Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Gangguan


__ADS_3

Hari-hari awal mengasuh Asyqar memang menyenangkan, tapi juga terasa begitu berat. Misalnya, aku jadi lebih sering terbangun tengah malam, jadwal tidur berantakan, keadaan kamar berantakan, bahkan penampilanku pun tak bisa dipungkiri juga makin berantakan. Sehari-hari jadi berubah sejak hadirnya Asyqar di tengah-tengah kami. Meski sebelumnya Mas Adrian bilang akan menjaga kami berdua, tapi percayalah bahwa itu adalah kebohongan pertama setelah ia menjadi seorang Ayah.


Setiap pulang dari kantor, selesai makan malam dan mandi, Adrian langsung menyatu dengan ranjang di sebelah Asyqar sampai kembali bangun sebelum subuh. Selanjutnya aku akan tidur dan menyerahkan tugas menjaga Asyqar padanya sampai ia bersiap berangkat kerja, lalu aku harus kembali terbangun dan bersiap memandikan Asyqar. Begitulah keseharian baru kami yang sudah berulang konstan setiap harinya. Sebenarnya ini juga adalah pilihan kami berdua untuk tidak memakai jasa baby sitter.


Beberapa hari sebelumnya ....


Ummi, dan Kakak-kakakku datang ke rumah kami untuk sekedar melihat Asyqar. Kami berbincang cukup lama di ruang keluarga.


"ASI-nya lancar, Hann?"


"Alhamdulillah lancar, Ummi. Asyqar juga minumnya banyak banget. Sebentar-sebentar udah nyariin minumnya lagi."


"Papanya nggak kebagian tempat nih," cetus Kak Erika, melihat Adrian berjalan ke arah kami.


Adrian lantas duduk di sampingku, tak sempat mendengar pernyataan yang dilontarkan padanya itu. "Sayang, kamu udah makan?" tanyanya padaku.


"Belum. Nanti aja."


"Sini, Asyqar biar sama aku aja, kamu ambil makan gih," tawarnya seakan ekspektasi akan berjalan selaras dengan realita.


Aku menatapnya tajam. "Nanti aja, Sayang ..., aku nggak percaya kamu bisa bikin Asyqar anteng terus sampai aku selesai makan."


"Oh ya, kalian nggak ada pikiran mau hire baby sitter?"


Sesaat aku dan Adrian saling berpandangan mendengar pernyataan Kak Erika. "Belum ada pikiran ke sana sih, Kak. Baru juga dua minggu, dan lagi belum terlalu perlu kayaknya, ya?"


"Iya. Selama kita masih bisa jaga baby sendiri, kayaknya nggak perlu baby sitter."


Begitu perbincangan keluarga besar yang secara general menyarankan kami untuk mempekerjakan baby sitter. Hal itu tak bisa dipungkiri membuatku berpikir dan menimbang-nimbang lagi kelebihan serta kekurangan jika kami mempekerjakan baby sitter. Memang jika dilihat dari segi manfaat, aku akan sangat terbantu nantinya, tapi banyak hal yang perlu diperhitungkan sebelum membuat keputusan.


Pikiran dan perbincangan itu sampai akhirnya terbawa ke kamar. Adrian yang baru selesai mandi ku tahan untuk tidak tidur lebih dulu seperti biasa. Aku mengajaknya diskusi perihal baby sitter dan pengasuhan Asyqar.


"Menurut kamu, kita perlu hire baby sitter nggak sih?"


"Kalau aku terserah kamu aja, Sayang ... Karena aku tahu yang paling cape, yang paling bisa ngerti Asyqar, ya, cuma kamu."


Aku diam, berpikir sebentar sembari menatap lantai kamar. "Gini, gini ..." Adrian memegang kedua bahuku, persis menghadap ke arahnya.


"Kamu boleh hire baby sitter. Aku izinin kamu hire baby sitter kalau emang kamu merasa keberatan mengasuh Asyqar sendirian, okay? Aku dukung kamu sepenuhnya kalau menurut kamu itu adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan. Kedua, aku cuma sekedar mengingatkan aja, kalau kodrat seorang wanita ketika sudah menjadi seorang ibu adalah mengasuh, dan mendidik anaknya sedari kecil. Karena udah pasti aku nggak akan bisa melakukan apa yang kamu lakukan."


