliah aja tuh, yang bener."


"Gua udah kuliah bener-bener ya. Anak Mama nih."


"Dih."


Suasana memang selalu ramai setiap kali kami berkumpul seperti ini. Namanya anak laki-laki memang suka berdebat dan ngobrol ngalor-ngidul begini. Tapi, meski hanya bisa berkumpul sebentar, rasanya sudah sangat menyenangkan. Di antara mereka bertiga, Azam adalah yang paling pendiam. Jaraknya dengan sang Kakak yang hanya terpaut satu setengah tahun, membuatnya punya rival alami sejak dini, dan selalu mencoba menjadi Asyqar versi terbaik.


Azam yang tiba-tiba mendapatkan panggilan di ponselnya, undur diri dari perdebatan saudara. Tampaknya ia menerima panggilan yang sangat mendesak. Biasanya kalau sudah seperti ini, ada hubungannya dengan bisnis dan pekerjaan. Beberapa saat kemudian ia kembali ke tempat duduk.


"Telepon dari siapa, Zam?" tanyaku.


"Dari orang kantor, Ma."


"Ada masalah di kantor?" Tanyaku memandangi wajah cemas itu. "Kalau emang ada masalah, kamu bisa loh skip dulu makan siang kita. Lain kali kita jadwalkan lagi."


"Yah, Zam. Masa udah sampai di sini mau di skip? Sepenting apa sih masalahnya?"


"Ada partner yang tawarin kerjasama project besar. Tapi mereka mau majukan meeting-nya sekarang dan minta aku untuk datang."


"Terus Kak Azam tega mau pergi gitu aja?"


"Ehh ..., kalian berdua jangan gitu. Kalau emang ini penting untuk Azam, biar Azam skip dulu makan siangnya. Kita bisa makan malam di rumah Mama kapan-kapan. Nanti Mama masakin yang enak-enak. Tinggal kasih tahu Mama aja, kalian mau makan apa."


"Udah, Zam, urusan pekerjaan kamu juga nggak kalah penting. Nggak usah dengerin Kakak sama Adik kamu. Makan siangnya masih bisa besok-besok lagi."


"Iya, Ma. Soalnya ini kolaborasi project besar sih."


"Udah, jalan aja. Nggak apa-apa."


"Bener nih, Ma?"


"Iya, Azam."


"Kalau gitu Azam pergi dulu ya." Azam segera mengambil tasnya dan keluar dari private room.

__ADS_1


Aku tidak ingin menjadi sosok Mama yang menghalangi kesuksesan anaknya. Ibarat kata, Biarlah kami tidak bisa bertemu untuk sementara waktu, asal mereka masih ingat jalan pulang ke rumah.


Beberapa saat kemudian, kami melanjutkan obrolan bertiga. Sampai pintu private room itu diketuk dari luar, tanda pelayan akan mengantarkan menu. Mendengar suara laki-laki terdengar dari luar, kompak, Asyqar dan Aydan mencari sesuatu untuk menutupi wajah Mamanya. Ekspresi kaget mereka sangat lucu dari perspektifku.


"Sebentar!"


"Udah nih, Mama udah pakai."


"Ahhahaha." Keduanya saling menertawakan kepanikan masing-masing.


"Masuk!"


Setelah disilakan, pelayan membawa masuk menu makanan yang kami pesan. Kemudian pergi lagi. Sebelum keluar, Asyqar sempat berbicara lirih pada salah seorang pelayan.


"Menu yang kita pesan udah dibawa masuk semua, kan?"


"Iya, sudah."


"Makasih ya. Nanti kalau kita mau minta menu tambahan atau sesuatu, usahain pelayan yang masuk perempuan aja."


"Oh, baik, Pak."


"Makasih."


Setelah pelayan itu keluar, aku menepuk pundak Asyqar ringan. "Kak. Nggak usahlah sampai begitu. Mama, kan udah lima puluh dua, siapa juga yang mau sama Mama."


"Ma, aku udah janji sama Papa untuk terus jagain Mama. Cuma itu yang bisa Asyqar lakukan. Lagian, kalau Mama tanya, siapa yang mau sama Mama, sebenarnya banyak kok. Iya, kan Dek?"


