
“Nona Agatha!” Aku sedikit melirik pada Pak Erwin yang rupanya memanggil nama wanita ini.
Serentak ia berdiri dari kursinya dengan kedatangan Pak Erwin. “Maaf, Nyonya. Saat ini tuan meminta anda untuk tetap beristirahat. Setelah anda diperbolehkan pulang, saya pastikan untuk menjawab semua pertanyaan yang anda ajukan,” tutur Pak Erwin, baru selepasnya ia berbalik, membawa wanita itu bersamanya.
Adrian. Harus bagaimana sikapku nanti saat ia pulang dari Surabaya?
Aku kesal dan marah, tapi di sisi lain juga malu dan merasa bersalah. Terhadap semua yang kulakukan kemarin, aku tak bisa melupakan semuanya begitu saja. Hanna bukan manusia seperti itu. Jika diingat lagi, aku kemarin menampar pipi Adrian tanpa mendengar apa pun yang dia katakan. Bahkan bibirku dengan spontan menyebutnya ‘penipu’ di hadapan banyak orang. Aku juga pergi tanpa melihat lagi seperti apa ekspresinya waktu itu.
Setelah amarahku meluap dan akhirnya meledak, aku justru menyesali apa yang telah aku lakukan. Sepertinya aku akan jadi gila jika terus-menerus seperti ini. Tapi aku tak bisa berhenti memikirkannya.
Pukul dua belas siang, makan siang datang. Seperti ekspektasiku, rasa makanan rumah sakit tak pernah senikmat makanan warteg. Kalau boleh aku berteriak sambil menangis, aku akan mengatakan dengan sangat keras, kalau aku ingin segera pulang.
Aku harus menunggu satu jam setelah makan siang, barulah Dokter Reni mengizinkan aku pulang. Selepas menyelesaikan administrasi dan sebagainya, Erwin mengantarku ke rumah bersama beberapa orang yang asing untukku. Sebelum akhirnya menuruti perintahku untuk mengantar ke rumah lama, kami sempat berdebat panjang di dalam mobil yang terus melaju itu.
"Saya bilang pergi ke rumah saya."
"Tapi perintah dari Tuan, kami diminta untuk memastikan Nyonya sampai ke rumah utama segera setelah pulang dari rumah sakit."
"Saya nggak mau ke sana. Toh Adrian pulangnya masih lama."
"Maaf Nyonya, tapi ini perintah."
"Cepat hubungi Adrian dan tanya soal ini. Aku yakin dia akan mengiyakan permintaanku." Aku berpaling melihat keluar.
"Oh ya satu lagi, Harun di mana?”
“Adik laki-laki anda sudah kami antar ke rumah utama.”
“Bawa dia kembali ke rumah saya.”
“Baik, akan saya tanyakan kepada Tuan."
"Apakah ada hal lain yang anda perlukan, Nyonya?”
“Saya mau makan Soto Banjar.”
Pak Erwin diam sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Segera saya carikan, Nyonya.”
Kurasa kehidupanku layaknya dongeng putri yang berubah hanya dalam semalam. Di pekarangan rumah 12×15 meter itu, kini berdiri empat orang pria berpakaian formal. Tak bisa disangkal, pasti ini juga adalah permintaan Adrian. Menolak hal-hal seperti pun mustahil untuk kulakukan, karenanya, bisa tak bisa, aku harus mulai terbiasa.
Saat memasuki rumah itu, melihat anak tangga menuju ke lantai dua membuatku sesak. Ingatan kemarin malam mempengaruhi emosiku terhadap hal-hal yang berhubungan dengannya.
“Pak Erwin?”
“Iya, Nyonya. Soto Banjar yang anda minta masih dalam perjalanan kemari.”
“Bukan itu, saya mau minta tolong semua barang-barang saya dipindahkan ke kamar bawah."
"Baik, Nyonya."
Sebelum kurasakan nyamannya duduk di sofa ruang tamu, aku pergi ke dapur selama beberapa waktu kemudian kembali ke ke depan. Keberadaan orang-orang di sekitar rumah ini pasti memancing perhatian tetangga komplek. Dan karena aku tak ingin menarik perhatian, kulakukan inisiatifku sendiri.
Aku membuka pintu depan kemudian melongok setengah badan. "Kalian berempat masuk, sini!"
Keempat orang itu tetap diam dan saling berpandangan. "Ini perintah," tegasku lantas segera mereka ikuti.
“Duduklah,” perintahku lagi membuat mereka saling berpandangan.
__ADS_1
“Saya bilang, duduk.” Setelah kuulangi perintahku, mereka pun menutupi keraguan dan duduk di sofa yang sama denganku.
“Silakan diminum. Nggak perlu sungkan, ini perintah saya. Pak Erwin atau Adrian sekalipun nggak akan marah."
