
"Suamiku air hangatnya sudah siap."
Ansel tidak menanggapi ucapan Bella, ia segera bergegas ke kamar mandi.
Bella menghela nafas, dia tidak mengerti dengan sikap Ansel kadang terlihat baik kadang pula bersikap buruk padanya.
Tiba-tiba Bella menginggat Papa dan Mamanya, sebenarnya dia sangat merindukan kedua orang tuanya, tapi jika melihat sikap kejam Ansel, dia tidak berani meminta izin untuk menginap di mansionnya sendiri.
Seperti biasa sambil menunggu Ansel keluar, ia membereskan tempat tidur yang berantakan, tidak lama terdengar pintu kamar mandi terbuka, Ansel langsung berjalan menuju wardrobe.
Bella bergegas mengambil bajunya yang masih di letakkan di koper, dia pun berlalu masuk ke kamar mandi, setelah Bella masuk kamar mandi tak lama Ansel keluar dari wardrobe.
Ansel melirik Bella yang baru selesai mandi, saat ini Bella mengerai rambutnya karena masih basah.
"Cepatlah! kamu lama sekali." Ansel kesal harus menunggu Bella, seorang Ansel tidak pernah menunggu seperti ini.
"Sebentar suami ku." Bella mengambil tasnya dia tidak berias sedikit pun, rambutnya juga tidak ia keringkan, dengan terpaksa Bella mengerai rambutnya.
Ansel mendengus, dia pun turun terlebih dulu, disusul Bella di belakangnya, di meja makan sudah ada Arka menunggu mereka.
"Pagi Kak, Pagi Kakak Ipar." sapa Arka, tatapannya menggarah pada Bella.
"Jaga mata mu Ar." ucap Ansel penuh penekanan.
Arka tertawa. "Hahaha lihatlah Kakak Ipar, suami mu ini cemburu." ucap Arka.
'Braakkkkk..' suara gebrakan meja menggema, seketika tawa Arka terdiam.
Bella hanya menunduk, "Dasar bunglon tadi baik sekarang dingin lagi." batin Bella.
"Aku tidak suka bercanda Ar." Ansel menatap adiknya tajam.
Sedangkan Arka yang di tatap seperti itu biasa saja, dia melanjutkan makan tanpa mendengarkan ucapan Kakaknya.
Arka berdiri terlebih dulu, "Aku berangkat duluan Kakak Ipar." pamit Arka tersenyum manis dan berlalu pergi.
Bella membalasnya dengan senyuman, dia mencoba melirik reaksi Ansel, ternyata pria itu sedang menatapnya tajam, Bella pun kembali menunduk.
Ansel berdiri setelah menyelesaikan sarapannya.
"Aku duluan." pamit Ansel dingin, dia berlalu pergi meninggalkan Bella di meja makan.
Bella menghela nafas, "Apa aku tadi salah bicara ya, aku kan hanya bertanya, apa salahnya sih." monolog Bella.
Bella jadi tidak berselera untuk makan, ia pun beranjak dari sana, berangkat ke tempat kursus.
Hari ini di tempat kursus, Bella bertemu dengan 4 pria yang ia temui kemarin, mereka terlihat memandang Bella dari jauh.
"Mereka kenapa sih." Bella risih karena 4 pria itu menatapnya.
"Ayo lakukan, tembak Apel itu." suruh Pelatih, disana duduk satu orang laki-laki dengan Apel di kepalanya.
"Apa Pelatih yakin saya bisa?" tanya Bella ragu.
"Lakukanlah." Pelatih bersendekap dada.
Bella saat ini harus benar-benar fokus, jika tembakannya meleset peluru akan menembus kepala orang itu.
__ADS_1
Bella melepas kaca matanya dan menaruhnya ke dalam tas, seketika ke empat gangster ini di buat melonggo menatap Bella.
Fokus Bella hanya satu buah Apel, dia mengambil ancang-ancang memusatkan arah bidikannya dan.
'Dor..'
Apel itu jatuh karena peluru tepat mengenai sasaran.
Pelatih memberikan aplausnya. "Kamu hebat." sang Pelatih menepuk bahu Bella, dia pun menyuruh Bella untuk berlatih sendiri dan meninggalkan Bella disana dengan pelatih yang lain.
Tak lama ke empat anggota Jevarck menghampirinya.
"Hai.." sapa Kaya pada Bella.
Bella yang di sapa hanya cuek, dia tetap dengan aktifitasnya.
Ardolp tersenyum smirk, dia masih menginggat bagaimana wanita di depannya ini merawatnya kemarin.
"Sepertinya dia tuli." ucap Grisham.
Grisham mendapat pelototan dari Bella.
