Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Seseorang dari Masa Lalu


__ADS_3

Aku belum berbicara lagi dengan Mas Adrian sejak kejadian tangan Khadija yang terkena minyak panas. Bahkan setelah kejadian itu, aku merasa seperti ada pandangan lain yang dilemparkan para asisten rumah tangga di rumah kami kepadaku. Sampai membuatku tak nyaman berlama-lama di sana. Pagi ini pun sama, bahkan lebih buruk lagi, karena sebelum aku sempat pergi meninggalkan rumah, Khadija mengajakku bicara dengan nada yang tak enak.


Aku berusaha menunjukkan itikad baikku dengan menerimanya berbicara denganku. Sampai aku merasa bahwa apa yang dikatakannya terlalu berlebihan. Aku tak mengerti kemana ia akan membawa arus pembicaraan kami, sehingga aku hanya menurutinya dan menjawab semua pertanyaannya seperti wawancara.


"Ternyata menjadi Nyonya Al-Faruq sama sekali belum mengubah seorang Hanna. Sadar nggak sih, sifatmu yang selalu menjaga perasaan orang lain dan berusaha membela pihak yang lemah, itu adalah hal yang menjijikkan."


"Benar, jika menjadi Nyonya Al-Faruq belum mengubahku sama sekali. Tapi kamu sendiri sudah sangat berubah sejak datang ke rumah ini. Oh ya, dan aku bukan sedang membela pihak yang lemah, tapi aku membela sesiapa yang menurutku perlu mendapat pembelaan."


"Coba pikirkan lagi, apakah aku yang berubah sejak datang ke mari, atau memang sikapmu yang tak menerimaku berada di rumah ini, sampai-sampai membuatku merasa diperlakukan berbeda."


Aku memejamkan mataku, kedua tanganku menggenggam erat di samping pinggang. "Jangan terlalu serius, aku juga tak berniat merebut gelar Nyonya Al-Faruq darimu. Karena nyatanya, manusia akan lebih susah berlaku adil. Sekarang saatnya kita lihat, Mas Adrian akan datang kepada siapa," sambungnya.


Panas mendengar pernyataan Khadija yang terdengar bagai sebuah ancaman dan tantangan duel. Kaki ini pun berniat melangkah pergi dari hadapannya. Setidaknya untuk sekarang, akan lebih baik aku menghindar dari Khadija. Begitu yang kupikirkan ketika melangkah pergi.


"Kita masih sahabat?" Pertanyaan itu berhasil menahan langkah kakiku yang hendak meninggalkannya.


Bibirku membeku dalam beberapa saat. "Aku juga nggak tahu."


"Tapi aku berharap kita masih sahabat," ucapnya lagi dengan posisinya yang kini membelakangiku.


Serentak kuputar badan 180⁰ menghadapnya. "Kalau kita sahabat, kamu masih mau, kan, mengalah demi kebahagiaan sahabatmu? Toh memang itu yang selalu kamu lakukan," ujar Khadija melanjutkan kalimat sebelumnya.


Aku tak sempat membalas perkataan itu, dan Khadijah telah berlalu menjauh dari tempatnya berdiri. Ucapannya pagi tadi pun masih menggangguku sejak duduk di ruang diektur hingga hampir datang waktu makan siang. Dan kini, pekerjaan kantor di hadapanku ini jadi tak menarik bagiku, setiap kali mengingat perlakuan kasar Mas Adrian kemarin.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


"Permisi Nyonya, ada dua mahasiswa perwakilan dari universitas kota B, datang ke kantor kita untuk wawancara dengan direktur utama AA Corps. Mereka sudah membuat janji sebulan lalu." lapor Pak Erwin.


"Tungggu, hah? Universitas kota B?" tanyaku memperjelas pernyataan Pak Erwin.


"Benar Nyonya. Universitas almamater anda."


"Terus? Kenapa nggak Adrian yang datang?" tanyaku lagi.


