Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Gagal lagi


__ADS_3

Ansel berlari keluar membuat ke empat orang yang berada di meja makan mengernyitkan dahi, saking semangatnya Ansel sampai mengorbankan satu buah guci milik alm.oma, tidak sengaja kaki jenjangnya tersangkut meja kecil yang di atasnya terdapat guci kesayangan Omanya, membuat guci itu jatuh ke lantai dengan pasrah.


'Pyaaaaaarr' bunyi pecahan guci begitu nyaring, membuat semuanya terkejut.


"Mati aku." batin Ansel saat mendapat pelototan horor dari sang Mama.


"Maaf Ma." ucap Ansel langsung berlari melarikan diri.


"Anseeeeelll.." teriak Mama Tia.


Mama Eva membuntuti putranya, beliau belum lega jika tidak menjewer telingga putranya itu.


Bella sudah berada di pintu masuk, ia ingin memencet bell tapi tidak jadi karena pintu tiba-tiba terbuka, Ansel menatap istri cantiknya dari atas sampai bawah, ia pun memeluk tubuh yang membuatnya candu.


"Kamu darimana saja, aku mengkhawatirkan mu." ucap Ansel memeluk Bella dengan erat.


Bella membalas pelukan suaminya, kerinduan keduanya kini melebur menjadi satu, seperti ladang gergas yang tersiram hujan, membuat ladang itu kembali subur, seperti hati Ansel saat ini cintanya kepada sang istri semakin tumbuh dan tumbuh, hilangnya Bella membuatnya menyadari jika Bella sangat berarti untuknya.


"Aku baik-baik saja suamiku." ucap Bella mengurai pelukannya.


"Nanti jelaskan semuanya, apa yang sudah terjadi padamu kemarin." ucap Ansel membuat Bella menelan ludah dengan susah payah.


Apa iya Bella harus jujur bila musuh Ansel sengaja melindunginya dari musuhnya yang lain.


Tidak lama Mama Tia datang, mengagetkan keduanya.


"Sayang, kamu kemana saja semua orang disini sangat menghawatirkan mu." ucap Mama Tia sembari memeluk menantunya.


"Ahh akhirnya bisa selamat dari terkaman singga, terima kasih istriku." batin Ansel.


Sepertinya Mama Eva sudah melupakan tragedi guci tadi.


Usai Mama Eva dan Bella berpelukan ketiganya masuk menuju meja makan, hal itu membuat Calista kesal.


"Kenapa tidak mati saja wanita ini." batin Calista.


"Bell kamu dari mana saja?" tanya Arka tanpa takut sedikit pun pada sang Kakak.


"Jangan kurang ajar, panggil istriku Kakak Ipar." ucap Ansel.


"Sudah, kalian ini seperti anak kecil saja, Nak apa kamu baik-baik saja?" tanya Papa Robert, beliau sudah tahu siapa dalang dari kejadian ini, dirinya juga tahu siapa yang menolong menantunya.


Bella mematung sekejap, tapi setelahnya menjawab.


"Bella baik-baik saja Pa." jawab Bella.


"Ayo sayang kita makan bersama." ajak Mama Tia.


Keduanya duduk, sedangkan Bella melayani Mama mertua dan suaminya, sementara yang lain sudah mengambil makanannya sendiri-sendiri, Bella hanya makan sedikit karena dia sudah makan di mansion Ardolp.


"Bella sebenarnya apa yang terjadi? kamu kemarin kemana?" tanya Mama Tia.


Saat ini semuanya berkumpul di ruang keluarga, mereka bersantai sembari menonton tv.

__ADS_1


Papa Robert berusaha mengalihkan pembicaraan, dia berpura-pura mengantuk dan mengajak istrinya untuk tidur.


"Ma Papa ngantuk, ayo kita ke kamar." ajak Papa Robert membuat kelima orang disana saling pandang.


"Papa bercanda ya, ini masih pagi loh Pa, Papa juga baru bangun." ucap Mama Tia.


"Sudah ayo." ucap Papa Robert langsung menarik tangan istrinya.


Ansel mengeleng pasti sang Papa sedang ingin, tiba-tiba saja fikirannya mulai nakal, lamunan Ansel terhempas ketika mendengar suara istrinya.


"Suamiku, aku ke kamar dulu mau nelpon Papa." pamit Bella, ia sangat malas melihat wajah Calista yang dari tadi menatapnya dengan garang.


"Aku ikut." ucap Ansel.


"Disini saja Sel temani aku sebentar." renggek calista, membuat Bella bertambah kesal.


"Maaf Call, aku tidak bisa." ucap Ansel langsung menarik tangan istrinya membawahnya menuju kamar.


