Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Menjadi Sebuah Keluarga


__ADS_3

"Assalamualaikum ..."


"Wa'alaikumsalam."


"Mas Adrian!" Khadija datang dan langsung memeluk tubuh tegap yang baru memasuki ruang makan itu.


Aku tersenyum tipis dan berangsur menepi, sampai tangan itu menahan ku. "Tunggu! Kita harus bicara bertiga," tegasnya.


Atas perintah Mas Adrian untuk menahanku dan Khadija di ruang makan, maka kami pun duduk bertiga di sana. Mba Rina dan beberapa asisten lain yang sudah selesai menyiapkan sajian makan malam, untuk sementara waktu diminta pergi dari ruang itu. Sampai semua benar-benar hening dan tidak ada yang bicara, aku pun makin bingung dengan bagaimana cara memulainya.


"Ini makanannya nggak di makan? Sayang tahu ..., kalau dingin nanti nikmatnya berkurang." Tanganku mengambil piring di depan Mas Adrian dan mengisinya dengan nasi. Lalu meraih piring Khadija, dan terakhir mengisi piringku sendiri.


"Sambil ngobrol dong. Masa mau makan malam sama-sama gini, suasananya tegang banget?" gurauku berusaha memecah keheningan.


"Kamu mau pakai lauk apa, Mas? Kalau Khadija? Mau pakai apa?" tawarku tetap mempertahankan senyum yang semakin berat ini.


Mas Adrian membenarkan posisi duduknya. Ia mengambil lauk dari mangkuk yang tersaji. "Setahuku dari Garrin, dulu kalian bertiga adalah sahabat? Gimana ceritanya sampai bisa sahabatan?"


Aku terhenyak sebentar oleh pertanyaan Mas Adrian. Tangan kananku yang baru akan mengambil lauk terhenti saat itu. Sedikit aku menurunkan pandanganku untuk bisa melihat respons Khadija. Disaat yang bersamaan, Khadija pun melihatku untuk menunggu jawaban dariku. Cukup lama kami saling berpandangan namun tak bersuara. Lalu Mas Adrian meminta Khadija menjawabnya lebih dulu.


"Aku kenal Garrin hanya sebatas tahu nama. Kalau dengan Hanna ..., kita bertemu waktu di kampus, dia baru exchange dari Australia. Aku membantunya menemukan tempat yang dia cari, lalu kami berteman. Dan ternyata Garrin juga udah kenal Hanna, dari sana kita bisa berteman, bertiga," jelas Khadija.


"Emang kamu udah kenal Garrin dari mana, Al?" Mas Adrian beralih ke arahku.


"Aku nggak gitu ingat detilnya, tapi dia seniorku di satu jurusan yang supel dan humble banget, makanya bisa cepat akrab."


"Atau ..., karena Garrin sempat punya rasa?" cetus Khadija.


Aku tersenyum mendengar kalimatnya. "Bisa jadi. Tapi dia selalu mencoba untuk menjadi sahabat yang baik, jadi aku pun memperlakukannya sama seperti seorang sahabat." Tatapan mata yang sama kembali terjadi antara aku dengan Khadija yang duduk berhadapan kala itu.


"Hey ..., kalian sahabat, kan? Apakah kehadiranku jadi perusak persahabatan ini?" Mas Adrian menggenggam tanganku dan tangan Khadija bersamaan, dan menatap mata kami bergantian.


Dengan cepat, aku segera melepas genggaman tangan itu. Kata-kata Mas Adrian terdengar bagai beban yang memberatkan di kedua bahu ini. Segera setelahnya ku alihkan perhatian pada lauk yang kuambil untuk mengisi piringku sendiri. Tapi telinga ini tentunya masih menyimak apa yang Mas Adrian katakan selanjutnya.


"Mulai hari Senin nanti, kita sudah harus bisa membiasakan diri sebagai satu keluarga. Ingat, aku nggak bisa membelah diri, jadi kalau ada yang merasa aku belum bisa berlaku adil, kuharap kita bisa bicarakan bertiga seperti ini. Bahkan jika suatu saat ada masalah atau perselisihan, jangan sampai cerita itu terdengar sampai ke luar rumah."


