
Di pagi hari, saat kuputuskan bahwa hari ini akan jadi hari terakhir aku tinggal di rumah Mba Rina, seperti biasa aku melaksanakan dua belas rakaat dhuha kemudian berdoa untuk kebaikan semuanya. Dalam doa itu, aku teringat pada ekspresi Adrian yang kecewa karena kepergianku. Ingatan itu sontak menarik turun air mata yang kutahan setiap waktu. Lalu munculah bayangan Karinda tersenyum melihatku, semakin menjadi tangisku karenanya. Kemudian muncul setitik sesal yang mungkin akan jadi lebih besar jika aku menyentuhnya.
Dalam beberapa saat, tiba-tiba saja aku sudah tergeletak di atas sejadahku, masih dengan mukena. Aku tak ingat apa-apa setelahnya, hingga terbangun di tempat yang berbeda. Mataku mencoba menangkap cahaya, melihat sekeliling telah duduk Mba Rina bersama anaknya, dan sang Ibu yang tersenyum menatapku. Aku tak bisa menutupi rasa bingungku karena terbangun di ruang tengah. Setelahnya aku mencoba untuk bangkit perlahan dari tidurku.
"Selamat, ya..." Ibu Mba Rina menyalami tanganku sambil tersenyum. Aku menatapnya dengan ekspresi bingung yang tak bisa tertutupi.
"Semoga kamu dan bayi dalam kandungan kamu selalu diberikan kesehatan sampai dengan proses lahiran," sambung Wanita kepala tujuh itu.
"Ba- bayi?" Aku terbelalak menatapnya.
"Iya, Nak. Kamu hamil," tegasnya menyalami tanganku.
Aku yang terduduk masih bungkam seraya menatap perut datarku. "Selamat, Nyonya, saya yakin Tuan pasti akan sangat senang ketika kita pulang dengan membawa kabar ini." Mba Rina turut mengucapkan selamat untukku.
Ini cuma mimpi kan? Sejak awal memang aku tidak boleh berharap akan hamil. Apalagi kondisi sekarang yang seperti ini. Aku harus bangun dari mimpi ini. Ini tidak nyata Hanna! Ayo bangun dari mimpi ini!
"Nyonya, Nyonya..," suara Mba Rina disertai sentuhan tangannya di lenganku kembali menyadarkanku.
"Anda tidak sedang bermimpi, Nyonya. Anda benar-benar tidak sedang bermimpi. Ini nyata."
Aku terdiam sebentar, kemudian refleks air mata bahagiaku tergelincir dari kelopak kecil itu. Kata-kata Dokter Jennie dan Dokter Rani waktu itu masih terngiang di kepalaku, tapi sekarang Allah menunjukkan kuasa-Nya. Sungguh tak bisa kupercaya, betapa bahagianya aku saat itu, dan betapa senangnya ketika Adrian mendengarnya nanti. Ini nyata!
Mimpi-mimpi yang terus-menerus mendatangiku di tiap malam. Panggilan Mama dan Papa itu akan menjadi nyata dalam sembilan bulan ke depan? Mashaa Allah, Tabarakallah, Alhamdulillah ..., aku tidak tahu harus berkata apalagi. Allah tunjukkan kuasa-Nya padaku.
Sajada wajhi lilladzi khalaqahu, wa syaqqa sam’ahu wa basharahu, bihawlihi wa quwwatihi, fatabarakallahu ahsanul khaliqin. Dalam sujud yang dalam, aku membacanya hingga air mataku kembali mengalir. Syukurku atas apa yang Allah berikan, dan ini adalah satu hal besar yang takkan terjadi tanpa kuasa Allah.
*****
Keesokan harinya, sebelum bersiap untuk pulang kembali ke rumah, aku membuktikan kata-kata ibu Mba Rina dengan menggunakan test pack. Lalu hasilnya, dua garis tampak jelas di sana. Kali ini aku menggunakan lima merk berbeda dan hasilnya sama. Aku pun tanpa sadar jadi semakin bersemangat untuk segera pulang dan memberitahu Adrian akan hal ini. Aku tak ingin memberitahunya hanya melalui telepon. Aku ingin memberitahunya secara langsung.
Pukul sepuluh pagi, ketika aku dan Mba Rina sudah siap untuk meninggalkan kediaman Mba Rina di kampung, sebuah notifikasi panggilan datang dari Adrian. Aku segera mengangkatnya untuk meminta maaf karena selama seminggu ini meninggalkan rumah.
