Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 23


__ADS_3

"Yes Dad.." Albert berjalan pelan sambil mengangkat telpon.


"Don't worry dad, I've arrived." setelah mengucapkan itu, Albert langsung menutup telponnya


"Huufft dia bawel sekali." dengus Albert.


Pria tampan itu kembali ke mobilnya, ia tidak jadi membeli minuman karena sang Daddy memintanya untuk cepat-cepat datang.


Mobil sport merah itu pun melaju membelah jalanan kota Paris menuju ke tempat tujuan, sementara kekasih dari Damien kembali mendengus, sebab dua bodyguard suruhan Damien kembali mengikutinya, setelah melihat pria asing yang di tabraknya tadi membuat kedua bodyguard ini was-was, mereka tetap mengikuti Stella meskipun gadis itu menolaknya.


"Awas saja kalian, akan aku adukan kalian pada hubby." gerutu Stella di sepanjang jalannya menuju mobil.


Sore ini Damien pulang lebih awal dari biasanya, aura pria itu nampak kembali bersinar setelah mendapatkan restu dari almarhum Papanya, tentu saja rasa penyesalan yang sempat ia rasakan seketika musnah, terbayar lunas dengan sepasang dua cincin yang di hadiahkan Papa Daniel olehnya.


"Kemana gadis nakal itu, kenapa dia belum pulang juga." gerutu Damien, saat ini ia duduk di ruang keluarga di temani Robby sembari meminum segelas kopi panas.


'Taptaptap.." terdengar suara langkah kaki yang begitu keras dari arah ruang tamu.


Dari jauh Damien bisa melihat gadis nakalnya sedang tidak baik-baik saja saat ini, ia pun beranjak dari kursinya, berjalan menyambut sang kekasih.


"Apa ada sesuatu yang membuatmu kesal?" Damien langsung mengandeng tangan Stella dengan mesra menuju ruang keluarga.


Stella tidak menjawab pertanyaan Damien, bahkan ia menoleh kesamping tanpa ingin menatap kekasihnya, melihat sikap Stella yang dingin, akhirnya Damien memutuskan untuk menanyakan hal itu pada kedua bodyguard yang ia perintahkan untuk menjaga Stella.


"Tunggu disini sebentar sayang." sebelum meninggalkan Stella, Damien menyempatkan mengecup puncak kepala kekasihnya yang sedang merajuk, setelahnya kaki jenjangnya melangkah menuju kedua bodyguard yang berada di luar, sementara Robby masih duduk disana, pria itu hanya fokus pada laptop yang berada di pangkuannya.


"Hai kalian, kemarilah!" perintah Damien.


"Kami Tuan." kedua bodyguard itu menunduk hormat.


"Apa yang terjadi pada Stella, kenapa gadisku merajuk padaku?" tanya Damien.


Kedua bodyguard itu saling menatap, mereka tidak mengerti apa maksud dari Tuannya.


Melihat keduanya hanya diam dan saling pandang, Damien pun mengulanggi pertanyaannya.


"Apa yang membuat Stella merajuk? apa terjadi sesuatu saat di kampus tadi?" tanyanya lebih jelas.


"Oh Nona di kampus tadi sangat kesal Tuan, karena semua teman-temannya menjahuinya, mungkin mereka takut pada kami." jawab salah satu bodyguard.


Damien menatap kedua bodyguardnya, tidak ada yang salah dari mereka, keduanya berwajah tampan, usia keduanya juga masih muda, apa yang mereka takutkan dari kedua bodyguardnya.


"Apa kalian menakuti mereka?" tanya Damien menelisik.


"Tidak sama sekali Tuan." jawab keduanya serempak.


"Aneh.." ucap Damien sembari melangkahkan kakinya kembali menuju ruang tamu, pria itu mencoba membujuk sang kekasih, agar ia mau berbicara padanya.