"Hari Senin sampai Rabu akan jadi waktuku untuk menemani Aleesa. Bukan berarti Khadija tidak punya hak untuk meminta bantuan ku, aku tetap bisa membantu sesiapa yang memerlukan. Lalu hari Kamis sampai Sabtu aku akan menemani Khadija, dan Aleesa pun punya hak untuk meminta bantuan ku. Di hari Ahad, aku akan tidur di kamar tamu, terpisah dari kalian."


"Gimana dengan aku yang harus ke rumah sakit setiap hari Selasa? Kamu bisa temani, kan, Mas?" cetus Khadija.


"Akan aku usahakan. Tapi mungkin aku tidak bisa selalu menemani ke rumah sakit."


"Oh ya. Aturan itu mulai berlaku hari Senin, kan? Jadi, malam ini kamu masih tidur di kamarku, kan?" tanya Khadija lagi.


Sejenak, Mas Adrian memandangiku seperti meminta persetujuan atas permintaan Khadija. Tapi aku mengabaikannya. Pura-pura fokus menikmati makan malam yang tersaji di depanku. Kalau aku menolak pun, yang ada, aku akan tampak seperti menyulut emosi Khadija lebih dulu. Jadi, sudah dapat dipastikan aku tak diberikan kesempatan untuk berkata 'jangan'.


"Iya ..., malam ini sama kamu."


"Yeay! Makasih, Mas."


"Udah-udah, makan yang banyak ..., jangan sampai sakit." Mas Adrian mengambilkan sepotong daging ke piring Khadija.


"Kamu juga ...," ucapnya padaku seraya mengusap lenganku.


Aku hanya tersenyum sekilas, dan segera menyelesaikan makan malamku. Perutku tak akan bertahan lama menampung makanan yang baru saja kumasukkan ini. Aku segera pergi meninggalkan meja makan menuju ke kamar. Benar saja karena setelah itu aku segera memuntahkan isi perutku lagi. Untung kali ini aku tak terlalu makan banyak, sehingga aku tak perlu lama-lama di kamar mandi dan membuat khawatir Mas Adrian serta Khadija.


Setelah mengeluarkan semuanya, dan mengatur napas teratur selama beberapa menit di dalam kamar mandi, lantas aku keluar dengan perasaan yang lebih baik. Sudah pasti aku lega karena tak perlu menahan rasa mual itu.


"Perut kamu masih enggak nyaman?" tanya Mas Adrian yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi mengejutkanku.


"Enggak apa-apa kok, Mas," ucapku menghindarinya.


"Jangan-jangan kamu-"


"Maagku kambuh, Mas. Mendingan kamu ke kamar Khadija, hari ini kamu tidur di sana, kan? Aku mau istirahat," selaku cepat.


Aku segera berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri. Mas Adrian pun tak bicara lagi, dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkanku yang tak bisa berkata jujur. Aku tak mau dicap sebagai istri yang serakah karena ingin terus bersama Mas Adrian. Keadaan sekarang berbeda dengan dulu, ada Khadija yang juga memiliki kedudukan sama denganku. Akhirnya aku tertidur setelah menangis semalaman. Tapi tidurku terasa lebih nyenyak setelah meluapkan emosiku dengan keluarnya air mata.


...----------------...


Aku terbangun setelah mendengar suara adzan subuh berkumandang. Karena terlalu nyenyak tidur malam tadi, sampai tak sempat terbangun untuk tahajjud. Dan seperti sebelum-sebelumnya, rasa mual itu kembali hadir sebelum aku memulai beraktivitas. Aku baru turun dari kamar menuju musholla rumah setelah menenangkan diri selama beberapa waktu.


Nggak terasa satu Minggu berlalu, dan hari ini aku sudah tak perlu menggantikan posisi direktur utama. Pikirku meneruskan langkah.


"Kenapa juga, aku bangun kesiangan," gumamku lirih seraya menggelar sejadah untuk saalt subuh.


"Aleesa?"


"Eh, Mas."


"Belum salat subuh juga?" tanyanya sambil menyingkap lengan bajunya.


"Belum. Ini baru mau salat."


