
Ansel sebenarnya sangat kesal dengan istrinya, tapi karena hari ini adalah hari ulang tahun Bella, Ansel mencoba meredam amarahnya, ia tidak ingin merusak hari bahagia ini dengan keegoisannya.
Ansel berjalan menuju koper, mencari kotak berbentuk love yang dirinya simpan disana.
"Sayang tutup matamu!" suruh Ansel pada Bella.
Bella mulai menutup matanya, Ansel menghampiri istrinya, sembari membawah kotak besar berbentuk love.
"Sekarang buka matamu!" suruh Ansel lagi.
Bella mengerjap, saat ini matanya tertuju pada benda berwarna merah yang di pegang suaminya.
"Apa ini suamiku?" tanya Bella.
Ansel membuka kotak itu, seketika mata Bella membulat sempurna, satu set perhiasan berlapiskan diamond bernilai milyaran berada di depannya.
"kamu suka?"
Bella langsung memeluk suaminya erat, wanita mana yang tidak suka dengan perhiasan mahal.
"Suka sekali." jawab Bella, ia melepaskan pelukannya dan berganti menatap Ansel.
"Terima kasih suamiku sayang, maafkan aku belum bisa memberimu seorang baby." mata lentik itu mulai berair.
"Sayang, jangan menangis pernikahan kita masih berjalan 6 bulan, kita juga membuatnya baru 4 bulan yang lalu, jangan sedih ya masih banyak waktu." hibur Ansel.
Bella mengangguk, Ansel kembali memeluk istrinya.
"Sekarang kita tidur, pasti kamu capek seharian keliling mall bersama anak curut itu." ucap Ansel.
Ucapan Ansel membuat Bella tertawa, adiknya ganteng begitu di bilang anak curut.
'Cup Cup' dua kecupan gemas Ansel berikan di kedua pipi istrinya.
Keduanya pun tidur dengan saling memeluk, tidak ada aktifas berkebun malam ini, karena keduanya sama-sama lelah, terutama Ansel bukan hanya lelah di tubuhnya tapi lelah hati juga.
Di hotel bintang lima dua pria berbeda usia ini menginap.
"Nak Papa ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan milik nak Ansel."
Seketika Damien tersedak mendengar penuturan sang Papa, karena Damien saat ini sedang minum.
"Ukhuk..ukhuk"
"Hati-hati Dam." ucap Papa Daniel.
"Kenapa Papa tidak membicarakannya dulu denganku?"
"Kenapa memang? perusahaan nak Ansel sedang berkembang pesat, kerjasama ini akan menguntungkan kita." Papa Daniel menyesap kopi pahit yang baru di buatnya.
"Baiklah besok akan Dam siapkan."
"Nak bagaimana jika kita pindah disini saja, Papa rindu sekali dengan tanah kelahiran Papa, kita bisa membeli mansion lagi disini." pinta Papa Daniel.
Damien di buat pusing oleh Papa Daniel, permintaannya ada-ada saja, menginggat Papanya baru saja sembuh, dan tidak ingim membuatnya kecewa akhirnya Damien mengiyakan.
__ADS_1
"Baiklah, Dam akan menyuruh orang Dam untuk mencarikan mansion disini." Damien memilih mengalah, lagian dia bisa mengurus perusahaan yang ada disini.
Papa Daniel tersenyum, ia langsung memeluk putra kebangaannya.
"Terima kasih ya nak, kamu putra Papa yang terbaik."
"Sama-sama Pa."
Damien lebih menomer satukan Papanya, biarlah kantor pusat di pimpin oleh Axel, mungkin sesekali ia yang akan menenggok kesana.
"Ini sudah malam, ayo tidur." ajak Papa Daniel.
"Papa tidur saja duluan, sebentar lagi Dam menyusul."
Papa Daniel mengangguk, ia pun meninggalkan putranya sendirian.
"Semakin sulit saja aku melupakanmu Bell." monolog Damien.
Jika dia pindah ke negara ini, otomotis Damien memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan Bella.
"Akh wanita cantik itu membuatku pusing." Damien beranjak dari sofa, ia pun menyusul Papa Daniel menuju kamar.
Di sebuah taman yang indah, dua orang berlain jenis ini duduk saling berdekatan, sembari memandang bungga-bungga yang memanjakan mata keduanya.
