Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Rumah Mentari


__ADS_3

“Gimana, Kak?”


“Kamu siap-siap gih, kita harus antar semua pastry ini sebelum kemalaman. Kalau bisa, sekalian bantu masukin ke bagasi, ya.” Aku pergi ke belakang tanpa memberi jawaban.


Aku tahu Harun sempat menatapku heran karena mungkin ia tak puas hanya dengan mendengarku mengeluarkan perintah tapi tak menjawab langsung pertanyaannya. Ia juga tak mendengar langsung perbincanganku dengan orang yang memesan pastry ini tadi.


Setelah memastikan semua pastry masuk bagasi dan menyiapkan makanan di meja makan, aku membawa mobil keluar dari pekarangan rumah. Setelah memastikan pagar rumah terkunci, kucoba sekali lagi untuk menghubungi Adrian.


...Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau tidak dapat menerima panggilan. Cobalah beberapa saat lagi....


Sudah tiga kali aku menghubungi dan hanya terdengar suara yang sama selama tiga kali itu pula.


"Telepon siapa lagi, Kak?"


"Mas Adrian. Takutnya begitu dia sampai rumah, dia nyariin kalau aku nggak kasih kabar."


[Messeges]


Hanna Aleesa : Assalamu'alaikum,


Hanna Aleesa : Mas, aku sama Harun ke supermarket sebentar, sekalian antar pastry. Kamu bawa kunci rumah cadangan, kan?


Hanna Aleesa : Kalau kamu udah sampai rumah langsung makan aja, semuanya udah aku siapin di meja makan.


Selepas meninggalkan pesan itu, aku bergegas melajukan mobil keluar dari jalanan komplek. Meski jujur saja emosiku sedang tak stabil kala itu,tapi hanya inilah yang terpikir di kepalaku.


"Kita mau ke mana, Kak?"


“Rumah Mentari,” jawabku singkat, melanjutkan perjalanan itu.


Flashback mode on ….


“Sayang …”


“Ya?”


“Ini… punya kamu?”


“Mashaa Allah, iya. Kamu nemuin di mana?” Mataku sontak berbinar melihat apa yang dibawa Adrian di tangannya.


“Tadi nggak sengaja jatuh dari loker meja belajar kamu di kamar bawah.”


“Makasih, ya. Ini tuh pin yang bersejarah banget loh buat aku,” sambutku girang menerima pin itu.


“Ada kenangannya?”


“Ada dong. Jadi … dulu sewaktu Kak Zahra masih SMA, aku sering banget diajak ke panti asuhan dekat sini. Namanya Rumah Mentari. Tanpa aku sadari, tiap bulan aku selalu sisa in uang jajan aku biar bisa ke sana. Beli in makanan buat anak-anak di sana, atau … kasih sedikit donasi ke Bunda yang asuh mereka.”


“Oh, ya?”


“Iya. Aku juga kadang diminta bantuin mereka ngerjain tugas sekolah gitu.”


“Sampai ketika aku kuliah ke Australia, aku pamit sama Bunda Asuh di sana, dan salah seorang di antara mereka, seorang anak laki-laki yang waktu itu berumur tujuh tahun, kasih aku pin ini untuk kenang-kenangan. Sejak saat itu juga, aku mulai fokus ke kuliah. Aku jadi jarang ke sana, meskipun aku tetap menyisakan uang bulananku untuk mereka. Sebagai gantinya, aku selalu bawa pin ini kemana pun aku pergi. Sebagai pengingat.” Jelasku berkaca.

__ADS_1


“Aku ingat banget pertama kali aku ke sana, aku masih pakai seragam SMP, dan Kakak bilang kalau panti itu masih baru dibangun. Abis dari panti itu, Kak Zahra juga ngajakin aku ketemu sama pemilik yayasan, katanya sih orangnya ramah banget, tapi aku belum pernah ketemu langsung sama beliau, karena sepertinya beliau orang yang sibuk.”


“Kamu mau ke sana lagi?”


“Pasti. Aku kangen banget sama Rumah Mentari.”


“Nanti, kalau aku udah dapat kerja lagi, kita ke sana sama-sama, ya?”


Flashback mode off ….


