Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Keterkaitan


__ADS_3

[Voice Call]


Hanna Aleesa : Agatha, sepertinya hari ini kamu harus handle semuanya sendiri.


Agatha : Anda tidak jadi datang ke kantor, Nyonya? Apakah anda baik-baik saja? Atau ada yang perlu saya lakukan?


Hanna Aleesa : Tidak apa-apa. Saya hanya harus pergi ke rumah Ummi segera, jadi saya minta tolong kamu handle kantor hari ini. Tapi kalau ada sesuatu yang mendesak atau sesuatu yang memerlukan saya, kamu bisa langsung hubungi saya


Agatha : Iya, Nyonya. Akan saya laksanakan


Hanna Aleesa : Satu lagi, jangan terlalu keras sama anak magang


Agatha : Baik, Nyonya


Hanna Aleesa : Terimakasih


Agatha : Senang bisa membantu anda


[End Call]


Aku mengakhiri panggilan itu kemudian menyimpan kembali ponsel ke atas meja di dekat ranjang. Adrian berjalan mendekat lantas duduk di pinggir ranjang sembari menempelkan pelan kompres berisi es ke pipi kiriku. Meski otot pipiku terangkat karena rasa sakit itu, tapi dengan usaha keras aku menahan untuk tak menampakkannya.


Adrian masih tak bicara sepatah kata pun. Tampaknya ia tak ingin membahas tentang apa yang baru saja terjadi. Tangannya juga tak melepas kompres itu dari pipi kiriku sejak beberapa menit berlalu. Saat kompres sudah kembali ke suhu normal, Adrian beranjak pergi untuk mengganti isinya dengan yang baru. Lagi-lagi ia juga tak berkata apapun.


Kakiku beranjak turun dari tempat tidur menuju cermin. Kulihat bayanganku di sana, tampak pula bekas tamparan di pipi kiri. Mungkin sebentar lagi bekas tamparan ini akan membuat pipiku tampak lebih chubby. Pikirku sekilas seraya tersenyum.


"Aku udah isi yang baru. Sini, kompres lagi." Adrian memintaku datang padanya.


"Akhirnya kita impas, ya," kataku mendekat ke tempatnya duduk.


"Impas apanya?" tanyanya tak terlalu mementingkan perkataanku, dan fokus mengompres kembali pipiku.


Tanganku naik meraih punggung tangannya. "Aku pernah sekali nampar kamu, dan sekarang aku sudah tahu rasanya."


Sepasang mata hazel itu menatapku tajam. Bibirnya tak menunjukkan senyum sedikit pun. "Jangan becanda. Aku hampir mengusirnya dari rumah ini kalau saja kamu nggak melarangku."


"Kejadian pagi ini adalah bukti kalau Khadija masih membutuhkan kita untuk pemulihannya. Kita nggak bisa biarin dia tinggal sendiri dengan kondisi seperti ini." Mendengar pernyataanku, Adrian meletakkan kompres di tangannya.


"Aku nggak percaya kalau kamu ini manusia. Hati kamu terbuat dari apa sih, Aleesa?" Adrian membawaku dalam dekapan eratnya. Cukup lama ia mengusap rambut teruraiku sampai akhirnya melepaskan pelukan itu


"Kita bisa cari orang yang berpengalaman untuk ngerawat sahabat kamu itu. Kita bisa bantu dia tanpa harus membiarkan dia tinggal di sini,"


"Bukan gitu, Mas.., penyembuhan mental seperti ini diperlukan andil dari orang terdekat. Sementara sekarang ini kedua orang tua Khadija sudah tiada, dan keluarganya tidak ada yang tahu keberadaanya pula. Mungkin cuma aku dan Garrin yang dia punya saat ini. Khadija hanya perlu waktu."


"Tapi apa yang barusan dia lakukan? Kamu nggak pantas membelanya setelah apa yang udah kamu terima hari ini." Adrian mengatakannya dengan suara keras. Geram dan marah masih menguasainya sekarang.