[Voice Call]
Adrian Al-Faruq : Assalamualaikum, Alhamdulillah akhirnya nyambung juga. Kamu dimana? Aku udah coba telepon berkali-kali nggak pernah kamu angkat
Hanna Aleesa : Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Aku masih di rumah Mba Rina, ini udah mau pulang kok
Adrian Al-Faruq : Kamu tahu berapa kali aku telepon kamu dari seminggu yang lalu? Aku khawatir kamu kenapa-napa di sana
Hanna Aleesa : Aku nggak apa-apa, Sayang..
Adrian Al-Faruq : Kamu lagi senyum-senyum ya? Kalau dari suaranya, kayaknya kamu udah nggak marah-marah lagi nih
Hanna Aleesa : Iya, aku udah nggak apa-apa kok. Aku juga mau minta maaf karena pergi dari rumah seminggu ini, bikin kamu khawatir. Maaf, ya ... Aku juga mau minta maaf secara langsung sih, ah jadi nggak sabar pengen ketemu..
Adrian Al-Faruq : Nah kan, siapa yang kemarin pergi, terus sekarang jadi kangen pengen ketemu
Hanna Aleesa : Abisnya aku punya sesuatu yang harus aku kasih tahu ke kamu. Aku nggak sabar mau ketemu kamu
__ADS_1
Adrian Al-Faruq : Aku juga punya sesuatu yang mau aku kasih tahu ke kamu
Hanna Aleesa : Ya udah deh, sampai ketemu nanti di rumah, ya..
Adrian Al-Faruq : Atau sekarang aja aku berangkat ke sana? Jemput kamu?
Hanna Aleesa : Ih jangan dong.., ini barang-barangku udah naik ke bagasi mobil semua
Adrian Al-Faruq : Okay deh kalau gitu, kamu hati-hati. Karena perjalanannya lama, nanti di jalan istirahat aja, tidur gitu
Hanna Aleesa : Iya iyaa, aku tahu kok
Adrian Al-Faruq : Ya udah deh, banyak yang mau aku obrolin selama seminggu kamu nggak ada di sini. Sampai ketemu nanti di rumah. Assalamualaikum
Hanna Aleesa : Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
[Call Ended]
Sepanjang perjalanan yang kami lalui, hampir tak luput senyum di bibirku ini terangkat. Aku pun menyadarinya, aku sampai sebahagia ini dan tak sabar bertemu dengan Adrian. Setelah melalui perjalanan panjang lebih kurang tujuh jam, akhirnya sampai juga di rumah itu lagi. Adrian menyambutku dengan hangat dan dengan mudahnya memaafkanku tanpa syarat. Aku sampai menangis haru memeluknya di depan pintu utama rumah kami.
"Udah dulu pelukannya, nggak enak kelihatan dari pos security."
"Kangen..," ucapku manja.
"Iya iya.., kangen. Nanti abis Maghrib aku mau ajak kamu jalan loh," bisik Adrian melepas pelukannya.
"Refresh otak, ke mana aja deh asal bisa berdua pokonya mah."
"Apa sih.., kamu gitu deh." Aku sengaja memukulnya ringan ketika mendengar kalimat-kalimat godaan itu.
Aku senang! Yah, entah bagaimana aku mendeskripsikannya, tapi yang jelas aku benar-benar senang sampai tak pernah sesenang ini sebelumnya. Matahari yang perlahan terbenam ke arah barat, akhirnya tergantikan cahayanya dengan sinar bulan. Tak lupa kami bersujud kepada sang pencipta seusai berkumandangnya suara Adzan maghrib. Seperti biasa, Mas Adrian berangkat ke masjid sementara aku salat di musholla rumah bersama Mba Rina dan Mba Puput.
Turun dari salat, aku kembali tak sabar. Segera saja kuganti pakaianku dengan pakaian yang lebih sederhana dan sopan untuk memenuhi ajakan Mas Adrian. Tak perlu menunggu lama, Mas Adrian pun sudah siap dengan Portofino di pekarangan rumah saat aku selesai bersiap. Ia membukakan pintu untukku, menyilakanku masuk dan mulai menancap gas, keluar dari pekarangan rumah.
"Kita mau ke mana sih?" tanyaku tak sabaran.
Ia tak menjawab pertanyaanku sama sekali, sampai mobil yang dikemudikannya mulai mengurangi kecepatan. "Tempat kedua kalinya kita ketemu," bisiknya lirih.
"Huh?"
"Iya, ayo turun." Adrian kembali membukakan pintu untukku, hingga mengulurkan tangannya seperti gaya pacaran anak SMA.