Terakhir kali aku kemari sekitar 4 tahun lalu, jalan yang kulalui beberapa tahun itu pun sampai sekarang tak banyak berubah. Meski tempatnya sedikit terpencil, perlu melewati berpetak-petak sawah dan jauh dari keramaian pusat kota, tapi aku berharap tak banyak yang berubah dari Rumah Mentari.


Menempuh lima belas menit perjalanan, akhirnya kami sampai di tempat tujuan yang juga menjadi salah satu tempat yang kurindukan. Ini adalah kali pertama aku datang kemari sejak aku menikah, bahkan sejak aku kembali ke Indonesia.


Bersama dengan Harun, aku memasuki bangunan yang tampak sudah direnovasi. Sebelum kami masuk ke pekarangan ini pun, sudah ada tambahan gerbang dengan bertuliskan “Rumah Mentari”. Berhubung saat itu juga terdengar suara lantunan adzan maghrib, kami bergegas menuju ke sebelah kiri bangunan utamanya, di mana berdiri musholla di sana.


“Jangan ngomong yang aneh-aneh, ya…, jangan bikin ribut. Nanti kamu abis salat temui Kakak di sini lagi, okay?” bisikku pada Harun sebelum kami berpisah.


Tiga rakaat terlaksana, dan langit masih menampakkan kemerahannya. Selama beberapa saat aku menunggu sampai Harun keluar dari musholla, baru kemudian berjalan menuju ke tempat kepala panti. Jemariku bergetar menggenggam pin pemberian itu di tangan. Keraguan beberapa saat terpintas karena canggung bertemu dengan Bunda yang sudah hampir empat tahun tak bertemu.


“Maaf, cari siapa, ya?” seorang laki-laki mendekati tempatku dan Harun duduk di ruang tunggu.


Seketika aku mengangkat kepalaku. “Kami ingin bertemu dengan pengasuh Rumah Mentari.”


“Ingin bertemu Bunda? Kalau begitu silakan masuk, jangan duduk di sini, Kak. Saya akan pangglkan Bunda,” katanya menyilakanku dan Harun masuk ke dalam ruang tamu. Sementara ia setengah berlari menuju ke belakang mencarikan Bunda.


Beberapa saat menunggu, wanita berusia 40 tahun-an berjalan keluar dari arah belakang. “Assalamu’alaikum…,”


“Wa’alaikumsalam. Bunda?” Aku beranjak menyalami wanita yang masih berdiri itu.


“Ini Hanna, Bunda. Hanna-nya Zahra.”


Sejenak terdiam sembari mengamati wajahku, lantas senyum tergambar di wajahnya. “Mashaa Allah, Hanna yang itu? Apa kabar, Nak Hanna? Rasanya sudah lama sekali nggak bertemu, Nak Hanna juga sudah banyak berubah.”


“Alhamdulillah baik, Bunda. Ternyata Bunda juga masih ingat sama Hanna.”


“Pasti. Mana mungkin Bunda lupa dengan Nak Hanna.”


“Lalu…, ini? Nak Hanna sudah menikah?” tanyanya memandangi Harun.


“Oh, ini adik saya, Harun. Saya juga sudah menikah delapan bulan lalu.”


Tanpa diminta, Harun berdiri menyalami Bunda. “Harun, Bunda. Adik Kak Hanna dan Kak Zahra.”


“Sayang sekali Bunda nggak datang, kamu juga kenapa nggak kasih kabar ke Bunda? Zahra juga, yang sering ke sini nggak pernah cerita kalau punya adik laki-laki yang masih kecil. Dia juga nggak pernah lagi cerita soal kamu.”


“Kak Zahra masih sering ke sini, Bunda?”


“Setiap akhir bulan dia datang, sama suami dan si kembar. Kalau mereka datang, anak-anak bisa seharian main-main sama si kembar di sini.”


“Silakan, minumannya.” Laki-laki yang tadi menyambut kami itu menurunkan gelas-gelas berisi teh dari nampan yang dibawanya.


Aku ingin bertanya, aku ingin menyapa, tapi besarnya keraguan menutupi keberanianku untuk bersuara. Terpaksa aku membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja, hingga laki-laki itu kembali ke belakang.

__ADS_1


“Maaf Bunda, tapi kalau boleh tahu, anak laki-laki barusan….”