"Coba katakan, apa yang membuat wanitaku ini merajuk?" tanya Damien sembari memeluk bahu Stella dari samping.

__ADS_1


Stella menoleh. "Aku tidak suka pada mereka, Stella ke kamar mandi saja mereka ikut, bisakah untuk hari esok dan seterusnya Stella tidak di temani kedua bodyguard itu lagi." jawaban Stella membuat kedua laki-laki yang berada disana salah kaprah.


"Mereka ikut masuk ke toilet wanita dan melihatmu sedang buang air?" tanya Damien sembari mengepalkan tangan.


"Parah sekali kedua bodyguard itu." ucap Robby setelahnya.


Melihat kedua lelaki itu berfikiran negatif, dengan cepat Stella menjelaskannya.


"Bukan, bukan seperti itu yang Stella maksud, ah lebih baik aku mandi saja, percuma menjelaskan pada kalian." Stella berdiri meninggalkan keduanya menuju kamar.


"Apa aku salah berucap Robb?" tanya Damien.


"Tidak ada yang salah Tuan, tapi kalau di fikir-fikir lagi tidak mungkin kedua bodyguard itu mengikuti Nona Stella sampai ke dalam toliet, itu pasti akal-akalan Nona Stella saja." kompor Robby.


Damien terdiam sebentar. "Heem kau benar, Rob carikan satu wanita yang jago ilmu bela diri dan juga jago tembak menembak, kamu pasti mengertilah apa yang ku maksud, besok wanita itu harus berada di hadapanku." pinta Damien.


Tanpa banyak bertanya Robby pun mengiyakan karena ia tahu apa yang di rencanakan Tuannya.


**


Disisi lain pria berwajah blasteran ini sudah sampai di mansion Daddynya, meskipun Albert jarang bertemu dengan ibu sambungnya, pria tampan itu tetap menjaga sopan santunnya pada Calista, ia menganggap Calista sebagai seorang Ibu yang patut untuk di hormati, meskipun Calista bersikap dingin padanya.


"I've come Dad.." teriak Albert, di belakangnya ada dua pengawal berjalan membawah kedua koper miliknya.


Mendengar suara sang putra, membuat Derward melangkah dengan cepat kearahnya, ia sengaja menunggu kedatangan Albert di ruang keluarga.


"Seperti yang Daddy lihat, your son is doing well and getting more handsome." Albert mengurai pelukannya, berganti berdiri tegap sambil membusungkan dada ala-ala model ternama.


"Hahahaha ya Daddy percaya, putra Daddy memang tampan." Derward mengajak sang putra duduk di ruang keluarga.


Sepertinya Calista sedang tidak ada di mansion, Albert menatap sekitar, suasana mansion saat itu nampak hening tidak seperti biasanya, setiap kali Albert berkunjung kesana, ia selalu mendapat penyambutan yang tidak baik dari ibu sambungnya.


Kedua pria berbeda usia ini saling mengobrol ringan, lalu Derward membiarkan putranya untuk beristirahat terlebih dulu, sebelum menjelaskan apa tujuannya menyuruh sang putra pulang.


"Nanti kita lanjut lagi, putra Daddy harus beristirahat dulu." ucap Derward.


Meskipun Albert hanya anak angkat, Derward sangat menyayangi pria itu seperti darah dagingnya sendiri.


"Daddy pengertian sekali." Albert beranjak dari kursi lalu menuju kamarnya, meskipun kamar itu sudah tidak di tempati, Derward selalu menyuruh para asisten untuk membersihkannya, jadi setiap Albert berkunjung kesana, suasana kamar tidak sama sekali berubah, tetap terasa nyaman untuk Albert.


Hari mulai menjelang malam, nampak pria berparas tampan baru saja keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan, sementara sepasang suami istri yang tidak lain ialah Derward dan Calista sedang duduk bersantai di ruang keluarga sembari menunggu waktu makan malam tiba.