"Dan terakhir, aku ada pertanyaan buat kamu. Apa yang bikin kamu ngerasa perlu banget mempekerjakan baby sitter? Kamu mau kerja lagi? Atau kamu mau lanjutin studi?"


Ah benar! Aku di hadapkan pada pertanyaan ini. Apa aku harus menjawab sesuai dengan apa yang ada di kepalaku? Tapi rasanya agak memalukan. Tapi ..., kapan lagi aku ada kesempatan bicara serius seperti ini dengan Adrian?


"Aku ..." Adrian tampak menanti-nantikan ucapanku selanjutnya.


"Jangan ketawa, ya!"


"Iya deh, iya ... Nggak akan ketawa."


"Aku sebenarnya, nggak percaya diri sama penampilanku akhir-akhir ini. Dulu aku selalu bisa menyambut kamu pulang kerja pakai baju bagus, make up cantik, badan wangi dan bagus. Tapi sekarang, bisa kamu lihat sendiri, stretch marks di perutku, lengan dan pahaku gendut, rambutku selalu acak-acakan. Aku jadi jelek, kan? Padahal umurku baru dua puluhan."


Adrian tertawa kecil, membuatku spontan mencubit perutnya. "Tuh, kan, kamu ketawa."


"Maaf, maaf. Abisnya aku nggak nyangka kamu bakal insecure untuk hal itu."


"Ck! Kamu mah gitu deh."


"Dengar, Aleesa Sayang. Aku sama sekali nggak keberatan dengan penampilan kamu yang seperti apa. Kalau aku bilang kamu cantik, itu artinya kamu memang cantik tanpa polesan apapun. Ya, aku menghargai make up dan baju bagus yang kamu pakai dulu sebelum Asyqar ada. Tapi ada satu hal menyamarkan itu semua jika dibandingkan dengan keadaan saat ini. Aku lebih bahagia sekarang. Dan kebahagiaan ini akan terus bertambah seiring banyaknya waktu kebersamaan kita."


"Aku harap kali ini kamu nggak cuma manis di depannya doang, ya."


"Astaghfirullahhal'adziim, emang aku pernah gitu ke kamu?" Tawa kecil Adrian mengiringi kalimatnya itu.


Aku menghela napas panjang sembari memejamkan mata. "Okay, sudah kuputuskan! Sebisa mungkin aku akan tetap merawat baby Asyqar dengan segenap cinta dan tenagaku. Perihal penampilan, aku udah pegang kata-kata kamu kalau kamu nggak peduli dengan seperti apa pun penampilanku."


Baby sitter mungkin akan sangat membantu meringankan pekerjaanku. Tapi, kasah sayang dari orang tua ke puteranya nggak akan pernah bisa terganti oleh siapa pun atau dengan cara apa pun.


Flashback mode off ....


...----------------...


Hari-hari yang melelahkan, menyenangkan, berlalu bagai angin senja membawa hari berakhir. Kami benar-benar menikmati momen-momen setiap kali putera pertama kami bisa melakukan sesuatu hal yang baru. Hingga tanpa sadar, sudah lebih dari delapan bulan lamanya kami menjadi orang tua. Baby Asyqar pun sudah mulai belajar berdiri walau masih berpegangan pada benda-benda di sekitarnya. Ia juga sering berbicara walau hanya kata sesederhana "Am mam, pa pa"


Tak hanya itu, rambutnya yang tampak pirang, juga mata hazelnya yang sudah jelas turunan dari siapa, semakin membuat Asyqar begitu istimewa. Di usianya yang jalan delapan bulan, dengan 76 cm tinggi Asyqar, termasuk kategori cepat tumbuh. Sepertinya gen bawaan Adrian yang paling berpengaruh dan bisa terlihat jelas pada diri Asyqar sampai saat ini. Bahkan untukku sendiri, menatap mata Asyqar terasa seperti dekat dengan Adrian.


