Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Keluarga


__ADS_3

"Kamu itu gimana sih! Dia menolong Ummi dengan ikhlas, kenapa harus diganti dengan uang segala!" Wanita itu membentak seraya memukul bahu anaknya.


Beliau lantas mendekatiku dan berkata pelan, "Sebagai ucapan terima kasih, gimana kalau kami antar kamu sampai ke rumah Nenek kamu?" Tawar Ibu itu.


"Maaf, Bu, tapi saya sudah memesan taksi. Sepertinya taksinya sudah dekat dengan stasiun. Lebih baik anda segera pulang, karena perjalanan panjang dan melelahkan hari ini." Aku kembali menolak bantuan mereka.


"Kalau begitu, nama kamu siapa?" Tanya Ibu itu kemudian.


"Ha, Hanna. Nama saya Hanna."


"Nak Hanna, saya mengundang kamu untuk datang makan malam ke rumah kami hari Selasa nanti. Untuk alamatnya, biar anak saya yang beritahu lewat pesan. Tolong kamu datang, ya." Ucap wanita itu ramah.


"Sebenarnya tidak perlu sungkan seperti itu, saya jadi merasa tidak enak. Tapi fa Inshaa Allah saya akan datang." Aku mengiyakan dengan senyum mengembang.


"Kalau begitu saya oanit pergi dulum Bu, Pak." Aku menundukkan kepala.


"Iya, hati-hati di jalan ya." Nyonya itu memelukku sebelum aku melangkah pergi meninggalkannya dengan putra bungsunya itu.


Aku sampai tergugup karena tak menyangka wanita itu sampai akan memelukku saat kami berpisah. "I, iya, mari."


Aku berjalan meninggalkan ibu dan anak bungsunya menuju ke jalanan yang di sana sudah ada taksi menungguku. Aku pun segera masuk dan melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi untuk sampai ke rumah Nenek dan berlanjut ke rumah Ayah-Bunda. Pengalaman hari ini, sungguh patut dijadikan sebagai pelajaran berharga.


*.... Author POV***….**


Seseorang berdiri di luar pagar, menekan bel berkali-kali. Tapi tak seorang pun keluar dari pintu itu. Bahkan ketika ia melihat ke dalam, sepertinya sang pemilik rumah sedang tidak berada di rumahnya hari itu. Raut muka yang sebelumnya senang bercahaya, kini berubah mendung menelan setitik kekecewaan. Ketika berbalik hendak berjalan menjauh, seseorang segera menghampirinya.


"Yang punya rumah nggak ada di rumah, ada perlu apa ya? Nanti saya sampaikan." Ucap orang itu.


"Tidak ada bu, terima kasih." Balasnya segera berlalu.


Ia berjalan menundukkan kepala di sepanjang jalan kembali ke jalanan besar. Ketika baru akan keluar komplek perumahan itu, seseorang kembali menyapanya ramah.


"Kamu yang kemarin, kan? Cari Mba Hanna ya?" Tanya Ibu itu ramah.


"Iya Bu, saya baru dari rumahnya, sepertinya sepi-sepi saja." Balasnya.


"Mba Hanna pulang kampung, Mas. Baru kemarin berangkat, katanya diminta orangtuanya untuk pulang." Jawab Ibu itu.


"Pulang ke rumah orangtuanya? Kalau boleh tahu, pulangnya sebentar atau pulang untuk seterusnya, ya, Bu?" Tanyanya lagi.


"Sepertinya pulang sebenat, motor, sepeda, dan kunci rumahnya ada dititipin ke saya." Ujarnya.


"Oh, ya sudah, terima kasih ya Bu, saya permisi." Pamitnya segera menuju ke jalan besar dengan tergesa.


***


"Assalamu'alaikum." Hanna berdiri di luar pagar yang terkunci dari dalam. Tak lama, seseorang membukakannya dan menyilakan masuk.


"Wa'alaikumsalam. Gimana perjalanannya?" Ibunya membukakan pagar rumah.

