
Saat Bella di perjalanan menuju mansion suaminya, ia mendapat kabar jika Mamanya sedang sakit, tujuan yang harusnya ke mansion suami menjadi berputar haluan, ia pulang tanpa mendapat izin dari Ansel, sudahlah perkara itu bisa di bicarakan nanti dengan suaminya, yang terpenting saat ini ia tahu bagaimana kondisi sang Mama.
Cukup lama di perjalanan, Bella memakai jasa taksi karena kediamannya cukup jauh, akhirnya Bella sudah berdiri di depan Mansion yang lama ia tinggali, rindu kata itu yang muncul di hati Bella, sejak menikah dengan Ansel hanya sekali saja Bella bertemu dengan kedua orang tuanya saat penyakapan itu, ya itu yang terakhir sisanya hanya bertukar kabar lewat ponsel.
Bukan Ansel tidak memberi izin, hanya pria itu tidak ingin terjadi sesuatu hal terhadap kedua mertuanya, sejak penyekapan itu Ansel mengirim banyak bodyguard untuk berjaga di rumah mertuanya.
Para penjaga memberi hormat ketika melihat siapa yang datang, mata Bella tidak berhenti melihat sekeliling mansionnya yang sudah seperti tempat perkumpulan para bodyguard.
Bella segera memencet Bell, tidak lama pintu terbuka di lihatnya kepala asisten berdiri di tengah pintu.
"Nyonya Muda, silahkan masuk." ucap Ira membungkuk hormat.
"Mama dimana?" tanya Bella yang sudah tidak sabar ingin berjumpa.
"Di kamar utama Nyonya." jawab Ira.
Bella langsung berlari ke atas menuju kamar utama, kerinduan yang sudah menggunung itu membuatnya gelisah apa lagi mendengar jika Mamanya sedang sakit, semakin panik saja Bella di buatnya.
Pintu kamar utama terbuka, terlihat wanita paru baya dengan wajah pucat, selang infus tertancap di tangannya, membuat hati Bella serasa remuk redam, di samping sang Mama yang sedang memejamkan mata, duduk sang Papa yang setia mendampingi, kedua pasutri ini tertidur dengan saling mengenggam tangan, membuat air mata Bella terlepas dari tempatnya.
Bella melangkah pelan menghampiri kedua orang tuanya, tangan lentik itu terangkat memegang bahu sang Papa, membuat Papa Tio terbangun.
"Sayang." ucap Papa memeluk putri satu-satunya itu.
"Mama sakit apa Pa?" tanya Bella.
Mereka menggurai pelukan, Papa Tio membawah putrinya duduk di sofa menjauh dari ranjang, karena takut istrinya terbangun.
"Mama sakit karena merindukanmu, setiap hari Mama merenggek ingin menemuimu." ucap Papa Tio.
"Maafkan Bella ya Pa." ucap Bella menunduk dengan airmata yang masih setia mengalir.
"Bukan salahmu sayang ini demi kebaikan kita bersama, maafkan Papa Bell Papa tidak tahu jika suamimu seorang gangster." ucap Papa Tio ikut menangis.
"Sudahlah Pa, semuanya sudah terjadi Bella bahagia hidup dengan suami Bella, dia sangat mencintaku." ucap Bella berusaha menghibur sang Papa.
"Syukurlah nak, oh ya kenapa putri Papa merubah penampilan begini?" tanya Papa Tio heran, sudah lama ia dan istrinya membujuk anaknya ini agar mau merubah penampilannya tapi putrinya kekeh dengan penampilan cupunya.
"Hehe biar beda saja Pa." jawab Bella sembari menyenggir kuda.
Mama Eva yang mendengar suara samar-samar putrinya, langsung membuka matanya dan menoleh kesamping.
__ADS_1
"Bella sayang." panggil Mama Eva.
Bella terkejut, ia pun berlari ke arah Mamanya.
"Ma.." ucap Bella memeluk Mama eva erat di sertai tanggis keduanya.
"Mana suamimu sayang?" tanya Mama Eva.
"Masih di kantor Ma, mungkin dia sudah pulang." jawab Bella.
"Apa kamu sudah mengabari suamimu?" tanya Mama Eva lagi.
"Belum Ma." jawab Bella.
"Kabari suamimu dulu!" suruh Papa Tio menghampiri kedua wanita kesayangannya.
Saat Bella ingin menelpon tiba-tiba ponselnya mati.