Pak Erwin menampakkan raut wajah bersalahnya. "Sebenarnya ini salah saya yang mengatur pertemuan di hari ini. Tapi, saat ini Tuan Adrian sama sekali tidak ingin pergi ke kantor. Saya juga sudah sampaikan kepada pewawancara bahwa untuk sementara ini, posisi direktur utama sedang beralih kepada anda. Tapi mereka justru lebih antusias lagi saat mengetahui anda adalah lulusan Universitas Kota B."


Aku memukul keningku, menarik napas besar. "Kalau saya salah kasih jawaban gimana?"


"Saya percaya anda tidak akan mengecewakan siapapun. Saya mohon maaf atas kekeliruan mengatur jadwal." Pak Erwin sampai menundukkan kepalanya di depanku.


"Sudahlah, kalau begitu ..., di mana wawancaranya?" Aku berdiri dari kursiku, mengikuti Pak Erwin yang menunjukkan jalan.


Kami melangkah keluar dari ruangan direktur, menyusuri lorong panjang, hingga berhenti di depan pintu ruang pertemuan. Pak Erwin membukakan pintu lantas menyilakanku masuk. Dan whallaa, dua mahasiswa dengan almamater yang membuatku merasa seperti reuni itu menyambutku.


Beberapa menit kemudian kami saling mengobrol dan menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan. Menariknya, mereka justru berterimakasih karena menerima wawancara itu dan mendapatkan informasi yang lebih menarik dari mewawancarai direktur utama AA Corps sebenarnya. Sekitar satu setengah jam kami saling mengobrol santai hingga habis waktu wawancara, dan mengakhiri pertemuan kami.


"Terimakasih banyak atas kerjasama anda. Bagaimana pun juga, kami sangat beruntung bisa mewawancarai anda," ucap salah seorang dari mereka.


"Benar. Dan mungkin lain kali di luar kantor, kami akan memanggil anda senior, hahaha," tambah satu lainnya.


"Sama-sama. Bertemu kalian dan memakai almamater kampus, rasanya seperti reuni. Saya juga senang bisa menjawab pertanyaan kalian."


"Kalau begitu kami permisi. Sekali lagi terimakasih atas waktu dan kerjasamanya. Oh ya, besok adalah hari wisuda program sarjana di gedung X, sepertinya akan bagus jika anda berkenan hadir."

__ADS_1


"Kami akan usulkan kepada Pak Bima, selaku penanggungjawab tahun ini. Kalau memang diizinkan, kami akan sangat senang mendengar motivasi dan kisah inspirasi dari anda."


Mendengar salah satu dari mereka menyebut nama itu, seketika aku teringat pada sosok laki-laki berkacamata yang maniak pakaian hitam itu. "Oh, Pak Bima masih ngajar di sana juga?"


"Ternyata benar anda mengenal Pak Bima. Saya kira kedekatan Pak Bima dan salah satu mahasiswi berprestasi itu hanya rumor belaka." Perempuan di sebelahnya segera memukul ringan tangan gadis yang bicara apa adanya itu.


"Baiklah, kami permisi. Selamat siang."


"Iya, hati-hati di jalan."


...----------------...


Selesai dari pekerjaan kantor, aku kembali menemani Bunda di rumah sakit. Harun pun sudah memulai lagi sekolahnya, sehingga Bunda perlu aku untuk menemani. Sedangkan Ayah masih harus mengurus acara-acara kajian di rumah almarhum Kakek. Berpura-pura tak terjadi apa-apa di depan Bunda adalah satu hal yang harus kulakukan, agar kondisi beliau membaik secara bertahap.


"Hann, kamu udah makan?"


"Sudah, Bun ..., tadi sepulang dari kantor. Kenapa? Bunda mau makan sesuatu? Bilang aja biar Hanna yang pergi beli."


"Ayahmu belum datang dari siang, Bunda juga belum sempat telepon. Kalau kamu mau keluar, beliin makan deh buat Ayah. Takutnya sampe sini, dia belum makan."