"Kenapa ke sini?"
Adrian yang berjalan di sebelahku itu tersenyum penuh arti, "Sebenarnya aku baru aja beli cafe ini kemarin, jadi kamu bisa datang ke sini kapan pun kamu mau."
"Hah? Kamu beli cafe ini? Ini yang kamu beli cafe loh, bukan segelas kopi."
"Kaget, kan? Ya iyalah.. soalnya nggak mungkin aku beli tempat pertama kali kita ketemu."
__ADS_1
"Iya juga sih, masa iya kamu mau beli stasiun kereta," gumamku.
"Tapi Sayang, emang nggak apa-apa kamu beli tempat ini? Udah tahu untung-ruginya?" tanyaku lagi, segera dibalas dengan senyuman.
"Tenang aja.., aku tahu kok. Semuanya udah aku rinci sebelum beli. Lagian yang punya tempat ini tuh kalau nggak salah dulunya temen kampus Garrin, dan dia setuju aja untuk jual karena udah ada bisnis lain."
"Adrian aneh."
"Anggap aja ini modal usaha buat kamu," celetuk Adrian.
"Maksud kamu?"
"Maksudnya.., aku mau kamu yang urus cafe ini. Aku belinya juga pakai uangku sendiri loh, bukan dari uang perusahaan. Jadi, satu minggu lagi, secara official, cafe ini jadi milik kamu. Gimana?"
"Boleh?"
Adrian tertawa seraya merengkuh bahuku. "Boleh dong.., aku beli ini buat kamu. Tinggal sepintar apa kamu mengembangkan cafe ini ke depannya."
Ajaib. Setiap hari yang kulalui bersama Adrian adalah keajaiban. Selalu ada hal tak terduga yang mengejutkanku. Tanpa sadar, aku mulai mengerti bagaimana Adrian selalu berusaha memberikan kebahagiaan untukku. Kejutan-kejutan itu, meski kadang sangat membahagiakan, tapi sesekali juga membuatku takut. Takut bila saja aku sampai pada titik di mana lupa akan kebahagiaan duniawi yang hanya sementara ini. Semoga saja apa yang kudapat ini tidak akan membutakan hati manusia yang rentan.
Malam itu, di cafe yang baru saja pindah kepemilikan, kami membicarakan tentang rencana pembangunan, dan pengembangan cafe ini selanjutnya. Selainmemperbaiki beberapa furniture minimalis modern, mungkin akan kuusulkan menu baru dan tempatku bisa menjual pastry. Rasanya tiba-tiba jadi antusias mengingat aku akan menjadi pemilik tempat nongkrong strategis ini.
Sampai di rumah, malam terasa lebih singkat untuk segera menyambut datangnya esok hari. Tepat sebelum pergi tidur, aku sudah berencana menunjukkan testpack positif itu kepada Adrian. Lampu utama telah berganti dengan lampu tidur di sebelah kanan dan kiri ranjang.
"Aleesa, kamu tahu nggak kenapa aku beli tempat itu buat kamu?"
"Karena.. tempatnya strategis?" tanyaku membuatnya berdecak.
Ia mengubah posisiku tertidur di dadanya dan sama-sama melihat ke langit-langit kamar. "Seminggu lalu, tepat dua tahun sejak kita pertama kali bertemu."
Aku terdiam sebentar, "Eh?! Beneran?" tanyaku serentak bangkit terduduk.
"Tuh, kan ..., Sendirinya lupa sama hari penting kita berdua." Adrian tertawa kecil melihat tingkahku.
"Aku sama sekali nggak ingat loh. Maaf ..."
"Nggak perlu minta maaf juga sih, toh kita nggak merayakan yang begituan," tuturnya lembut.
"Jadi, cafe itu..,"
"Iya, anggap aja sebagai kenang-kenangan pertemuan kita. Lagipula aku lihat, cafe itu punya potensi menguntungkan kalau dipegang sama orang yang tepat."
Aku tersenyum malu, mungkin bersamaan dengan itu, pipiku juga ikut memerah. "Yakin, kalau aku orang yang tepat?"
"Nggak perlu diragukan lagi deh." Tangan kanan itu mencubit hidungku gemas.
Tangan kiriku telah memegang test pack di belakang punggung. Kuatur napas dan hatiku, bersiap menunjukkannya setelah ini. Sementara Adrian terus memandangku dari posisi bersandar di kepala ranjang, aku duduk menghadapnya menahan grogi.
Apa sekarang saatnya?
__ADS_1