"Bell bisakah kamu meninggalkan Ansel untuk ku?" tanya Damien.
Ya dua orang berlawan jenis itu ialah Bella dan Damien, keduanya tidak sengaja bertemu di taman.
"Apa yang akan kamu berikan padaku, bila aku meninggalkannya?" Bella bertanya balik.
Bella tersenyum mendengarnya.
"Apa senyuman itu, mengartikan kata ya?" tanya Damien antusias.
"Heeem.." Bella mengangguk.
Seketika itu juga Damien menarik tengkuk Bella, di ciumnya wanita itu dengan penuh perasaan, keduanya saling memagut, hingga aktifitas manis itu terganggu saat Damien mendengar suara Papa Daniel memanggilnya.
"Dam Damien bangun nak, pagi ini ada pertemuan dengan perusahaan Guinandra." Papa Daniel menepuk-nepuk bahu putranya karena tak kunjung bangun.
Dilihatnya sang putra mengigau, guling yang di peluk Damien menjadi sasaran bibir sexy itu, hal itu membuat Papa Daniel menahan senyum.
Mata Damien mengerjap, ia beranjak duduk dan menatap sekitar.
"Akh sial, ternyata hanya mimpi." batin Damien.
"Kamu mimpi apa nak, sampai guling jadi korbanmu." Papa Daniel tertawa.
Damien bangkit, mengacak rambutnya dengan kasar.
"Memang tadi Dam ngapain Pa?"
"Sudahlah tidak usah dibahas, cepat mandi sekarang sudah pukul 6." suruh Papa Daniel.
Damien beranjak dengan tubuh sempoyongan, malas sekali pagi-pagi begini harus bertemu dengan pria kampret itu.
__ADS_1
Gara-gara semalam tidak bisa tidur karena memikirkan Bella, membuatnya jadi terbawah mimpi.
Di Mansion Ansel
Pagi ini dimana Ansel harus bertemu dengan Damien karena kepentingan kantor.
Papa Robert sudah bicara dengan putranya Ansel, jika perusahaan Damien menawarkan kerjasama padanya, sebenarnya Ansel sangat keberatan akan hal ini, tapi mau bagaimana lagi, karena sang Papa terus membujuknya, akhirnya dengan terpaksa Ansel mengiyakan.
"Suamiku hati-hati ya." pesan Bella pada Ansel.
Ansel mencium kening istrinya sebelum pergi ke kantor.
"Kamu juga baik-baik di rumah ya." Ansel mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Iya." jawab Bella sembari tersenyum.
Sepasang pasutri ini pun berpisah, Ansel berlalu menuju mobil, disana sudah ada Vero yang menunggu.
Perjalanan ke kantor memakan waktu setengah jam, karena pagi ini jalanan begitu macet, sudah biasa hal ini terjadi, menginggat hari ini hari senin.
"Vero siapkan berkas-berkas kita, kosongkan jadwal pukul 9 nanti, akan ada pertemuan dengan perusahaan Raharja grup." perintah Ansel pada Vero.
"Baik Tuan." Vero berlalu menuju meja kerjanya.
Sedangkan Ansel melanjutkan pekerjaannya yang sempat terbengkalai gara-gara dua hari kemarin ia tinggalkan.
*
Di mansion Bella mendapatkan kiriman kado dari seseorang.
"Dari siapa ini?" Bella membawah kado itu ke kamarnya.
Dibukanya kado berbentuk hati itu, di dalamnya ada kertas kecil bertuliskan 'Happy birthday to the most beautiful woman' Bella membalikkan kertas kecil itu, disana ada nama si pengirim 'From the most handsome man Ardolp'.
Seketika itu juga Bella memijat pelipisnya, pagi ini sudah 4 kali dirinya menerima kado, hal yang membuat Bella pusing karena keempatnya personil Jevarck yang pernah menolongnya.
"Astaga tahu darimana mereka hari ulang tahunku." monolog Bella.
Bella menyimpan barang-barang pemberian mereka menjadi satu dengan barang pemberian Damien.
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
Wulan
Yang mau bergabung di grup silahkan, kita bercakap-cakap ria disana, sekalian kenalan sama othor😍
__ADS_1