Adrian memejamkan matanya beerapa saat seraya menghela napas. "Okay, mungkin kita bisa sedikit mengesampingkan soal ini. Tapi sekarang gimana? Kita harus ketemu Ummi. Mana mungkin Ummi akan diam kalau tahu menantunya diperlakukan seperti ini oleh sahabatnya sendiri."


"Tenang aja, aku nggak akan bikin kamu berbohong lagi di depan Ummi."


"Aku juga udah nggak berani bohong lagi."


"Sebenernya, di hari pernikahan kita Ummi kasih aku sesuatu loh. Sesuatu yang bisa aku pakai, tapi belum sempat aku pakai." Aku turun dari tempat tidur menuju ke walk-in closet.


Di salah satu lemari tempatku menyimpan kerudung, ada satu yang belum pernah kupakai. Aku mengambilnya dari susunan di antara tatanan kain-kain itu. Begitu aku keluar dari sana, aku menunjukkannya kepada Adrian.


"Jeng! Jeng!" ucapku menunjukkan padanya.


"Niqab?"


"Iya. Ummi yang kasih ini ke aku. Nggak cuma satu loh, Ummi sampai beli empat buat aku."


Aku kembali merapat di dekat Adrian, tanganku mengusap punggungnya kemudian menyandarkan kepalaku di bahunya sampai amarah sedikit mereda. "Kalau aku pakai ini nggak apa-apa, kan? Kamu juga nggak harus berbohong lagi."


Tok! Tok! Tok!


Belum sampai Adrian menjawabku, kami berdua spontan melihat ke arah pintu kamar yang diketuk. Tak hanya sekali dua kali, tapi ketukan itu berkali-kali dan dengan suara yang keras.

__ADS_1


"Hanna! Hanna! Maaf, aku nggak tahu apa yang aku lakukan, tapi aku minta maaf! Hanna! Kamu dengar, kan?" Suara lirih Khadija menembus ruang kedap suara ini.


"Aku minta maaf kalau aku melakukan sesuatu yang jahat. Aku nggak tahu apa yang terjadi barusan. Hanna! Tolong jawab!" Aku hendak menanggapinya, tapi Adrian menahanku untuk tetap tinggal dan diam.


"Kamu sendiri yang bilang kalau Khadija perlu waktu. Sekarang beri dia waktu, biarkan dia tenang dulu."


Tok! Tok! Tok! Lagi-lagi kami memandang pintu kamar yang diketuk dari luar.


"Ini saya, Tuan, Nyonya." Suara Mba Rina terdengar setelah kami saling diam beberapa saat.


Adrian berdiri untuk membukakan pintu. "Ada apa?"


"Saya bawakan sarapan untuk anda berdua. Dan..., Ada Pak Garrin dan Bu Johana menunggu di ruang tamu."


"Antar mereka ke ruang pertemuan di belakang, dan minta mereka untuk menunggu."


"Baik, Tuan."


Mba Rina pergi setelah menyampaikan pesan dan meninggalkan nampan itu kepada Adrian. Meski aku ingin segera menemui Garrin, tapi Adrian tak mengizinkanku pergi sebelum aku menghabiskan sarapan yang dibawa Mba Rina. Ia bahkan tak enggan menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulutku.


Begitu menyelesaikan sarapan, kami pun menyusul pergi ke ruang pertemuan belakang. Ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan resmi keluarga atau rapat staf itu cukup jarang digunakan. Tapi tak kusangka akhirnya tempat itu akan berfungsi juga di saat-saat seperti ini.


Ketika aku masuk ke ruang itu bersama Adrian, Garrin dan Jo segera mengarahkan pandangan mereka kepada kami. Menurut penuturan Garrin, mereka berdua sudah mendengar sedikit cerita tentang Khadija dari Pak Erwin ketika mereka sampai di sini. Detail cerita selanjutnya, aku dan Adrian yang menjelaskan segalanya.