"Apa? Apa? Aku nggak nyimak tadi."


"Ck! Mama ini loh ..., meskipun udah kepala lima, tapi masih banyak yang mau. Iya, kan?"


"Eh, iya. Aku setuju tuh. Masa profesor di kampusku aja bilang katanya suka sama Mama." Aydan tertawa mengimbangi pertanyaan Asyqar.


"Tuh kan. Mama emang perlu selalu dijaga. Untung anaknya tiga cowok semua, jadi bisa ngelindungin Mama. Lagian profesor di kelas Aydan genit banget kayanya, bisa tahu tentang Mama dari siapa coba."


"Iya emang. Prof. Bima tuh orangnya agak-agak ..., menarik sih. Suka ceritain kisah-kisah lamanya."


Aku terehenti beberapa saat. "Siapa tadi namanya?"


"Prof. Bima? Itu salah satu guru besar di kampus Aydan, Ma. Orangnya baik sih, tapi ya gitu, kadang suka ngaco kalau cerita. Masa beliau bilang ke Aydan, katanya kenal bahkan minta ketemu sama Mama."


"Dulu ada sih, dosen Mama namanya Pak Bima, waktu itu juga beliau ngajarnya masih muda banget."


"Jangan-jangan orang yang sama?" Asyqar menatapku dan Aydan bergantian.


Aydan segera mengeluarkan ponsel dari sakunya, menunjukkan foto pria berdiri bersamanya. "Ini nih, Ma, prof. Bima yang berdiri di kanan Aydan. Anak-anak kelas Aydan sampai banyak yang nggak suka sama prof. Bima, katanya beliau tuh baik banget cuma sama Aydan selama ini."


"Aaa, Nggak salah lagi sih. Ini Pak Bima dosen Mama dulu," cetusku membenarkan.


"Hah?! Beneran?" Asyqar yang semula diam, akhirnya ikut penasaran dengan foto di ponsel Aydan.


Aydan pun menyimpan kembali ponselnya. "Emang dulu Mama akrab banget, ya, sama prof. Bima?"


"Akrab ..., yah, lumayan lah. Beliau orangnya baik, ke semua orang juga baik. Makanya banyak yang suka ada di sekitar beliau."


"Ooh, pantesan beliau bilang ke Aydan kalau Mama itu dulunya cantik tapi nggak pekaan. Jadi gitu toh maksudnya Profesor Bim Bim."


Kami bertiga kembali tertawa setelah menceritakan kisah masing-masing. Sampai ketika pintu private room tiba-tiba dibuka dari luar. Spontan Asyqar dan Aydan berdiri menutupiku.


"Ah, Kak Azam! Kukira siapa. Bikin kaget aja."


"Eh maaf. Kalian kaget, ya?" Azam ngos-ngosan menjawab ucapan Aydan.


"Kok balik lagi, Zam? Meeting nya gimana?" tanyaku kemudian.


"Nggak jadi, Ma. Azam batalin. Ini tadi Azam baru bilang ke orang kantor."


"Loh? Kenapa dibatalin Dek? Nggak sayang? Katanya project gede?" imbuh Asyqar.


Azam yang perlahan mengatur napasnya lantas berjalan kembali ke tempat duduknya semula. "Kalau dipikir lagi, mereka yang udah sepakat meeting Minggu depan, tiba-tiba main ganti jadwal seenaknya. Masa iya aku harus korbanin waktu keluarga demi mereka? Inshaa Allah rezeki nggak akan ilang gitu aja kok."


"Uuuh, Azam. Jadi terharu, Mama."


"Terus tadi keluar lama ngapain?"


"Barusan aku bilang ke asistenku untuk tetap minta jadwal meeting nya nggak diubah. Tapi kalau masih kukuh mau hari ini juga, aku minta cancel aja."


"Mantap. Ini baru Kakakku." Aydan menepuk-nepuk bahu kakaknya itu.


"Lagian, kapan lagi empat orang single bisa makan siang bareng di satu meja? Hahhaha."