“Oh, itu... Gilang, anak Bunda juga. Sudah Bunda rawat sejak panti ini belum berdiri. Anaknya baik dan pendiam, dia sering bilang sama Bunda, kalau nggak akan pergi dari Rumah Mentari meski ada orangtua baru yang mau menjemputnya. Dia itu agak keras kepala anaknya, tapi rajin bantu-bantu di sini.” jelas Bunda.


Aku melihat pada pin matahari yang masih kugenggam. Apa anak itu tak mengenaliku?


Kami berbincang-bincang mengenai berbagai hal yang berubah dari Rumah Mentari sejak aku terakhir datang hingga sekarang. Saat itu Bunda tampak tak menurunkan senyumnya sedikit pun. Wajahnya cerah dan sangat antusias, membuatku tak ingin segera pulang.


Setelah cukup lama menunggu dan mencoba mengikuti alur pembicaraan, akhirnya datang momen yang tepat. Aku pun mengungkapkan tujuanku datang kemari selain untuk melepas rindu dan bernostalgia masa lalu. Dibantu oleh Harun dan Gilang, pastry dalam kotak-kotak itu diturunkan satu per satu. Perasaanku pun sedikit lebih tenang dari semula.


Bunda juga tak berhenti mengucap terima kasih hingga membuatku merasa tak nyaman sendiri karenanya. Ia tampak sangat senang menerima pemberianku, sementara aku juga senang karena hsil usahaku bisa lebih bermanfaat dan diterima oleh orang yang lebih berhak.


“Berhubung hampir masuk waktu isya’ Hanna pamit pulang, ya, Bunda.”


“Iya, sekali lagi terimakasih, ya, Nak Hanna. Pemberian Nak Hanna ini sangat bermanfaat untuk anak-anak Bunda.”


“Sama-sama, Bunda. Hanna juga minta maaf karena belum bisa memberi lebih dari ini.”


“Ini sudah sangat lebih untuk kami. Lain waktu, datanglah ke rumah mentari. Nggak perlu membawa apa pun Bunda sudah senang dengan kedatangan Nak Hanna.”


“Iya, Bun. Lain kali Hanna akan datang lagi.”


“Gilang…! Tamu Bunda, mau pamit, Nak. Antar mereka sampai ke depan,” panggil Bunda pada laki-laki tadi, kemudian anak itu berangsur menurutinya.


Tanganku segera mencari-cari benda yang sedari tadi kupegang. Di saku gamis, di dalam tas, di dalam dompet, sayangnya benda itu tak bisa kutemukan di mana pun. Sementara Gilang sudah muncul dari dalam rumah.


“Maaf, Kakak mencari ini?” tanyanya lirih menyodorkan pin matahari itu padaku.


“I, iya. Ini benda kesayangan saya, pemberian dari seseorang yang luar biasa empat tahun lalu.” Aku tersenyum menerimanya.


Beberapa saat, laki-laki itu hanya menundukkan kepalanya. “Benda ini sudah menemani saya selama 4 tahun lamanya. Terimakasih, ya. Sekarang saya ingin mengembalikan benda ini kepada pemiliknya,” ucapku kemudian menyerahkan pin itu.


Ia tampak sedikit terkejut, tapi kemudian ia tersenyum dan berani menatapku langsung. “Terima kasih, Kak Hanna mau kembali ke sini, lagi.”


“Sama-sama. Kamu kenapa nggak nyapa aku tadi?” tanyaku berusaha lebih cair.


“Saya takut salah orang. Habisnya, Kak Hanna jadi kelihatan berbeda.”


“Aku masih Hanna, kok. Jangan formal gitu.”


“I, iya, Kak.”


"Kamu jaga baik-baik pin itu untuk nanti kamu kasih ke orang yang paling berharga buat kamu."


"Pasti, Kak."


“Bagus. Kalau gitu kami pamit dulu, ya. Lain kali Kakak ke sini lagi.  Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Harun masih melambaikan tangan hingga mobil yang kami naiki perlahan meninggalkan pekarangan Rumah Mentari. Langit malam tampak cerah dengan taburan bintang yang jelas bila dilihat dari kegelapan. Melalui jalan tengah sawah yang gelap, rasanya ingin sedikit saja merasakan angin malam dan hawa-hawa pedesaan.


“Abis ini kita ke mana, Kak?”

__ADS_1


“Kita ke supermarket. Tadi pagi Kakak udah janji, kan, mau beliin kamu susu.”


__ADS_2