"Pipi kamu.., itu bukan karena Khadija, kan?" Itu pertanyaan pertama yang keluar dari bibir Johana setelah seisi ruangan ini senyap beberapa menit.


"Itu Khadija. Pagi tadi sebelum sarapan," sahut Adrian.


"Sekarang gimana? Perlu dokter? Atau yang lainnya?"


"Barusan aku meminta asistenku untuk memanggil psikiater. Mungkin kita bisa tahu bagaimana keadaannya sekarang." Adrian mengambil ponselnya.


[Voice Call]


Adrian : Erwin, gimana?


Hanna : Apa kata Psikiaternya?


Erwin : Memang benar kemungkinan Nona Khadija melakukan hal itu tanpa sadar. Trauma mental yang dialaminya diduga jadi pemicu utama. Ke depannya, yang paling diperlukan adalah support emosional dan sebisa mungkin, jangan sampai Nona Khadija sendirian.


Adrian : Nggak ada resep obat atau rujukan ke rumah sakit?


Erwin : Saat ini belum ada rekomendasi rujukan rumah sakit. Tapi Psikiaternya membawakan beberapa obat untuk diminum/disuntikkan sewaktu-waktu bila Nona Khadija tidak bisa mengontrol ketenangan


Erwin : Saya juga bisa siapkan rumah yang kemarin untuk tempat tinggal Nona Khadija jika memang diperlukan


Hanna : Jangan! Psikiaternya juga bilang kalau Khadija nggak boleh sendiri, kan?


Erwin : Iya, Nyonya


Hanna : Artinya Khadija harus tetap tinggal di sini


Adrian menghela napas kasar


Adrian : Batalkan saja pelunasan rumah yang kemarin. Jangan lupa tambahkan uang ganti rugi


Erwin : Baik, Pak


[End **Call**]


"Begitulah kondisi sahabat kalian?" Adrian mematikan yang ada ponsel di depannya itu.


Dari tempatku duduk, terdengar suara helaan napas Garrin. “Untuk sekarang, kita berdua mungkin belum bisa menyediakan tempat tinggal buat Khadija, jadi kalau nggak keberatan, aku mohon izinkan Khadija tetap tinggal di sini sementara waktu.” Garrin menundukkan kepala di hadapanku dan Adrian.


“Aleesa juga minta hal yang sama. Dan…” Adrian melihatku.


“Sementara ini, sepertinya itu memang pilihan terbaik yang bisa dilakukan. Setidaknya sampai kondisinya pulih,” pungkasnya dengan nada datar.

__ADS_1


"Tadi..., kalau nggak salah aku juga dengar soal menyuntikkan obat? Kalian ada dokter keluarga, kan?" tanya Jo memastikan.


"Mba Puput, asisten rumah tangga kami dulunya seorang perawat di rumah sakit. Itu lebih cepat dari pada memanggil dokter keluarga."


Johana kembali duduk bersandar ke kursinya. "Sepertinya memang nggak ada yang perlu kita khawatirkan selama Khadija tinggal di sini," ucapnya memegang tangan Garrin.


"Iya," balas singkat Garrin seraya mengangguk pelan.


Di ruangan berisi meja melingkar dan empat belas kursi itu, kami tak banyak berkomentar lagi. Semua terlihat kalut dengan pikirannya masing-masing. Termasuk juga aku yang tiba-tiba terpikirkan dengan kertas pemberian Garrin dari Pak Rama. Apa mungkin kondisi Khadija saat ini memang berkaitan dengan apa yang tertulis di kertas itu?


Garrin dan Jo pamit pulang dari rumah kami setelah sempat menengok ke kamar Khadija, dan melihat wanita itu tertidur tenang di sana. Waktu sudah semakin siang, dan sudah saatnya kami berdua siap-siap ke rumah Ummi.