"But obviously you're the most handsome boy right now."


^^^Tapi sudah jelas kamu adalah laki-laki paling tampan sekarang~^^^


"Pa pa pa pa"


"Iya ... Sayang. Papa emang ganteng, tapi Asyqar jaaauh lebih ganteng lagi, mashaallah," ucapku sambil mencium wangi bayi dari rambutnya.


*Click**!*


"Sayang? Udah?"


"Aku tinggal ganti baju sih. Kamu bawa Asyqar ke bawah dulu, ya?" kataku memberikan Asyqar ke dekapan Adrian.


"Alright, Asyqar let's go down with Papa first, okay? Mama will follow soon."


^^^Baiklah, Asyqar ayo turun sama Papa dulu, ya? Mama akan nyusul nanti~^^^


"Am mam ma."


"Okay Ma! Let's go down!"


^^^Baiklah Ma. Sekarang ayo kita turun~!^^^


"Mam? Daa ma."


"Yea. Mama will follow us."


^^^Iyaa, Mama nanti ikut kita~^^^

__ADS_1


Setelah Adrian membawa Asyqar keluar dari kamar, aku segera mengganti pakaianku. Hari itu kami akan pergi ke kenduri keluarga di rumah Ayah-Bunda sebagai pengantar Ayah dan Bunda yang akan menunaikan ibadah haji. Akhirnya kebahagiaan yang telah mereka tunggu selama bertahun-tahun tiba. Karena itu aku ingin sekali ikut memeriahkannya. Sampai meminta Adrian mengambil cuti sehari dari pekerjaan kantornya.


Lagi pula kami jarang sekali bisa pergi bertiga karena pekerjaan Adrian sama sekali tidak mengizinkannya memiliki waktu untuk keluarga kecuali malam hari di rumah. Mau bagaimana lagi, ini adalah resiko yang harus ku tanggung saat aku memutuskan untuk menjadi istri seorang putra bungsu dari keluarga Al-Faruq.


Aku segera menyusul Adrian ke bawah setelah selesai. Sebelum masuk ke dalam mobil yang sudah siap di pekarangan rumah itu, aku tersenyum simpul. Akhirnya, impian Adrian untuk menjadikan BMW i8 itu sebagai mobil keluarga benar terwujud. Kami pernah membicarakannya saat kami tinggal sementara di rumahku. Kami berdua duduk di depan, sementara Asyqar duduk di belakang dengan car seat.


Sampai di rumah Ayah-Bunda, kedatangan kami disambut hangat. Asyqar yang berada di gendongan Adrian kembali jadi pusat perhatian dan menjadi kerumunan para kerabat.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullah. Ih, Ade Asyqar datang tuh ...," sambut Kak Ali menunjukkannya pada si kembar Farhan-Raihan.


"Mashaallah, cucu Ekung yang paling kecil akhirnya datang juga. Sini, yuk! Sama Ekung." Ayah segera mengulurkan tangannya pada Asyqar.


Tak menolak tawaran itu, Asyqar berpindah dari gendongan Adrian ke dekapan Eyang Kakungnya. "Aduh duh, pintarnya cucu Ekung. Kita masuk, ya? Kita cari Eti. Eti pasti ada di dalam menunggu Asyqar."


Di sisi lain, Asyqar yang nyawan bertemu banyak orang menjadi kesempatan bagiku dan Adrian untuk menyapa saudara kami yang datang dari jauh. Beberapa dari mereka yang terbilang cukup jarang bertemu dengan Adrian, sempat kaget karena lupa di keluarga ini telah menyusup seorang blasteran Turki.


"Kapan dong ..., main-main ke Surabaya gitu kali kali."


"Iya loh. Jarang ketemu, kan kita. Jadinya lupa kalau menantu Pak Darmawan yang satu ini masih setengah bule."


Kakak sepupu yang duduk tepat di sebelah memukul ringan pahaku. "Gimana? Masa cuma satu?"


"Eh? Apanya Kak?"


"Ah jangan pura-pura gitu loh ..., pasti sepi kalau di rumah cuma ada Asyqar. Lebih seru lagi kalau Asyqar ada tman mainnya."


