Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 09


__ADS_3

Pagi ini Stella kembali mendapat kiriman kado seperti semalam, sesuai dengan permintaan Damien, para pengawal menangkap pengirim kado itu, orangnya masih sama, pria yang setiap harinya mengantar kado berupa teror.


"Cepat ikut kami." tiga orang pengawal menyeret pria itu dan membawahnya memasuki mansion.


"Tolong lepaskan saya Tuan, saya tidak tahu apa-apa." pria itu membungkuk meminta ampun.


Karena mendengar keributan dari luar, Papa Daniel, Damien, Robby dan juga Stella berlari ke pusat keributan.


"Tuan orang ini yang mengirim kado untuk Nona Stella." ucap salah satu pengawal.


"Saya tidak tahu apa-apa Tuan, saya hanya kurir pengantar barang." ucap pria itu sembari menangis.


Stella terus menatap dalam pria itu, sementara Damien menatap pria itu dari atas hingga bawah, tidak ada yang mencurigakan dari pria itu.


"Siapa nama mu? dimana tempat mu bekerja?" tanya Damien.


"Nama saya Fey, saya bekerja di white express." jawab Fey.


"Sepertinya tidak ada yang perlu di curigai, dia hanya pekerja biasa." ucap Damien pada Robby.


Mata Stella terus membaca raut wajah pria itu dan kecurigaannya benar, dibalik tangisnya ada gurat senyum yang hampir tak terlihat, saat Damien menyuruh para pengawal membawa pria itu pergi, dengan cepat Stella menendang punggung Fey, membuat semua yang berada disana terkejut, terutama para pengawal yang mendampingi Fey, benar-benar teliti gadis cantik ini, karena mendapat serangan secara tiba-tiba, pria itu reflek menyerang Stella, Robby dengan cepat membawah Papa Daniel menyingkir.


"Om, pria ini berbohong dia bukan kurir." ucap Stella sembari menyerang Fey.


Mendengar ucapan Stella, Damien ikut turun tangan, Fey kualahan mendapat serangan dari Damien dan Stella, hingga tubuhnya ambruk tak bertenaga.


"Jangan bunuh dia Om, kita bisa mendapat informasi darinya." ucap Stella.


"Kamu benar Stell." Damien setuju dengan ucapan Stella.


"Pengawal bawah pria ini ke gudang bawah tanah, kurung dia di jeruji besi." perintah Damien pada ketiga pengawal.


"Baik Tuan."


Selepas pengawal itu pergi membawah Fey, Damien langsung memeluk Stella, selang kejadian semalam keduanya belum saling bertemu, Damien sudah tahu tentang kemampuan gadis kecilnya, ia memiliki insting yang sangat tajam, kemampuan Stella sangat luar biasa melebihi Bella.


"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Damien.


"Stella baik-baik saja Om."


Papa Daniel dan Robby bersikap biasa saja, tanpa ada kecurigaan pada dua manusia yang saling memeluk ini.


"Rob undang Red Blood kesini!"


Menurutnya ini keputusan yang tepat, Damien butuh mereka, sepertinya musuh kali ini bukan orang sembarangan, ia menatap Papa Daniel meminta persetujuan, Papa Daniel hanya bisa mengangguk.


"Tapi Tuan kita harus segera ke kantor." Robby ingin menginggatkan jika pagi ini ada meeting penting.

__ADS_1


"Undur untuk meeting hari ini, jika mereka keberatan batalkan saja." perintah Damien.


"Baik Tuan." Robby langsung membatalkan semua meeting untuk pagi ini, untung saja mitra kerja dari beberapa perusahaan itu mau menunggu, sementara Papa Daniel masuk kedalam.


Damien mengurai pelukannya, tidak lama dering panggilan ponsel milik Damien terdengar, nampak nama Ansel disana, Damien lekas mengangkatnya.


"Hallo Sel."


"Hei kunyuk, kenapa kamu tidak bilang padaku, jika putriku mendapat teror hah?" suara Ansel sudah seperti petasan, hingga Damien menjauhkan ponsel dari telingganya.


Damien mengaruk kepalanya yang tidak gatal, kenapa Ansel bisa tahu semuanya.


"Maafkan aku, aku pikir aku bisa mengatasinya sendiri." jawab Damien.


Stella masih setia berdiri di samping Damien, gadis itu bergelanyut manja di lengan Om nya, sedikit mendengarkan apa yang di bicarakan Papanya.


"Kamu terlalu lelet Dam." ucap Ansel di sebrang sana.


"Apa perlu aku kirimkan rekan-rekan ku agar membantu mu?" tanya Ansel.