"Gitu-gitu Ayahmu masih kayak anak kecil. Kalau nggak diingetin, suka lupa makan," tambah Bunda.


"Tapi nanti Bunda sendirian dong, kalau Hanna tinggal."


"Nggak apa. Bunda mah tinggal tiduran aja. Mending kamu pergi sekarang, keburu malam."


"Ya udah, kalau gitu Hanna keluar cari makan dulu, ya?" Aku bangkit dari kursiku, mengambil lunch box dan tas, bersiap pergi.


"Hati-hati di jalan, ya, Hann."


Firasatku tak mengatakan apa-apa ketika langkah kaki ini keluar dari ruangan serba putih yang menjadi tempat Bunda beristirahat. Hanya dengan jalan kaki, aku menempuh beberapa meter keluar dari bangunan rumah sakit. Ke salah satu rumah makan yang menjual rendang favorit Ayah. Di kursi tunggu, aku menanti pesanan Ayah disiapkan sembari memeriksa lagi pesan yang kukirim ke Mas Adrian.


Hanna Aleesa : Assalamualaikum warahmatullah, Mas ..., hari ini ada wawancara dari mahasiswa univ B. Padahal harusnya kamu yg diwawancara sii, tapi alhamdulillah lancar.


Hanna Aleesa : Selamat makan siang! Hari ini makan siangku bento dari restoran bento di depan kantor. Pasti kamu belum pernah cobain. Rasanya enak parah!!!


Hanna Aleesa : Hari ini Mba Rina masak apa buat makan siang di rumah? Jadi kangen masakan Mba Rina :((


Hanna Aleesa : Mas, aku udah keluar kantor. Pak Erwin juga udah kuminta pulang, sekarang Mba Sonya(sopir perempuan yang kuminta ke Hugo waktu itu) antar aku ke rumah sakit.


Hanna Aleesa : Mas, malam ini aku tidur di rumah sakit lagi deh kayaknya. Ga apa, kan, ya?


Hanna Aleesa : Tau ngga? Sekarang aku lagi antre beli rendang buat Ayah. Tetiba jadi keinget kamu hahaha,


Hanna Aleesa : Udah lama ya aku ga masakin rendang buat kamu.


(-)


Aku tak bisa senantiasa berpikir positif tentang hal ini. Tapi, ya sudahlah, memang hanya bersabar yang bisa kulakukan untuk menghadapi situasi saat ini.


"Nasi rendang, ya tadi?"


"Iya. Totalnya berapa?"


"Seratus tiga puluh ribu, Kak."

__ADS_1


Aku membuka dompet dari dalam tas, mengeluarkan uang sejumlah nominal yang disebutkan. "Han, Hanna, ya?" Suara itu mengejutkanku.


"Pak Bima! MashaAllah, bisa nggak sengaja ketemu di sini loh?" Aku terkejut melihat pria itu berdiri di sebelahku.


"Kamu apa kabar?" tanyanya berubah akrab.


"Alhamdulillah baik, Pak Bima juga apa kabar?"


"Alhamdulillah baik juga. MashaAllah bisa lihat kamu berhijab gini. Nggak salah, kan kata-kata saya dulu."


"Pak Bima ini masih nggak berubah ternyata."


Perbincangan kami pun berlanjut. Sebuah pertemuan tak sengaja di rumah makan Padang itu membawa kami berbincang lebih dalam mengenai berbagai hal yang terjadi seputar kampus baru-baru ini. Kebetulan juga beliau berniat untuk menjenguk salah seorang temannya yang dirawat di rumah sakit yang sama dengan Bunda, kami pun semakin banyak berbicara di sepanjang jalan.


Baru ketika aku sampai di persimpangan lorong rumah sakit, kami berpisah. Aku pergi ke arah kanan, tempat ruangan Bunda dirawat, sementara beliau berjalan ke kiri. Karena sejak dulu aku memang selalu merasa nyambung bicara dengan Pak Bima, beliau adalah salah satu orang yang paling membantu dalam proses belajar selama aku menempuh pendidikan di universitas kota B, hingga lulus.


