
“Ada apa Mas? Ummi kenapa?”
“Ummi vertigonya kambuh. Biasalah orang tua, kalau anak-anaknya jauh, pasti makan makanan yang dilarang, ngelakuin hal-hal pantangan.” Mas Adrian tampak tertekan. Ekspresinya jauh berbeda dari sebelum ia menerima panggilan itu.
“Gimana kalau besok aku ke rumah Ummi? Seenggaknya tidur di sanalah untuk beberapa hari.”
"Terus aku?"
"Ah, iya juga sih."
“Huuft. Mungkin kita harus pending dulu rencana ke kampus besok. Aku akan bilang ke Pak Arinto supaya dikasih kelonggaran waktu.”
Mas Adrian kembali berbicara dengan orang dari ponselnya itu seraya mondar-mandir. Aku undur diri menepi untuk memberinya ruang agar bisa berpikir jernih. Kenapa masalah semakin berdatangan ketika baru beberapa saat mencoba beradaptasi dengan keadaan yang rumit ini? Tapi bagaimana pun juga, Tuhan memberikan ujian kepada kami pasti ada rencana tersendiri. Rencana yang terbaik untuk kami ke depannya.
Pikiran-pikiran di kepalaku seolah berkata “bagaimana kalau ….” dan semakin terngiang seiring waktu aku ingin menenangkan pikiran. Semoga semua akan baik-baik saja.
Aku yang telah selesai mengganti baju, kemudian duduk memandangi kotak berisi emas batangan lima puluh gram yang sudah kusimpan sejak pulang ke Indonesia. Kalau kemungkinan terburuk benar-benar terjadi, bukan mustahil benda ini akan segera berpindah kepemilikan. Rela tak rela, mau tak mau, aku harus siap menerimanya.
Clik!
“Sayang ….” Mas Adrian memasuki kamar, serentak tanganku mengembalikan kotak itu ke tempat asalnya.
“Gimana? Bisa di pending?”
“Pak Arinto minta aku untuk putuskan sendiri. Pekerjaan ini bukan pekerjaan yang bisa menolerir urusan keluarga, dan sudah ada seorang lagi yang siap menggantikanku kalau aku nggak bisa datang besok. Mau nggak mau aku harus memilih salah satu,” jelasnya lesu.
Aku menghirup oksigen dalam-dalam, lalu megembuskannya perlahan. “Kalau gitu kamu yang putuskan aja, Mas. Apa pun pilihan kamu, aku pasti mendukung kok.”
“Aku …, aku takut belum bisa jadi suami yang bertanggung jawab kalau setelah ini aku masih nggak dapat kerja. Tapi di sisi lain, Ummi adalah prioritasku, aku udah pernah bilang sama kamu, kan sebelum kita menikah.”
__ADS_1
“Iya … aku ngerti kok, Mas. Karena itu, apa pun keputusan kamu, aku pasti terima.”
Ia menatap ruang hampa, sesekali menggerak-gerakkan jari tangannya. Dari caranya menatap pun tampak bahwa apa yang ada di hadapannya kini adalah pilihan yang terlampau berat untuknya. Aku sendiri bingung harus mendukung pilihan yang mana, karena keduanya adalah hal yang sulit untuk diputuskan hanya dalam semalam.
“Mau mandi sekarang? Aku siapin air, ya?” Aku bangkit dari duduk di pinggiran ranjang, sedangkan Mas Adrian mengangguk pelan tanda setuju dengan tawaranku barusan.
Mungkin air segar akan menjernihkan pikirannya, mengangkat capai dan kesal dalam benaknya. semoga.
Sesaat setelah bunyi gemercik air terdengar, saat itu pula tiba-tiba air mata meleleh dari kelopak kecil ini. Sepertinya dugaanku benar, Mas Adrian tidak akan bisa mendapat pekerjaan dalam waktu dekat, dan kami harus tinggal di rumah Ummi sementara waktu. Aku tahu aku nggak boleh egois, bagaimana kalau tiba-tiba Mas Adrian menceraikanku karena keegoisanku yang ingin menguasainya sendiri.
Meski Ummi adalah mertua yang baik, apakah akan baik-baik saja kalau kami tinggal di sana? Lalu sampai kapan kami akan menetap di sana? Bagaimana dengan posisi sekretaris yang ditawarkan perusahaan penerbit itu untukku? Sedangkan sekarang direktur utama penerbit itu bukan lagi Mas Adrian, melainkan seseorang yang mengkhianati Mas Adrian.