*****


Suara gemericik air di kamar mandi masih terdengar selepasku menunaikan shalat Dzuhur. Sembari menunggu Adrian membersihkan diri dan bersiap, aku pun bersiap dengan caraku sendiri. Di depan cermin kamar, aku mencoba mengenakan niqab untuk pertama kalinya. Meski tertutup niqab hitam, tapi senyumku tak dapat disembunyikan.


"Iya-iyaa, cantik kok. Istriku emang yang paling cantik." Adrian berjalan keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk melilit di pinggangnya.


Aku menoleh ke kanan, menghindari bertatapan langsung dengannya. "Buruan pakai baju, sana!" perintahku.


Seakan tak terima aku memalingkan wajah, Adrian dengan sengaja berdiri di belakangku dengan jarak setipis ini. Ia melepaskan niqab yang baru saja kupakai untuk pertama kalinya itu. Tatapan mata kami bertemu di pantulan cermin, membuatku menunduk karena pipi ini tak tahan untuk tak merona sebentar saja. Jarinya yang masih setengah basah membelai pipi kiriku.


Mata hazel itu menatapku tajam dari pantulan cermin. "Kalau sampai hal ini terjadi lagi, aku nggak akan kasih toleransi."


"Makanya, kita harus sembuhin Khadija dulu biar hal seperti ini nggak kejadian lagi."


"Sayang banget, wajah kamu yang cantik sampai bengkak kayak gini."


Aku menurunkan tangannya dari pipiku. "Udahlah, Mas..., buat apa disesali? Yang penting besok nggak akan begini lagi."


Cup!


"Ih! Mas..., jangan tiba-tiba gitu dong."


"Kenapa? Kamu nggak suka? Hm? Kamu nggak suka aku cium?"


"Iiih, bukan gitu."


"Kenapa?" tanyanya tanpa rasa bersalah dan justru menciumiku berkali-kali setelahnya.


"Kamu belum pakai baju, Adrian!" kilahku dengan suara agak naik.


"Aku senang banget dengar kamu manggil namaku langsung." Adrian memelukku erat dari belakang.


"Lepasin! Badan kamu masih setengah basah. Udah! Nanti kita telat ke rumah Ummi." Aku melarikan diri dari Adrian yang masih telanjang dada itu. Ia tak lagi menahanku yang melarikan diri keluar dari kamar.


Click!  Setelah aku menginjak lantai marmer di luar kamar, aku berusaha keras menahan senyumku. Mungkin pipiku sudah berubah jadi semerah tomat. Adrian Al-Faruq, bagaimana lagi aku harus salut karena senantiasa dibuat tunduk oleh setiap perkataan dan perbuatannya. Astaghfirullah ..., sadar, Hanna! Ini hanya kenikmatan dunia yang sesaat!


"Hanna..." Kuhapal pemilik suara itu, ia berdiri dengan kedua tangan memegangi pergelangan tangan kiriku.


"Aku minta maaf.., Kamu terluka karena aku, kan? Aku minta maaf. Maaf Hanna, kamu boleh sebut aku gila, tapi nggak gila, aku hanya nggak sadar melakukan tindakan yang harusnya nggak aku lakukan." Khadija berlutut di depanku.


"Khadija! Hey, jangan gitu." Aku membantunya berdiri segera.


"Aku salah, Hann. Aku pantas kamu hukum."


"Khadija. Aku nggak apa-apa. Aku tahu kamu nggak sengaja. Okay?"


"Is everything okay?" Adrian yang baru keluar kamar memandang kami berdua.


^^^~Semuanya baik-baik saja?^^^


Khadija menunduk di depan Adrian. "Saya minta maaf, tadi bukannya sengaja."


"Kalau istri saya sudah bilang tidak apa-apa, itu artinya memang tidak apa-apa," balas Adrian datar.


"Sayang, kita harus berangkat sekarang." Adrian menarikku hingga lift terbuka dan Khadija tersenyum lugu melihat ke arah kami.

__ADS_1


__ADS_2