"Oh iya, benar juga. Besok, yang single tinggal tiga karena satu membernya udah ada yang beristri." Celetuk Aydan mengundang tawa kakak-kakaknya.


"Ah udah yuk. Kita makan aja, keburu dingin makanannya. Belum pada salat dzuhur juga, kan?"


"Azam masuk ke sini tadi aja baru masuk waktu Dzuhur, Ma."


"Soalnya buat Mama, salat yang utama, Kak. Nggak kaya lu. Perut mulu yang dipikir."


"Emang mikirin perut, tapi gini-gini juga perut kakak punya enam kotak."


"Halah, baru enam kotak aja sombong. Coba sekali makan burger, bentuknya pasti langsung berubah jadi one pack."


"Duhh, kalian ini. Mau makan aja pakai ribut dulu."


...----------------...


Malam belum terlalu larut ketika Asyqar duduk di kursi menghadap Garrin. Di sana juga ada Kak Danar, dan Harun duduk sebagai saksi dalam satu meja.

__ADS_1


"Ya akhi Asyqar Yusuf Muhammad Al-Faruq Ibna Adrian Al-Faruq haadza ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Asteria Zehra Haflani Wijaya binta Garrin Zachary Wijaya alal mahri, maedin thamin khamsumiayat jiram hallan."


"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq."


"Barakallahu lakuma wa baraka 'alaina kuma wa jama'a bainakuma fii khair. Al-fatihah."


Alhamdulillaahirabbil'aalamiin. Asyqar, satu putraku yang akhirnya harus kulepas untuk membangun rumah tangganya sendiri. Mungkin ini juga yang disebut jodoh nggak jauh-jauh. Siapa sangka Asyqar akan berjodoh dengan putri bungsu Garrin. Bahkan keduanya sama-sama tidak saling mengenal, sampai akhirnya atas inisiatif Garrin, ia mengenalkan Zehra kepada kami.


"Ma, tahun depan aku nyusul Kak Asyqar, ya." celetuk Aydan tiba-tiba.


"Enak aja. Aku yang nikah duluan, dong. Di sini antara kita berdua siapa yang lebih tua hey," sahut Azam tak mau kalah.


"Sudah-sudah, dasar kalian ini. Tahu-tahu besok Mama yang nikah, mau kalian?"


"Heh? Ah, jangan Ma."


"Huss makanya, udah diem."


...----------------...


Dua minggu setelah pernikahan itu, aku sengaja datang ke rumah Asyqar untuk bertamu. Asisten rumah tangga yang membukakan pintu segera mengenaliku, dan menyilakanku masuk. Hanya dalam beberapa saat, Asyqar kemudian turun bersama Zehra menemuiku. Keduanya mencium tanganku, dan duduk di sana. Kejadian itu sama sepertiku dan Adrian dulu ketika Ummi datang ke rumah kami tiba-tiba. Canggung. Tapi sepertinya Zehra lebih pintar dariku, ia dengan mudah memecah kecanggungan.


Selesai menanyakan kabar, berbincang, dan lain-lainnya, aku pun mengutarakan niat utamaku. Aku mengambil tas yang kubawa, lantas menyerahkannya kepada Zehra.


"Ini buat Zehra. Kamu bisa boleh sekarang," ucapku.


"Mashaallah, Mama ...."


"Dulu, neneknya Asyqar kasih Mama niqab. Tapi waktu itu Mama bingung mau dibuat apa niqabnya, karena Mama belum terpikir untuk memakai itu. Sekarang, karena kamu sejak awal udah pakai niqab, sekalian aja Mama berikan itu untuk kamu. Anggap saja tradisi keluarga kita."


"Terima kasih banyak, Ma. Zehra senang sekali. Nggak terbayang bisa dapat hadiah ini dari Mama."


"Sama-sama. Dipakai, ya, Sayang."


"Inshaa Allah, Ma." Ia tersenyum lugu, membuatku sontak terpikir, apakah aku dulu juga begitu di hadapan Ummi.


"Terus buat Asyqar, nggak ada nih?"


"Ada dong, ini." Selanjutnya kuambil kotak berwarna merah muda dengan pita senada, lalu kuserahkan kepada keduanya.