"Aduuh, kalau soal itu belum terpikir Kak. Soalnya Asyqar masih delapan bulan, kan. Aku juga baru mau mulai memikirkan rencana lanjut S2."


"Jangan lama-lama, mumpung masih muda."


"Ahhaha, iya, Kak."


Sudah kuduga perbincangan selalu berakhir ke arah ini. For your information, ada tiga pertanyaan yang selalu menghantui kalian dalam setiap acara kumpul kerabat. Pertama, pertanyaan "Udah umur nih, kamu kapan nikah?" Pertanyaan itu akan terus ditanyakan sampai akhirnya kalian kena tekanan mental. Kedua, pertanyaan "Udah berapa lama sih kalian nikah? Terus kapan mau punya anak?" Sama seperti pertanyaan pertama, selama kalian belum hamil dan melahirkan, kalian akan terus ditanya pertanyaan yang sama.


Kalau dua pertanyaan itu sudah ditanyakan, sampai mereka puas melihat kita benar-benar menggendong momongan. Maka tahap ke tiga adalah pertanyaan lanjutan, "Kapan si Baby punya adik?" atau "Kapan nih, anak keduanya?"


Mohon maaf saudara-saudara, ini adalah jalan kehidupan kami. Bukan rentetan drama Korea yang terus menerus menunggu episode terbaru.


"Iya loh. Lebih baik kalau punya anak sekarang, daripada nanti-nanti. Kalau anak cuma satu, orang tua bisa-bisa kesepian di hari tuanya."


"Hann?" Suara Kak Zahra memanggilku dari pintu samping.


Aku berdiri menemuinya, sekaligus merasa bersyukur bisa menghindar dari cecaran kerabat. "Saya ke sana dulu, ya, Tante."


"Iya, iya."


"Ada apa, Kak?" tanyaku mendekat padanya.


"Ini, Bunda minta tolong kamu antar ini ke rumah Paman Ruslan. Katanya beliau sedang sakit di rumahnya, makanya nggak bisa datang hari ini."


"Oh, iya ya." Aku menerima kotak putih yang cukup berat itu.


"Masih ingat, kan, alamat rumah Paman Ruslan?"


"Nggak apa. Asyqar anteng banget di sini. Itu lagi main sama Farhan-Raihan."


"Ya udah deh. Ini kotaknya cuma satu ini aja?"


"Iya."


"Okay. Aku berangkat dulu, ya. Assalamualaikum ..."


"Waalaikumsalam."


"Eh, Mas. Ikut yuk?" tawarku pada Adrian. Aku mengerti perasaannya dijebak pertanyaan-pertanyaan itu.


"Ke mana?" ujarnya balik bertanya setengah berbisik.


"Ke rumah Paman Ruslan, antar ini."


"Ah ..., kalau gitu saya permisi, ya, Om, Tante, Kakak-kakak semua." Adrian segera berdiri meninggalkan perkumpulan itu, berjalan menuju ke arahku.


Seraya berjalan menjajariku, Adrian berbisik, "Paman Ruslan tinggalnya di mana?"


"Udah kamu tenang aja. Biar aku yang bawa mobilnya," balasku kembali berbisik.


Setelah sampai di mobil, aku menduduki bangku kemudi, sementara Adrian duduk di sebelah memangku kotak putih yang harus kami antarkan itu. Jika berangkat dari rumah Bunda, kediaman Paman Ruslan terbilang cukup jauh. Memerlukan hampir empat puluh lima menit untuk sampai ke alamat Paman Ruslan. Wajar saja Kak Zahra memintaku yang mengantarkannya.


"Masih lama?"


Aku tertawa kecil mendengar pertanyaan Adrian, lantas mengurangi kecepatan mobil sampai berhenti di depan rumah berpagar hitam. Karena jalanan kompleks yang cukup lebar, rasanya tak masalah menepikan mobil di pinggir jalan sementara kami masuk ke rumah Paman Ruslan.


"Eh, bentar." Aku menghentikan Adrian yang hendak meraih pintu untuk keluar.


