
Selepas kepergian Papa Daniel, Stella buru-buru membuka lemarinya, ia kawatir Om nya akan kehabisan oksigen.
'Kreekk' suara pintu lemari terbuka.
Mata Stella membola, bibirnya menganggah saat melihat Om nya duduk dengan mata terpejam, dengkuran halus terdengar sampai ke telingga Stella, gadis itu mengeleng sambil berkacak pinggang, ia pun berjongkok menatap Om nya yang tidur seperti bayi, Stella terkikik geli melihatnya, bisa-bisanya Om nya ketiduran disaat situasi seperti ini.
"Om capek ya?" tangan Stella terulur mengelus rahang tegas milik Damien.
Sentuhan halus dari tangan Stella membuat Damien terbangun.
"Sayang, Oppa sudah pergi?" tanyanya setengah sadar.
Stella kembali terkekeh, membuat Damien gemas melihatnya, nyawanya sudah terkumpul, ia keluar dari lemari dengan merangkak, mendekati Stella yang masih menertawainya.
"Lucu ya, ini semua gara-gara kamu gadis nakal." Damien mengacak rambut Stella dengan gemas.
Tawa Stella berhenti, wajahnya berubah sendu. "Maafkan Stella ya Om, karena Stella Om kecapekan." kepala Stella menunduk dia merasa sangat bersalah.
'Cup' satu kecupan Damien berikan di pipi kanan gadis nakalnya.
"Om hanya bercanda sayang, jangan sedih sekarang kita keluar ya, Oppa pasti menunggu kita." Damien beranjak berdiri.
"Iya.." Stella mengangguk, ia pun ikut berdiri di bantu oleh Om nya.
Keduanya melangkah menuju pintu, saat Damien membuka knop tiba-tiba Stella menghentikannya.
"Tunggu Om."
"Kenapa?" tanya Damien sembari mengelus pipi Stella.
"Jadi mulai malam ini kita resmi jadian kan Om?" tanya Stella dengan polos.
__ADS_1
Damien tertawa mendengar pertanyaan gadis di depannya, kenapa dia seperti anak ABG begini, tidak pernah terfikirkan jika cintanya akan berlabu pada gadis yang usianya lebih pantas menjadi putrinya, bahkan ia sendiri ikut membesarkan gadis kecil di depannya ini.
"Ya kita jadian." jawabnya sembari tersenyum.
Seketika itu Stella langsung memeluk Om nya, akhirnya perasaan yang sudah lama ia pendam kini terbalas sudah.
"Tapi ingat, hubungan ini harus di sembunyikan dulu, kita masih memiliki misi sayang, Om tidak ingin karena hubungan kita, Papa dan Mama mu marah pada Om, dan tentu hal itu akan berpengaruh pada misi kita, bila saatnya tiba nanti, Om akan melamarmu." pinta Damien.
Tidak mudah mempublish hubungan mereka, kedua orang tua Stella tidak akan semudah itu menyetujuinya, usia mereka yang terlampau sangat jauh mengharuskan Damien berfikir secara matang, ia tidak ingin terlalu terburu-buru.
"It's oke, tapi jangan lama-lama ya Om."
Damien mengacak rambut Stella dengan gemas. "Iya sayang." Damien kembali membuka pintu, sebelum keluar ia menatap sekitar, dirasa keadaan sudah aman baru pria itu keluar dari kamar Stella, di susul Stella di belakangnya.
Makan malam berjalan seperti biasa, Damien dan Stella juga bersikap normal, mereka benar-benar menjaga sikap di depan semua orang, tak terasa malam sudah semakin larut, malam ini Damien sudah bersiap, ia dan Robby akan menemui anggota Red Blood ke markas baru mereka, sebelum pergi Damien menyempatkan diri melihat kekasihnya.
Hah kekasih? Damien berharap ini hanya mimpi, perasaannya hanya semu, tapi sayangnya perasaannya nyata, cintanya pun nyata, dia mencintai anak dari sahabatnya, lamunan Damien terhempas saat Robby menepuk bahunya dari belakang.
"Tuan, waktunya kita pergi." bisik Robby, ia tidak ingin tidur Stella terganggu.
Anggota Red Blood sudah berkumpul di markas, dari anggota lama sampai anggota baru semuanya berkumpul menjadi satu, menunggu Tuan rumah datang, tak lama terdengar langkah kaki semakin mendekat, dari jauh mereka bisa melihat pria gagah yang dulunya menjadi pemimpin mereka kini kembali, semuanya masih sama tidak ada yang berbeda dari diri Damien meskipun waktu terus berputar memakan usianya.