__ADS_1


"Alhamdulillah lancar Bun." Hanna mencium tangan Ibunya dan tersenyum sekilas.


Lantas keduanya masuk ke dalam rumah sudah cukup lama ia tinggalkan. Rumah tempatnya hidup di tengah keluarga harmonis dan kenangan hangat di dalamnya


"Assalamu'alaikum…, mashaa Allah anak Ayah." Kedatangan Hanna disambut dengan Senyuman hangat Ayahnya.


"Gimana perjalanannya, Nak?" Tanya Ayah menyamai Ibunya.


"Alhamdulillah lancar, Yah. Kak Zahra mana?"


"Zahra baru aja datang pagi tadi, langsung dijemput main sama teman-teman SMP-nya." Jawab Ayah.


"Harun? Nggak pulang, Yah?" Tanya Hanna lagi.


"Pulang kok, Ayah udah izinin ke pondok pesantrennya, minta libur asrama seminggu."


"Adikmu itu sekarang jadi super sibuk loh, Hann. Nggak cuma ngurusin kegiatan akademik, dia ikut lomba-lomba dan jadi perwakilan sekolah apalah itu. Ah, kamu pasti cape, lebih baik kamu istirahat dulu. Kamar kamu baru aja dibersihkan tadi." Tutur sang Ibu kemudian.


"Makasih ya Bun, Hanna naik dulu."


Hanna menaiki tiap tangga yang mengantarkannya pada ruang kamar persegi panjang berukuran 3×4 meter di pintu kedua. Ruang itu masih bercat abu-abu seperti sebulan lalu ketika ia mampir sebentar di sini. Meja belajar yang masih sama, ranjang yang sama, dan jendela yang selalu menghadap ke arah matahari terbenam mengingatkan Hanna pada masa lalu tentang jendela itu.


Setelah meletakkan ranselnya, ia merebahkan tubuhnya yang penat ke atas ranjang. Melihat pada langit-langit kamar berwarna putih. Udara sejuk dari AC yang menerpa kulitnya tak enggan menggoda kedua matanya menutup perlahan. Kantuknya menyerang, memaksa Hanna sejenak lupa pada dunia sadarnya. Membawa Hanna terambang mengarungi lautan mimpi.


"Assalamu'alaiakum, Kak Hanna!" Pintu kamar terbuka, serentak Hanna kembali tersadar dari tidurnya dan terduduk.


"Iya Kak, Kakak udah lama?" Harun yang masih mengenakan seragam lengkap itu balik bertanya.


"Barusan aja."


"Aku dibawa in oleh-oleh, nggak?"


"Ada tadi aku taruh bawah"


"Okay. Makasih, ya." Ucapnya seadanya, lalu pergi.


Belum lama Harun keluar dari kamar sang Kakak, ia kembali lagi. "Ngomong-ngomong, gimana rasanya kuliah di Indonesia lagi?" Tanyanya seolah mengerti tentang perkuliahan.


"Biasa aja. Orang Indonesia ramah-ramah banget sih. Apalagi tetangga Kakak, kemarin aja ada yang sampai nungguin Kakak waktu Kakak nyeri datang bulan."


"Dasar, orang Indonesia emang gitu sih. Kepeduliannya tinggi. Termasuk ngurusin hidup orang lain."


"Eh tunggu deh, kamu pulang sekolah selalu jam segini?"


"Iya, soalnya banyak kegiatan di luar akademik. Lagian juga aku udah sering cerita kayaknya."


"Iya kah? Berarti aku aja yang nggak sadar aja." Hanna menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh iya. Kakak udah baca CV nya?" Tanya Harun yang masih tak bisa dicerna langsung oleh Kakaknya itu.

__ADS_1


"CV apaan?" Hanna menatap adik laki-lakinya heran.


"Curriculum Vitae."


"Iya Kakak tahu kalau itu. Tapi CV apa?" Hanna memperjelas pertanyaannya.


"CV Ta'aruf." Jawab Harun yang langsung membuat Hanna berhenti bernapas, kedua matanya membulat menatap adiknya yang baru saja mengeluarkan jawaban yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.