Albert berjalan dengan lemas, dengan sengaja ia menghampiri ibu tirinya untuk menyapa.


"Ma.."


Suara dari Albert mengejutkan wanita parubaya ini, melihat sang putra tiri berdiri di sampingnya, dengan senyuman palsu ia menyambut Albert.


"Oh putra ku sudah datang." Calista memeluk Albert kemudian dengan cepat mengurai pelukannya dan kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


Albert sempat terkejut mendapat sambutan yang berbeda, meskipun begitu ia tetap memberikan senyuman manisnya dan membalas pelukan ibu tirinya dengan hangat.


Derward tersenyum bahagia saat menatap kedua orang yang sangat ia sayangi ini terlihat akur, Calista menatap suaminya penuh arti, Derward pun mengerti akan arti tatapan dari istrinya.


"Son duduklah disini, Daddy ingin bicara sesuatu yang penting." pinta Derward karena melihat putra tercinta masih berdiri.


Albert pun menuruti ucapan sang Daddy, dengan nyawa setengah sadar pria tampan itu mendudukkan dirinya tepat di samping Calista.


"Ada apa Dad?" tanya Albert.


"Son Daddy menyuruhmu pulang karena permintaan Mamamu, untuk sementara ini Mama memintamu untuk menjaga keamanan adikmu Arrabel, kamu pasti tahu lah son, untuk saat ini keluarga kita butuh pengawalan ketat, Mama tidak percaya dengan anak buah Daddy, dia mempercayakan tugas ini kepadamu." jawab Derward.


"Lalu?" Albert melirik Ibu sambungnya.


"Tentu saja kamu harus tinggal di samping apartemen Arra sayang, Mama sudah siapkan satu apartemen untukmu tinggal." potong Calista, tentu saja dengan senyuman palsunya.


Albert mengangguk-anggukkan kepalanya tanda menyetujui keinginan sang Mama.


"Apa aku harus pindah malam ini juga?" Albert menatap keduanya bergantian.


Saat Derward ingin berucap dengan cepat Calista menyela. "Tentu saja kamu harus pindah malam ini juga." jawab Calista.


"Biarkan dia menginap untuk malam ini." ucap Derward pada istrinya.


Albert tersenyum, ternyata Mama sambungnya tidak berubah sama sekali. "Tidak perlu Dad, Albert akan pindah sekarang juga." ucapnya dengan santai.


"Kita makan malam bersama dulu son."


"No Dad, Albert makan di luar saja." Albert tersenyum, setelahnya beranjak dari sana, menyiapkan kopernya yang akan dia bawah, untung saja baju miliknya masih tertata rapi di dalam koper.


Derward menghela nafas berat, sang istri nyatanya tetap sama, dia tidak bisa melakukan apapun ataupun menolak kemauan Calista, karena Derward sangat mencintainya.


Tidak menunggu lama, kini Albert membawah kedua koper miliknya dan bersiap untuk pergi.


"Al pergi dulu Dad." Albert memeluk Daddynya dengan penuh kehangatan.


"Hati-hati son, besok kita bertemu di markas." bisik Derward di akhir kalimatnya.


Albert mengurai pelukannya, ia pun menjawab permintaan sang Daddy dengan anggukkan kepala.


"Ma Al pergi dulu." Albert menghampiri Stella yang sedang mengecat kukunya.


"Oh ya hati-hati, maaf Mama sedang mengecat kuku, nanti kuku Mama rusak." ucap Calista menolak kecupan dari Albert, padahal tidak ada hubungannya antara ciuman dengan perawatan kukunya.


"Heem tidak masalah." ucap Albert tersenyum, dengan langkah pasti ia mulai keluar dari mansion yang pernah di tinggalinya selama beberapa tahun.


Dua orang bodyguard mengambil alih koper milik Albert, keduanya di tugaskan Derward untuk mengantarkan sang putra sampai ke tempat tujuan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2