"Aku masih bisa mengatasinya, aku akan mengabarimu jika butuh bantuanmu." jawab Damien.


"Jaga baik-baik putri ku jika lecet sedikit saja, kamu akan tanggung resikonya."


Damien menatap Stella yang bergelanyut manja di lengannya sembari tersenyum, gadis itu terlihat begitu cantik saat di pandang dari dekat seperti ini.


"Lihat, Papa mu mengancamku." Damien mentoel hidung mancung Stella.


"Om memang harus melindungi ku."


Obrolan mereka terpotong saat gerombolan 4 manusia memasuki ruang tamu, keempatnya langsung duduk tanpa di persilahkan.


"Ih tenggil sekali gaya mereka." cerocos Stella, hingga mengalihkan keempat pria itu.


"Ssst mereka anggota gangster sayang." ucap Damien.


Damien mengandeng tangan Stella menghampiri keempatnya, sementara pria-pria itu memandang Stella tanpa berkedip, empat orang ini merupakan putra dari teman-teman Damien, mereka lah penerus marga Red Blood hingga menjadi seperti sekarang.


"Ekhemm.." deheman Damien membuat para pria itu tersadar.


"Kenalkan, ini Stella keponakan ku." ucap Damien, Stella masih bergelanyut manja di lengannya.


"Keponakan mu cantik sekali Paman." ucap Damitri.


Mendengar Stella di puji pria lain, terselip rasa tidak suka yang tiba-tiba menghinggap di hatinya.


"Terima kasih." ucap Stella tersenyum, ia mengajak Om nya untuk duduk.

__ADS_1


"Manis sekali." Lano terpesona melihat senyuman Stella.


Damien membuang muka, telingganya tercemar mendengar gombalan para pria muda ini.


"Aku ingin meminta bantuan kalian." Damien mulai berbicara serius.


"Apa yang bisa kami bantu untuk Om?" tanya Lard, pertanyaan di tujukan pada Damien tapi mata elangnya tertuju pada Stella yang sedang memainkan rambutnya.


Tubuh Damien seketika gerah, melihat keempat juniornya terus memandang ke arah Stella, pria itu mencoba mencari alasan agar keponakannya pergi dari sana.


"Sayang Om boleh minta tolong?"


"Boleh.."


Damien tersenyum. "Suruh Leri menyiapkan cemilan dan minuman bersoda, setelahnya kamu boleh kembali ke kamar." ucap Damien dengan halus.


"Baiklah." Stella berdiri dari sofa meninggalkan keempat pria yang masih menatapnya.


Damien memandang keempat pria muda itu, lagi-lagi mata mereka membuat tubuhnya kembali gerah, Damien gelisah sendiri, apa benar dirinya cemburu? apa perlu dia mengutarakan rasa cintanya? yang benar saja, kalau sampai itu terjadi mungkin Stella akan menertawakannya.


"Jaga mata kalian." ucap Damien menatap keempatnya dengan tatapan tajam.


"Kenapa Om menyuruhnya masuk, biarkan dia disini Om setidaknya mata kita bisa melihat pemandangan indah pagi ini, benar kan Bro." Bray meminta dukungan dari ketiga temannya, ketiganya pun mengangguk.


Damien memijat pelipisnya, apa benar keputusannya kali ini, meminta bantuan pada keempat pria muda di depannya, semoga saja keputusan yang di ambilnya suatu saat tidak membuat dirinya menyesal.


"Jangan membahas hal lain, aku meminta kalian kesini untuk membantuku, bukan untuk mengoda keponakan ku." Damien menatap satu persatu anak muda di depannya dengan tatapan tajam.


Keempatnya tidak berkutik lagi, melihat wajah bringgas dari Damien membuat keempatnya mulai serius.


Tidak lama cemilan dan minuman yang diminta Damien datang.


"Stella pergi ke kamarnya kan ***?" tanya Damien memastikan.


"Iya Tuan." jawab Leri, ia bergegas pergi dari sana.


"Silahkan."


"Terima kasih." ucap keempatnya serempak, mereka pun kembali bertanya pada Damien, setelah meminum dan memakan hidangan yang telah di sajikan.


"Jelaskan Om apa yang harus kita lakukan?" tanya Bray.


Sebelumnya Damien menceritakan masalahnya pada keempat pria muda ini tanpa ada yang tertinggal sedikit pun, keempatnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Om Dam ingin kami mengancam pemilik resto dan Hotel mengunakan marga kami bukan begitu Om?" Damitri tersenyum menyeringgai.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2