"Siapa yang mau ta'aruf?!"


*****


Meja makan persegi panjang dengan lima kursi yang memutarinya menjadi lebih hangat ketika keluarga harmonis ini baru saja menyelesaikan makan malam. Dengan lengkap penuhnya kursi-kursi yang terisi, membawa aura keharmonisan di tengah-tengah mereka begitu terasa. Rumah sederhana ini masih cukup menampung tiga orang anak dan orangtua yang masih lengkap, serta dua asisten rumah tangga. Dan kali ini, kelengkapan keluarga menjadi lebih begitu terasa.


Dari kursi paling ujung, Pak Darmawan yang selalu merindukan kebersamaan demikian ini begitu bahagia melihat kepulangan anak-anaknya. Di sebelahnya, Bu Mutia yang juga merasakan hal yang sama karena ketiga anaknya kembali mengisi kekosong rumah itu lagi. Di sisi lain meja, Harun yang begitu dingin, tapi juga ceria dengan sesekali menggoda kedua kakak perempuannya dengan kata-kata polos khas anak tujuh tahun.


Di sisi yang lain pula, Kak Zahra yang selalu tampak tenang tersenyum ringan dengan tatapan meneduhkan. Kain panjang yang menutupi tubuhnya hampir tak pernah lepas dalam segala keadaan. Di sebelahnya, Hanna yang kembali mengenakan hijab, masih mencoba beradaptasi. Ia tersenyum bahkan tertawa sesekali ketika melihat pada Harun yang selalu mudah tersenyum tapi juga selalu bersikap dingin disaat yang hampir bersamaan.


"Yah, Bun, besok Hanna mau ke rumah teman Hanna ya?"


"Jam berapa?"


"Mungkin sore, tapi Hanna usahain nggak akan pulang malam kok."


Sang Bunda langsung menatap ke arah Hanna dan suaminya bergantian. Kalimat tak setuju hampir keluar dari bibirnya sebelum akhirnya sang Ayah menjadi penengah.


"Udahlah Bun, nggak apa-apa, yang penting sebelum jam sembilan udah sampai rumah." tutur Pak Darmawan.


"Yes! Berarti boleh, kan Bun?" Hanna tersenyum penuh kemenangan.


"Iyaa, tapi ingat. Pulang sebelum…?"


"Jam sembilan."


"Oh iya Yah. Soal yang kemarin jadi ya?" Zahra memandang pada Pak Darma dengan senyumnya.


"Inshaa Allah."


"Soal kemarin? Ada apa sih Kak?" Bisik Hanna pada Kakak yang duduk di sebelahnya.


"Anak kecil nggak boleh ikut campur." Harun kembali berulah dengan melemparkan selada ke piring Hanna yang sudah kosong.


"Hello! Yang anak kecil siapa ya?" Hanna melempar balik seladanya dengan gemas.


Malam itu kehangatan keluarga benar-benar kembali di dalam rumah yang hampir sepi karena ditinggal oleh anak-anaknya demi menuntut ilmu dan bekerja. Setiap kali keluarga ini kembali lengkap selalu akan ada kejutan-kejutan baru esok harinya. Pun malam itu menjadi awal dari kejutan baru yang akan datang.


Seperti sebuah rutinitas sejak dulu, setelah makan malam bersama. Harun akan duduk di ruang tengah dan mengeluh karena tugas. Meski usia Harun dan Hanna terpaut empat belas tahun, tapi keduanya seperti adik-kakak selisih dua tahun karena sama saja sifat kekanakannya. Alhasil, Kak Zahra lah yang selalu mengalah di antara tiga saudara dalam keluarga itu. Zahra pula yang sigap membantu adik-adiknya itu sebelum ia menyelesaikan pekerjaannya sendiri.


Entah kenapa, momen-momen seperti ini menjadi begitu berarti untuk Hanna pribadi. Sampai terasa begitu terharu melihatnya. Ya, memang sangat sederhana, Keluargalah yang membuat momen seperti ini jadi istimewa.

__ADS_1


__ADS_2