"Apa lagi?"


Aku menahannya, membenarkan tatanan rambut, dan mengancingkan serta merapikan sekali lagi baju koko yang dikenakannya. "Ingatkan, dulu istrinya Paman Ruslan termasuk orang yang nggak setuju kita menikah. Jadi, tunjukkan citra sebaik mungkin di depan mereka."


"O, okay."


Setelah siap, kami turun dari mobil, berdiri di depan pagar rumah sembari menekan bel rumah. Hingga beberapa menit berlalu, tak ada sesiapa yang keluar atau menjawab. Sampai seorang wanita menghampiri kami.


"Maaf, kalau anda mencari Pak Ruslan, beliau dan keluarganya baru saja berangkat ke rumah sakit sekitar satu jam yang lalu."


"Eh loh? Adrian toh?"


"Aria?"


"Kenapa kaget gitu? Baru juga beberapa bulan, lupa kalau orangtuaku punya rumah di sini?"


"Ah, aku nggak ingat."


"Ada perlu apa ke rumah Pak Ruslan?"

__ADS_1


"Mengantarkan titipan Bundaku."


"Oh ..., Kalau nggak salah sih tadi Pak Ruslan dibawa ke rumah sakit cipta sentosa. Mau sekalian kuantar?"


"Nggak perlu, kami tidak ingin merepotkan."


"Nggak apa kok. Kalau memang diperlukan aku bisa antar sekalian juga menjenguk Pak Ruslan di sana."


Aku yang sejak tadi hanya diam berdiri di antara mereka berdua, mulai capai mendengar percakapan yang sama sekali tak melibatkan aku di dalamnya. *Apakah diriku ini tembus pandang*?


"Sepertinya masih banyak yang ingin kalian berdua bicarakan. Santai saja dan lanjutkan, aku akan menunggu di mobil," kataku seraya mengambil kotak putih dari tangan Adrian.


Di dalam mobil, aku tak memperhatikan Adrian atau Aria. Mataku lebih sibuk memandangi layar ponsel. Aku terlanjur kesal dengan perlakuan wanita itu yang tak menganggap ku ada di sana. Tunggu! Apa jangan-jangan dia sengaja melakukannya? Mengabaikan keberadaanku? Membuatku merasa kesal, agar aku menjauh, dan dia punya kesempatan untuk dekat dengan Adrian? Aku segera keluar dari mobil.


"Pa..! Masih lama, ya ngobrolnya? Ini kayanya Asyqar mulai rewel deh, Pa." Mendengarku berkata demikian, Adrian segera pamit, berjalan cepat ke arahku. Dan dilihat dari ekspresi Aria, jelas ia menatapku dengan sangat kesal.


Begitu Adrian masuk ke dalam mobil, aku tak ingin membahasnya. Segera kujalankan mobil ke rumah sakit seperti yang dikatakan wanita itu. Setelah mampir sebentar untuk membawakan buah tangan, kami segera menuju ke rumah sakit. Menuju resepsionis dan mendatangi kamar tempat Paman Ruslan dirawat.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Tepat sekali Tante Rere yang membukakan pintu kamar untuk kami.


"Paman baik-baik aja, Tante?"


"Alhamdulillah, setelah dapat penanganan dari dokter, jadi lebih tenang. Itu sekarang Pamanmu sedang istirahat."


"Paman Ruslan ada riwayat penyakit jantung?"


"Iya. Keturunan dari Kakeknya."


Bunda juga? Apa suatu saat akan aku juga akan begitu? Lalu ..., Asyqar? Bagaimana dengan Asyqar?


"Sebenarnya kami hanya diminta untuk memberikan ini. Karena di rumah, sepertinya tidak ada siapa-siapa, kami memutuskan menyusul ke rumah sakit." Adrian memberikan kotak putih pada Tante Rere.


"Sampaikan terimakasihku ke Kak Mut. Terimakasih juga karena kalian mau mengantar sampai ke sini."


"Iya, Tan. Santai aja."


"Gimana Asyqar? Udah bisa ngapain sekarang?"


"Mulai belajar berdiri, Tan. Udah bisa panggil Mama atau Papa. Yah, begitulah."