"Itu buat kalian berdua. Share."


Asyqar melihat sisi-sisi kotak itu dengan bingung. "Apa nih, Ma?"


"Itu hadiah dari Papa untuk kalian."


Zehra spontan mengernyitkan dahinya. "Papa mertua?"


"Iya. Itu tujuan utama Mama datang ke sini." kataku.


"Mama tahu mungkin terlalu awal untuk memberikannya kepada kalian sekarang. Tapi itu hadiah dari Papa kalian. Maaf, ya, mengganggu waktu kalian malam-malam begini, Mama akan pulang sekarang." Aku mengangkat tubuhku, berjalan keluar rumah itu diikuti Asyqar dan Zehra yang mengantarku ke depan.


Aku menghirup napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. "Mama pamit pulang, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullah." Asyqar menutupkan pintu mobil.


Dulu, sewaktu aku mengandung Asyqar, aku dan Adrian pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli peralatan bayi. Adrian yang baru akan menjadi seorang Papa, dengan antusias memilih baju bayi perempuan. Aku sudah bilang, mungkin saja aku akan melahirkan baby boy, bukan baby girl, tapi Adrian memaksa ingin membeli baju itu juga. Setelah tahu bahwa ketiga anak kami semuanya adalah laki-laki, Adrian meminta Mba Rina untuk membuang baju itu. Tapi aku diam-diam mengambilnya dan memutuskan untuk menyimpannya di tempat khusus agar bisa bertahan meski usianya lebih dari dua puluh tahun.


Aku pernah mengatakan pada Adrian agar harapannya tak patah begitu saja, "Mungkin adik Aydan nantinya perempuan." Tapi dengan lembut ia menjawabku, "Aku nggak akan mungkin meminta anak perempuan darimu, kalau aku tahu sakitnya melahirkan tiga putra. Kita sudah punya Asyqar, Azam, dan Aydan. Biarlah mereka yang memberikan kita cucu perempuan nanti."


Karena itu, aku memberikan baju yang dibeli Adrian itu untuk Asyqar dan Zehra. Sesuai harapannya, aku ingin suatu saat ada keturunan perempuan yang memakai baju pilihan Adrian itu.


Aku sudah menyampaikan keinginanmu, Mas. Rasa bersalahku karena belum bisa mewujudkan harapanmu, semoga bisa diwujudkan oleh Asyqar dan Zehra.


"Kakak? Dari mana?"


"Loh? Harun ..., udah mau pulang?"


"Iya nih. Ada Papa mertua soalnya di rumah, nggak enak kalau ditinggal lama-lama."


"Oh .., gitu. Ya udah, hati-hati ya."


"Eh Kak. Itu di dalam kayaknya ada tamu deh. Teman lama Kakak mungkin, namanya Pak Bima."


"Huh?"


"Iya. Itu lagi ngobrol sama Azam dan Aydan di ruang makan."


-end.


**Secarik Informasi :


Asyqar Yusuf Muhammad Al-Faruq lahir sebagai putra pertama, ketika Hanna berusia dua puluh dua tahun, dan Adrian berusia tiga puluh enam tahun.


Azam Nafizhar Muhammad Al-Faruq lahir sebagai putra kedua, ketika Hanna berusia dua puluh empat tahun, dan Adrian berusia tiga puluh delapan tahun.


Aydan Ramazan Muhammad Al-Faruq lahir sebagai putra ketiga, ketika Hanna berusia dua puluh enam tahun, dan Adrian berusia empat puluh tahun.


Adrian menutup usia pada umurnya ke enam puluh tiga. Setahun sebelum Asyqar menikah dengan Zehra.


***Untaian terimakasih


Terima kasih banyak kepada Allah subhanahu wa ta'ala


Terima kasih kepada keluarga Kak Azizah yang sudah menginspirasi dan mengizinkan saya untuk menulis cerita ini


Terima kasih banyak kepada seluruh pembaca yang senantiasa menunggu kelanjutan cerita ini sampai akhir.


Salam dari Author, semoga kita bisa bertemu di lain karya :)

__ADS_1


__ADS_2