Tak hanya akrab denganku semasa kuliah, Pak Bima mungkin satu-satunya orang yang mau mengenal orangtua dan latar belakang mahasiswa-mahasiswanya. Ia adalah sosok yang kritis. Jujur saja, dulu sekali, dia adalah alasanku untuk tetap berjuang di tengah rumorku tentang sugar daddy dan prestasiku yang mengalami banyak sekali lika-liku. Pikirku kala itu, Beliau adalah sosok yang pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Itu hanya dulu.


"Assalamualaikum ...,"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Gimana? Dapat lauk apa, buat Ayah?" tanya Bunda menyambutku.


"Dapat rendang favorit Ayah!" Aku mengangkat tote bag berisi kotak makan itu.


Bunda hanya tersenyum merespons kataku. Beliau tak banyak bicara, hingga beberapa saat kemudian, Harun dan Ayah datang. Seperti yang Bunda katakan, keduanya sama-sama belum makan, dan datang ke rumah sakit dalam keadaan perut kosong. Firasat Bunda memang tak pernah keliru lagi kalau berkenaan dengan keluarganya.


...----------------...


Aku tersentak ketika mataku bertatapan dengan Mas Adrian yang baru akan masuk ke kamar Khadija. Sontak aku menundukkan pandangan, seolah mengatakan 'permisi' tanpa membuka mulut. Pagi yang kikuk adalah satu-satunya hal yang kuhindari di dalam rumah ini. Dan sialnya, hampir setiap hari selalu saja atmosfer pembawa hawa kikuk itu kembali datang.


"Itu ...,"


Aku mengangkat kepalaku melihatnya, menunggu sampai Mas Adrian mengatakan sesuatu.


"Kemarin aku nggak buka HP sama sekali. Aku baru baca pesan kamu pagi ini."


"O, oh. Soal itu. Iya, nggak apa kok."


"Oh ya. Hari ini ada undangan untuk mengisi acara di wisuda universitas kota B, kan?"


"Oh iya, soal itu ..., mungkin kamu aja yang datang. Biar aku yang selesaiin urusan di kantor."


"Kenapa nggak datang sama-sama aja?"


"Huh?"


"Maksudku, aku memang direkturnya, tapi kamu yang udah bantu menggantikan posisiku. Kamu juga alumni universitas kota B, bukannya datang sama-sama lebih baik?" tawarnnya.


Tanpa menyiakan kesempatan yang langka ini, aku mengangguk setuju. "Iya, kita pergi sama-sama."


"Aku juga ikut, kan?" Khadija berjalan keluar dari kamarnya, berdiri di sebelah Mas Adrian.


"Aku juga diajak, kan, Sayang?" tanyanya lagi.


Refleks, aku menelan ludah pahit. "Undangannya pukul sembilan pagi, mungkin akan lebih baik kalau kita segera bersiap sebelum terlambat," ujarku berlalu masuk ke kamar.

__ADS_1


Tak kusangka hal yang belum pernah kubayangkan benar terjadi hari itu. Kami pergi bertiga ke universitas kota B. Entah bagaimana respon orang-orang ketika melihat kami nantinya, tapi ini adalah pertama kalinya bagi kami jalan bertiga setelah Mas Adrian menikahi Khadija. Sejak berangkat pun, hawa tak nyaman menyelimuti wajah Khadija.


Di dalam mobil, Pak Erwin duduk di bangku kemudi, dan Mas Adrian duduk di sebelahnya. Sementara aku dan Khadija duduk bersebelahan di kursi belakang. Ia tak mengajakku bicara karena fokus dengan ponselnya. Sedangkan aku hanya melihat ke luar kaca, menatap jalanan yang kami lalui pagi itu. Semoga tak ada sesuatu yang buruk terjadi di antara kami.


__ADS_2