"Jama'ah sekalian, ya?"


"Mas Adrian juga bel-" Aku tak meneruskan kalimat itu ketika mata ini melihat tanda merah di lehernya.


Oh ..., karena itu Mas Adrian bangun kesiangan.

__ADS_1


Akhirnya kusentuhkan kulit ini dengan segarnya air wudhu subuh hari. Kami laksanakan dua rakaat sebelum subuh dan dua rakaat subuh di keheningan pagi, hingga berakhir saat sinar matahari perlahan muncul dari timur. Hanya beberapa saat setelah Mas Adrian mengakhiri doanya, Mba Puput datang atas permintaan Khadija untuk memanggil Mas Adrian, sehingga waktuku bersama Mas Adrian pun berakhir.


Pukul tujuh pagi, ketika aku turun ke meja makan untuk sarapan, Khadija sudah lebih dulu duduk di sana dengan Mas Adrian. Aku mencoba mengalihkan pandanganku agar tak terbakar cemburu melihat kejadian yang akan berulang setiap pagi. Aku harus cepat terbiasa dengan semua ini. Aku bergabung di sana dengan senyum terkembang, melihat mereka. Alhamdulilahnya, atmosfer pagi itu sudah jauh lebih baik dari biasanya.


"Hari ini mungkin aku pulang larut, kalian berdua bisa makan malam duluan, nggak perlu menungguku pulang," tutur Mas Adrian.


"Lembur kerjaan, Mas?" tanya Khadija cemas.


"Iya, harusnya sudah kuselesaikan dari semalam, tapi karena menunda, jadi harus diselesaikan hari ini juga."


"Kamu gimana sih, Mas ..., semalam harusnya kamu nggak minta-" Khadija tak melanjutkan kalimatnya.


"Hm!" Mas Adrian sengaja terbatuk.


"Khadija hari ini ada acara ke mana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan antara kami.


Agak tersentak dengan pertanyaan itu, ia pun menjawab meski dengan keraguan, "Aku ..., ke kampus pagi ini."


"Berangkat sama-sama aja, gimana? Hari ini aku juga mau ke rumah sakit."


"B- boleh. Berangkat jam berapa? Sembilan?" tanyanya mengimbangi keramahan ku.


"Okay, jam sembilan, ya."


Mas Adrian tersenyum mendengar kami saling berbincang tanpa kekakuan. Inilah yang ia harapkan dari kehidupan rumah tangga yang harmonis. Aku sendiri juga berharap bisa seperti itu setiap waktu.


"Eh, udah siang loh, buruan gih berangkat," peringatku pada Mas Adrian.


"Iya, Mas, sebaiknya Mas Adrian berangkat sekarang," tambah Khadija seraya mengambilkan jas milik Mas Adrian.


Ia lantas melihat jam di tangan kirinya, kemudian pamit pergi. Khadija mengantarnya sampai ke depan pintu rumah, sementara aku mengulang siklus yang sama setiap selesai makan. Muntah hingga seluruh makanan yang baru masuk itu keluar lagi. Dan seperti biasa, Mba Rina lah yang datang untuk membantuku hingga kembali ke kamar.


Selepas berbincangan kami bertiga di ruang makan malam tadi, jujur saja aku masih menganggap Khadija sebagai sahabatku hingga kini. Tapi kecemburuanku terhadap Khadija ketika bersama Adrian, masih saja ada. Aku bisa membagi hartaku, aku bisa membagi rumahku, tapi aku masih harus belajar untuk bisa berbagi suami dengan sahabatku sendiri. Kuakui aku memang egois dalam hal ini. Dan aku lebih memilih untuk menutup mata daripada melihat mereka berdua.


Pukul sembilan pagi, mobil hitam itu membawaku dan Khadija bersama Mba Puput, keluar dari rumah. Karena memang jalan ke kampus dan rumah sakit tempat Bunda di rawat searah, kupikir dengan kami berangkat bersama, akan semakin memperbaiki hubungan kami. Sepuluh menit perjalanan, mobil itu menurunkanku di halaman rumah sakit.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bunda, gimana keadaannya?"


