
"Terus? Garin yang antar kamu sampai ke rumah?" tanyanya tiba-tiba terasa menyudutkanku.
“Iya,” jawabku ragu. Tapi mau bagaimana pun rasanya susah untuk berbohong kepada suami sendiri.
Beberapa saat kemudian mobil melambat ketika memasuki jalanan perumahan. Remang-remang, tampak wajah Mas Adrian tak berekspresi yang justru membuatku takut beberapa saat. Hingga mobil benar-benar berhenti, dan keremangan lampu jalan yang masuk melalui kaca mobil itu memperjelas senyuman yang tampak di wajah cerahnya.
“Kamu kenapa?” tanyanya diikuti geligik tawa.
“Kamu nggak marah?”
“Marah kenapa? Marah karena laki-laki itu anterin kamu pulang malam?”
Aku masih tak percaya Mas Adrian menanggapinya dengan sneyuman, bahkan tangannya mengusap kepalaku gemas sebelum turun dan membukakanku pintu. Sampai ketika masuk ke dalam rumah, aku mengikutinya seperti anak kecil yang berushaa mencari perhatian dari orang tuanya. Tapi ekspresi Mas Adrian tak berubah sedikit pun.
“Kamu beneran nggak marah, Mas?” tanyaku untuk kesekian kalinya.
“Untuk apa marah dengan sesuatu yang sudah terjadi. Lagi pula itu hanya masalah sepele, kecuali kalau kamu ada niatan mau mengulangi hal yang sama.”
“Aku kira kamu akan marah, Mas ….” Aku memeluk tubuh Mas Adrian dari belakang.
“Kenapa sih? Kamu manja banget tiba-tiba,” komentarnya tak menolak pelukanku.
“Abisnya aku nggak percaya kamu bisa semudah itu seolah nggak ada dendam kalau ngomongin Garin Wijaya.”
“Itu, kan kemarin. Anggap aja sekarang udah enggak lagi. Lagian kalau kamu udah jadi milikku, kenapa aku harus takut orang lain bisa mengambilnya?”
Mas Adrian masih berdiri membawa barang belanjaan ke atas meja di kamar bawah. Ia berbalik hingga kini kami saling berhadapan, dengan matanya menatap lurus ke arahku. Sekali lagi senyumnya menyihirku hingga tak bisa berkata apa pun di depannya.
“Dan aku juga tahu, kalau pada akhirnya kamu akan tetap memilih Om-om ini dari pada laki-laki itu.”
“Om Adrian? Hahah…”
“Iya. Apa aku cocok dipanggil begitu?” bisiknya lirih di dekat telingaku.
Aku segera mendorong tubuhnya meski hanya berpindah beberapa senti. “Okay, sekarang kamu mau lanjut siapin buat besok atau tidur? Mau dibikinin kopi atau mandi?”
“Kopi, dikit gulanya seperti biasa.” Aku mengangguk mengerti selaras pergi dari hadapannya.
Sembari menunggu air mendidih, aku bergegas naik dan mengganti pakaian. Hanya perlu beberapa menit hingga akhirnya secangkir kopi hitam tanpa gula tersaji di atas nampan. Pelan, aku melangkah membawa nampan itu menuju ruang yang sama. Kini isi kepalaku seakan berputar memikirkan kapan waktu yang tepat untukku mengatakan berita yang mungkin akan membuat Mas Adrian terkejut.
Walau merasa keberanian sudah terkumpul pada diriku, tapi akhirnya aku kembali mengurungkan niatku saat ini. Kelihatan, Mas Adrian fokus dengan apa yang dikerjakannya hingga ia tak menoleh pada cangkir kopi yang barusan kuletakkan tak jauh dari tangan kirinya.
Di kursi tambahan, aku menunggunya hingga mungkin sedikit saja menoleh padaku. Tapi sepertinya buku-buku dan tampilan monitor itu lebih menarik sekarang ini. Tak mau mengganggu, aku undur diri kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Dan kembali aku berpikir kapan waktu yang tepat membicarakannya dengan Mas Adrian.
__ADS_1
Jika tahu aku ingin bekerja, dan tempat bekerjaku adalah perusahaan yang mengusirnya keluar dari segala apa yang telah dimilikinya, apakah Mas Adrian akan mengizinkanku? Atau justru sebaliknya. Karena jujur saja aku paling takut melihat diamnya Mas Adrian, apalagi sampai ia menunjukkan ekspresi kesalnya lagi.
Tring!!
Ponsel yang bergetar di atas ranjang membuatku sgeera menyudahi pikiranku dan membuka mata melihat pada layarnya.
[voice call]
Hanna Aleesa : Halo? Assalamu’alaikum
Erina : Wa’alaikumsalam. Maaf Hann ganggu kamu malam-malam gini, Adrian dimana?
Hanna Aleesa: Mas Adrian di bawah, Kak. Ada apa?
Erina: Ini, Mas Danar katanya udah telepon berkali-kali tapi nggak diangkat
Hanna Aleesa : Oh, coba aku turun dulu, deh Kak.