Mereka masih terdiam dengan muka ragu-ragu. Aku pun mendahului mengambil secangkir untukku. “Jadi..., berapa lama kalian bekerja dengan Adrian?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Isin menjawab, saya sudah enam tahun bekerja dengan Pak Adrian, kalau ketiga rekan saya ini mungkin baru dua tahun bekerja. Tapi kami sdah dilatih khusus, jadi anda tidak perlu khawatir, Nyonya.” jawab salah seorang mereka.
Enam tahun? Memangnya berapa Adrian memberikan gaji untuknya, sampai dia mau bertahan selama itu? Pikirku.
“Ada berapa orang yang bekerja untuk keamanan?” tanyaku lagi.
“Kalau untuk keseluruhan…, mungkin puluhan atau ratusan. Kami juga kurang tahu pastinya.”
“Dia pikir mau bikin pasukan perang sampai mempekerjakan ratusan orang,” gerutuku lirih.
“Siapa nama kamu?”
Orang yang sejak tadi menjawab pertanyaan itu tersentak. “Sa– saya? Anda menanyakan nama saya?” tanyanya gugup.
“Iya.”
“Nama saya Hugo.”
“Kenapa kamu bisa kerja selama enam tahun? Bukankah resiko pekerjaan ini cukup besar?”
“Suatu kehormatan bagi saya bisa bekerja untuk Presdir. Tidak ada yang membuat saya tidak nyaman sekalipun menurut anda pribadi pekerjaan ini beresiko.”
Aku menghela napasku tak puas mendengar jawabannya. Kenapa ada manusia seperti itu? Sebenarnya Adrian itu manusia seperti apa sampai ia bisa disukai banyak orang?
“Silakan dimakan dan diminum. Ini perintah.” Aku berdiri meninggalkan mereka, kuharap mereka lebih jujur dan mau meminum atau memakan hidangan yang kusajikan di depan mereka.
Di tengah kepalaku yang memikirkannya, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Yang keluar dari sana tak lain adalah Harun adik laki-lakiku. Ia berlari setelah melihatku berdiri di beranda rumah, langsung memeluk begitu jarak kami sudah demikian dekatnya.
“Kakak, nggak apa-apa?” tanyanya hampir menangis.
“Kakak enggak apa-apa. Kamu juga nggak apa-apa, kan? Maaf, ya..., Kakak udah bikin kamu hampir celaka.”
“Bukan salah Kakak, lain kali Harun akan selalu di dekat Kakak dan melindungi Kak Hanna,” ujarnya masih erat memeluk.
“Lain kali nggak akan ada kejadian seperti ini lagi.”
“Hai! Kenapa di sini?” Wanita yang mengenakan blouse itu berjalan mengubah cerah matahari di atas kepala menjadi mendung hitam kelam.
“Harusnya saya yang tanya, kenapa anda di sini?” tanyaku mengalihkan pandangan.
“Saya sedang bekerja, tentunya.”
“Nyonya Hanna! Nyonya!” Suara yang kukenal itu membuatku lebih tertarik.
“Mba Rina?”
“Alhamdulillah, sepertinya Nyonya sudah baik-baik saja. Kenapa Nyonya tidak kembali ke rumah utama?” Mba Rina berdiri kira-kira satu setengah meter dariku.
Aku mendekat, lantas memeluknya. “Terimakasih. Tapi ini rumah saya, selamat datang,” ucapku seraya tersenyum.
Mba Puput melangkah pelan di belakang Mba Rina kemudian mengucapkan selamat atas kesembuhanku. Tapi kedatangan Mba Rina di sini sudah cukup membuatku bahagia. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada Mba Rina selama aku meninggalkan rumah itu. Kalau Mba Rina dan Mba Puput ada di sini, itu artinya mereka tidak pernah benar-benar dipecat.
__ADS_1
“Ada banyak yang ingin saya ceritakan.”
“Saya senang bisa mendengarnya dari Nyonya.”
Di kala keharuan dan bahagiaku bercampur, aku dikejutkan oleh suara dari dalam rumah. “Ngapain kalian di sini!”
Aku melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Menuju ke ruang tamu, tempat di mana Pak Erwin berdiri membentak empat orang yang sedari tadi kuminta duduk di sofa ruang tamu.
“Ini perintah saya. Saya nggak mau mereka berdiri di depan rumah saya seolah saya adalah tawanan.”
“Maaf, Nyonya. Tapi mereka memang diminta langsung oleh Tuan untuk berjaga di sekitar rumah.”
“Bukankah tujuan utamanya untuk melindungi saya? Saya yakin mereka berempat tidak akan lalai dengan tugas hanya karena saya persilakan duduk di ruang tamu. Ini juga bagian dari pekerjaan keamanan.”