"Alhamdulillah, baik. Kamu kenapa ke sini, Hann? Pekerjaan kantor Adrian bagaimana?"


"Mas Adrian sudah mulai kerja lagi hari ini. Jadi Hanna bisa temani Bunda."


"Kamu ke sini sama siapa?"


"Sendiri aja, Bun. Tadi sebenarnya sama Khadija juga, tapi Khadijanya ada urusan di kampus, jadi Hanna turun di sininya sendiri." jelasku singkat.


"Loh, itu bukan Khadija?" Bunda menunjuk ke arah pintu.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam. Loh, nggak jadi ke kampus?" tanyaku spontan.


"Aku belum jenguk Bunda sama sekali. Jadi, kupikir lebih baik aku mampir dulu sebentar. Boleh aku masuk?"


"Oh, iya silakan." Aku menyilakannnya memasuki ruang serba putih itu.


"Assalamualaikum, Bunda. Ini Khadija," ucapnya seraya mencium tangan Bunda.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah. MashaAllah, akhirnya bisa bertemu langsung dengan sahabat Hanna. Bunda minta maaf, ya, karena tidak datang dihari pernikahan kamu. Kondisi Bunda memang begini adanya."


"Tidak apa, Bunda."


"Bagaimana kuliahnya? Masih lanjut lagi, kan?"


"Insha Allah lanjut semester depan. Untuk sekarang masih banyak yang harus disiapkan."


"Alhamdulilah. Kalau ada perlu bantuan, bisa minta bantuan Hanna, ya?"


"Iya, Bunda. Eh, maaf, ini Karinda juga tidak bisa lama-lama di sini." Khadija bangkit dari duduknya.


"Kok buru-buru banget?"


"Harus ada yang diselesaikan di kampus. Nanti, insha Allah Khadija mampir ke sini lagi. Cepat sembuh, ya, Bunda."


"Iya, terimakasih. Nanti kalau sudah tidak sibuk, datang lagi, ya?"


"Insha Allah. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullah."


Khadija bangkit, berjalan ke arah pintu, turut kuantarkan ia sampai ke luar ruangan. "Makasih, ya, udah sempat mampir."


"Iya. Kalau gitu aku berangkat ke kampus dulu." Suara canggung dan kaku itu akhirnya terucap sebelum akhirnya ia berbalik badan dan benar-benar meninggalkan tempat ini.


...----------------...


Dalam beberapa hari itu, aku disibukkan dengan urusan operasi pemasangan ring. Lalu juga perawatan Bunda pasca operasi. Beruntungnya, Mas Adrian sudah kembali ke kantor dan mengambil alih tugasku. Akan semakin banyak pula waktu yang bisa kumanfaatkan untuk menjaga Bunda di rumah sakit.


Dalam tiga jam operasi yang dilakukan, akhirnya kelegaan bisa kurasakan sekeluarga saat dokter mengatakan, 'operasi berhasil' dan Bunda hanya perlu empat hari lagi untuk menginap di rumah sakit.

__ADS_1


[Voice Call]


Adrian Al-Faruq : Kamu masih di rumah sakit?


Hanna Aleesa : Iya. Loh? Kamu belum pulang ke rumah?


Adrian Al-Faruq : Tugas kantor ini tidak membiarkanku pulang dengan tenang. Kalau aja aku punya penerus, aku ingin melimpahkan semua tanggungjawab ini dan hidup tenang.


Hanna Aleesa : Astaghfirullah ..., bisa-bisanya bilang begitu. Aku sampai ketawa mendengar keluh kesah kamu tengah malam begini.


Adrian Al-Faruq : Aku kangen


Hanna Aleesa : MashaAllah, senang deh dengarnya.


Adrian Al-Faruq : Gimana keadaan Bunda?


Hanna Aleesa : Bunda baik-baik aja. Beliau barusan tidur lagi setelah minum obat.


Adrian Al-Faruq : Kalau Ayah?


Hanna Aleesa : Ayah duduk di samping Bunda sambil baca buku.


Adrian Al-Faruq : Harun?


Hanna Aleesa : Harun ngerjain tugas sekolah. Ini dia duduk di sebelahku.