"Hahaha, Lucu sekali.." tawa Sea gemas menatap Bella.
Ardolp memberi isyarat pada ketiga rekannya agar keluar terlebih dulu, mereka pun mengerti dan meninggalkan Ardolp berdua saja.
"Apa luka mu sembuh?" tanya Bella tanpa menatap Ardolp.
Bibir Ardolp melengkung saat wanita di depannya mengajaknya bicara.
Bella hanya meliriknya sekilas, dia pun kembali berlatih dengan serius.
Bella beristirahat karena 3 jam sudah berlalu.
"Aku mau menelpon Mama ah." Bella mengambil ponsel di tasnya.
'Tuuuuuttt..' telpon langsung tersambung.
"Hallo sayang." ucap Mama Eva di sebrang sana.
"Mama.." senyum Bella terbit saat mendengar suara Mamanya.
"Bagaimana kabarmu, apa suamimu memperlakukanmu dengan baik sayang?" tanya Mama Eva.
Seketika senyuman Bella pudar, saat Mamanya menanyakan hal itu.
"Ansel sangat baik kok Ma." tak terasa bulir bening menetes di pipi mulusnya, dia ingin sekali bertemu orang tuanya dan menceritakan semuanya, tapi itu tidak mungkin.
"Syukurlah sayang semoga kamu bahagia, Mama tutup dulu ya." pamit Mama Eva.
"Iya Ma." Bella mengusap airmatanya.
Telpon pun terputus, Bella beranjak dari duduknya dan kembali berlatih, dia harus secepat mungkin menguasai pistol, karena tidak mungkin dia lama-lama berbohong dengan Ansel yang berstatus menjadi suaminya.
Ke empat Gangster ini memasuki mobil dengan wajah angkuh mereka, ketampanan mereka membuat kaum wanita memuja, meskipun mereka seorang gangster, yang banyak di kenal orang sebagai anak brandalan yang biasanya berwajah pas-pas'an, baju compang-camping, tapi tidak dengan empat orang ini, penampilan no satu untuk mereka, apalagi keempatnya dari keluarga berada.
Kaya membuka suaranya, "Gadis culun tadi cantik." ucap Kaya.
__ADS_1
Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil.
Kedua temannya mengiyakan tapi tidak dengan Ardolp, dia menjaga image sombongnya.
"Kamu benar Kay, sepertinya kita harus sering-sering kesana." ucap Grisham.
"Jaga sikap kalian, jangan membuatku malu." ucap Ardolp penuh penekanan tanpa menatap mereka.
Saat ini yang mengemudi mobil ialah Sea.
Seketika kedua rekannya terdiam tidak ingin membahas wanita culun itu lagi, Sea yang berada di kemudi hanya tersenyum.
**
Saat ini di kantor Ansel kedatangan tamu dari negara tetangga, seorang wanita berambut pirang, tinggi semampai dan berkulit putih, dia adalah Calista louis teman semasa kecil Ansel, dulu Calista tinggal di negara yang Ansel tinggali, tapi karena orang tuanya harus mengurus bisnisnya yang ada di luar negeri, jadi Calista mengikuti orang tuanya.
"Bagaimana kabarmu Cal?" tanya Ansel, saat ini mereka duduk di sofa berhadap-hadapan diruangan Ansel.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik."
"Kamu semakin tampan saja Sel." ucapnya lagi, tersenyum menatap Ansel yang berada di depannya saat ini.
Ansel sedikit melengkungkan bibirnya.
"Apa tujuanmu kesini hanya untuk menemuiku?" tanya Ansel dengan satu alis terangkat.
"Ya kau benar! aku sangat merindukanmu." Calista tersenyum seraya mengedipkan satu matanya.
Ansel mengalihkan wajahnya. "Apa kamu mau makan siang denganku?"
Calista tersenyum, "Tentu saja." Calista langsung beranjak dari duduknya.
Ansel memberikan tangannya untuk di gandeng Calista, mereka berjalan tanpa memperdulikan karyawan yang berbisik-bisik menanyakan siapa yang sedang bersama Bosnya saat ini.
Ansel memilih makanan khas Eropa, dia mengeserkan kursi untuk teman masa kecilnya, Calista tersenyum senang melihat Ansel yang memperlakukannya begitu manis.
Selang beberapa lama makan siang mereka selesai, Calista harus lekas pergi karena mendapat pesan dari Papanya agar cepat kembali.
"Aku pamit dulu, sampai jumpa lain waktu." pamit Calista mengecup pipi kiri dan kanan Ansel.
"Berhati-hatilah.."ucap Ansel.
Calista mengangguk dia pun melenggang pergi.
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
Wulan
__ADS_1