“Maaf, Nyonya. Kita tidak pernah tahu kapan bahaya akan kembali mengintai kediaman Nyonya saat ini. Perintah Tuan adalah yang terbaik untuk keselamatan Nyonya.”
“Kalau memang Pak Erwin tidak percaya dengan keputusan saya ini, silakan lapor ke Adrian, dan itu sama saja Pak Erwin ingin rumah tangga Tuan anda makin berantakan.” Aku masih berdiri menunggu responnya, sementara ia hanya terdiam.
“Nyonya kita memang luar biasa. Keputusannya selalu bertolak belakang dengan keputusan Presdir,” komentar wanita bernama Agata itu.
“Siapa yang menyilakan anda menginjakkan kaki di rumah saya?”
“Sangat ketus. Sepertinya kita perlu duduk dan mengobrol untuk meluruskan kesalahpahaman ini.”
Setelah suasana canggung dan chaos itu sedikit mereda, semua orang kuminta duduk di kursi ruang tamu, kecuali dua orang yang yang memilih untuk berjaga di depan karena merasa tak begitu andil dalam topik yang ingin aku perbincangkan.
“Jadi, beliau ini adalah Nona Agata, tiga puluh tahun, sekretaris sementara Presdir untuk menggantikan tugas saya dan asisten pribadi anda. Beliau sudah bekerja bersama Tuan selama lebih dari empat tahun. Kurang lebih, posisi kami berdua hampir sama,” jelas Pak Erwin memperkenalkan.
Sialan! Padahal aku hampir meledak karena wanita itu berpakaian sangat minim dan pergi berdua dengan Adrian. Sekarang aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Astaghfirullahhaladziim, sabar Hanna.
“Berikutnya, Hugo, dua puluh tujuh tahun. Dia adalah staf keamanan kelas S yang sudah bekerjasama dengan kami selama hampir tujuh tahun. Ayah Hugo adalah staf keamanan kelas S yang saat ini sudah purna. Ayahnya adalah orang kepercayaan Ayah mertua anda ketika beliau masih hidup.”
“Mba Rani adalah kepala Asisten Rumah Tangga yang akan mendampingi Nona Agata dan melayani anda. Beliau juga dibekali kemampuan bela diri untuk menjaga keamanan anda dalam jarak dekat di keadaan mendesak.”
Aku mendengar penjelasan Pak Erwin dengan seksama. Setiap perkenalan diri mereka membuatku semakin merasa jauh. Aku merasa seolah aku berada di tempat yang asing dari dunia normalku. Aku seperti orang yang tak memiliki siapa pun, karena ada batasan sosial jika dibandingkan dengan posisi mereka.
“Bagaimana dengan anda, Pak Erwin? Siapa Erwin?”
“Biar saya menjelaskan.” Agata mengambil alih.
“Erwin, empat puluh satu tahun, asisten pribadi Presdir, sudah bekerja selama dua puluh tahun. Dibekali dengan kemampuan bela diri dasar dan teknik pertahanan diri jarak jauh. Jam kerjanya, 10 jam di lima hari aktif dan 3 jam di akhir pekan, juga 20 jam di saat-saat tertentu seperti ketika Pak Erwin harus mengurus pernikahan anda dengan Presidir.”
“Ada yang ingin ditanyakan lagi, Nyonya?”
“Apa pekerjaan suami saya?”
“Presdir adalah pemilik dari AA Corporation. Lebih detilnya, AA Media, AA Construction, AA Mining, AA Hotels and Residences, dan AA Tech adalah sederet nama-nama perusahaan milik suami anda. Presdir juga mendirikan sebuah rumah sakit namun tidak mengatasnamakan AA Corporation.”
“Ayah-Bunda tahu tentang semua itu?”
“Ayah-Bunda anda tentu mengetahui semua itu sebelum pernikahan anda dilaksanakan.”
“Lalu apa yang terjadi selama tiga bulan ini? Ada yang bisa menjelaskan?” Aku bertanya dengan tatapan hampa.
“Untuk itu, maaf kami juga tidak bisa menjawab. Anda perlu menanyakannya langsung kepada Presdir, karena semuanya sudah diatur oleh Presdir. Kemungkinan, karena rumah utama sedang direnovasi selama tiga bulan ini, jadi Presdir sengaja membawa anda pindah untuk sementara. Selebihnya, bukan kapasitas kami untuk menjawab.”
Semuanya terdiam setelah Pak Erwin dan Agata selesai menjelaskan. Aku juga terdiam merenungkan semua hal yang baru mereka sampaikan. Aku bingung. Tidak mengerti apa yang harus aku lakukan sekarang. Kalau saja Ayah-Bunda di sini, aku ingin tahu pendapat mereka terhadap caraku menanggapi semua ini.
__ADS_1
“Kakak! Soto Banjarnya udah datang nih!” Harun memecah kesunyian di ruang tamu. Seketika itu pun dinding ketegangan runtuh.