Adrian Al-Faruq : Kalau Ayah udah selesai baca bukunya, bisa aku bicara sama Ayah?


Hanna Aleesa : Mau aku kasih ponsel ini ke Ayah sekarang? Kenapa harus tunggu sampai Ayah selesai baca bukunya?


Adrian Al-Faruq : Jangan. Biar Ayah selesai baca aja. Aku juga masih mau dengar suara kamu.


Hanna Aleesa : Ihh kamu sadar nggak sih, Mas, kamu itu kayak bayi, manjaaa banget.


Adrian Al-Faruq : Apa salahnya manja sama istri sendiri.


Hanna Aleesa : Oh ya, kamu udah telepon Khadija?


Adrian Al-Faruq : Kamu lupa ini malam Selasa? Jangan bahas orang lain, dan fokus aja sama obrolan kita.


Hanna Aleesa : Abisnya aku nggak tahu mau ngobrol apa sama kamu lewat telepon gini. Kecuali kita ketemu langsung, aku bisa minta cuddle, kan?


Adrian Al-Faruq : Aleesa ..., jangan ngomongin itu, atau aku jadi ingin menjemputmu sekarang juga.


Hanna Aleesa : Hey hey, aku cuma becanda.


Adrian Al-Faruq : Kalau sampai ada pekerjaanku yang nggak benar, kamu adalah pelaku yang bisa kusalahkan. Kupastikan, kamu adalah penyebabku nggak bisa fokus kerja.


Hanna Aleesa : Ah, dasar. Eh, itu Ayah kayaknya udah selesai baca deh. Aku kasih ponselnya ke Ayah, ya?


Adrian Al-Faruq : Oh, iya deh, boleh.


"Yah ..., ada waktu sebentar? Mas Adrian mau bicara sama Ayah." Aku menyerahkan ponsel itu pada Ayah. Beliau langsung menerimanya, lalu keluar dari kamar inap untuk bicara dengan Adrian. Lama Ayah dan dan Adrian berbincang sampai aku sendiri penasaran dengan apa yang mereka bicarakan di luar sana. Setelah lima belas menit, Ayah kembali masuk dan menyerahkan ponsel itu padaku.


Hanna Aleesa : Udah selesai bicara sama Ayah?


Adrian Al-Faruq : Udah, alhamdulilah.


Hanna Aleesa : Ngobrolin apa sih? Lama banget


Adrian Al-Faruq : Nggak banyak.


Hanna Aleesa : Intinya aja deh, kamu ngobrolin apa?


Adrian Al-Faruq : Aku udah lunasin semua biaya administrasi Bunda, sampai perawatannya pasca operasi, dan obat-obatan lain yang harus dikonsumsi setelahnya.


Hanna Aleesa : Ayah terima gitu aja?


Adrian Al-Faruq : Ayah nolak. Tapi karena aku udah bayar semuanya sejak kemarin, jadi Ayah hanya bisa berterima kasih.


Hanna Aleesa : Berapa semua biayanya?


Adrian Al-Faruq : Nggak banyak kok


Hanna Aleesa : Aku tanya berapa


Adrian Al-Faruq : Jangan bilang kamu mau ganti semua biayanya?


Hanna Aleesa : Ayah nggak suka berhutang dengan orang lain. Pasti sekarang Ayah menganggapnya sebagai beban


Adrian Al-Faruq : Salah kah kalau seorang menantu membantu mertuanya? Ayah dan Bunda juga adalah orangtua untukku


Hanna Aleesa : Aku ngerti. Tapi Ayah pasti ngerasa nggak nyaman kalau kamu yang bayar semuanya sendirian. Setidaknya izinkan aku membayar setengahnya.


Adrian Al-Faruq : Kalau gitu kamu bisa membayarnya, dengan sesuatu yang jauh lebih mahal.


Hanna Aleesa : Apa?


Adrian Al-Faruq : Besok lusa Ummi pulang dari Turki. Karena aku nggak bisa ninggalin rapat, so ..., kamu jemput Ummi di Bandara. Okay?

__ADS_1


Hanna Aleesa : Hahh? Kenapa mendadak banget?


__ADS_2