Apa iya, kalau sudah begini Mas Adrian akan mengizinkanku bekerja? Kondisi finansial kami yang sedang sulit seperti sekarang ini, mampukah meruntuhkan dinding kokoh keras kepalanya Mas Adrian. Apa mungkin …. Ah, sudahlah, aku harus percaya dengan suamiku. Dia adalah pemimpin keluarga ini yang harus aku patuhi. Keputusannya pasti yang terbaik untuk kami.
Harum maskulin body wash itu menusuk hidungku, memenuhi seluruh ruangan. Otak yang baru hendak mengistirahatkan organ-organ tubuh di balik selimut kembali terbangun karena wanginya menyebar ke seluruh ruangan.
“Nggak ada. Emm …, belum.”
Aku bersandar di kepala ranjang, mengamatinya yang masih menunjukkan raut kegelisahan. “Sayang, aku ….”
“Kamu kenapa?”
“Aku dapat surat panggilan dari perusahaan penerbit Pak Erwin, untuk ngisi posisi sekretaris.”
Mas Adrian melirik sinis. “Nggak.”
“Sayang, dengerin dulu ….”
“Aku nggak bisa terima kalau harus kamu yang kerja.”
__ADS_1
“Tapi, Mas … kalau kamu kehilangan kesempatan jadi dos–”
“Aleesa! Aku kepala keluarga di sini. Biar masalah itu cukup jadi urusan aku aja.” sengitnya tajam.
Mendengar responnya, sesuai dugaanku Mas Adrian pasti nggak akan setuju semudah itu. Mungkin perlu beberapa hari dibujuk sampai Mas Adrian mulai goyah dengan pendiriannya itu. Aku mendekatinya yang duduk di tepi ranjang, tanganku memeluknya dari belakang, berharap amarahnya segera meredam.
“Maaf, ya, udah bikin kamu marah. Aku cuma nggak mau terus-terusan jadi beban buat kamu.”
“Aku nggak pernah menganggap kamu sebagai beban, Aleesa. Aku yang memilih kamu untuk ada di sisiku dan atas izin Allah kita bertemu. Aku sudah berkomitmen, kamu partner hidupku, bukan seseorang yang membebaniku.”
“Habisnya aku ngerasa belum bisa jadi partner hidup yang baik buat kamu.”
“Kita berdua, kan baru memulai. Wajar, kan, kalau hal-hal seperti ini belum tertata dengan baik. Bukannya pagi tadi kamu baru bilang gitu?”
“Iya. Gimana bisa aku lupa sama kata-kataku sendiri.”
“Kamu tenang aja, aku akan usahain yang terbaik untuk kita.” Mas Adrian merebahkanku di sebelahnya. Wajahnya sedikit lebih tenang dari beberapa waktu lalu, membawa kelegaan pada hati ini.
*****
Pagi tiba diringi suara cicit burung. Mas Adrian telah bersiap beberapa puluh menit yang lalu, sementara aku menyiapkan sarapan untuk kita berdua sebelum akhirnya berangkat ke rumah Ummi. Setelah pembahasan malam tadi, aku menyepakati keputusan Mas Adrian untuk tinggal sementara di rumah Ummi selama beberapa hari sampai keadaan Ummi membaik. Mas Adrian juga bertekad untuk segera mencari informasi kerja dari teman-temannya.
Tas hitam ukuran besar yang tergeletak di ruang tamu menyadarkanku bahwa sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah ini lagi sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Lalu kondisi kami bisa disebut sebagai ‘numpang orang tua’. Kira-kira seperti apa rasanya? Akankah lebih baik? Ataukah sebaliknya? Kini perasaanku kembali campur aduk. Rasa khawatir itu tak bisa ditutupi mulai menguasai pikiranku.
Sekira pukul delapan pagi, kami berangkat dengan mobil hitam milik Mas Adrian. Perjalanan memakan waktu dua jam karena terpotong waktu mengisi bahan bakar dan sempat ada hambatan dalam perjalanan. Kami baru sampai di rumah Ummi sekitar pukul sepuluh, yang mana kedatangan kami langsung disambut oleh wanita setengah abad hanya beberapa saat setelah Mas Adrian memarkir mobilnya.
“Assalamu’alaikum warahmatullah ….”
“Wa’alaikumsalam …, masuk, yuk!” ujarnya menyilakan kami.
__ADS_1