"Emang ya, kalau masih kecil tuh pertumbuhannya cepat banget. Nggak kerasa udah makin pintar aja, tahu-tahu udah bisa ini, bisa itu."


"Ah, sebentar Tante. Hanna angkat telepon sebentar." Aku meminta izin ketika ponsel itu bergetar. Setelah keluar dari ruang inap Paman Ruslan, aku menerima panggilan itu.


[Voice Call]


Hanna : Halo? Assalamualaikum


Harun : Waalaikumsalam. Kakak, kapan balik? Ini Asyqar kayanya mulai nyariin deh. Belum nangis sih, tapi kalau sampai satu jam ke depan, aku nggak bisa jamin


Hanna : Oh iya, ini bentar lagi Kakak pulang kok. Paman Ruslan baru aja dibawa ke rumah sakit, jadi kita susulin ke rumah sakit sekalian. Coba kamu tanya Ayah-Bunda, barangkali ada yang mau bicara sebentar dengan Tante Rere?


Harun : Hmm, ya, sebentar


Harun : Iya, Kak. Kayanya Bunda mau bicara


Hanna : Okay, aku kasih handphonenya ke Tante Rere


"Eh, ini Tan. Bunda mau bicara sama Tante." Aku memberikan ponsel itu seraya berbisik. Tante Rere menerimanya kemudian keluar dari ruang inap.


Aku melihat ke salah satu sisi dinding untuk menghindari percakapan dengan Adrian. Rasa kesalku dengan kejadian tadi masih belum hilang.


"Tadi Tante Rere bilang, katanya lebih baik kalau kita berikan adik perempuan untuk Asyqar."


"Dikira semudah itu? Lagian Asyqar masih terlalu kecil untuk jadi seorang kakak."


Adrian mendekat beberapa langkah kepadaku. "Tiba-tiba aku jadi ingat kita sempat beli baju baby girl warna merah muda."


"Hah? Aku justru teringat kejadian belum lama ini tadi. Jelas-jelas suamiku terus menerus diganggu oleh Janda anak satu. Bahkan di depan mataku sendiri."


"Udahlah, Sayang ..., yang penting, kan, aku nggak ada niatan berpaling dari kamu."


"Emang sekarang nggak ada niatan. Tapi kedepannya, siapa yang bisa jamin?"


"Aku sama sekali enggak ada rencana-"


"Ini, Hann, ponselnya." Tante Rere mengembalikan ponselku.


Aku menerima, "Oh udah, Tan?"


"Udah ..., Eh, itu kayanya Asyqar mulai rewel, sebaiknya kamu segera pulang saja."


"Tante nggak apa di sini sendiri?"


"Enggak apa. Santai saja, palingan nanti malam Pamanmu sudah boleh pulang lagi."


"Ya sudah Tante, kalau gitu kami pamit pulang."


"Iya, hati-hati di jalan, ya. Maaf nggak bisa antarkan sampai ke depan."


"Nggak apa, Tante. Kami pulang dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullah."


Keluar dari ruang rawat inap, aku sengaja berjalan di belakang Adrian. Tapi tak lama, karena setelahnya Adrian menggenggam tanganku, memaksakan posisi kami agar berjalan berdua sampai ke mobil. Ia lantas membawaku pulang dengan memegang kemudi. Aku pun hanya diam tak berkomentar apa-apa.


"Malam ini kita menginap di rumah Ayah-Bunda?"


"Iya, kurasa."


"Aku nggak siapin baju ganti sama sekali"


"Ada, aku udah bawain buat jaga-jaga."

__ADS_1


"Makasih Sayang."


Diam, hening dalam mobil terus berjalan sampai kami kembali ke rumah Ayah-Bunda. Segera aku turun untuk menemui Asyqar yang awalnya kukira ia sudah menangis. Tapi ternyata Asyqar masih tersenyum dan tertawa di taman samping rumah bersama Harun juga Farhan-Raihan. Melihat aku datang, Asyqar berteriak "Ma!" Membuatku ingin segera memeluknya.


__ADS_2