Erina: Iya. Makasih, ya sebelumnya. Maaf ganggu.
Hanna Aleesa : Iya, nggak apa-apa, Kak.
Setengah berlari aku menuruni tangga menuju ke kamar bawah. Dan benar saja Mas Adrian masih fokus dengan buku dan laptop. “Mas …,”
“Dicari Kak Danar, HP kamu ke mana?”
“Ada. Di … saku jaket yang tadi mungkin,” balasnya masih tak melepaskan pandangan dari dari layar monitor.
Aku menghela napas seraya menggelengkan kepala. Dasar kalau udah fokus pada satu hal, pasti nggak mau diganggu. Dan benar saja, beberapa saat kemudian terdengar ringtone notifikasi panggilan di dalam saku jaket yang sudah bisa ditebak, pasti sengaja diabaikan. Aku pun mengambilnya lantas memberikannya.
Ponsel itu kuulurkan tepat di hadapannya. “Kak Danar nyariin kamu,” ucapku singkat.
Sedikit mata Mas Adrian melihat ke ponsel, kemudian tangan kanannya meraih ponsel itu dan mengangkat panggilan dari kakak kandung yang sedari tadi diabaikannya.
“Halo? Assalamu’alaikum ….” Mas Adrian memutar perlahan kursinya berpaling dari layar monitor.
[Voice Call]
Kak Danar : Wa’alaikumsalam. Kamu ke mana aja sih? Dari tadi diteleponin nggak angkat-angkat. Masa iya aku sampai harus telepon istri kamu. Halo? Adrian! Dengar nggak sih?
Adrian : Sebentar, Kak. Nanti kutelepon lagi kalau udah nggak sibuk
Kak Danar : Hah? Gimana? Ha–
__ADS_1
Mas Adrian menatapku dengan tatapan lapar seakan ingin melahapku saat itu juga. Ia bangkit dari duduknya, mendorong tubuhku hingga sofa, sementara ia menindih di atasku. Tangannya hangat menyentuh kulit dinginku yang belum sepenuhnya kering karena air pun masih menetes dari rambut setengah basahku yang terurai.
Hanya beberapa detik setelah aku berkedip mencoba menghindar dari tatapan intens itu, bibirku terjamah oleh kecupan-kecupan ringan yang semakin berkelanjutan hingga terdengar suara tertahan dari bibirku. Tangannya tak mau kalah menyentuh tiap inchi tubuhku yang anehnya semakin menambah getaran dan rasa panas tak menentu.
Spontan kedua tanganku menahannya ketika Mas Adrian semakin larut dalam keinginannya sendiri. “I’m on my period,” bisikku lirih.
Seketika Mas Adrian lemas menjatuhkan kepalanya di atas dadaku dan mendengus kesal. Aku mengusap rambut halusnya beberapa kali untuk menghibur, atau setidaknya membuat mulut manyunnya itu sedikit tersenyum.
“Sabar, ya?”
Aku mengusap kepalanya berulang karena menyadari anggukannya tentu bukan anggukan tulus dan mau menerima begitu saja. Tapi dering ponselnya kembali terdengar, menyelamatkanku dari upaya-upaya yang harus kupikirkan untuk menghiburnya. Mas Adrian pun segera bangkit dan mengangkat panggilan itu, baru kembali ke sofa dan duduk di dekat kakiku yang menjulur lurus.
[Voice Call]
Adrian : Kenapa lagi, Kak?
Kak Danar : Barusan Ummi ngeluh ke Erina kalau vertigonya kambuh. Bibi di rumah Ummi juga bilang kalau akhir-akhir ini Ummi jadi sering minum kopi lagi. Kamu masih mau tutup telinga sekarang?
Adrian : Terus sekarang gimana keadaan Ummi?
Kak Danar : Aku udah panggil dokter ke rumah Ummi. Tapi untuk sekarang aku belum bisa ke sana. Rumahnya Hanna- rumah kalian yang sekarang deket, kan sama rumah Ummi? Aku minta tolong kalian jaga in Ummi selagi aku belum bisa pulang
Adrian : Emang lebih dekat sih, tapi tetap aja jauh.
Kak Danar : Ya udahlah, kamu kan tahu sendiri Ummi kayak apa kalau tinggal jauh dari anak-anaknya
Adrian : Iya, ya udah deh nanti coba aku bicara sama Aleesa dulu. Soalnya besok aku baru mulai kerja
Kak Danar : Ya … okay. Usaha in, ya
Adrian : Iya
Kak Danar : Ya udah, assalamu’alaikum
Adrian : Wa’alaikumsalam warahmatullah
“Ada apa Mas? Ummi kenapa?”
“Ummi vertigonya kambuh. Biasalah orang tua, kalau anak-anaknya jauh, pasti makan makanan yang dilarang, ngelakuin hal-hal pantangan.” Mas Adrian tampak tertekan. Ekspresinya jauh berbeda dari sebelum ia menerima panggilan itu.
“Gimana kalau besok aku ke rumah Ummi? Seenggaknya tidur di sanalah untuk beberapa hari.”
"Terus, aku?"
__ADS_1