"Ponsel Bella mati Pa, biarkan saja mungkin dia sudah tahu Bella berada disini, bodyguard Ansel kan banyak di depan, pasti Ansel sudah tahu dari mereka." ucap Bella.
Papa hanya mengangguk, ketiganya saling berbincang di selinggi tawa dari Bella, kedatangan Bella membuat kesehatan Mama Eva membaik.
Disisi lain setelah pulang dari kantor Ansel uring-uringan karena melihat Bella tidak kunjung pulang.
Dirinya mendapat kabar dari Ririn jika Nona mudanya belum pulang sejak tadi pagi, saat ini Ansel di temani Calista di ruang keluarga.
"Biarkan saja Sel mungkin kerabatmu itu pulang." ucap Calista.
Seketika Ansel mengambil ponsel, ia segera menelpon istrinya, Ansel merasa geram saat mendengar bunyi operator yang bersuara.
'Shiiittt' umpat Ansel.
"Kamu kenapa sih Sel, biarkan saja dia pergi wanita itu sudah dewasa." ucap Calista.
Mendengar ucapan Calista membuat Ansel menjadi bertamba kesal, tidak lama Ansel menelpon seseorang ia sedikit menjauh dari Calista.
Selang beberapa menit ia kembali menghampiri teman masa kecilnya.
"Kamu di rumah saja, aku akan mencari Bella, tenang saja kamu aman disini." ucap Ansel.
"Aku ikut." teriak Bella membuat langkah Ansel terhenti.
__ADS_1
"Kamu di rumah saja." ucap Ansel.
"Tapi aku bosan." ucap Calista menampilkan puppy eys nya.
Ansel mendengus ia pun mengangguk, wajah wanita itu seketika bersinar.
Keduanya lekas menuju mobil, selang 2 jam Ansel masih tidak menemukan istrinya, tiba-tiba terdengar suara pesan masuk.
Ansel membuang nafas kasar, saat mendapat kabar dari orang suruhannya jika istrinya pulang kemansionnya sora tadi.
Ansel kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, tiba-tiba mobilnya mengerem mendadak saat mendengar seseorang berbicara, astaga Ansel lupa jika di samping juga ada Calista, mana mungkin dia membawah wanita itu ke mansion mertuanya, bisa-bisa dirinya di pecat jadi menantu detik itu juga.
"Kamu bisa hati-hati ngak Sel." seru Calista sedikit kesal melihat Ansel mengerem secara mendadak.
"Maaf, sebaiknya kamu aku antar pulang, aku ada urusan sebentar." ucap Ansel memutar balik mobilnya.
"Kemana? aku ingin ikut." ucap Calista merenggek pada Ansel.
"Ini urusan kantor Cal." jawab Ansel berbohong.
Ansel mempercepat laju mobilnya, ia ingin cepat-cepat bertemu istrinya dan membawahnya pulang.
Setelah Calista turun, Ansel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, apa yang di lakukan istrinya? apa istrinya mencoba untuk kabur? ketakutan Ansel semakin menjadi mengginggat kondisi rumah tangganya saat ini, ia takut Bella menceritakan semuanya, alamat Ansel akan menjadi duren sawit.
Ansel tidak tahu jika tujuan istrinya pulang karena Mamanya sedang sakit, tadi Ansel hanya mendapat kabar dari orang suruhannya jika Bella berada di kediamannya.
Cukup lama di perjalanan karena jarak mansion Ansel dengan rumah mertuanya sangat jauh, membuat Ansel uring-uringan sendiri di mobil.
"Sialan.." umpat Ansel sesekali memukul setir mobil meluapkan kekesalannya.
Tidak lama Ansel pun sampai di mansion milik istrinya.
para bodyguard menunduk hormat saat melihat bosnya berada di sana, Bell pintu di tekan tidak lama pintu terbuka Ira mempersilahkan suami majikannya untuk masuk.
Ansel memasuki mansion dengan terburu-buru hingga membuat asisten Ira mengernyit, langkah Ansel terhenti saat melihat istrinya berjalan ke arah dapur, ia berlali menyusul Bella.
"Jangan pergi dariku ku mohon." ucap Ansel memeluk istrinya dari belakang, sementara Bella masih diam mematung.
"Maksudnya?" tanya Bella tidak mengerti.
"Ikut aku pulang ya jangan seperti ini, kita bisa membicarakannya secara baik-baik." ucap Ansel, membuat Bella cenggo, ada apa dengan suaminya ini, Ansel melepaskan pelukannya tiba-tiba terdengar suara Papa Tio dari belakang.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannyaš
lope-lope buat pembacaš„°