"Om Dam." sapa Damitri lebih dulu, di susul yang lainnya, seperti biasa mereka berjabat tangan ala gangster.
Mereka mempersilahkan tamu agung untuk duduk, sebelum Damien memulai pembicaraan, Damitri bersuara lebih dulu.
"Om maafkan kami, kami belum melakukan tugas yang Om beri." ucap Damitri tidak enak hati.
Sepulang dari masion Damien waktu itu, paginya ke empatnya berencana menemui pemilik hotel dan resto, tapi tujuannya mereka urungkan, saat Damitri mendapat kabar jika rekan-rekannya di serang oleh beberapa orang yang tidak mereka kenal, penyerangan itu pun terjadi secara berturut-turut, membuat keempatnya melupakan tugas yang Om nya beri.
"Tidak apa-apa Om mengerti, lagi pula setelah kejadian di hotel itu, keesokannya tidak ada kabar apapun, maafkan Om tidak bisa membantu kalian saat mendapat penyerangan." ucap Damien.
__ADS_1
"Tak apa Om, kami bisa mengatasinya." ucap Bray.
Semua orang hanya diam mendengar pembicaraan mereka, terutama Robby pria itu seperti manekin berdiri tegap di samping Damien.
"Sebenarnya Om kesini ingin membicarakan sesuatu yang penting." Damien berdiri, ia pun melanjutkan ucapannya. "Kalian tahu beberapa hari ini keluarga ku mendapat teror dari seseorang, kalian pasti juga sudah tahu siapa dalang dari semua masalah ini, pasti penyerangan yang kalian dapatkan waktu itu juga dari orang yang sama, kalian tahu bukan siapa gang Cartel Sinaloa? kalian juga tahu bukan berapa jumlah kelompok mereka? kita tidak akan bisa melawan jika kelompok kita tidak sebanyak gang Cartel, maka dari itu Ansel pemimpin anggota Gangster Black Wolf meminta ku dan kalian untuk bergabung bersama mereka, kita akan membentuk satu marga baru untuk memperkuat dan memperluas kekuasaan kita, apa kalian setuju dengan pendapat ku ini?" ucap Damien panjang lebar.
Semua orang yang berada disana hanya saling pandang tanpa mengeluarkan satu kata pun, begitu juga dengan Damitri dan ketiga rekan sablengnya.
"Kenapa tiba-tiba Ansel mengajak kita untuk bergabung?" pertanyaan keluar dari anggota lama.
"Karena musuh kita sama, kamu anggota lama bukan? pasti kamu tahu kejadian di masa lalu." jawab Damien.
Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya, ia tahu bagaimana kejadian 20 tahun silam, tapi ia hanya mendengar dari rekan-rekannya karena ia tidak terpilih dari 20 orang yang ikut melakukan penyerangan pada malam itu.
"Bagaimana menurut kalian? jika kalian setuju besok kita terbang ke kota A untuk menemui mereka." ucap Damien dengan lantang.
Semuanya saling pandang dan mengangguk.
"Baik kita sejutu." ucap anggota lama.
Semua orang pun mengiyakan, akhirnya Damien bisa bernafas lega.
Di tempat lain Ansel pun sama mengumpulkan rekan-rekannya di markas Black Wolf, banyak anggota-anggota baru yang bergabung tentunya dari kalangan pemuda yang memiliki skill di atas rata-rata, Ansel menyeleksi dengan ketat, dia tidak ingin memasukkan orang sembarangan di kelompoknya.
"Malam ini aku mengumpulkan kalian disini, untuk membicarakan hal penting, beberapa hari ini kita mendapat penyerangan dari orang yang tidak kita kenal, dan Felix berhasil mencari tahu siapa mereka, kalian tahu gang Cartel Sinaloa? ya mereka lah yang menyerang anggota kita, Cartel Sinaloa gang besar, kita tidak akan bisa mengalahkan mereka, jika kelompok mereka lebih besar dari kita, jadi aku meminta pendapat kalian, bagaimana jika kita menyatukan kelompok kita dengan kelompok Red Blood? musuh kita sama, mereka juga mendapat penyerangan yang sama, untuk itu aku dan Damien bersepakat untuk menyatukan kelompok kita, mendirikan marga baru agar bisa melawan gang Cartel Sinaloa, bagaimana menurut kalian?"
"Ya kami setuju."
"Ya itu ide bagus."
Tanpa banyak tanya mereka menyetujui kesepakatan ini demi keselamatan mereka dan keluarga mereka.
__ADS_1
"Besok Damien dan anggotanya akan melakukan perjalanan penerbangan kesini, kita akan diskusikan lagi dengan mereka, untuk malam ini cukup sampai disini saja." ucap Ansel.
Bersambung ...