"Sialan awas saja kamu Bell, aku akan mengambil Ansel darimu." monolog Calista.


*Di kamar


Bella mengambil ponselnya dan menelpon Papa Tio, ia menanyakan bagaimana kabar Mamanya disana, bibir itu melengkung ke atas saat mendengar kabar dari sang Papa jika Mamanya sudah sembuh, telpon pun terputus.


"Kenapa?" tanya Ansel mengangetkan Bella.


"Mama sudah sembuh suamiku." ucap Bella senang.


"Syukurlah." ucap Ansel ikut bahagia mendengarnya.


Ansel mulai mengintrogasi istrinya, rasa penasaran yang dari tadi bersarang di benaknya membuatnya banyak bertanya.


Jantung Bella sudah seperti lari maraton saat ini, dirinya tahu jika suaminya akan menanyakan kejadian kemarin.


"Siapa kemarin yang menculikmu?" tanya Ansel membuat lamunan Bella seketika lenyap.


"Em aku tidak mengenalnya." jawab Bella.


"Lalu kenapa kamu bisa pulang dengan baju berbeda?" tanya Ansel kembali.


Bella diam sejenak. "Tapi kamu harus janji tidak akan marah jika aku berkata jujur." jawab Bella.


"Katakan." ucap Ansel.


"Janji dulu." ucap Bella.


"Iya janji." ucap Ansel.


"Ke empat anggota Jevarck yang menolongku." jawab Bella menundukkan kepalanya.


Jawaban dari Bella membuat amarah Ansel tersulut, dia menatap istrinya dengan tajam.


"Maafkan aku suamiku, aku.." belum selesai ucapan Bella, bibir Ansel berhasil membungkam bibir Bella dengan bibirnya.

__ADS_1


"Besok kita pulang, aku ingin cepat-cepat mempulish hubungan kita." bisik Ansel saat pagutannya terlepas.


Ansel memagut bibir Bella kembali, satu hari saja tidak bertemu membuat Ansel sangat merindukan istrinya begitu juga dengan Bella, bibir Bella layaknya madu, terasa manis untuk Ansel hingga membuatnya terus ingin menyesapnya, ciuman yang awalnya lembut itu semakin menuntut, Ansel mengingginkan hal lebih, hasratnya yang sudah berada di puncaknya tidak bisa di bendung lagi.


Ansel menggiring istrinya menuju ranjang tanpa melepas pagutannya, hingga membuat bibir Bella terasa kebas karena kelakuan suaminya yang begitu ganas.


Tubuh indah itu di kukung dari atas oleh Ansel, bibir yang semula memagut itu terlepas berpindah ke leher Bella yang begitu menggoda, Ansel dengan bringgas menyesapnya hingga banyak meninggalkan jejak merah di sana.


Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu begitu keras di iringi teriakan Calista yang mengagetkan keduanya.


"Ansel cepat keluar." teriak Calista.


"Shiiit, menganggu saja." umpat Ansel.


"Sel, cepat keluar." teriak Calista lagi.


"Tunggu sebentar sayang." pamit Ansel sembari mengecup bibir istrinya.


Ansel terpaksa menghampiri Calista dengan wajah kusutnya.


"Ada apa?" tanya Ansel dengan kesal.


Calista menatap Ansel yang terlihat berantakan dengan kening berkeringgat.


"Apa mereka sudah melakukan hal itu?" batin Calista bertanya-tanya.


"Malah melamun, cepat ada apa?" tanya Ansel semakin kesal melihat Calista hanya diam.


"Kamu di panggil Om Robert, di tunggu di taman belakang." jawab Calista melangkah meninggalkan Ansel dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Kenapa anak itu." ucap Ansel sembari menutup pintu kembali.


"Brengsek Gagal lagi." batin Ansel.


"Ada apa suamiku?" tanya Bella.


"Papa memanggilku sayang." ucap Ansel lemah.


"Pergilah, kita lanjut nanti malam saja." ucap Bella membuat Ansel bersemangat kembali.


"Serius?" tanya Ansel.


"Iya.." jawab Bella sembari tersenyum


"Baiklah nanti malam 4 ronde." ucap Ansel beranjak keluar, sebelum menutup pintu ia mengedipkan satu matanya pada Bella.


"Dasar gangster mesum." ucapan Bella membuat Ansel tersenyum.


Setelahnya Ansel menutup pintu kamar, ia benar-benar meninggalkan istrinya disana.


Di taman belakang Papa Robert duduk dengan menyesap kopi pahit kesukaanya, tidak lama Ansel datang mendudukkan dirinya di samping sang Papa.


Terima kasih dukungannya😘

__ADS_1


aku sempetin up ya semoga berkenan😊


__ADS_2